Rabu, 25 Oktober 2023

Menghitung sendiri dana pensiun kita

 Setelah menikah dan punya anak, saya baru belajar financial planning atau perencanaan keuangan. Dan sama seperti belajar investasi saham, saya merasa, dengan semakin dini kita belajar financial planning, maka akan semakin baik juga untuk kesejahteraan hidup kita ke depannya.

Salah satu buku tentang mempersiapkan dana pensiun yang menurut saya bagus dan relatif mudah diikuti adalah buku Safir Senduk. Tapi saya juga belajar dari berbagai macam sumber lainnya.

Ada beberapa cara mempersiapkan dana pensiun, yang paling gampang, misal : siapkan dana senilai 100x atau 200x kebutuhan bulanan kita utk pensiun. 

Ada yang susah, dengan hitungan yang lbh berat dan menggunakan time value of money. 

Tapi semua metode tersebut untuk saya (waktu itu, di saat pertama kali saya mulai membuat financial planning), menghasilkan angka dana pensiun yang sangat besar... Sepertinya susah untuk diikuti , dan membuat saya jadi kurang termotivasi untuk merencanakan dana pensiun sendiri..

Akhirnya saya mencoba untuk membuat sendiri perhitungan dana pensiun ala saya.. 

Waktu itu, saya memakai asumsi, dari dana saya di saham, 10% akan saya ambil setiap thn untuk biaya pensiun. Dan portfolio saya di saham harus tumbuh minimal dengan CAGR 25%/thn, karena tiap tahun saya juga masih menambahkan dana ke portfolio saham. Asumsi inflasi  10%/thn.

Waktu awal, karena suami saya masih punya masa bekerja selama 24 tahun, saya buat plan untuk bisa pensiun dini dari pasif income di saham dalam waktu 15 thn ke depan.

Contoh perhitungan saya kurang lebih seperti ini (saya bawa ke nilai sekarang, dan dengan timeframe hanya 10 thn ke depan).

Misal biaya hidup dengan 2 anak, setidaknya Rp 20juta per bulan, dan budget investasi minimal 5 jt per bulan. Jadi setiap bulan saya butuh biaya hidup + budget investasi = Rp 25 juta, alias Rp 300juta/thn.

Rp 300jt/thn, misalnya saya ambil 10% setiap thn untuk biaya hidup, artinya saya harus punya portfolio saham sebesar 100/10 x Rp 300jt = Rp 3 Milyar.

Rp 3 Milyar = nilai 2023. Bila saya menargetkan pensiun 10 thn lagi, maka nilai Rp 3 Milyar = setara dengan Rp 7,78 Milyar di thn 2033 (bisa dengan menggunakan kalkulator CAGR, atau menggunakan rumus Future Value, dengan time = 10 years, dan rate = 10%).

Dengan return investasi 25% per thn, maka dana Rp 7,78 Milyar thn 2033 ini setara dengan Rp 835 juta saat ini (thn 2023) --- dengan menggunakan kalkulator CAGR atau Present value of money dgn time = 10 years, dan rate = 25%).

Bila saat ini kita sudah punya portfolio saham senilai Rp 835juta, maka bisa dianggap posisi dana pensiun kita untuk 10 thn ke depan dengan plan seperti di atas, sudah aman. Dan setiap uang yang kita investasikan lagi setiap tahunnya hingga menjelang pensiun, akan menjadi bonus bagi dana pensiun kita (alias kita bisa pensiun lbh sejahtera daripada yang kita rencanakan sebelumnya). Asumsinya, setiap tahun dana ini kita review, apakah sudah berkembang 25% dari nilai setahun sebelumnya. Bila belum sampai 25%, tambahkan lagi dananya. Bila sudah, artinya program pensiun kita semakin aman. 

Untuk patokan perhitungan, saya selalu memakai harga perolehan (harga beli), bukan market value, krn harga perolehan lebih bisa jadi pegangan buat saya. Dengan patokan harga perolehan, akan lebih jelas, berapa posisi portofolio kita dalam Rupiah di thn ini , thn sebelumnya, atau tahun ke depannya.. 


Bagaimana bila kita belum punya uang sebesar Rp 835 juta saat ini? Anggap saja saat ini uang kita baru ada Rp 100 juta. 

Berarti kita harus membuat plan untuk menambah dana investasi setiap thn, yang minimal sejumlah tertentu. 


Kita bisa menggunakan kalkulator anuitas untuk itu. Masukkan principal amount (dana awal yang kita miliki) = Rp 100jt, period (month) = 120, annual interest rate = 25% yang dicompound annually juga, maka didapat top up dana kita tiap thn harus sejumlah minimal Rp 192jt (lebih kurang tiap bulan nambah Rp 16jt). 


Mungkin bagi yang belum pernah belajar tentang time value of money, cara ini membingungkan. Jadi saran saya, coba kalian beli buku tentang Perencanaan Dana Pensiun, biar dapat gambaran yang lebih luas. 

Saya ngga bisa membahas lebih banyak tentang ini, karena memang perencanaan dana pensiun ini sangat customized, karena kondisi finansial tiap orang berbeda.. Bisa berbeda dari jumlah dana pensiun, waktu yang dibutuhkan, tingkat return patokan investasinya, dana yang sdh dimiliki saat ini, dll. Tapi percaya deh, smakin cepat kalian membuat perencanaan dana pensiun, maka hidup kalian akan semakin sejahtera nantinya, insyaa Allah..


Perencanaan pensiun sangat berhubungan dengan waktu yang tersedia. Dan dalam berinvestasi, time is our friend. 

Apakah menggunakan return 25% per thn ini dapat tercapai, bila kita menggunakan time frame waktu investasi 10 thn? Menurut saya, bisa tercapai, terutama bila kita investasi di saham2 yang growth dan tidak overvalued. Selain itu juga dibantu dengan top up dana terus ke saham setiap thn. Malah bagi saya, 25% kadang masih terlalu kecil (karena dibantu top up dana ini). Jadi saya sendiri biasanya menaruh target 30%-40% pertumbuhan dana investasi setiap tahunnya for my financial plan..

Setelah menjalani program perencanaan dana pensiun selama kurang lebih 19 thn, saya jadi tau mengapa program yang saya rancang sendiri ini bisa memberikan angka dana pensiun yang lebih kecil daripada yang saya pelajari dari buku2. Salah satu pembedanya, saya pikir karena saya berinvestasi di saham investasi yang benar2 produktif, growth, dan juga bisa menghasilkan cashflow (deviden dan capital gain), sehingga hasilnya bisa lebih optimal dibanding dananya saya masukkan ke investasi lain (misalnya : reksadana, properti, emas fisik, atau lainnya)... Selain itu, karena yang dipegang adalah saham investasi yang growth dan produktif, semakin lama kita hold, maka dana pensiun kita juga akan semakin besar, tidak habis2 walaupun kita sdh semakin tua.. 

Apalagi sekarang, masih banyak saham2 yang bisa memberikan devidend yield di atas 10%, sehingga ibaratnya, selama saham tersebut tetap growth, tanpa kita ngapa2in pun, dana kita akan tumbuh minimal 10% setiap thn, dari deviden yang kita dapatkan... 


Saya ambil contoh saham BMRI.

Anggap saham BMRI kita beli di 2 januari 2014 di harga Rp 2170 (adjusted stock split 2x, di thn 2017 dan 2023). 

Total deviden BMRI yang kita dapat selama 2014 - 2023 = Rp 1460,24 (adjusted 2x stocksplit).

Deviden awal yang kita terima dari BMRI ketika baru beli di 2014 = Rp 58,51 (adjusted 2x stocksplit), alias DY awal beli = 58,51 : 2170 = 2,7%.

Deviden terakhir yang kita terima dr BMRI di thn 2023 = Rp 529,3367. 

Deviden BMRI sdh tumbuh 804% dalam 9 tahun kita hold, sehingga DY kita pun sekarang menjadi 529,3367 : 2170 = 24,39%..

Yang hold BMRI dr thn 2014, sekarang cuma duduk diem aja ngga ngapa2in, portfolio sahamnya akan nambah 24%/thn hanya dari devidennya aja... 

Ini belum termasuk kenaikan capital gainnya. Sekarang harga BMRI Rp 5850, alias sdh ada kenaikan capital gain sebesar 169,6% dari harga beli kita..

Inilah yang saya maksud membuat program pensiun di saham yang growth , produktif dan dijual di harga yang tidak overvalued.

Contoh saham BMRI bukan berarti saya menyarankan untuk langsung beli BMRI di harga sekarang, ya. Ini hanya sekedar contoh saja.. 

Saya membuat banyak perhitungan seperti ini dengan saham2 deviden lainnya..  

Kembali ke program pembuatan dana pensiun, kita harus tetap review setiap thnnya karena bisa saja tiba2 juga biaya hidup kita naik signifikan, sehingga dibutuhkan kenaikan dalam jumlah dana pensiun yang kita butuhkan.. Jumlah dana pensiun saya pun sdh beberapa kali saya revisi, karena begitu target yg lama sdh tercapai, biasanya saya naikkan lagi targetnya ke jumlah yang lebih besar.. 

Ini saja yang bisa saya tulis mengenai perencanaan dana pensiun. Mudah-mudahan bisa memotivasi pembacanya untuk mempersiapkan program pensiun masing2, karena percayalah,  time is our best friend... Sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit..


Semoga saham2 dalam portfolio kita akan memberikan hasil yang bagus ke depannya nanti. Aamiin..


Warm regards,

V3


Selasa, 17 Oktober 2023

TOBA, saham coal termurah saat ini -- CL finally

 Update per 24 oktober 2023 : Saya CL TOBA karena baru sadar, laba sekarang lebih rendah daripada 2020  ... Ngga ada growth... :((((

Abaikan saja smua analisa di bawah, krn untuk perusahaan coal yang labanya lebih rendah drpd 2020, buat saya ini sdh gejala perusahaan kurang baik.. 

Saya melihat chart TOBA yang sdh di weekly dan monthly oversold, di harga Rp 280 sekarang. PBV-nya 0,4 dengan PER annualized 8,8x (data di HOTS).

Chartnya sdh turun jauh banget, selain itu secara PBV, ini murah banget ada saham coal yang PBV 0,4 di saat bisnis coal lagi pada panen cuan..

Tapi jangan harapkan deviden di sini, kejar capital gain aja. 

Kalo market sudah sadar bahwa saham TOBA ini very undervalued secara PBV, maka harganya bisa naik..

Jadi beberapa saham yang saya liat dr chart monthly-nya dan sdh masuk keranjang swing trading saya saat ini :

1. LPPF, saya beli di Rp 2460-2500. Target jual antara 3000-4000. Kalo dikasih lebih, ya bonus.. :)

2. JKON, saya beli di Rp 121 , sekarang Rp 107 :) tetap hold karena dr chartnya keliatan menarik.. :) Target jual minimal Rp 250..

3. ARCI, saya beli di Rp 348, sekarang Rp 396. Katanya ada rumor mau dibeli sama UNTR.. :). Target jual sekitar harga IPO, Rp 750, atau sesuai dengan rumor harga penjualan ARCI nanti.

4. TOBA, saya beli di 278-280. Target jual minimal di PBV 1 aja, atau sekitar Rp 500 :)

Karena ini swing trading, jadi target keluar terserah masing2 aja.. Tapi insyaa Allah dr harga beli akan lumayan nanti upsidenya. Bisa lah buat nambah2 uang jajan, insyaa Allah.. :)

Saya ada tips utk take profit dr swing trading.

Sometimes kalo misalnya tiba2 sahamnya naik tinggi, saya suka jual sedikit. Misalnya beli Rp 5jt. cuan 20% di hari itu, alias Rp 1jt. Saya suka jual sesuai dgn cuannya aja, sisanya biarin ttp di saham itu. Uangnya bs kita pakai atau untuk nambah saham lain lagi..

Semua disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri, karena belinya juga kita klik buy sendiri.. :)


Warm regard,

V3

LPPF dan ASGR

 Ada 2 saham yang saya liat menarik karena sentimen deviden dan sentimen pemilu.


1. LPPF -- di harga sekarang Rp 2460, LPPF ada potensi membagikan deviden sekitar 17% atau lebih. Patokan saya karena EPS setahun ini kurang lebih minus 18% dibanding EPS thn 2022, maka deviden thn ini juga kurleb turun 18% dibanding thn lalu. Tahun lalu LPPF membagikan deviden Rp 525, jadi estimasi deviden thn depan kurang lebih 82% x Rp 525 = Rp 430,5. 

estimasi DY LPPF thn depan = 430,5 : 2460 = 17,5%.

LPPF chart monthly, weekly dan daily jg sudah terlihat membentuk konsolidasi untuk naik.

Target dari chart yang saya liat : short term Rp 3000, mid term Rp 4000.

Harga LPPF sebelum cum date deviden 6 April 2023 = Rp 6550.

Tahun depan? we'll see.. Saya di sini hanya swing trading dengan memanfaatkan momentum deviden.. :)

LPPF ekuitasnya minus? dont worry, nanti keluar LK q3 juga ekuitasnya positif lagi kok.. :)

Based on LK q2/2023, BVS LPPF = minus Rp 70,82.

Tapi CFO/share mereka aja udah Rp 323. EPS-nya Rp 302,56.

Jadi gampang banget utk ekuitas LPPF bisa positif lagi di LK Q3, insyaa Allah.. 

Ekuitasnya minus karena LPPF banyak buyback sahamnya juga, yang terus dihancurin, jadi bisa meningkatkan nilai EPSnya juga nanti.. :)

Update per 3 november 2023 : saya CL LPPF finally karena minusnya sdh mendekati 25%, kerugian maksimal yang bisa saya tanggung di satu saham trading. Saya switch semua LPPF ke PTBA, yang jg lg dibanting. Ya, dlm trading, sometimes we win, sometimes we lose... And life goes on.  


2. ASGR

Ini mungkin saham grup astra yang cash/sharenya paling banyak saat ini, Rp 813/lembar, dan harganya sekarang Rp 930, berdasarkan market cap-nya. Dan kemarin mereka cum date deviden interim Rp 13/share. Kita liat nanti di LK Q3, berapa kas/share mereka..

Yang menarik, biasanya laba ASGR ikut terkerek sentimen pemilu, karena bisnis mereka adalah penunjang perkantoran. Dari chart monthly, ASGR sekarang juga sdh berada di support kuat monthly-nya.

Saya ngga terlalu mendalami LK-nya, tapi saya liat sdh ada growth di sales 6,6%, laba bruto growth 17%, dan laba bersih growth 113%. Tapi CFO-nya masih negatif. 

BVS-nya Rp 1284, sehingga di harga Rp 930, PBV = Rp 0,72.

PBV 0,72 dan cash-nya hampir 87% dari market cap, dan ini anak perusahaan Astra. Murah banget. Tinggal tunggu ada sentimen bagus atau growth bagus yang menghampiri saham ini, dan sepertinya sahamnya bs langsung naik tinggi. Dan selama nunggu, dia bisa kasih devidend yield skitar 4,25% di harga Rp 930 utk setahun (termasuk dengan deviden interim kemarin ini). Untuk ASGR, saya lebih menunggu bisnis data centernya beneran jadi sih.. Rumor yang saya baca ada begitu soalnya. Yang jelas, pasti dia lg ada bisnis yang mau dijajaki, kalo ngga kenapa cash-nya bs semakin gendut dr thn ke tahun dan ngga dibagikan sebagai deviden gede.. :)))) semoga aja bisa kembaran sama DCII valuasinya kalo nanti beneran jadi tuh bisnis data centernya.. :))))))


Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri..  :) saya cuma share entry point-nya aja, exit-nya terserah masing2, mau main pendek atau panjang.. :)

Saya banyak posting saham2 capital gain, karena porto saya sekarang sdh 92% saham deviden yang belum ada niatan utk dijual sm skali. Jadi sisa 8% dana saya gunakan utk swing2 aja, lumayan bs dpt receh utk jajan.. :))

Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 yang kita beli akan memberikan hasil yang bagus ke depannya yaaa.. Aamiin..




Warm Regard,

V3





Jumat, 06 Oktober 2023

Menambah aset atau menambah aset produktif?

 Tulisan ini saya buat hasil dari pembicaraan saya dengan seorang teman tadi malam.

Pada awal mulai berinvestasi saham, saya cuma sekedar tiap bulan nambah duit di RDN utk beli saham yang bagus menurut saya. Waktu awal, fokus lbh ke trading2 short term, 2-3 hari jual, dan dpt cuan lumayan. Jauh lbh besar hasilnya dibandingkan bunga deposito. Apalagi ketika thn 2009, begitu bursa rebound setelah crash 2008, itu apa aja yang kita beli pasti jadi duit.

2010 kepentok CL 40% semua porto di saham busuk, dan akhirnya jadi mulai belajar FA, dan sejak itu mulai fokus milih saham2 murah yang bs kasih capital gain lumayan (ratusan persen) dalam 1-3 thn hold.

Beberapa thn kemudian, karena modal sudah lbh besar, jadi agak males keluar masuk, dan akhirnya mulai mencoba deviden investing. Dan mulai dapat kenikmatan dr setiap dapat deviden, apalagi kalo yieldnya di atas bunga deposito. 

Crash 2020 akhirnya yang membuat saya beralih sepenuhnya jadi devidend investor, karena banyak saham2 berdeviden tinggi yang diobral harganya.. 

Dari setiap penurunan dalam di bursa, 2008, 2011, 2013, 2015, 2020, saya banyak mendapati posisi ga punya cash sama sekali ketika bursa di bottom. Portofolio minus bisa 15-20% ketika bottom terjadi. Tapi ketika bursa rebound, reboundnya jg cepat, sehingga akhirnya floating loss berubah lg menjadi floating gain. Jadi saran saya, bila ada penurunan dalam di bursa saham, sebaiknya kita tetap di dalam. Porto di-switch gpp, tapi ngga usah dijual smua dan pegang cash. Karena kalo pegang cash dan bursa rebound, bisa aja kita akan beli di harga yang jauh lebih mahal nantinya.. 

Setelah menjadi devidend investor, saya mungkin agak menyesal, kenapa saya ngga menjalani gaya investasi seperti ini dr dulu saja.. Karena, untuk investasi long term, kemungkinan berhasil devidend investing ini menurut saya hampir 100%. Asumsinya, kita investasi di saham yang royal deviden dan tetap ada prospek growth yang bagus di masa depan. Jadi ngga sembarangan juga beli saham yang berdeviden tinggi..

Untuk perbandingannya mungkin begini.

Investor A. Total portofolio saham Rp 2M. Biaya hidup Rp 100jt setahun. Tidak ada deviden dr porto sahamnya, sehingga dia harus muter duit terus utk mencari cuan dr sahamnya. Kelebihan metodenya : dia bs mendapatkan capital gain yang sangat besar dari saham2 yang dia punya. Kekurangan metodenya : bisa saja dia mendapatkan loss yang sangat dalam dr saham2 yang dia beli.

Investor B. Total portfolio saham hanya Rp 1M. Biaya hidup Rp 100jt setahun. Dia hanya pegang saham2 deviden di dalam portfolionya, yang di tahun ini dan thn ke depan, estimasi devidennya minimal Rp 150jt setahun. Deviden akan tumbuh lbh tinggi sejalan dengan pertumbuhan kinerja perusahaan. Kelebihan metodenya : Pasif income minimal Rp 150jt /thn akan trs dia dapatkan selama dia hold sahamnya. Semua kebutuhan hidup terpenuhi dr deviden, plus ada ekstra Rp 50jt setiap thn utk di-reinvest. Kekurangan metodenya : Pertumbuhan nilai portfolionya mungkin ngga akan tinggi2 sekali, karena ngga akan bs naik di atas 500% dalam 1-2 tahun, misalnya.. Jadi secara market value, bisa saja kalah jauh dengan investor A. Selain itu juga harus sabar kalo nanti terjadi penurunan dalam di bursa, sehingga portfolio sahamnya pun akan turun dalam...


Asumsi di atas, investor A dan B adalah full time investor, tidak ada income lain selain dari portfolio sahamnya.


Jalan mana yang akan Anda pilih sbg investor saham?

Bila fokus anda hanya untuk menambah aset, mungkin investor A akan lebih cocok untuk anda ikuti.

Bila fokus anda adalah untuk menambah aset produktif, investor B lah yang sebaiknya anda ikuti caranya.

Mungkin tulisan saya di atas bisa membantu utk pemilihan saham dalam portfolio kita...


Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 kita akan memberikan hasil yang baik di masa depan.. Aamiin..


Warm Regards,

V3