Kamis, 16 Mei 2024

LSIP, value stock di sektor CPO

 Saya liat di LK Q1/2024 LSIP,   nett value per share-nya = Rp 1520. 

Nett value/share = (jumlah ekuitas - jumlah liabilitas ) : jumlah saham beredar.

Angka ini saya pakai sebagai patokan untuk melihat apakah suatu saham sudah murah/belum. Dan selama ini saya selalu setuju, bahwa setiap saham yang harganya berada di bawah nett value/sharenya = VERY UNDERVALUED.

Harga sekarang = Rp 875. EPS Q1/2024 = Rp 39,47.

Ini jauh sekali di bawah nett value per share-nya ya, padahal labanya mulai naik dibandingkan LK Q1/2023, dan PER sekarang setara dengan 5-6x (annualized).

Dengan EPS thn 2023 = Rp 112, maka bila DPR 35%, thn ini bisa dapat deviden sekitar Rp 39,2.

Ekspektasi deviden thn depan dgn DPR yang sama = 0,35 * 39,47 * 4 = Rp 55,25.

Hold setahun kurang lebih bs dpt devidend yield = Rp 39,2 + Rp 55,25 = Rp 94,45, alias DY 10,79%, jika beli di harga Rp 875.

Plus potensi capital gain, bila harganya naik.

Saya liat chart monthly-nya sdh ada tanda2 early bullish, semoga benar ya.

Heran juga sih, kok Salim mau membiarkan sahamnya terpuruk dengan valuasi yang sangat murah bgt begini. Dulu tahun2 antara 2007-2013,  AALI dan LSIP ini termasuk saham favorit investor saham. Bareng sama SMGR, INTP, ASII, UNTR, INCO, ANTM, TINS, ITMG, PTBA, PGAS dan big banks. Sekarang cuma big banks aja yang tetap digemari investor sehingga masih dpt valuasi bagus, yang lain tiarap. Tapi memang banyak yg labanya memang jatuh bgt sih dibanding masa keemasannya dulu itu, kecuali ITMG dan PTBA, yang sdh cetak laba all time high tapi valuasi masih super diskon.. :)


LSIP ini karena DPR cm 35%, jadi ngga bs diharapkan utk investasi jangka panjang, lebih baik kejar gain aja di sini.

Semoga sih bs balik lagi ke atas nett value/share-nya ya, tapi tunggu momentum CPO bangkit lagi. Kapan bangkitnya? ya ngga tau, kita cm bs nunggu aja.

Saya liat karena harganya sdh menarik dan ada potensi labanya membaik setahun ke depan, jadinya mencoba masuk ke sini dgn size kecil banget. Saya cuma pakai maksimal 10% dr porto saham saya untuk masuk ke saham2 trading (yang bs terdiri dari beberapa saham), buat cari capital gain.. Semoga rewardnya bagus setahun ke depan.

Disclaimer ON. Rugi tanggung sendiri, ya.. :)


Warm regards,

V3



Kamis, 02 Mei 2024

Tahun ini tahunnya invest di big banks lagi sepertinya...

 BBRI sdh mulai turun dr highest Rp 6450 ke harga sekarang Rp 4760, alias sdh turun sekitar 27% dr highestnya. Secara teori, BBRI sudah masuk bear market.

BMRI hari ini juga sdh turun 8,33% , harga sekarang Rp 6325. Highest BMRI kmrn Rp 7500, alias sdh turun 16% dari highest-nya, walaupun belum masuk bear market.

Apakah thn ini tahunnya kita membeli saham big banks? Menurut saya, iya. Tapi jangan buru2 beli, tunggu sampai agustus-oktober, biasanya itu bulan baik untuk belanja saham.

Saya sendiri sdh pasang target utk buy area di saham2 tsb, dan nanti kalo saya sdh mulai belanja, alias kalo harganya sdh menarik utk dibeli, akan saya share di sini , insyaa Allah.

Saran saya, kumpulkan uang utk beli saham big banks thn ini, terutama kalo dpt deviden2 coal. 

Buat saya, sebenarnya sektor yang sangat menarik untuk invest long term di Indonesia, hanya 2 sektor : coal dan bank.

Saham coal untuk sumber cashflow krn umumnya royal deviden.  Tapi tetap cari yang potensi growth ke depannya juga bagus, cadangan coal banyak, atau sdh mulai diversifikasi ke EBT, low debt dan ngga pelit bagi deviden.

Saham bank untuk mengangkat nilai aset dalam jangka panjang, krn kenaikan harga mereka besar biasanya. 

Beli saham yang bagus2 di sektornya aja, ngga usah diversifikasi ke banyak saham, dan cari yang valuasinya masih wajar. 

Misal untuk saham coal : PTBA, ITMG, ADRO

Untuk bank : BMRI, BBRI, BBCA dan BRIS (BRIS perwakilan dr bank syariah, bagi yang ngga mau invest di bank konvensional).

Ok, ini aja masukan dari saya. Sabar belanja sampai agustus-oktober ya. Semoga hasil investasi kita akan bagus di tahun2 ke depan. Aamiin..

Disclaimer on, rugi tanggung sendiri.. :)



Warm regards,

V3


Rabu, 27 Maret 2024

TEBE, saham kapal yang harganya masih di sekitar nett value/share

 Saya lagi buka2 LK saham2 kapal, dan agak kaget nemu saham kapal yang harganya masih di sekitar nett value/share-nya. Buat saya, ini value stock banget. Selain itu, dia juga rajin bagi deviden sejak IPO di thn 2019.

Nett value/share = (Jumlah ekuitas - jumlah liabilitas) : jumlah saham beredar

TEBE sampai LK Q3/2023 ini masih mengalami penurunan revenue dan juga laba, akibat normalisasi tarif angkutan kapal, setelah naik tinggi di thn 2022. Sama seperti emiten coal pd umumnya, yg labanya turun di 2023 kemarin. Jadi kalo nanti stelah Lk Q4/2023 TEBE keluar, dan labanya turun, ya ngga usah kaget, dan jangan panik dulu kalo sahamnya jg turun, karena sampai LK Q3 kmrn labanya memang masih turun..

harga sekarang = Rp 780

nett value/share = Rp 744

Book value/share = Rp 833

EPS = Rp 133,71

kas/share = Rp 301

debt/share = Rp 28,36

CFO/share = Rp 127,65

GPM = 53%, OPM = 46%, NPM = 37,7%. Angka yang bagus bgt utk margin profit suatu bisnis.

ROE = 21,4%.

Tahun 2023, sudah bagi deviden interim 2x (Rp 25 dan Rp 30)  dr EPS Rp 133 (sampai september 2023). Manajemennya baik banget yahh, udah bagiin 41% EPS sbg laba aja, padahal labanya lagi turun...

Dengan estimasi DPR 45% , maka kurang lebih DY di deviden final 2023 ini mungkin = [(0,45 * 133 * 4/3) - 25 - 30] : 780 = 3,18%

Tapi jangan terpaku dengan DY yang kecil ini aja. Ini value stock yang bisa kasih devidend yield sekitar 10%/thn, kalo kita mau hold setahun, plus capital gain, bila nanti market sudah mengapresiasi harganya. Jadi sambil nunggu harga tervaluasi dengan baik, minimal kita msh dikasih devidend yield yang cukup baik..

Buat saya, TEBE ini betul2 value stock yang bagus banget, krn selain murah, devidend yieldnya lumayan, kinerjanya cakep,  plus prospek growth ke depannya juga masih bagus. 

Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri, krn duit belinya jg duit sendiri kannn....

Semoga saham2 kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya. Aamiin...


Warm regards, 

V3


update 2 mei 2024 : buat yang belum punya TEBE, kalo sama2 ingin membeli saham yang harganya sekitar nett value/share, better beli ADRO aja. ADRO di LK q1/2024, nett value/share sekitar Rp 2560, tp sahamnya lebih likuid, ROE dan DPR juga lebih besar, jadi saya prefer ADRO drpd TEBE.



Rekap pertumbuhan dan laba beberapa emiten dalam beberapa tahun terakhir

 

Saya mencari tau berapa prosentase pertumbuhan revenue dan laba 50 emiten di BEI, yang saya coba ambil dari beberapa sektor, biar lebih terlihat sektor mana yang bagus untuk investasi dalam 5 dan 10 tahun terakhir. Saya masukkan juga ROE dan NPM sbg indikator profitabilitas emiten tsb.

Dan ini data yang saya dapatkan. 

Untuk benchmarking pertumbuhan, ROE dan NPM, saya memakai BBCA, BMRI dan BBRI sebagai patokan. Dari situ, terlihat bahwa yang bisa mengalahkan trio bank ini hanya sektor batubara, hampir dari semua segi (growth, ROE dan NPM).

Saham kapal (sayangnya hanya diwakili oleh TPMA, krn SMDR dan NELY belum keluar LK-nya), bisa mengalahkan tiga bank ini dalam segi growth, tapi tidak di ROE dan NPM. Mungkin sektor perkapalan akan menjadi tujuan investasi yang bagus lagi untuk ke depannya, melihat growth mereka belakangan ini.

Saham consumer (MYOR dan SIDO), agak melambat tumbuhnya 5 thn belakangan ini, mungkin krn daya beli yang juga melemah.

Untuk sektor yang lain (misal property, konstruksi, CPO, poultry) , kelihatan sekali melemahnya dalam 10 thn ke belakang. 

Data di bawah belum lengkap, krn belum semua emiten mengeluarkan LK desember 2023.

Ini saya sdh mengerjakan sebaik yang saya bisa lakukan, dan tetap saja masih banyak kekurangan yang masih bisa disempurnakan lagi.

Tapi dengan data yang ada, masih inline dengan tesis awal investasi long term yang saya anut, sesuai dengan omongan LKH, bahwa di Indonesia ini bisnis terbaik adalah perbankan dan batubara, makanya ngga heran orang terkaya di Indonesia kebanyakan adalah pemilik bank dan tambang batubara.

Disclaimer ON. 

Dari sini juga mungkin masih bisa terlihat, sektor mana yang masih undervalued krn kenaikan labanya, dibandingkan dengan harganya di thn 2018 (apalagi bila PER saat ini masih di bawah 5 atau pbv masih di bawah 1).

Ketika saya kursus saham dulu, tahun 2008, ada senior yang menanyakan, bila kita invest saham, beli saham yang mana?

A. Sedang bagus bisnisnya

B. Akan bagus bisnisnya

C. Pernah bagus bisnisnya

Mayoritas ketika itu menjawab yang akan bagus bisnisnya. Ternyata salah.

Menurut beliau, sebagai investor saham, sebaiknya kita hanya invest di bisnis yang sedang bagus, karena di sini kemungkinan berhasilnya jg besar.

Bila di bisnis yang akan bagus, bisa aja nanti ngga kejadian, alias tetap jelek.

Bila di bisnis yang pernah bagus, bisa aja nanti memang ngga akan pernah pulih.

Dan data di bawah ini bisa memberikan sedikit informasi bisnis mana yang sedang bagus di indonesia, setidaknya dalam 5 thn dan 10 thn terakhir ini.

Nanti akan saya upload ulang lagi bila datanya sdh komplit.






Semoga data yang sedikit ini bisa bermanfaat dalam menentukan portofolio saham investasi kita. 

Sekedar berbagi tips, utk invest long term, saya mengutamakan saham2 dengan ROE di atas 15%, low debt, rajin bagi deviden, tidak ada rugi sama sekali dalam 10 tahun terakhir, dan NPM sebaiknya di atas 10%, biar lebih kuat menghadapi badai ekonomi.

Kalo ada saham yang msh undervalued tapi tidak memenuhi kriteria di atas, saya beli hanya utk kejar capital gainnya aja (bukan untuk invest long term).

Maafkan kalo tulisannya acak2an, karena tadinya hanya untuk konsumsi sendiri (dan saya masih tipikal orang yang apa2 lbh seneng baca buku daripada gadget). tapi lama2 mikir, kok sayang kalo ngga di-share, jadi ini dibantu anak saya utk share di blog..

Semoga hasil investasi kita akan semakin bagus di tahun2 mendatang. Aamiin..

Warm regards,

V3



Jumat, 22 Maret 2024

ADRO, saham coal dgn growth bagus yang masih undervalued..

 Liat LK Q4/2023 ADRO, saya merasa saham ini masih sangat undervalued.

Harga sekarang = Rp 2670.

Kas/share = Rp 1604

Nett value/share = Rp 2118

BVS = Rp 3281

debt/share = Rp 717 (hanya utang berbunga saja)

CFO/share = Rp 558,6

EBIT/share = Rp 1044

EPS = Rp 795

Di harga sekarang, PBV = 0,82 ; EV/EBIT = 1,71 ; EV/CFO = 3,2 ; PER = 3,36


Saya liat lagi growth laba 2013 - 2023 ADRO = 1154 % (di mana laba PTBA hanya tumbuh 239%, dan ITMG tumbuh 174%).

Growth laba 2018 - 2023 ADRO = 314% (di mana laba PTBA hanya tumbuh 22,88% dan ITMG tumbuh 106%).


ROE ADRO :

2013 = 8,55%

2018 = 11,44%

2023 = 24,24%


NPM ADRO 

2013 = 6,98%

2018 = 13,2%

2023 = 28,5%


Dengan PBV ADRO yang baru 0,82x sementara PTBA sudah 1,6x dan ITMG sudah 1,1x , sepertinya memang ADRO masih undervalued.

Apa karena PTBA dan ITMG memiliki DPR yang lebih besar daripada ADRO, sehingga market lebih menyukainya? Time will tell.

Yang jelas, ADRO merupakan salah satu saham coal yang rajin bagi deviden selama 15 tahun terakhir ini, dan seingat saya DPR-nya tidak pernah kurang dr 30%. Jadi ADRO bs dijadikan salah satu alternatif investasi di saham coal yang PBV-nya masih di bawah 1, dengan growth laba yang sangat bagus..

Disclaimer On.

Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus nanti ke depannya.. Aamiin..


Warm regards,

V3

 

Kamis, 28 Desember 2023

Chart atau Devidend Yield?

 Tulisan ini saya buat based on pengalaman pribadi saya sendiri. Beberapa kali saya beli PTBA dan BSSR di harga yg mahal (karena akan bagi deviden gede), dan stelahnya turun dalam. Tapi saya tetap hold. Akhirnya harganya bisa naik lg juga, apalagi kalo sdh mau bagi deviden lagi... 

Dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan, kalo utk beli saham deviden dan hold lama, mungkin berapa besar Deviden Yield (DY) yang akan kita dapat, akan lebih berpengaruh ke hasil investasi kita drpd fokus ke chart.

Karena, biasanya saham2 deviden ini mengalami peak menjelang cum date deviden, dan stelahnya akan dibanting. Jadi kalo kita beli di harga peak, kita akan dapat deviden lebih cepat (ngga usah nunggu lama2). Tapi kalo belinya di harga bawah, umumnya stelah deviden dibagikan, sehingga kita harus menunggu lebih lama untuk dapat deviden selanjutnya..

Jadi, untuk tipe investor yang tiap bulan masih top up dana untuk beli saham, bila fokusnya adalah mengejar balik modal dari deviden secepatnya, menurut saya, akan lebih baik bila fokusnya adalah membeli saham yang kira2 bisa memberikan DY yang besar, sampai setahun ke depan, daripada sekedar fokus dengan chart saham. 

Ada seorang investor yg sudah senior, dan dia membeli ITMG di harga Rp 17000, tahun 2017. Setelah dia beli, ITMG turun hingga ke Rp 6000-an di thn 2020, tapi dia tetap hold. Bahkan hingga sekarang pun dia masih hold. 

Total deviden yang sdh dia dapat sejak beli di 2017 hingga akhir 2023 ini = Rp 26.958.

Harga ITMG sekarang = Rp 25500.

Bayangkan jika dia menjual ITMG-nya ketika turun sampai 6000 di thn 2020, yang ada dia hanya akan mengalami loss yang besar. Tapi karena dia sdh niat untuk invest long term demi deviden, skrg dia bisa mendapat banyak dr deviden, dan juga portonya sdh menghijau lagi.

Hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini adalah : bila kita sdh niat untuk investasi long term di saham deviden tinggi yang msh ada prospek growth ke depannya, sebaiknya jangan pernah cut loss bila harganya turun dalam, apalagi bila penurunannya krn memang kondisi market keseluruhan yang sedang bearish, bukan hanya karena kinerjanya sendiri yang memburuk. 

Ini bukan ajakan untuk membeli ITMG skrg ya, walaupun ITMG di harga sekarang ini termasuk menarik untuk dibeli menurut saya. 

Sekarang, krn fokus saya adalah mengumpulkan saham deviden sebanyak-banyaknya utk pasif income di masa tua saya, jadi saya akan lebih fokus ke devidend yield drpd ke chart, untuk membeli saham2 deviden. Tujuannya agar saya bisa cepat balik modal dr deviden saham yang saya beli.

Saat ini saham PTBA saya di portfolio mengalami floating loss sekitar 16% (awal beli di oktober 2021 dan masih top up beli sampai sekarang). Tapi saya sdh dapat deviden total 61% dari modal beli saya, sejak beli hingga saat ini. Seingat saya, PTBA belum pernah saya jual 1 lot pun sejak saya beli. 

Target saya di saham ini, bisa balik modal dari devidennya saja dalam 5 thn hold, dan tahun2 sesudahnya bisa memberikan saya DY minimal 25% setiap thn dari harga beli saya.. 

Apakah akan tercapai? We'll see. Kita cm bisa berusaha, Tuhan yang menentukan hasilnya.

Tahun 2023 memang tahun yang sangat membosankan buat mayoritas investor saham. Harga saham kalo ngga turun ya pd sideways sepanjang tahun. Tapi tahun ini juga memberikan pencerahan ke saya, bahwa bila fokus kita adalah mengumpulkan saham deviden, ngga usah terlalu fokus dengan chart. Beli saja saham2 yang bs memberikan DY tinggi, sehingga bs balik modal cepat dr devidennya saja... :) 

Tulisan ini sebagai penutup tulisan terakhir di tahun 2023. Semoga thn 2024, bursa akan lebih berbunga-bunga, setelah fed rates turun. Semoga kinerja emiten2 yang kita pegang juga akan membaik di thn2 ke depan. Semoga kita jg akan semakin sabar dalam berinvestasi, terutama sabar dalam memegang saham2 yang prospeknya bagus ke depannya, krn investasi saham butuh waktu yang lama untuk memberikan hasil yang bagus.. 

Terakhir, semoga apa yang saya tulis di sini jg bs memberikan banyak manfaat utk yang membacanya, ngga cuma untuk saya pribadi.

Selamat thn baru 2024, semoga thn 2024 akan banyak memberikan kebaikan, kebahagiaan, kesehatan dan kesuksesan kepada kita semua. Aamiin..


Warm regards,

V3



Rabu, 01 November 2023

IHSG turun terus, what should we do? mostly about PTBA

 IHSG kemarin closing di 6752,211. YTD sdh turun 1,44%. 

Kemarin sempat bikin low di angka cantik 6666,410. Semoga bisa menjadi lowest untuk IHSG di thn 2023 ini.. aamiin..

Saya dari awal thn ini sdh mulai ngisi portfolio dengan banyak saham coal lagi.

Ada ITMG dr harga Rp 22000- Rp 23000, dan sdh dpt deviden Rp 2394 (nett after tax).

Ada BSSR di Rp 4000-an dan sudah dapat deviden total Rp 622 (nett after tax).

Ada PTBA dari Rp 3050 - Rp 3800 (dan sdh dpt deviden nett after tax Rp 984,65).

Ini semua saham yang memang saya beli dan saya simpan untuk devidend income.

Setelah ex date deviden, saya ada menambah lagi PTBA, dan sampai sekarang masih posisi floating loss.

Panik ngga melihat harga saham yang sekarang turun terus? Mungkin saya udah termasuk kebal ya. Kalo ada uang, masih nambah saham. Kalo ngga ada uang, saya tutup olt aja, ga mau buka2 lagi. Nanti aja bukanya kalo saham2 udah pada naik.. 

Saya ngga mau emosi saya terganggu oleh market, karena kita ngga cuma pengen menambah kekayaan, tapi juga pengen hidup sehat. 

Untuk apa beli saham dan kemudian jadi ngga bisa tidur nyenyak karena terganggu sama portfolio yang merah?

Beberapa hari ini saya banyak terima email, wa dan telfon yang menanyakan ttg market. Saya cm bilang, badai pasti berlalu. Market udah brp kali turun seperti ini dan pd akhirnya akan naik lagi, begitu juga dengan saham2 kita, kalo kita beli saham yang benar atau timing yang benar. 

Saya ditanya, apa mau pegang saham coal utk long term. Saya bilang, saya mau, tapi coal yang terbukti ada growthnya jg dr thn ke tahun. Dan di sini, saya pegang PTBA dan BSSR. ITMG saya hanya pegang sedikit, krn cashnya yang banyak saat ini.. Mungkin mindset investasi di saham coal yang harus dibenahi menurut saya. 

Kalo cuma patokannya harga beli, ya kalo kita beli PTBA misalnya di harga Rp 3500 thn 2021 awal, dan sekarang turun ke 2500, sepertinya rugi. 

Tapi kalau kita melihat devidennya, PTBA yang kita beli di thn 2021, sdh dpt deviden total Rp 1782,57 (before tax), alias modal beli kita setara dengan Rp 1717,43.

Tapi yang beli PTBA di Rp 2500 sekarang ini, modal belinya ya cuma Rp 2500 aja..  

Jadi kalo dibandingkan dengan deviden yang sdh kita terima, ya menurut saya masih menguntungkan yang beli PTBA di Rp 3500 thn 2021 drpd yang beli di Rp 2500 sekarang ini..

Kok cuma beli saham coal aja thn ini? Kalo untuk deviden, iya. Saya hanya beli saham coal aja thn ini. Saya mau beli BMRI dan BBRI juga utk invest long term, tapi menurut chart, sekarang belum waktunya untuk membeli BMRI dan BBRI.. Jadi nikmati saja harga diskon yang sedang diberikan market saat ini ke kita.. Semua ada momentnya nanti.

Laba coal anjlok thn ini (sehingga deviden thn depan akan turun), sdh saya sadari sejak awal saya beli saham coal lg di thn ini. Karena 2020 harga coal dibanting, 2021 mulai pulih, 2022 naik tinggi akibat perang ukraina-rusia dan under supply, sehingga 2023 ini pasti akan nyari support terbarunya. Jadi menurut saya, saham coal di thn ini nanti akan sama seperti kita beli saham coal di 2020, walaupun mungkin besaran diskonnya tidak sebesar 2020 kemarin.. Tapi buat saya yang mencari DY 15-20%/thn dr PTBA/BSSR untuk thn2 ke depan, sepertinya ini lah saatnya utk masuk lagi.. 

Saya ngga pinter menganalisa market, saya cuma pakai hitungan sederhana ala emak2 plus baca chart ala kadarnya, dan saya sadar, saya dibantu oleh waktu untuk bisa mencapai hasil investasi yang bagus.. Saya pakai patokan, dalam waktu 5 thn hold, bisa balik modal dari devidennya aja utk saham2 coal yang saya beli. Andaikan terjadi lebih cepat, ya anggap aja bonus.. 

Ngga takut ya dengan isu coal sunset dsb? So far akal sehat saya mengatakan, ngga akan sunset secepatnya. Bahkan dari data bauran energi nasional ESDM thn 2021 aja, menunjukkan kebutuhan coal di thn 2021 sekitar 77,7 MTOE dan di 2050 meningkat menjadi 250 MTOE.  Jadi walaupun secara prosentase bauran energi, prosentase coal turun dari 37% menjadi 25%, tapi secara kuantitas, jumlahnya meningkat hampir 3x lipat di 2050 nanti..  Silakan data dicari sendiri di internet ya.. :))

Lagipula, untuk pindah ke EBT, dibutuhkan biaya yang tinggi. Dan yang punya cash banyak siapa lagi selain perusahaan2 energi fossil ini (coal dan migas)....

So, utk deviden income, saya memasukkan coal sbg salah satu sumber saham deviden saya. Ada juga HEXA dan MPMX, yang sdh saya beli dr thn 2020 dan 2021. 

MPMX saya beli thn 2020, dan sekarang sudah balik modal semua dr deviden. Beli average 400, sekarang harganya Rp 1000. Dalam waktu 3 thn hold. Udah saya diemin aja, krn sdh jadi saham gratis.

HEXA saya beli thn 2021, di harga Rp 3500, sudah dpt deviden Rp 2725. Dengan deviden thn depan, insyaa Allah HEXA saya jg sdh jd saham gratis.

Sekarang tinggal PTBA dan BSSR yang sedang dalam proses menuju saham gratis juga. 

Sekarang, di harga PTBA Rp 2500, menurut saya ini sdh harga yang very undervalued, baik secara chart maupun valuasi.

Logika sederhana, di 2020, lowest PTBA = Rp 1385, dengan EPS = Rp 207.

Tahun 2023, eps annualized PTBA = Rp 430. Tapi harga PTBA sekarang Rp 2500. Kalau linier, harusnya lowest PTBA thn ini = 2 x Rp 1385 = Rp 2770. Jadi saya anggap, harga PTBA di bawah Rp 2770 thn ini, adalah harga yang very undervalued, baik secara TA maupun FA.

Dengan LK Q3/2023, PTBA di Rp 2500 setara dengan PER annualized = 5,53 ; PBV = 1,5, dengan estimasi DY sbb :

bila DPR 50% ===> Dy = 9,04%

bila  DPR 70% ===> Dy = 12,65%

bila DPR 80% ===> Dy = 14,46%

bila DPR 90% ===> Dy = 16,27%

bila DPR 100% lagi ===> DY = 18,08%

dan ini semua adalah estimasi DY thn depan, di saat laba PTBA lagi anjlok parah. Bagaimana nanti kalo labanya naik thn depan? Ya sdh pasti DY-nya akan lebih besar lagi..

Ngga perlu dengan hitungan rumit, bahkan dengan hitungan sederhana pun kita bisa memilih sebaiknya saham apa yang kita beli untuk mengejar deviden..

Bisa ngga PTBA turun lagi? ya bisa aja. Lha wong saya waktu thn 2020 pernah beli ptba di Rp 2000 dan ngga lama lgsg turun ke Rp 1385.. Dalamnya penurunan ngga bs kita prediksi, tapi bagaimana reaksi kita menghadapi penurunan saham, sepenuhnya adalah dalam kendali kita. Dan buat saya, kalo market lg turun dalam, saya selalu nambah beli ketika ada cash. Belinya juga lgsg haka aja di harga saat itu, krn males ngeliatin harga saham terus pdhl lg pada anjlok, kasian mental saya nanti.. :)) Dan ngga mau buka OLT kalo ga ada cash. 

Dalam masa bearish seperti ini, saya ngga pernah berani CL dan pegang cash. Saya lebih baik tetap pegang saham bagus aja, switching bila perlu, dr saham jelek ke saham bagus. Dan menjaga mental dengan ngga buka2 olt. Nanti begitu market berbalik, naiknya jg cepat. Jangan sampai begitu market berbalik arah, kita ngga ada barang dan akhirnya malah harus beli di harga yang lebih mahal drpd harga kita waktu CL...

Oya, beberapa saham trading saya seperti JKON, LPPF, ARCI, ASGR, masih saya hold smua. JKON dan LPPF minusnya sdh di atas 15%. Saya tetap hold karena ketika saya beli, patokan saya adalah chart monthly mereka yang sdh di bawah. Jadi untuk jualnya pun saya akan tunggu sampai chart monthly-nya sudah naik ke atas.. :))

Semoga apa yang saya tulis bisa memberikan pencerahan di saat mental lagi down karena saham2 turun dalam.. :) Aamiin..

Semoga semua saham investasi kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya..  Aamiin.. 


Warm Regards,

V3



Rabu, 25 Oktober 2023

Menghitung sendiri dana pensiun kita

 Setelah menikah dan punya anak, saya baru belajar financial planning atau perencanaan keuangan. Dan sama seperti belajar investasi saham, saya merasa, dengan semakin dini kita belajar financial planning, maka akan semakin baik juga untuk kesejahteraan hidup kita ke depannya.

Salah satu buku tentang mempersiapkan dana pensiun yang menurut saya bagus dan relatif mudah diikuti adalah buku Safir Senduk. Tapi saya juga belajar dari berbagai macam sumber lainnya.

Ada beberapa cara mempersiapkan dana pensiun, yang paling gampang, misal : siapkan dana senilai 100x atau 200x kebutuhan bulanan kita utk pensiun. 

Ada yang susah, dengan hitungan yang lbh berat dan menggunakan time value of money. 

Tapi semua metode tersebut untuk saya (waktu itu, di saat pertama kali saya mulai membuat financial planning), menghasilkan angka dana pensiun yang sangat besar... Sepertinya susah untuk diikuti , dan membuat saya jadi kurang termotivasi untuk merencanakan dana pensiun sendiri..

Akhirnya saya mencoba untuk membuat sendiri perhitungan dana pensiun ala saya.. 

Waktu itu, saya memakai asumsi, dari dana saya di saham, 10% akan saya ambil setiap thn untuk biaya pensiun. Dan portfolio saya di saham harus tumbuh minimal dengan CAGR 25%/thn, karena tiap tahun saya juga masih menambahkan dana ke portfolio saham. Asumsi inflasi  10%/thn.

Waktu awal, karena suami saya masih punya masa bekerja selama 24 tahun, saya buat plan untuk bisa pensiun dini dari pasif income di saham dalam waktu 15 thn ke depan.

Contoh perhitungan saya kurang lebih seperti ini (saya bawa ke nilai sekarang, dan dengan timeframe hanya 10 thn ke depan).

Misal biaya hidup dengan 2 anak, setidaknya Rp 20juta per bulan, dan budget investasi minimal 5 jt per bulan. Jadi setiap bulan saya butuh biaya hidup + budget investasi = Rp 25 juta, alias Rp 300juta/thn.

Rp 300jt/thn, misalnya saya ambil 10% setiap thn untuk biaya hidup, artinya saya harus punya portfolio saham sebesar 100/10 x Rp 300jt = Rp 3 Milyar.

Rp 3 Milyar = nilai 2023. Bila saya menargetkan pensiun 10 thn lagi, maka nilai Rp 3 Milyar = setara dengan Rp 7,78 Milyar di thn 2033 (bisa dengan menggunakan kalkulator CAGR, atau menggunakan rumus Future Value, dengan time = 10 years, dan rate = 10%).

Dengan return investasi 25% per thn, maka dana Rp 7,78 Milyar thn 2033 ini setara dengan Rp 835 juta saat ini (thn 2023) --- dengan menggunakan kalkulator CAGR atau Present value of money dgn time = 10 years, dan rate = 25%).

Bila saat ini kita sudah punya portfolio saham senilai Rp 835juta, maka bisa dianggap posisi dana pensiun kita untuk 10 thn ke depan dengan plan seperti di atas, sudah aman. Dan setiap uang yang kita investasikan lagi setiap tahunnya hingga menjelang pensiun, akan menjadi bonus bagi dana pensiun kita (alias kita bisa pensiun lbh sejahtera daripada yang kita rencanakan sebelumnya). Asumsinya, setiap tahun dana ini kita review, apakah sudah berkembang 25% dari nilai setahun sebelumnya. Bila belum sampai 25%, tambahkan lagi dananya. Bila sudah, artinya program pensiun kita semakin aman. 

Untuk patokan perhitungan, saya selalu memakai harga perolehan (harga beli), bukan market value, krn harga perolehan lebih bisa jadi pegangan buat saya. Dengan patokan harga perolehan, akan lebih jelas, berapa posisi portofolio kita dalam Rupiah di thn ini , thn sebelumnya, atau tahun ke depannya.. 


Bagaimana bila kita belum punya uang sebesar Rp 835 juta saat ini? Anggap saja saat ini uang kita baru ada Rp 100 juta. 

Berarti kita harus membuat plan untuk menambah dana investasi setiap thn, yang minimal sejumlah tertentu. 


Kita bisa menggunakan kalkulator anuitas untuk itu. Masukkan principal amount (dana awal yang kita miliki) = Rp 100jt, period (month) = 120, annual interest rate = 25% yang dicompound annually juga, maka didapat top up dana kita tiap thn harus sejumlah minimal Rp 192jt (lebih kurang tiap bulan nambah Rp 16jt). 


Mungkin bagi yang belum pernah belajar tentang time value of money, cara ini membingungkan. Jadi saran saya, coba kalian beli buku tentang Perencanaan Dana Pensiun, biar dapat gambaran yang lebih luas. 

Saya ngga bisa membahas lebih banyak tentang ini, karena memang perencanaan dana pensiun ini sangat customized, karena kondisi finansial tiap orang berbeda.. Bisa berbeda dari jumlah dana pensiun, waktu yang dibutuhkan, tingkat return patokan investasinya, dana yang sdh dimiliki saat ini, dll. Tapi percaya deh, smakin cepat kalian membuat perencanaan dana pensiun, maka hidup kalian akan semakin sejahtera nantinya, insyaa Allah..


Perencanaan pensiun sangat berhubungan dengan waktu yang tersedia. Dan dalam berinvestasi, time is our friend. 

Apakah menggunakan return 25% per thn ini dapat tercapai, bila kita menggunakan time frame waktu investasi 10 thn? Menurut saya, bisa tercapai, terutama bila kita investasi di saham2 yang growth dan tidak overvalued. Selain itu juga dibantu dengan top up dana terus ke saham setiap thn. Malah bagi saya, 25% kadang masih terlalu kecil (karena dibantu top up dana ini). Jadi saya sendiri biasanya menaruh target 30%-40% pertumbuhan dana investasi setiap tahunnya for my financial plan..

Setelah menjalani program perencanaan dana pensiun selama kurang lebih 19 thn, saya jadi tau mengapa program yang saya rancang sendiri ini bisa memberikan angka dana pensiun yang lebih kecil daripada yang saya pelajari dari buku2. Salah satu pembedanya, saya pikir karena saya berinvestasi di saham investasi yang benar2 produktif, growth, dan juga bisa menghasilkan cashflow (deviden dan capital gain), sehingga hasilnya bisa lebih optimal dibanding dananya saya masukkan ke investasi lain (misalnya : reksadana, properti, emas fisik, atau lainnya)... Selain itu, karena yang dipegang adalah saham investasi yang growth dan produktif, semakin lama kita hold, maka dana pensiun kita juga akan semakin besar, tidak habis2 walaupun kita sdh semakin tua.. 

Apalagi sekarang, masih banyak saham2 yang bisa memberikan devidend yield di atas 10%, sehingga ibaratnya, selama saham tersebut tetap growth, tanpa kita ngapa2in pun, dana kita akan tumbuh minimal 10% setiap thn, dari deviden yang kita dapatkan... 


Saya ambil contoh saham BMRI.

Anggap saham BMRI kita beli di 2 januari 2014 di harga Rp 2170 (adjusted stock split 2x, di thn 2017 dan 2023). 

Total deviden BMRI yang kita dapat selama 2014 - 2023 = Rp 1460,24 (adjusted 2x stocksplit).

Deviden awal yang kita terima dari BMRI ketika baru beli di 2014 = Rp 58,51 (adjusted 2x stocksplit), alias DY awal beli = 58,51 : 2170 = 2,7%.

Deviden terakhir yang kita terima dr BMRI di thn 2023 = Rp 529,3367. 

Deviden BMRI sdh tumbuh 804% dalam 9 tahun kita hold, sehingga DY kita pun sekarang menjadi 529,3367 : 2170 = 24,39%..

Yang hold BMRI dr thn 2014, sekarang cuma duduk diem aja ngga ngapa2in, portfolio sahamnya akan nambah 24%/thn hanya dari devidennya aja... 

Ini belum termasuk kenaikan capital gainnya. Sekarang harga BMRI Rp 5850, alias sdh ada kenaikan capital gain sebesar 169,6% dari harga beli kita..

Inilah yang saya maksud membuat program pensiun di saham yang growth , produktif dan dijual di harga yang tidak overvalued.

Contoh saham BMRI bukan berarti saya menyarankan untuk langsung beli BMRI di harga sekarang, ya. Ini hanya sekedar contoh saja.. 

Saya membuat banyak perhitungan seperti ini dengan saham2 deviden lainnya..  

Kembali ke program pembuatan dana pensiun, kita harus tetap review setiap thnnya karena bisa saja tiba2 juga biaya hidup kita naik signifikan, sehingga dibutuhkan kenaikan dalam jumlah dana pensiun yang kita butuhkan.. Jumlah dana pensiun saya pun sdh beberapa kali saya revisi, karena begitu target yg lama sdh tercapai, biasanya saya naikkan lagi targetnya ke jumlah yang lebih besar.. 

Ini saja yang bisa saya tulis mengenai perencanaan dana pensiun. Mudah-mudahan bisa memotivasi pembacanya untuk mempersiapkan program pensiun masing2, karena percayalah,  time is our best friend... Sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit..


Semoga saham2 dalam portfolio kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya nanti. Aamiin..


Warm regards,

V3


Selasa, 17 Oktober 2023

TOBA, saham coal termurah saat ini -- CL finally

 Update per 24 oktober 2023 : Saya CL TOBA karena baru sadar, laba sekarang lebih rendah daripada 2020  ... Ngga ada growth... :((((

Abaikan saja smua analisa di bawah, krn untuk perusahaan coal yang labanya lebih rendah drpd 2020, buat saya ini sdh gejala perusahaan kurang baik.. 

Saya melihat chart TOBA yang sdh di weekly dan monthly oversold, di harga Rp 280 sekarang. PBV-nya 0,4 dengan PER annualized 8,8x (data di HOTS).

Chartnya sdh turun jauh banget, selain itu secara PBV, ini murah banget ada saham coal yang PBV 0,4 di saat bisnis coal lagi pada panen cuan..

Tapi jangan harapkan deviden di sini, kejar capital gain aja. 

Kalo market sudah sadar bahwa saham TOBA ini very undervalued secara PBV, maka harganya bisa naik..

Jadi beberapa saham yang saya liat dr chart monthly-nya dan sdh masuk keranjang swing trading saya saat ini :

1. LPPF, saya beli di Rp 2460-2500. Target jual antara 3000-4000. Kalo dikasih lebih, ya bonus.. :)

2. JKON, saya beli di Rp 121 , sekarang Rp 107 :) tetap hold karena dr chartnya keliatan menarik.. :) Target jual minimal Rp 250..

3. ARCI, saya beli di Rp 348, sekarang Rp 396. Katanya ada rumor mau dibeli sama UNTR.. :). Target jual sekitar harga IPO, Rp 750, atau sesuai dengan rumor harga penjualan ARCI nanti.

4. TOBA, saya beli di 278-280. Target jual minimal di PBV 1 aja, atau sekitar Rp 500 :)

Karena ini swing trading, jadi target keluar terserah masing2 aja.. Tapi insyaa Allah dr harga beli akan lumayan nanti upsidenya. Bisa lah buat nambah2 uang jajan, insyaa Allah.. :)

Saya ada tips utk take profit dr swing trading.

Sometimes kalo misalnya tiba2 sahamnya naik tinggi, saya suka jual sedikit. Misalnya beli Rp 5jt. cuan 20% di hari itu, alias Rp 1jt. Saya suka jual sesuai dgn cuannya aja, sisanya biarin ttp di saham itu. Uangnya bs kita pakai atau untuk nambah saham lain lagi..

Semua disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri, karena belinya juga kita klik buy sendiri.. :)


Warm regard,

V3

LPPF dan ASGR --- CL finally

 Ada 2 saham yang saya liat menarik karena sentimen deviden dan sentimen pemilu.


1. LPPF -- di harga sekarang Rp 2460, LPPF ada potensi membagikan deviden sekitar 17% atau lebih. Patokan saya karena EPS setahun ini kurang lebih minus 18% dibanding EPS thn 2022, maka deviden thn ini juga kurleb turun 18% dibanding thn lalu. Tahun lalu LPPF membagikan deviden Rp 525, jadi estimasi deviden thn depan kurang lebih 82% x Rp 525 = Rp 430,5. 

estimasi DY LPPF thn depan = 430,5 : 2460 = 17,5%.

LPPF chart monthly, weekly dan daily jg sudah terlihat membentuk konsolidasi untuk naik.

Target dari chart yang saya liat : short term Rp 3000, mid term Rp 4000.

Harga LPPF sebelum cum date deviden 6 April 2023 = Rp 6550.

Tahun depan? we'll see.. Saya di sini hanya swing trading dengan memanfaatkan momentum deviden.. :)

LPPF ekuitasnya minus? dont worry, nanti keluar LK q3 juga ekuitasnya positif lagi kok.. :)

Based on LK q2/2023, BVS LPPF = minus Rp 70,82.

Tapi CFO/share mereka aja udah Rp 323. EPS-nya Rp 302,56.

Jadi gampang banget utk ekuitas LPPF bisa positif lagi di LK Q3, insyaa Allah.. 

Ekuitasnya minus karena LPPF banyak buyback sahamnya juga, yang terus dihancurin, jadi bisa meningkatkan nilai EPSnya juga nanti.. :)

Update per 3 november 2023 : saya CL LPPF finally karena minusnya sdh mendekati 25%, kerugian maksimal yang bisa saya tanggung di satu saham trading. Saya switch semua LPPF ke PTBA, yang jg lg dibanting. Ya, dlm trading, sometimes we win, sometimes we lose... And life goes on.  


2. ASGR

Ini mungkin saham grup astra yang cash/sharenya paling banyak saat ini, Rp 813/lembar, dan harganya sekarang Rp 930, berdasarkan market cap-nya. Dan kemarin mereka cum date deviden interim Rp 13/share. Kita liat nanti di LK Q3, berapa kas/share mereka..

Yang menarik, biasanya laba ASGR ikut terkerek sentimen pemilu, karena bisnis mereka adalah penunjang perkantoran. Dari chart monthly, ASGR sekarang juga sdh berada di support kuat monthly-nya.

Saya ngga terlalu mendalami LK-nya, tapi saya liat sdh ada growth di sales 6,6%, laba bruto growth 17%, dan laba bersih growth 113%. Tapi CFO-nya masih negatif. 

BVS-nya Rp 1284, sehingga di harga Rp 930, PBV = Rp 0,72.

PBV 0,72 dan cash-nya hampir 87% dari market cap, dan ini anak perusahaan Astra. Murah banget. Tinggal tunggu ada sentimen bagus atau growth bagus yang menghampiri saham ini, dan sepertinya sahamnya bs langsung naik tinggi. Dan selama nunggu, dia bisa kasih devidend yield skitar 4,25% di harga Rp 930 utk setahun (termasuk dengan deviden interim kemarin ini). Untuk ASGR, saya lebih menunggu bisnis data centernya beneran jadi sih.. Rumor yang saya baca ada begitu soalnya. Yang jelas, pasti dia lg ada bisnis yang mau dijajaki, kalo ngga kenapa cash-nya bs semakin gendut dr thn ke tahun dan ngga dibagikan sebagai deviden gede.. :)))) semoga aja bisa kembaran sama DCII valuasinya kalo nanti beneran jadi tuh bisnis data centernya.. :))))))


Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri..  :) saya cuma share entry point-nya aja, exit-nya terserah masing2, mau main pendek atau panjang.. :)

Saya banyak posting saham2 capital gain, karena porto saya sekarang sdh 92% saham deviden yang belum ada niatan utk dijual sm skali. Jadi sisa 8% dana saya gunakan utk swing2 aja, lumayan bs dpt receh utk jajan.. :))

Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 yang kita beli akan memberikan hasil yang bagus ke depannya yaaa.. Aamiin..




Warm Regard,

V3


update 18 maret 2024, finally saya CL semua di ASGR dan LPPF. Semua saya tambahkan ke PTBA lagi. Untuk devidend income, sampai saat ini saya lebih yakin dengan PTBA, krn growth plannya jelas, dan DPR jg besar, di atas 70%..  Saya CL ASGR dan LPPF sdh cukup lama, jauh sebelum thn 2023 berakhir.



Jumat, 06 Oktober 2023

Menambah aset atau menambah aset produktif?

 Tulisan ini saya buat hasil dari pembicaraan saya dengan seorang teman tadi malam.

Pada awal mulai berinvestasi saham, saya cuma sekedar tiap bulan nambah duit di RDN utk beli saham yang bagus menurut saya. Waktu awal, fokus lbh ke trading2 short term, 2-3 hari jual, dan dpt cuan lumayan. Jauh lbh besar hasilnya dibandingkan bunga deposito. Apalagi ketika thn 2009, begitu bursa rebound setelah crash 2008, itu apa aja yang kita beli pasti jadi duit.

2010 kepentok CL 40% semua porto di saham busuk, dan akhirnya jadi mulai belajar FA, dan sejak itu mulai fokus milih saham2 murah yang bs kasih capital gain lumayan (ratusan persen) dalam 1-3 thn hold.

Beberapa thn kemudian, karena modal sudah lbh besar, jadi agak males keluar masuk, dan akhirnya mulai mencoba deviden investing. Dan mulai dapat kenikmatan dr setiap dapat deviden, apalagi kalo yieldnya di atas bunga deposito. 

Crash 2020 akhirnya yang membuat saya beralih sepenuhnya jadi devidend investor, karena banyak saham2 berdeviden tinggi yang diobral harganya.. 

Dari setiap penurunan dalam di bursa, 2008, 2011, 2013, 2015, 2020, saya banyak mendapati posisi ga punya cash sama sekali ketika bursa di bottom. Portofolio minus bisa 15-20% ketika bottom terjadi. Tapi ketika bursa rebound, reboundnya jg cepat, sehingga akhirnya floating loss berubah lg menjadi floating gain. Jadi saran saya, bila ada penurunan dalam di bursa saham, sebaiknya kita tetap di dalam. Porto di-switch gpp, tapi ngga usah dijual smua dan pegang cash. Karena kalo pegang cash dan bursa rebound, bisa aja kita akan beli di harga yang jauh lebih mahal nantinya.. 

Setelah menjadi devidend investor, saya mungkin agak menyesal, kenapa saya ngga menjalani gaya investasi seperti ini dr dulu saja.. Karena, untuk investasi long term, kemungkinan berhasil devidend investing ini menurut saya hampir 100%. Asumsinya, kita investasi di saham yang royal deviden dan tetap ada prospek growth yang bagus di masa depan. Jadi ngga sembarangan juga beli saham yang berdeviden tinggi..

Untuk perbandingannya mungkin begini.

Investor A. Total portofolio saham Rp 2M. Biaya hidup Rp 100jt setahun. Tidak ada deviden dr porto sahamnya, sehingga dia harus muter duit terus utk mencari cuan dr sahamnya. Kelebihan metodenya : dia bs mendapatkan capital gain yang sangat besar dari saham2 yang dia punya. Kekurangan metodenya : bisa saja dia mendapatkan loss yang sangat dalam dr saham2 yang dia beli.

Investor B. Total portfolio saham hanya Rp 1M. Biaya hidup Rp 100jt setahun. Dia hanya pegang saham2 deviden di dalam portfolionya, yang di tahun ini dan thn ke depan, estimasi devidennya minimal Rp 150jt setahun. Deviden akan tumbuh lbh tinggi sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan. Kelebihan metodenya : Pasif income minimal Rp 150jt /thn akan trs dia dapatkan selama dia hold sahamnya. Semua kebutuhan hidup terpenuhi dr deviden, plus ada ekstra Rp 50jt setiap thn utk di-reinvest. Kekurangan metodenya : Pertumbuhan nilai portfolionya mungkin ngga akan tinggi2 sekali, karena ngga akan bs naik di atas 500% dalam 1-2 tahun, misalnya.. Jadi secara market value, bisa saja kalah jauh dengan investor A. Selain itu juga harus sabar kalo nanti terjadi penurunan dalam di bursa, sehingga portfolio sahamnya pun akan turun dalam...


Asumsi di atas, investor A dan B adalah full time investor, tidak ada income lain selain dari portfolio sahamnya.


Jalan mana yang akan Anda pilih sbg investor saham?

Bila fokus anda hanya untuk menambah aset, mungkin investor A akan lebih cocok untuk anda ikuti.

Bila fokus anda adalah untuk menambah aset produktif, investor B lah yang sebaiknya anda ikuti caranya.

Mungkin tulisan saya di atas bisa membantu utk pemilihan saham dalam portfolio kita...


Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 kita akan memberikan hasil yang baik di masa depan.. Aamiin..


Warm Regards,

V3






Rabu, 27 September 2023

ARCI dan JKON, bottom fishing utk investor..?

 Selain LEAD, yang mungkin akan turn around kinerjanya, dr chart monthly saya liat ada 2 saham yang menarik untuk dibeli krn potensi capital gainnya yang terlihat menarik.

ARCI dan JKON.

ARCI sekarang di harga Rp 342, JKON sekarang di harga Rp 126.

Saya ngga pinter nulis banyak2, karena kesannya seperti jualan obat nantinya.

Tapi seperti LEAD, saya liat ARCI dan JKON nanti juga akan memberikan return yang bagus, bila kinerjanya sudah benar2 pulih.

Kadang utk saham2 yang fokus ke capital gain bgini, bila dalam waktu singkat naik lumayan, atau chartnya sdh di overbought (daily/weekly/monthly), saya suka jual dulu sebagian, utk nanti buyback lg ketika dia sdh turun.. Karena suka sedih kalo liat capital gainnya mendadak hilang begitu aja.. :))) Dan di sini kita jg ngga bs mengharapkan deviden, jadi ya sudahlah, ambilin aja cuannya nyicil2 biar ngga bete.. :)

Target utk ARCI, balik ke harga IPO-nya aja deh, setidaknya , di Rp 750.

Untuk JKON, minimal ke Rp 250 (sekitar MA 60 monthly-nya).. 

Tapi ya harus dengan sabar ya, minimal 1-2 thn hold dulu.. 


Disclaimer ON, rugi tanggung sendiri..


Warm Regards,

V3



Rabu, 20 September 2023

Nyangkut di BSSR...

 Tanggal 26 April 2022, saya membeli BSSR di harga Rp 4330.

Habis saya beli, BSSR sempat naik ke Rp 5075, tapi tidak saya jual krn memang sdh niat beli untuk mendapatkan deviden.

Tanggal 23 may 2022, saya dapat deviden Rp 411,05. Habis ini harga terus nyungsep sampai 3020.

Tanggal 30 September 2022, saya dapat deviden Rp 567,13

Tanggal 30 Desember 2022, saya mendapat deviden Rp 580,59

Tanggal 16 Juni 2023, saya mendapat deviden Rp 341,4

Tanggal 26 September 2023 nanti, saya akan mendapat deviden Rp 349,93

Total deviden BSSR yang saya dapat selama nyangkut adalah Rp 2250,1.

Sehingga, walapun modal beli BSSR saya adalah Rp 4330, tapi setelah dikurangi dengan deviden yang saya dapat, modal beli saya di BSSR tinggal menjadi Rp 4330 - Rp 2250,1 = Rp 2079,9. 

Harga BSSR sekarang = Rp 4080. 

Kalau kita hanya sekedar melihat harga beli kita, seakan-akan posisi kita adalah FLOATING LOSS, karena modal beli kita masih di bawah harga saat ini. 

Tapi bila kita perhitungkan juga deviden yang kita terima di dalamnya, posisi kita sebetulnya sudah FLOATING PROFIT, karena modal beli kita bukan lagi Rp 4330, tapi sudah Rp 2079,9. 

Ini hanya sekedar itungan ala emak-emak investasi saham versi saya, ya. 

Tapi hal ini bikin saya ngga takut beli saham dengan deviden gede, selama saham tersebut ada prospek growth ke depan, dan harganya sekarang masih termasuk murah..

Yang sangat menarik buat saya adalah nanti ketika modal beli saya sdh mencapai NOL, artinya itu saham sdh benar2 jadi saham gratis. Tanpa perlu modal ibaratnya, saham tsb sudah menjadi mesin duit untuk saya ke depannya..

Kenapa harus sibuk dengan tektok tektok jual beli, kalo hanya dengan diam saja ngga ngapa2in, saham tsb sdh bs memberikan kita DEVIDEND YIELD di atas 15% setahun?

Inflasi menurut website BI sekarang adalah 3,27%/thn

BI 7 day RR sdh di 5,75%/thn.

Sedangkan estimasi Deviden Yield PTBA thn depan (misal deviden Rp 600 perak), sdh di 20%/thn (asumsi harga beli Rp 3000). Sudah lebih dari 3x lipat BI 7 day RR.

Hanya dengan beli saham PTBA dan diamkan aja, dalam setahun kita sdh bs dpt DY 20%.

Nanti setelah dapat deviden, modal beli PTBA kita yang 3000, sdh berkurang menjadi tinggal Rp 2400 (dibagi thn 2024). 

Asumsi thn 2025 devidennya sama, artinya dpt deviden Rp 600 lagi, maka modal beli kita tinggal Rp 1800..

Tinggal nunggu 3x deviden lagi bila asumsi tidak ada growth, maka saham PTBA kita sdh bisa balik modal dan jd mesin duit gratis... 

Tapi balik lagi, ini cuma itungan sederhana ala ibu rumah tangga aja. Daripada duit dingin ditaruh di deposito, ya lebih baik masukkan saham PTBA saja. Fluktuasi harga jangka pendek ngga perlu dilihat, karena harga cuma ilusi. Deviden adalah realita. 

Kenapa saya pakai contoh PTBA dan bukan BSSR? Karena hanya PTBA yang saya yakin banget prospek growth ke depannya (walaupun saya juga punya BSSR dan ITMG). 

Selain itu, saya juga punya PTBA yang nyangkut di Rp 4180. Saya beli karena ada isu BLU akan terjadi sebentar lagi [padahal sdh di monthly overbought juga waktu itu, tapi saya tetap beli karena PER masih 5x . Akhirnya nyangkut. Tapi gpp, sdh dpt deviden Rp 1094 (DY = 26%) , jadi modal beli saya sdh berkurang menjadi Rp 3180 saja.. hehe] 

Terus gmn rasanya nyangkut di Rp 3180, padahal skrg harganya Rp 2900? ya biasa aja. Apalagi kalo thn depan PTBA bagi deviden Rp 600, artinya modal beli saya tinggal Rp 2580 lagi. Dan akan saya hold terus sampai PTBAnya balik modal dr deviden, dan jd saham gratisan..

Buat saya, dengan perhitungan ala ibu rumah tangga biasa, ngga canggih2, ngga pakai analisa muluk2, mumpung masih banyak saham bagus royal deviden dan msh ada growth ke depan dengan DY yang bs di atas 15-20% setahun,  kumpulin aja sebanyak-banyaknya sekarang utk pasif income di masa tua.. Kesempatan begini mungkin ga akan terulang lagi nanti,  jadi kita manfaatkan dengan baik..

Disclaimer on ya..

Semoga pengalaman saya nyangkut di BSSR dan PTBA bisa memberikan pencerahan, sisi lain dari investasi di saham bagus royal deviden dan masih berpeluang tumbuh ke depannya..


Warm regards,

V3



Jumat, 01 September 2023

LEAD, saham kapal pengangkut minyak yang mulai turn around

Saya sdh mulai mantengin LEAD dr LK q1/2023 kemarin, karena sudah mulai terlihat turn around kinerjanya, walaupun di Laporan Laba Rugi, posisinya masih merugi. 

Tapi ketika awal tahun kmrn itu, saham coal banyak yang dibanting dalam (terutama ITMG), jadi saya prefer nambah ITMG daripada beli LEAD.

Sekarang, ketika porto coal saya sdh banyak lagi, saya mulai cari sektor lain untuk invest. 

Dan saya tertarik lagi dengan LEAD.

Kasnya tumbuh 66%. Kas/share = Rp 62. Harga sahamnya sekarang Rp 70.

Pendapatannya tumbuh 17%.

Revenue/share annualized = Rp 115. 

debt/share = Rp 304.

CFO/share = Rp 90 (annualized).

Book value/share = Rp 96

Di harga Rp 70 sekarang, EV/CFO = 3,47. Untuk bisnis yang baru turn around dan EV/CFOnya masih di bwh 4, menurut saya ini cukup menarik, karena saham seperti ini lonjakan perubahan arus kasnya akan signifikan ketika bisnisnya sudah benar-benar pulih, sehingga EV/CFO akan semakin mengecil, atau malah bisa jadi di bawah 1. 

Contohnya, utk WINS, yang sdh beli duluan di harga Rp 70, EV/CFO-nya sekarang tinggal 1,4.  Tapi bagi yang beli WINS di harga Rp 500, EV/CFOnya jadi 6,59. Untuk saham komoditas, terutama yang suka fluktuatif harganya, saya lebih suka melihat EV/CFO daripada PER. Karena bisa saja di LK, perusahaan tetap mencatat rugi, tapi sebetulnya secara operasi, masih sehat banget. Masih bs nambah kas yang banyak, masih bisa bayar utang.. 

Arus kas operasi jangan pernah diskip kalo kita melihat LK emiten. Jangan hanya terpaku pada laporan rugi laba aja :)

Dilihat dr PBV, PBV LEAD juga masih di bwh 1. 

Secara chart, LEAD sempat di harga Rp 1400. WINS di 1500.

Sekarang WINS sdh 500, tapi LEAD masih di Rp 70.

Saya melihat dr segi chart dan FA, upside untuk LEAD masih besar. Minimal masih bisa naik 100% dari harga skrg. Disclaimer on ya. Tapi harganya baru akan bisa naik banyak setelah LK-nya mencatatkan laba positif. Selama di LK msh minus, harganya masih akan ditahan dulu sepertinya.. :)

Tapi jangan pasang target jangka pendek utk masuk di saham ini. Saya sendiri akan pasang target minimal 1 tahun hold utk bs dapat cuan 100%. Dan harus siap mental kalo dibawa ke Rp 50 lagi.

Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri, karena duit ya duit kita sendiri, dan jari kita sendiri yang klik tombol beli.. :))

Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang baik di masa depan.. Aamiin.. 


Warm regards,

V3




IPCM, saham royal deviden yang lagi konsolidasi..

 IPCM dan IPCC pernah saya beli dulu, baik utk swing maupun utk deviden. 

Tapi ketika 2021 saya fokus di saham coal, akhirnya banyak saham invest saya yg beralih jadi saham coal, terutama saham PTBA.

Dan sejak 2023 awal, ketika saham coal banyak dibanting dalam, akhirnya saya banyak beli lagi.

Sekarang, portofolio saham coal saya sdh banyak banget, isinya PTBA, ITMG, BSSR. Mungkin porsinya sdh 90% portfolio sendiri. Dan sekarang mereka sdh jadi mesin duit utk saya, yang devidennya bs saya pakai utk menambah saham2 deviden lagi setiap tahunnya, alhamdulillah.. :)

Jadi mulai sekarang saya tekankan pd diri saya, utk mulai diversifikasi sektor lagi. Jadi saya beli ARNA, beli ANTM, beli BJBR lagi, dan beli IPCM. Tapi di antara semua, saya prefer IPCM, yang devidend payout ratio (DPR) paling tinggi. ANTM saya beli untuk ngejar capital gain aja nanti kalo sdh bs cuan lumayan.

IPCM dan IPCC selama ini memang menjadi sumber pemasukan bagi Pelindo, sehingga DPR mereka tinggi semua. 

Tapi krn IPCC sdh naik tinggi, saya ga mau beli lagi. Saya beli saudaranya aja yang harganya masih di situ2 aja, cuma beda sedikit dibanding waktu saya beli dulu dan saya jual karena sdh cuan di atas 25% utk pindah ke saham coal.. :)

IPCM bisnisnya jg lbh saya minati dibanding IPCC, krn dia memberikan jasa memandu kapal2 di pelabuhan, ngga heran ketika covid pun labanya masih bisa positif (hanya turun sedikit, beda dengan IPCC yang jadi minus).

Melihat LK Q2-2023, pendapatan IPCM naik 32%.

Laba bruto tumbuh 18%. GPM 25%.

Laba usaha tumbuh 31%. OPM 17%.

Laba bersih tumbuh 29%. NPM 14%.

EPS = Rp 15,88. ROE 14%.

Di harga Rp 288, PER = 9,07, sehingga devidend yield utk setahun ke depan kalo kita hold, masih bisa dapat antara 7,7% - 8,8% (DPR antara 70-80%). Bukan jumlah yang menarik jika dibandingkan dengan DY saham coal saat ini.

Tapi untuk bisnis yang kemungkinan growingnya masih tinggi di masa depan, terutama di wilayah Indonesia timur, mungkin saja dalam 3-5 thn ke depan DY-nya akan tumbuh 2x lipat, dibanding DY saat ini..  :) Dan bisnis ini lebih anti terhadap resesi sepertinya, karena kegiatan ekspor impor akan terus berjalan, termasuk ketika covid kemarin.

Disclaimer On. Rugi tanggung sendiri ya.. :)

Ini hanya alternatif sektor bagi investor yang sdh ngga mau membeli saham coal lagi dlm portofolio investasinya :)

Semoga investasi saham kita akan semakin baik di masa2 mendatang ya.. Aamiin..


Warm regards,

V3




Senin, 28 Agustus 2023

Chart dulu, atau valuasi dulu?

Saya tipikal fundamental teknikal analis, krn saya menggunakan kedua metode itu untuk investasi saham saya. 

Biasanya, saya punya daftar watchlist dari saham2 dengan Devidend Payout Ratio rutin di atas 50%. Nanti dari list yang saya punya, saya tinggal menunggu saja sampai mereka chartnya tiarap krn LKnya jelek atau karena ada bad news, baru saya beli atau nambah beli..

Jadi dalam dua thn belakangan, beberapa kali saya gunakan metode itu utk beli saham investasi atau utk swing trading. So far hasilnya cukup baik, mostly masih bs dpt 30% setahun,  walaupun mungkin hasilnya bisa beda ya, utk setiap orang...

Saya pakai indikator TA yang simpel aja : stokastik slow oversold. 

Probability hasil investasi terbaik selama ini pada umumnya saya dapatkan ketika indikator stokastik slow sedang di daily weekly monthly oversold. Walapun kadang ga jamin jg sahamnya akan langsung naik ketika kita sdh beli, alias bisa aja msh dibawa turun ke bawah, tapi kalau kita sabar hold 6 bulan - 1 tahun , biasanya kita msh bs dpt capital gain antara 20-30% setidaknya. Disclaimer on ya..

Bagaimana kalo yang oversold cuma monthly aja? ya sabar aja nunggu lagi, minimal kalo sdh di dua oversold (daily/monthly atau weekly/monthly), baru kita bs beli.. :) Tapi kalo udah ngga sabar pengen beli sahamnya langsung krn takut nanti harganya naik, ya gpp juga, asalkan dia msh di monthly oversold.. 

Indikator TA yang gratisan dr OLT  bs dipakai kok, ga perlu yang canggih2 banget. Di sini yang kita andalkan adalah : yakin bahwa fundamentalnya bagus dan penurunan harga hanya sementara, dan sabar menunggu sahamnya naik lagi.. 

Kalau ada perbedaan hasil dr indikator yang sama krn perbedaan aplikasi sekuritas, menurut saya sih masih tetap bs dipakai indikatornya.. Tinggal panjangin sabar aja kalo ngga langsung naik harga sahamnya..

Selain punya patokan beli utk saham yang sedang di monthly oversold, saya juga punya patokan untuk ngga pernah beli saham yang chartnya sedang di monthly overbought. Karena kalo saham sdh di monthly overbought, upsidenya sdh ngga banyak, tapi downsidenya besar banget. Kemungkinan nyangkutnya tinggi sekali... 

Jadi saya membatasi diri untuk ngga pernah mau beli saham yang lagi di area monthly oevrbought, walaupun misalnya PER-nya kecil dan banyak berita baik yang beredar. Karena memang saham yang di monthly overbought itu biasanya semua berita baik sdh priced in, tinggal tunggu ada sedikit sentimen negatif aja utk bikin harganya turun dalam..

Kemudian untuk screenernya, kenapa harus DPR minimal 50%? Ya, karena biasanya hanya emiten sehat aja yang bisa bagi DPR rutin 50%. Selain itu PSPnya adalah PSP yang mau berbagi keuntungan dengan investor ritel, bukan yang cuannya dimakan sendiri aja... hehehe

Tapi untuk astra grup, yang langganan membagi DPR 40-50%, tetap masuk di screener saya, krn GCG astra grup sdh terbukti bagus, bukan tipe yang suka main curang sm investor ritelnya.. :))

Oya, kenapa saya ngga pakai valuasi? 

Buat saya, valuasi jauh lebih susah dipegang daripada indikator TA. Metode valuasi ada banyak bgt, dan hasil valuasi bisa beda2, tergantung metode yang kita pakai. Sehingga saya sdh lama ngga mau lagi ngitung valuasi, hanya sebatas PER, PBV, EV/CFO aja paling.. 

Ngitung estimasi Devidend Yield (DY) yang akan dibagikan, menurut saya masih jauh lebih bs diandalkan daripada ngitung valuasi. Tapi ini menurut saya ya, orang bs beda-beda kan.. :)

Semakin lama menggunakan TA, saya semakin yakin, bahwa ketika suatu saham bagus sudah di monthly oversold, artinya dia sdh priced in terhadap smua berita jelek yang akan keluar ke depannya..

Jadi jangan pernah takut kalo ada saham bagus rajin bagi deviden yang lagi dibanting karena misalnya labanya lagi turun, atau ada bad news tertentu dan smua berita jelek tentang saham itu beredar di mana-mana, biasanya itulah kesempatan yang diberikan market kepada kita untuk ngumpulin sahamnya.. Tapi tetap ya, saya pakai batasan PER utk membeli saham yang lagi dibanting.

Misalnya, utk saham growth seperti SIDO dan BBCA, saya ngga akan mau beli kalo PERnya sdh di atas 25.. Jadi walaupun sdh di monthly weekly daily oversold tapi PER sdh di atas 25, ya saya males beli.. Mendingan cari saham lain aja ..

Tapi untuk batasan PER,  maaf, saya ngga bs bahas lbh detil di sini, karena ini sangat tergantung dengan kenyamanan kita sbg investor. Bisa aja ada investor yang tetap mau beli SIDO/BBCA ketika PER-nya sdh 28x dan dia oke2 aja, ya ngga apa2 juga, toh duit kan duit dia sendiri.. :)

Sepertinya jadi kontrarian investor akan memberikan hasil investasi yang lebih baik utk kita, daripada mengikuti saham yang lagi rame dipom-pom.

Terakhir, ini beberapa saham yang saya lihat menarik dibeli di harga sekarang, baik untuk devidend investing atau utk swing trading  :

- TLKM 3710-3720 (mungkin thn depan msh bs dpt DY skitar 5-6%)

- SIDO 640-645, tp selama di bwh 700 msh menarik utk dibeli (terutama yang mau invest long term) ---- update tgl 31/8/2023, utk SIDO masih dalam watchlist, karena saya mau lihat LK Q3/2023-nya dulu.

- ARNA, best buy di bwh 700, tapi mungkin 750-765 pun saya tertarik beli kalo ada cash

- ANTM 1985-1995 (ini ngga stokastik oversold, tapi dia sdh konsolidasi lamaaaaa banget, sehingga kalo kita sabar, insyaa Allah akan kasih gain yang bagus jg nantinya)

- BJBR di bwh 1200, ini jg sedang konsolidasi, bisa dapat DY thn depan skitar 8% sepertinya.. 

- PTBA di bwh 3000, kalo thn depan DPR 100% lagi, msh bs dpt DY skitar 13-16%.. 

Semua disclaimer on ya.. Rugi tanggung sendiri :)

Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya ya.. Aamiin..



Warm Regards,

V3


Selasa, 30 Mei 2023

TIPS untuk devidend investing

 Ada berbagai macam cara untuk berinvestasi di bursa saham. Ada dengan cara trading, value investing, growth investing, atau lainnya.

Dan karena suami saya akan pensiun dalam waktu 7 thn lagi, sejak 3 thn yang lalu (kebetulan ketika bursa saham sedang crash akibat covid), saya mulai fokus ke devidend investing. Jadi saya hanya membeli saham-saham yang royal bagi deviden aja. Paling timing belinya saya berpatokan dengan chart dan hitungan FA sederhana yang saya lakukan. Biasanya saya semakin semangat beli saham royal deviden yang sedang dibanting harganya.. :)

Untuk investor pemula yang juga ingin mencoba metode ini, mungkin bisa melakukan cara seperti yang saya lakukan, terutama biar ngga galau untuk hold barang ketika harga sahamnya lagi dibanting turun... :)

Kita ambil contoh saham PTBA. Misalkan kita beli PTBA di harga Rp 3000 tahun lalu, dan sudah dpt deviden Rp 680. 

Berarti modal saham PTBA kita sebenarnya tinggal Rp 3000 - Rp 680 = Rp 2320.

Jadi kalo sekarang PTBA dibanting turun hingga ke Rp 3000 lagi, kita mestinya ngga usah panik untuk langsung jual. Karena modal beli PTBA kita itu sdh Rp 2320, bukan lagi Rp 3000.

Saham PTBA yang kita beli Rp 3000 di thn lalu, tidak sama nilainya dengan saham PTBA Rp 3000 hari ini. Dan DEVIDEN yang kita terima itulah pembedanya. 

Kalau thn ini misalnya nanti PTBA bagi deviden Rp 800, maka modal beli PTBA kita jd turun lagi, sdh menjadi Rp 2320 - Rp 800 = Rp 1520.

Mungkin dengan 2x bagi deviden lagi, saham PTBA sdh jd saham gratis, dan akan menjadi mesin duit yang akan terus ngasih kita duit setiap tahun, bahkan ketika dia cuma diam aja di portfolio kita bertahun-tahun kemudian.. :)

Dan ketika kita sdh berada di tahap itu, kita akan mengerti betul-betul artinya menjadikan saham sebagai mesin duit tiap tahun.. :)


Saya mau sharing tentang MPMX, saham yang saya beli ketika sedang dibanting di thn 2020.

Waktu itu, MPMX betul2 bikin panik selling karena ada big fund yang keluar. harganya dibantai betul, bahkan jauh lebih rendah daripada nett value/share-nya.

Saya tau MPMX itu termasuk saham yang royal deviden. Cash rich. Low debt. Jadi saya ikut nampung beli saat itu. beli dari harga sekitar Rp 450, dan dibawa turun sampai ke 300an. 

Tapi saya tetap hold walaupun sdh floating loss lumayan. Saya average down kalo ada duit. 

Terus keluarlah deviden Rp 115 ketika harga MPMX skitar 400-an, alias bisa dpt devidend yield (DY) 25,5% dari harga saat itu. Ketika MPMX sdh naik 100%, saya jual stengah untuk pindah ke saham lain. Sisanya masih sebagai saham deviden sampai saat ini.

Modal average saya di MPMX skrg Rp 407. 

Tapi dari 3 thn hold (november 2020 - 2023), saya sdh mendapat total deviden Rp 430. Alias devidennya sdh jauh lebih besar daripada modal beli saya. Belum lagi ditambah capital gain kalo saya mau jual sahamnya.

Tapi saham MPMX sisa ini sdh saya jadikan sebagai saham mesin duit, jadi ngga akan saya jual lagi, tinggal makan deviden aja tiap tahun.. 

Semoga di tahun-tahun ke depan, akan smakin banyak saham2 gratis seperti MPMX ini yang bisa kita dapatkan dari BEI.

Kuncinya cuma satu : sabar hold.

Ketika dibanting, ketika floating loss, kita masih kuat hold.

Tapi ketika saham sdh mulai naik tinggi, biasanya iman kita tergoda untuk profit taking. Dan ketika itulah, cara di atas bisa dilakukan, karena kita tau modal beli saham kita sdh jauh lbh murah daripada harga saat ini.. :)

Tapi devidend investing hanya bisa dilakukan di saham2 yang rajin bagi deviden, dan juga royal deviden. Jangan lakukan ini di saham yang pelit deviden, nanti kita bisa sakit hati :)))

Ok, ini aja tips dari saya. Mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan bagi yang ingin melakukan devidend investing.. :)


Selamat berinvestasi saham. Semoga hasil investasi kita akan semakin baik di masa depan. Aamiin.. 


Warm Regards,

V3




DVLA, saham farmasi royal deviden yang sedang dibanting harganya..

 Saya mulai perhatikan DVLA sejak akhir thn 2022 kmrn. Tapi di LK Q4, laba kuartal Q4 (only) masih negatif, sehingga saya tunggu LK Q1-nya keluar. Ketika LK Q1 keluar, laba Q1 sdh mulai positif walaupun masih turun yoy. Tapi saya liat chartnya sdh di bawah sekali. Selain itu, secara PER, ROE dan devidend yield sdh mulai menarik untuk saya.


So, mulai thn ini DVLA masuk ke saham deviden saya. DVLA selama ini termasuk royal membagi deviden, bisa sekitar 70-90% laba yang dibagikan sebagai deviden. Dan selama 10 thn terakhir, DVLA selalu rutin membayar deviden. Kekurangannya cuma satu : ini saham ngga likuid, jadi saya ngga bisa beli banyak ... :(

Di LK Q1/2023, saya hanya tertarik dengan PER DVLA yang sdh di bawah 10x, tapi ROE-nya sdh 16,72%. PBV = 1,51 ( di harga Rp 1970).

ROE : PBV = 11,07% . Termasuk bagus untuk saham farmasi yang royal bagi deviden dan baru pulih kinerjanya. 

Dengan PER 9,1x , estimasi devidend yield yang bisa kita harapkan sekitar 7,7% (asumsi Devidend Payout Ratio = 70%). Masih sangat menarik untuk saham sektor farmasi. Disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri.. :)


Semoga investasi kita akan memberikan hasil yang baik di tahun-tahun ke depan, aamiin.. :)


Warm regards,

V3







Jumat, 05 Mei 2023

ACES dan UNTR

 LK Q1/2023 sudah banyak yang keluar. 

Walaupun laba saham emiten coal banyak yang turun, tapi melihat salesnya masih tumbuh, dan rata-rata penurunan laba lebih karena kenaikan royalti, saya yakin bahwa siklus energi (terutama coal) belum selesai. Jadi saya masih hold saham2 coal yang saya dapatkan di harga bawah atau juga yang masih nyangkut :))  

Dan semua saham coal ini saya gunakan sebagai mesin pencetak duit (devidend income). Tapi saat ini saya hanya punya PTBA dan BSSR saja untuk saham coal.

Dari LK Q1/2023 yang sdh saya baca dan pelajari, saya sangat tertarik dengan 2 emiten ini : UNTR dan ACES.

ACES memang belum ada perbaikan kinerja, tapi harga ACES saat ini sdh termasuk murah menurut saya.

Patokan valuasi saya untuk ACES adalah EV/CFO.

Di mana rumusnya adalah =  (market cap + utang berbunga (debt) - kas ) / CFO yang disetahunkan. 

Tapi saya lebih suka semua data di atas dihitung per share-nya, sehingga data yang saya pakai adalah :

- market cap diubah jadi price saat ini

- utang berbunga (debt) dihitung per sharenya. yang termasuk debt adalah utang bank, utang obligasi, senior notes, atau utang berbunga lainnya.  Kebetulan untuk ACES tidak ada utang berbunga (nol).

- kas per share

- CFO (arus kas operasi) per share yang disetahunkan

Semua data bisa didapat dari LK-nya.

Sehingga utk ACES, di harga Rp 480 hitungan EV/CFO-nya =

   [ Rp 480 + 0 - Rp 141 ]  : ( 4 x Rp 26,28) = 3,22

Di harga Rp 480, EV/CFO ACES = 3,22

Buat perusahaan yang efisien ( gross profit margin umumnya di atas 40%), EV/CFO 8 saja sudah termasuk murah. Ini ACES masih 3,22.. jadi ACES di harga sekarang ini masih sangat murah. 

Disclaimer on ya, rugi tanggung sendiri. 

Hitungan EV/CFO saya, saya buat versi saya sendiri, yang saya pikir jadi jauh lebih mudah daripada rumus aslinya. 

Dari LK ACES, saya juga liat ada saham treasuri-nya. 

Dan modal beli saham tresuri ACES adalah Rp 1154/lembar, alias masih jauhhh di atas harga sekarang di market.. :) 

Bagi yang belum punya ACES, ngga usah buru2 haka. Tunggu aja pas dia turun, toh saham akan slalu ada naik turunnya, walaupun sekarang dia masih undervalued. Selain itu, kinerja ACES juga belum begitu menunjukkan perbaikan, jadi akan butuh waktu bagi sahamnya untuk naik tinggi..


Untuk UNTR, di bawah Rp 25000, saya dapatkan EV/CFO di bawah 1. Kalau dengan penjelasan sederhana, EV/CFO di bawah 1 artinya adalah : uang yang kita keluarkan untuk membeli saham UNTR akan kembali ke kita dalam jumlah yang sama (dalam bentuk kas dan arus kas operasi), dalam waktu kurang dari setahun. Ngga heran UNTR kemarin bisa bagi deviden dengan payout ratio 100%, karena kasnya melimpah, arus kas operasinya juga banyak.

Benar kata LKH, harta karun yang sesungguhnya itu bukan ada di laut, tapi di bursa saham..

Ok, ini aja sharing dari saya. Yang jelas, untuk dapat return yang bagus dari saham, setidaknya kita harus hold 1-2 tahun ke depan. Dan nanti harus direview setiap kuartalnya, apakah kinerja membaik/tidak, apakah valuasinya sdh terlalu mahal atau malah masih terlalu murah..


Selamat berinvestasi saham, semoga hasil investasi kita akan semakin baik di tahun-tahun mendatang.. :)


Warm regards,

V3


Oya, saya di sini hanya kasih info saham yang lagi bagus utk dibeli. Untuk jualnya, ya terserah masing2 aja. Yang penting dipantau aja terus saham yang kita beli, apakah jadi memburuk/ngga kinerjanya. Kalo kinerja memburuk, selama masih bisa jual cuan, alhamdulillah :)

Dan sebaiknya, walaupun niatnya invest, tetap pakai stop loss aja, utk jaga2, kecuali kalo saham yang kita beli adalah saham yang sering bagi deviden gede. Kalo beli saham deviden, walaupun nyangkut setidaknya msh ada uang yang bs masuk ke kantong kita dari deviden..