Jumat, 21 April 2017

cara saya menganalisa saham sekarang ini..

Ini tulisan terlama yang pernah saya bikin utk di-post di sini.. butuh lebih dr 2 minggu utk menyelesaikan tulisan ini. mdh2an apa yang saya tulis di sini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca tulisan ini.. aamiin.. :)

Bulan April 2017 ini, saya genap 9 thn terjun ke pasar modal sebagai investor saham ritel..

Dari awalnya sbg daily trader (alias kalo tiap hari ngga trading rasanya ngga enak bgt), terus jadi trader mingguan (swing trading), kemudian pake FA dengan berbagai macam metode, akhirnya saya mulai menemukan sendiri metode analisa saham yang saat ini saya pikir lumayan cukup baik untuk diterapkan dalam berinvestasi di bursa saham.

Yang jelas, setiap metode pasti selalu ada kelebihan dan kelemahannya, ya.. Dan saya sendiri percaya, tdk ada metode investasi saham yang TERBAIK, yang selalu mendatangkan cuan bagi pemakainya.
Setiap metode yang kita aplikasikan, tetap saja ada peluang untuk salah, alias abis kita beli, sahamnya bukannya naik, malah bs turun sampai bertahun-tahun harganya...
Dan itu salah satu resiko yang harus kita hadapi bila kita memutuskan untuk berinvestasi saham...

Saya mau share cara yang sekarang saya gunakan dalam menganalisa saham untuk investasi. Syukur-syukur ilmu ini nantinya bs bermanfaat bagi banyak orang, sehingga bs menjadi amal soleh buat saya di akhirat nanti.. :) aamiin...

Ini saya langsung terapkan ke LK Q4/2016 JPFA aja ya...

Kemarin saya beli saham MAIN, krn harganya menurut saya sdh murah (PBV < 2), tapi begitu saya liat LK Q4/2016 JPFA, kok saya jadi lebih yakin pegang JPFA aja.. Terutama krn dia selalu mencetak laba positif dlm 5 thn trakhir (MAIN merugi di thn 2014 dan 2015) . Selain itu, ROE JPFA juga jauh di atas MAIN, dengan DER yang sama-sama > 1.

Sebelumnya, bagi para pemula, mungkin belum tau ya, Laporan keuangan perusahaan terbagi dalam 3 bagian utama : NERACA (BALANCE SHEET), RUGI LABA (INCOME STATEMENT), dan ARUS KAS (CASH FLOW.

Biasanya, saya selalu memulai dari membaca laporan neraca dulu, kemudian masuk ke laporan rugi laba, dan terakhir baru ke laporan arus kas.


LK Q4/2016 JPFA (data dalam Juta Rupiah)


 Data-data yang kita lihat dr NERACA :

a. Jumlah aset lancar ( Current asset = CA) = 11.061.008
b. Jumlah liabilitas jangka pendek (current liabilities = CL) = 5.193.549

c. Modal kerja = CA - CL = 5.867.459

Hati2 dengan perusahaan yang modal kerjanya negatif, krn bisa jadi dia akan minjam utang atau jual aset untuk menutupi liabilitas jangka pendek yang akan jatuh tempo.

Graham menuliskan di bukunya Intelligent investor, perusahaan yang kuat keuangannya, CA = di atas 2 x CL

CA : CL JPFA = 11.061.008 : 5.193.549 = 2,13 ---> posisi keuangan JPFA termasuk kuat


d. utang jangka panjang (jumlah liabilitas jangka panjang) = 4.684.513
Utang jangka panjang JPFA < modal kerjanya. Ini juga menunjukkan kondisi keuangan JPFA skrg cukup kuat.


e. nah, sekarang kita mau hitung berapa modal kerja bersih per lembar saham JPFA...

modal kerja bersih/lembar saham = (CA - total utang) : jumlah saham beredar

CA = 11.061.008
total utang = jumlah liabilitas = 9.878.062

total utang JPFA lebih kecil drpd CA-nya, dan ini menunjukkan sekali lagi, kalo posisi keuangan JPFA ini kuat, alias jauh dr resiko bangkrut...


total utang mengalami penurunan 10,6% dalam setahun. 
cara menghitungnya, (total utang desember 2016 - total hutang desember 2015) : total hutang desember 2015.

 jumlah saham beredar = 8.498.932.910 + 2.911.590.000 = 11.410.522.910 lembar saham (ini dilihat di bagian ekuitas ---> modal ditempatkan dan disetor)

sehingga modal kerja bersih/lembar saham JPFA = [(11.061.008 - 9.878.062) x 1.000.000] : 11.410.522.910 = Rp 103,67, dengan kata lain ----> JPFA dianggap sangat murah apabila harganya sdh di bawah modal kerja bersih per lembar sahamnya, alias di bwh Rp 103,67....

atau, bila kita mau cara yang lebih mudah, kita tinggal bandingkan modal kerja JPFA dengan market cap-nya sekarang ini (market cap = harga saham sekarang x jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor).

bila modal kerja masih lebih besar daripada market cap, maka saham termasuk sudah undervalued, alias sudah murah.

f. sekarang kita akan menghitung nilai buku alias  BOOK VALUE JPFA..
 kita liat lagi data ekuitas di neraca.

Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 8.843.494. 
Pertumbuhan ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk JPFA dlm setahun = ( 8.843.494 - 5.611.905 ) : 5.611.905 = 57,58%.
Pertumbuhan ekuitasnya cukup tinggi, karena ada revaluasi aset dan penambahan modal disetor, selain dr pertumbuhan di saldo labanya.

Book Value JPFA = jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah saham beredar = (8.843.494 x 1.000.000) : 11.410.522.910 = Rp 775,03


g. Jumlah liabilitas dan ekuitas ( total asset ) JPFA = 19.251.026.
Aset JPFA tumbuh 12,18% dalam setahun ini.
Cara menghitungnya = ( 19.251.026 - 17.159.466 ) : 17.159.466 = 0,1218 = 12,18%


h. jumlah ekuitas = 9.372.964
jumlah liabilitas = 9.878.062

Debt to Equity Ratio (DER) JPFA = jumlah liabilitas : jumlah ekuitas = 1,05

Nah, dengan selesai menghitung DER, maka selanjutnya kita akan menganalisa LAPORAN RUGI LABA JPFA (INCOME STATEMENT).



Data-data yang kita lihat di laporan rugi laba :

a. Penjualan = 27.063.310
Pertumbuhan penjualan = (27.063.310 - 25.022.913) : 25.022.913 = 8,15%

b. Laba usaha = 2.920.911
Pertumbuhan laba usaha = (2.920.911 - 1.727.913) : 1.727.913 = 68,79%

c. Laba tahun berjalan = 2.171.068
Pertumbuhan laba tahun berjalan = (2.171.068 - 524.084) : 524.084 = 314,05%

kenapa pertumbuhan laba tahun berjalan jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan laba usaha?
bila kita memperhatikan lagi laporan laba ruginya, ternyata thn lalu JPFA mengalami kerugian kurs mata uang asing sebesar 479.028...
akibatnya, laba thn berjalan di 2016 ini mengalami kenaikan yang sangat tinggi...

d. laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 2.064.650
Pertumbuhannya = (2.064.650 - 468.230) : 468.230 = 340,95%

e. laba tahun berjalan per saham (EPS = earning per share) = Rp 189
Pertumbuhan EPS = (189 - 44) : 44 = 329,55%

f. ROE = laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
2.064.650 : 8.843.494 = 23,35%

Untuk menghitung ROE, yang saya pakai adalah ROE annualized atau ROE yang disetahunkan.

Maksudnya, bila yang kita hitung adalah ROE pada LK Q1, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 4, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Bila yang dihitung adalah ROE pd LK Q2, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 2, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Terakhir, bila yang dihitung adalah ROE pd LK Q3, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 4/3, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Untuk LK Q4, labanya tidak perlu dikalikan lagi, karena sdh laba full year di tahun itu.



Kemudian, sekarang kita melihat pada data yang ada di LAPORAN ARUS KAS.

Data yang saya lihat pada laporan arus kas, hanya 2, yaitu :

a. Arus kas operasi = 2.753.605
Arus kas operasinya lebih besar daripada laba tahun berjalan. Ini menunjukkan pengelolaan keuangan JPFA pada aktivitas operasinya berjalan dengan baik, sehingga kegiatan operasi menghasilkan arus kas yang positif, bahkan lebih besar daripada laba tahun berjalannya.

Dan arus kas JPFA terlihat semakin sehat, karena arus kas operasi ini nilainya adalah yang terbesar dibandingkan dengan arus kas investasi dan arus kas pendanaan.



b. Kas pd akhir tahun = 2.701.265
Kalo untuk LK Q4, saya suka melihat nilai kas pada akhir thn untuk melihat apakah kira2 perusahaan akan sanggup membagi deviden atau tidak. 
Bila kas akhir tahun nilainya sangat kecil, apalagi bila dibandingkan dengan laba thn berjalannya, biasanya itu sinyal bahwa perusahaan tdk akan membagi deviden.

Untuk LK periode lainnya, saya suka melihat kas ini untuk melihat, apakah sahamnya sdh murah banget atau ngga..
Karena pada saham yang sedang dibanting banget, kadang-kadang nilai kasnya bisa jauh lebih tinggi drpd market capnya.
Misalnya pada Q3 -2016 SMDR, kasnya = 73.591.979 yang bila kita ubah ke rupiah pd kurs Rp 13.200 =  sekitar Rp 971 milyar.
Tapi market cap SMDR pada harga Rp 5350 = Rp 5350 x jumlah saham beredarnya = Rp 5350 x 163.756.000 lembar = Rp 876,09 milyar..
sehingga waktu SMDR harganya Rp 5350, saya berpendapat bahwa SMDR ini termasuk murah.. selain itu juga karena dengan memperhitungkan nilai PBV dan PER-nya juga...


Nah, dengan selesainya melihat laporan arus kas, maka selesailah saya menganalisa suatu saham.
Dengan data-data yang saya dapat di atas, saya bisa melihat bagaimana posisi keuangan emiten tsb, apakah kuat atau tidak, bagaimana pertumbuhannya, tumbuh atau tidak, dan juga melihat tingkat ROE-nya dan arus kasnya...

Sekarang, langkah terakhir adalah menilai valuasinya.

Saya hanya menggunakan valuasi yang sangat simpel.

1. Hitung dulu berapa nilai PBV-nya, alias price to book value, alias harga sekarang dibandingkan dengan nilai bukunya.
PBV JPFA = Rp 1660 : Rp 775,03 = 2,14x

2. Hitung berapa nilai PER-nya, alias price to earning ratio, alias harga sekarang dibandingkan dengan laba per sahamnya
PER JPFA = Rp 1660 : Rp 189 = 8,78x

3. Kalo dulu saya menggunakan yield untuk membandingkan, sekarang saya lebih suka dengan mengalikan antara PER dengan PBV-nya. Graham menulis di bukunya, Intelligent Investor, bahwa saham yang fundamentalnya bagus, rajin bagi deviden, berharga cukup murah apabila perkalian PER dan PBV masih di bawah 22,5x.
PER x PBV JPFA = 2,14 x 8,78 = 18,79x ---> masih di bawah 22,5x, jadi masih termasuk murah

 Nah, terakhir, saya liat berapa MA 200 daily dan MA 60 monthly JPFA, sebagai risiko harga akan turun, bila saya membeli JPFA di harga Rp 1660.
MA 200 daily = Rp 1616,47
MA 60 monthly = Rp 1153

dengan melihat data MA, saya lebih baik menunggu JPFA berada di bwh Rp 1616, bila saya akan membelinya, krn posisi sekarang sdh ngga jauh dr MA 200 daily.

tapi.. bila saya masih menunggu diskon yang lebih besar untuk beli, ya saya akan beli bila JPFA berada di harga sekitar Rp 1200.. tapi dengan melihat data FA JPFA skarang, harga 1200 ini mungkin akan sulit dicapai kecuali bila ada penurunan dalam tiba-tiba pd ihsg atau ada sentimen negatif tiba-tiba, baik pada sektornya, atau pada emiten JPFA itu sendiri.. dan ketika itu terjadi, itulah saat terbaik untuk membeli saham ini dan simpan untuk jangka panjang...

Ok, saya sdh tuliskan tentang cara saya menganalisa saham sekarang ini.
Metode yang saya pakai skrg adalah gabungan dr berbagai cara yang saya gunakan di masa lalu, dan juga dari buku2 investasi terakhir yang saya pelajari..
Mungkin saja, metode ini akan berubah lagi di masa depan, krn saya juga orangnya dinamis, dan ngga takut untuk mencoba sesuatu yang baru.
Yang jelas, dr setiap perubahan metode yang saya lakukan, saya selalu ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara yang relatif lebih mudah, atau lebih menenangkan saya dalam berinvestasi saham.

Mudah-mudahan, sedikit ilmu yang saya sharing bs memperkaya investor saham dalam menganalisa suatu saham.

Ngga butuh kejeniusan tingkat tinggi untuk bs menjadi investor saham. Hanya butuh sedikit ilmu matematika, dan kesabaran untuk ngga buru-buru beli atau jual saham... :)

Kita sama2 belajar ya, supaya bs menjadi investor saham yang lebih baik lagi di masa depan.. :)  Aamiin..

oya, satu lagi, saya akan langsung jual saham yang saya punya, apabila perusahaannya tiba-tiba merugi. saya ngga akan mau megang saham yang sedang merugi, krn itu mempertinggi resiko saya dalam berinvestasi saham. kalo labanya turun aja, saya kadang suka ngga mau tetap hold, tapi sebaiknya jual dulu, buyback lagi nanti di harga yang lebih murah...
jadi waktu ada yang kirim email ke saya, nanya bgmn ttg sahamnya yang turun sdh di atas 30%, dan bgtu saya cek FA-nya ternyata labanya minus, ya saya bilang aja, kalo saya pribadi akan lgsg jual saham yang sedang merugi, ngga peduli kerugian saya sdh brp besar saat itu. lebih baik uang yang tersisa, saya belikan saham lain yang FA-nya lebih bagus...


Regards,
V3


update 28 april 2017 : Q1/2017 JPFA sudah keluar, dan labanya turun lumayan ya.. Buat yang sdh punya, mungkin lebih baik jual dulu utk nanti buyback lg di harga bawah (siapa tau nanti dikasih di sekitar 1200), buat yang belum punya, sabarrr kalo mau beli.. mending nanti aja kalo mau beli2, sekitar bulan agustus-oktober :))) Disclaimer yahh..


Senin, 20 Maret 2017

cara memilih saham buat investor defensif dgn metode dr Benjamin Graham..

Beberapa bulan ini, saya lagi membaca ulang buku Intelligent Investor Benjamin Graham.

Sempet bikin rangkuman untuk bbrp topik yang saya sukai.
Kebetulan saya barusan membalas email dr seseorang yang menanyakan tentang kesehatan keuangan suatu perusahaan. 

Setelah balas emailnya, saya pikir saya tulis di sini aja yahh, pembahasan Graham tentang pemilihan saham untuk investor defensif.
Dalam bukunya di Intelligent Investor, Graham membagi investor saham ke dalam 2 tipe :

a. Tipe Defensif ---> investor yang ngga mau begitu repot mengamati perkembangan dari saham yang dibeli. mungkin lebih ke arah investor buy and hold gitu ya... Dan saya pikir, semakin saya tua (hehe), saya semakin ga mau ribet2 dengan analisa yang berat-berat tentang suatu saham. jadi saya lebih condong ke golongan investor defensifnya Graham...

b. Tipe Agresif ---> investor yang aktif mengamati perkembangan saham yang ia miliki, rajin switching ke saham-saham lain yang lebih baik.

Metode stock picking yang diusulkan Graham untuk pemilihan saham bagi investor defensif :

1. Beli saham dari ukuran perusahaan yang memadai. Graham memakai patokan, salesnya di atas 100 juta USD/thn dan asetnya di atas 50 juta usd. Kalo kita konversi ke 1 usd = Rp 13300, berarti Graham menyarankan agar kita membeli saham dr perusahaan dengan penjualan di atas Rp 1,33 trilyun , dan asetnya di atas Rp 665 milyar.

2. Kondisi keuangan perusahaan yang cukup kuat, yang bisa dilihat dari :
a. Untuk perusahaan industrial ---> current assets (aset lancar) harus lebih besar daripada current liability (utang lancar)
b. utang jangka panjangnya lebih kecil daripada modal kerja (modal kerja = current asset - current liability)
c. Total utang lebih kecil drpd total ekuitas (tapi untuk perusahaan layanan publik, total utang bisa maksimum 2x total ekuitas)

3. Stabilitas laba ---> perusahaan tidak pernah rugi dalam 10 tahun terakhir (selalu mencetak laba)

4. Selalu membayar deviden dalam 20 thn terakhir

5. Laba rata-rata dalam 10 thn terakhir tumbuh 33%. 
Misalnya, kita akan menghitung rata-rata pertumbuhan laba dari thn 2006 - 2016.
Maka, laba rata-rata dr thn 2006-2007-2008, kita bandingkan dengan laba rata-rata dr thn 2014-2015-2016. Bila pertumbuhannya minimal 33%, maka sahamnya lulus kriteria graham..

6. PER dr EPS rata-rata 3 thn terakhir, maksimal adalah 15x

7. PBV maksimal 1,5x

8. Atau 6 dan 7, bisa juga digabung menjadi : perkalian PER dan PBV , maksimal 22,5.

Itu aja kriteria yang disarankan Graham dalam memilih saham bagi investor defensif.

Walaupun simpel, tapi setelah saya coba2 terapkan ke saham2 BEI, jarang lho ada saham yang bs memenuhi semua kriteria Graham.. :))

Yang jelas krn bursa saham kita lebih muda drpd DJIA, agak sulit buat kita untuk ngecheck kinerja saham 20 thn ke belakang, apakah saham tsb selalu bagi deviden atau ngga.. :)

Bahkan kadang untuk nge-check pertumbuhan labanya selama 10 thn trakhir, agak sulit juga, terutama bila emiten mengubah laporan keuangannya dr usd ke idr atau dr idr ke usd.. :)

Jadi pada akhirnya, saya pikir kalo suatu saham sdh memenuhi 6 syarat dr 8 syarat yang diajukan Graham, saya pikir itu sdh layak untuk dibeli buat investasi... :) terutama syarat ke 8 tuh yang ngga boleh lolos, krn itu yang bikin kita tau banget, apakah suatu saham itu udah mahal atau belum utk dibeli.. :))

Semoga bermanfaat ya, tulisannya :)

Regards,
V3

nanti saya update lg kalo saya ada waktu, ya.. :) 

Senin, 27 Februari 2017

Mulai mengumpulkan saham untuk persiapan masa pensiun...

Ngga terasa, thn 2017 sudah berjalan mau hampir 2 bulan..

Brarti sudah hampir 3 bulan ini saya mulai menyibukkan diri dengan membaca banyak laporan keuangan perusahaan lagi..

Kemarin, ketika saya mulai terjun lagi di saham, niat saya masuk ke pasar hanya untuk membeli saham dan menjualnya ketika LK Q1/2017 keluar atau stelah pembagian deviden...

Tapi ternyata, begitu saya sdh masuk pasar dan menemukan saham-saham bagus dengan valuasi yang cukup murah dan rajin membagi deviden, saya malah merasa sayang untuk menjual saham-saham ini, kecuali bila emiten tsb nanti mengalami rugi..

Sampai saya menulis artikel ini, baru sedikit emiten yang mengeluarkan LK Q4/2016-nya, jadi saya masih menunggu LK saham2 yang saya punya.. agak penasaran sih memang.. :)

Oya, mulai thn ini, saya pikir saya akan kembali ke tujuan awal investasi saham saya dulu, yaitu menjadi investor saham jangka panjang yang bisa mengandalkan deviden sbg pasif income di masa tua saya nanti...

Ini krn saya ngitung, masa kerja suami saya tinggal 15 thn lagi, sehingga hrs memanfaatkan semaksimal mungkin waktu produktif yg tersisa ini, untuk menyiapkan bekal pensiun untuk saya dan suami..

Harapannya, kami bs mendapatkan uang yg cukup untuk menjalani masa tua dr deviden2 saham yang kami dapatkan tiap thn..

Jadi mulai saat ini, saya semakin menjauhi trading, krn selain melelahkan, hasilnya dlm jangka panjang (buat saya)  juga tidak begitu bagus, dibandingkan buy and hold saham2 berfundamental baik..

Saat ini, ada beberapa saham yang sdh masuk ke dalam keranjang investasi long term saya , yaitu :

1. JSMR ---> sdh saya bahas di posting sebelumnya kenapa saya jatuh cinta banget dengan saham ini ketika JSMR melakukan right issue di Rp 3900 desember 2016 kmrn..
Harga pembelian JSMR saya, average Rp 4306. Mungkin saham ini akan terus saya hold hingga saya tua nanti, kecuali bila emiten mengalami rugi, akan lgsg saya jual.
Trs bgmn kalo nanti ada crash di bursa saham thn dpn? Ya, saya akan ttp hold, nanti kalo turun lagi di bwh harga average saya, akan saya tambah lg..
Di harga skrg (Rp 4870), PBV JSMR sekitar 2,58x, dan PER-nya 17,5x (based on LK Q4/2016). Buat saya pribadi, sebenarnya JSMR di harga sekarang pun msh termasuk murah, krn ini adalah saham growth, yang normalnya selalu diperjualbelikan dengan PBV di atas 3x dan PER di atas 20x.. 


2. MAIN ---> ini jg sdh saya bahas di posting sebelumnya, ya. Sekarang MAIN ditutup di Rp 1235. Harga average saya di MAIN, Rp 1268. Jadi posisi saya di MAIN masih floating loss. Tapi gpp, saya akan hold terus, selama dia ngga rugi. MAIN di 1235, PBV-nya = 1,55  ; PER-nya 8,9x ; ROE 17%. Masih murah juga utk saham ayam yang biasanya PBV-nya di atas 3x... Oya, utk MAIN, ini masih based on LK Q3/2016, jadi kalo nanti di Q4/2016 dia msh mencetak laba, PBV-nya mungkin bs di bwh 1,5x...


3. BBNI ---> ini spertinya jg sdh saya tulis di posting sblmnya. average price saya di BBNI, Rp 5560. Di harga skrg (Rp 6200), PBV BBNI = 1,39x ; PER = 14,9x. Sdh agak mahal.. 
Saya sendiri berminat utk nanti nambah BBNI bila dpt harga di bwh Rp 5000...


4. BBKP ---> ini saham yang baru masuk portofolio saya di awal bulan ini. Agak takjub aja ngeliat harganya. Di harga skrg, Rp 610,PBV BBKP = 0,6x ; dengan PER yang cuma 4,73x, ini pun masih based on LK Q3/2016 ya.. Oh my god, bener2 murah untuk suatu saham bank yang asetnya, pendapatannya dan labanya terus naik sejak thn 2014 kmrn...
Saya pernah baca di suatu buku, warren buffet bilang kalo ada saham bank dgn PBV 1, beli aja, itu ibarat kita dpt uang cash sejumlah pembelian kita.. Dan BBKP ini PBV-nya skrg malah cm 0,6x... Thn lalu, dia membagi 30% labanya sebagai deviden. Jadi, kalo thn ini dia masih membagi deviden 30% laba juga, maka deviden yang akan dibagikan skitar Rp 38, alias deviden yield bisa skitar 6%, bila kita membeli di harga Rp 610..
Buat saya, BBKP ini bisa sbg investasi yang sangat baik utk masa tua, shgga saya mulai beli.. Nanti kalo dia turun lg, saya rencana masih akan menambah lg di saham ini...
Oya, dengar2 sih BBKP ini katanya mau right issue di thn 2017 ini.. Kalo bener mau right issue, kemungkinan besar harganya sama dengan nilai bukunya. Dan book value BBKP based on LK Q3/2016, skitar Rp 1000,- 


5. SMDR ---> ini saham ngga likuid, tapi selalu rajin bagi deviden. Salesnya masih turun, tp ekuitasnya tiap thn selalu naik. SMDR di harga sekarang (Rp 5200), PBV cuma 0,3x dengan PER msh di bwh 4x, ini based on LK Q3/2016. Very undervalued... Cuma sahamnya ngga likuid, sayang sekali. Tapi buat saya, ini suatu tawaran investasi long term yang sangat menarik. Bisnis pelayaran buat saya tetap punya prospek yang cukup baik di masa yang akan datang, jd saya beli saham ini, siapa tau nanti devidennya bisa buat menambah income saya di masa tua... Tadinya saya sempat beli LPCK di 5000, tapi bgtu saya ktmu SMDR, LPCK lgsg saya buang dan saya ganti dng saham ini.. Ya, kalo sama-sama ngga likuid, lbh baik saya simpan saham yang selalu kasih deviden, apalagi PER dan PBV-nya jg jauh lebih kecil drpd LPCK...


6. CLPI ---> ini juga saham ngga likuid, tapi saya punya dalam jumlah lbh sedikit drpd SMDR. Di harga Rp 980, PER = 5,5x ; PBV = 0,73x, ROE = 19%. Sama seperti SMDR, sales CLPI di Q3/2016 jg sedang turun. Tapi krn PER dan PBV-nya sdh rendah, saya beli aja.. CLPI ini setiap thn selalu rajin bagi deviden, jadi bs buat modal untuk pasif income di masa tua nanti.. 


Itu semua saham-saham yang saya niatkan utk long term investment, hasil dr perburuan saya masuk ke pasar saham dr desember 2016 hingga februari 2017 ini.

Mulai besok, saya sdh berniat untuk berhenti menambah uang dalam membeli saham dulu. Saya mau off dulu, dan kembali ngumpulin cash di tabungan aja.
Nanti saya mau hunting cari barang murah dan bagus lagi sekitar bulan agustus... :)

Tapi off beli saham bukan berarti saya ngga analisa LK lg.. :) analisa LK tetep, tapi kegiatan belinya akan saya mulai lagi nanti di bulan agustus... 

Sekarang porto saham saya cukup segini dulu aja.

Eh, sbetulnya saya masih punya ADHI, BBRI dan CEKA. Tapi 3 saham ini belum saya niatin utk invest long term.. ini niat jual kalo udah cuan aja..  :)

Ok, happy cuan utk semuanya ya.. :)

Mdh-mudahan investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan nanti.. Aamiin.. :)

Regards,
V3











Minggu, 01 Januari 2017

Catatan penutup 2016…


Tulisan ini saya buat dari tanggal 29 desember 2016, dan baru selesai tanggal 1 januari 2017…

Akhir januari 2016 kemarin, saya memutuskan utk keluar dr bursa saham ketika ihsg sekitar 4572.
Ketika itu saya sangat takut akan koreksi besar 10 thn di bursa saham, yang sudah mendekati siklusnya.
Kalau dr koreksi terakhir di thn 2008, kemungkinan koreksi besar akan terjadi di 2018. Tapi kenapa saya sdh keluar lebih dulu?
Jawabannya : krn saya sangat takut modal yang sdh saya kumpulkan akan bisa tergerus habis-habisan di bursa saham.
Iya kalo bener koreksinya terjadi di 2018. Bagaimana kalau dia dtg lbh dulu, 2017 atau bahkan 2016?
Jadi saya pikir, lebih baik saya amankan lbh dulu aset yang sdh saya punya.

Kemudian utk budget invest tiap bulan, saya belikan USD dan saya taruh di rekening tabungan. Pertimbangannya, krn uang itu akan saya belikan saham lagi, dan biasanya bursa saham turun dalam ketika kurs USD naik tinggi. Selain itu juga utk menjaga nilai uang saya, krn mungkin akan ada di tabungan hingga 2018..

Di bulan november, krn ihsg turun cukup dalam, saya tertarik untuk membeli saham, siapa tau nanti bs ikut pesta window dressing/januari effects. Jadi mulai bulan november kmrn, saya mulai aktif lg buka2 LK Q3/2016, dan nemu 5 emiten yg sahamnya cukup menarik untuk saya beli.

Saham pertama yg saya pikir menarik waktu itu (berdasarkan LK Q3/2016) : MAIN. Labanya naik signifikan, tapi harganya blm naik banyak. 
Di Rp 1310, MAIN PER-nya 9,45x ; PBV 1,64x. 
Sangat murah untuk saham ayam yang potensi growthnya masih sangat tinggi… Selama ini PBV MAIN, sama seperti CPIN dan JPFA, biasanya selalu di atas 3x, malah pernah hingga 6x..

 Kemudian setelah itu, JSMR. Kenapa? Karena kok labanya naik tinggi, tapi harga sahamnya turun terus, bahkan di bawah lowest 2015 kmrn (4500). 
Akhirnya saya baru tau kalo JSMR mau right issue di harga Rp 3900 – Rp 4500. 
Saya liat JSMR di Rp 4220 waktu itu, PER-nya 16,51; PBV 2,53x. 
Selama saya beli saham dr 2008, saya belum pernah ngeliat JSMR di PER di bwh 17x, atau PBV di bwh 3x. Makanya saya tertarik sekali untuk beli.. apalagi kalo bisa dpt di Rp 3900.

 Terus saya juga tertarik beli ADHI krn PBV-nya 1,37x (di Rp 1995), jauh di bawah saham konstruksi lainnya.

Akhirnya ihsg di november turun banyak hingga 5043, tapi ndilalah waktu JSMR turun ke 3900 itu, saya ngga bs beli, krn di rekening saham saya ngga ada uang. Dan utk transfer dr rek usd ke rek rupiah, ngga bs via mobile banking atau internet banking, tapi harus ke bank, dan saya belum ada waktu utk ke bank.. L
Akhirnya lepas deh JSMR di 3900, saya baru bs beli ketika JSMR sdh 4100-an…

Krn gagal dpt JSMR di 3900, saya akhirnya beli MAIN aja di 1300. Skrg MAIN-nya turun ke 1200-an, tapi sy msh hold krn LK-nya bagus (tapi akh des, MAIN close di 1300 lg J).

Bulan desember, saya beli saham lg, BBRI,  BBNI dan ADHI.

Kenapa beli BBRI dan BBNI?

Saya liat, BBRI harganya stagnan aja sejak awal thn.. Padahal labanya msh tumbuh, ekuitas jg tumbuh. BBNI jg sama. Laba tumbuh sangat bagus, tapi harganya cm naik sdikit. Secara PER dan PBV, msh sangat murah. 
Saya beli BBRI ketika PBV-nya 2x dan PER-nya 10x (Rp 11350).
BBNI PBV-nya 1,2 dan PER-nya di bwh 10x (Rp 5375).

Tapi saya beli saat itu niatnya bukan untuk invest long term. 
Hanya utk skedar mencari capital gain, dengan jangka waktu terlama adalah ketika LK Q1 keluar atau ketika akan bagi deviden. Atau malah hanya sampai awal januari aja, krn ikutan januari effects.. J 
Tapi karena menjelang akhir desember saham2 ini sempat naik tajam, jadinya di closing akhir desember saya jual smua dulu (per akhir desember, saya hanya punya JSMR dan MAIN). 
Rencana sih nanti ketika mereka ada koreksi lg, saya mau beli lagi.. mdh2an dpt harga beli di harga di bwh harga beli saya kmrn…

Karena jujur, sy belum berani utk invest long term di saham sblm terjadi siklus koreksi besar di bursa. Jadi sekarang cuma trading aja, itu pun jumlahnya hanya saya alokasikan maksimal 20% dr total cash yang saya punya.

Ihsg 2016 close di 5296. Sejak saya out dr bursa, ihsg sdh naik  15,83%. 
Jadi kalo diliat dr return ihsg, sdh jelas keputusan saya utk out dr saham di awal januari, itu salah total. Tapi di balik itu, saya juga merasakan pengendalian diri saya semakin membaik. Walaupun ihsg naik, tapi krn fokus saya bukan sekedar profit di 2016, tapi much bigger profit dr siklus crash 10 thn bursa saham, saya tetap bisa menahan diri utk ngga beli saham. 
Waktu luang saya (yang cuma sedikit sekarang ini), saya gunakan utk belajar keuangan dan investasi lebih banyak lg. Saya juga belajar narik trend line di chart saham lagi. Puluhan chart saya ubek2 utk saya bikin trendline-nya J
Jadi walaupun saya missed profit dr saham di 2016, tapi dgn ilmu2 yang saya pelajari kmrn, mdh2an return investasi saya di masa depan akan jauh lebih baik… aamiin…

Tapi ada pelajaran berharga yang saya dapat dr semua saham yang saya jual di awal thn kmrn.  Waktu itu saya sempat punya PTBA yang sy beli di harga 4500 (november 2015), dan saya jual di 4300-an krn saya mau keluar dr bursa. PTBA saya beli karena PBV skitar 1,5x, murah bgt. Padahal ketika crash 2008, lowest PBV PTBA adalah 2,16x. Dan sekarang harga PTBA sdh Rp 12.500,-
Tapi ya belum rejeki saya utk cuan gede dr PTBA thn kmrn… LJJJ

Kasus PTBA ini membuat saya makin yakin utk membeli saham bagus dgn PBV sekarang yang sdh di bwh lowest PBV waktu crash 2008 kmrn.. jd wlpn bursa saham dalam keadaan normal, ternyata tetap ada aja saham2 emas yang bagus utk dibeli.. J

Kemarin, selama saya off dr bursa, saya jaranggggggg bgt perhatiin berita ttg saham BEI. Kebetulan juga, krn anak saya sekolahnya sdh beda-beda, jadi waktu saya habis utk anter jemput anak2 sekolah dan les. Tapi saya msh suka baca berita2 ekonomi/keuangan dr media2/investor2 di luar negri. Jadi saya banyak belajar ttg ekonomi dunia skrg ini. Saya belajar hubungan antara kurs mata uang, rate obligasi negara, bursa saham, cadangan devisa, defisit/surplus anggaran pemerintah, neraca perdagangan, dsb. Dulu waktu kuliah, sempat belajar topik2 itu tp cuma nangkep selintas aja. Alhamdulillah selama off, saya bs belajar makro ekonomi lbh dalam lagi..

Dari hasil belajar saya selama ini, ada bbrp hal yang mungkin bermanfaat juga bila saya sharing di sini. Ini saya coba tuliskan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh investor pemula :

11)   Di salah satu posting saya, saya sempat tulis bahwa waktu crash 2008 dulu, PER bbrp saham bluechip seperti SMGR, BBRI, ASII itu sempat di bawah 5x. Tapi sepertinya saya sempat missed 1 hal : BI rate thn 2008 = sekitar 8 – 9%. Dengan BI rate 9% saja, PER BI rate = 100 : 9 = 11,11x, sehingga ketika PER BI rate 11x, wajar jika big diskon, bluechip bagus PER-nya jatuh ke stengah BI rate, alias 5x.

Tapi sekarang, BI 7 day rate = 4,75%. PER BI 7 day rate = 100 : 4,75 = 21,05x.
Sehingga, mungkin nanti jika ada koreksi besar di bursa dan ada saham bluechip dgn PER yang sdh stengah PER BI rate, bisa  saja saham itu sdh masuk undervalued. Apalagi bila PBV sdh di bwh 2x.

Tapi ternyata, sekarang ini, PER bbrp saham banking seperti BBRI, BBNI, BBTN masih di bwh 12x. 
Apakah saham2 ini skrg dlm keadaan undervalued? 
Apalagi utk BBNI, selain PER yang msh di bwh 10x, PBV juga masih di bwh 1,5x. Masih murah bangettttt, kalo menurut saya…

Melihat kondisi ini, kalau nanti kecenderungan BI 7 day rate akan smakin turun, maka PER saham2 bagus akan cenderung semakin naik..

Dan inilah yang terjadi di bursa saham global beberapa thn belakangan ini. 

Suku bunga The Fed (fed rate) terus turun dr puncaknya 20% (di thn 1980) menjadi 10% (1989), kemudian 5% (2007) dan 0,25% (2009 – 2015).
Desember 2016 ini, suku bunga the fed naik menjadi  0,75%.

Dan menurut The fed, mereka akan menaikkan suku bunga sekitar 3 – 4x di thn 2017 nanti (tapi waktu desember 2015, the fed jg bilang akan menaikkan suku bunga 3-4x di 2016, ternyata realisasinya hanya 1x saja).

Penurunan suku bunga the fed dari 5% di thn 2007 menjadi 0,75% sekarang ini mengangkat indeks saham DJI dr puncaknya 14198 (thn 2007, utk kemudian turun ke 6469 thn 2009) menjadi 19852 (29 Des 2016).

Suku bunga the fed yang sangat kecil sekarang ini, dan kemungkinan ada pembalikan trend suku bunga (dari turun terus, flat lama dan sekarang mungkin menjadi naik), membuat banyak investor di luar sana yang berpendapat bahwa bursa saham sudah bubble dan rawan pecah, alias crash.

Masalahnya, bagi orang awam, kenaikan suku bunga dari 0,5% ke 0,75% mungkin hanya kecil, krn hanya 0,25% selisihnya. Tapi bagi orang yang berutang, itu artinya mereka harus membayar bunga pinjaman 50% lebih mahal. Bayangkan kalo bunga pinjaman naik 100%, 150% atau malah 200%.... 
Dan jangan lupa, bursa saham itu naik juga krn banyak yang beli saham dengan marjin. Kalo bunga naik, yang beli pake marjin mungkin akan mengurangi posisinya, sehingga mrk akan menjual saham yang mrk punya.. lbh banyak penjual drpd pembeli, tentu akan menyebabkan harga akan turun…

Sehingga dengan rencana the fed akan menaikkan suku bunga 3-4x di thn 2017, banyak orang yg bilang bahwa bubble di bursa saham sdh rawan pecah...

Apakah benar begitu?

Saya ngga tau. Karena saya jg ngga memperhatikan saham2 di DJI, DAX, FTSE, brp PER mrk, growth mereka dsb.

Tapi untuk saham BEI, saya liat PER ASII 22x, dan sejak saya beli saham dr 2008, seingat saya PER ASII ngga pernah setinggi itu. 
Untuk PBV, ASII skrg sdh termasuk mahal juga krn sdh di atas 3x.

Tapi untuk saham lain seperti BBRI, BBNI, SMGR, JSMR, PTBA, CPIN, saya liat PER dan PBV-nya masih belum setinggi di 2007 atau 2012/2013.
Ini belum lagi kalo kita bicara saham2 seperti MAIN, SRIL, yang PBV-nya jauhh lbh kecil lg…

Jadi kalo untuk IHSG, menurut saya, bubble belum merata, krn masih banyak saham2 yang berada di valuasi normal, atau malah undervalued.

Tapi seandainya The Fed nanti akan benar2 menaikkan suku bunga 3-4x di thn 2017, saya pikir BI mungkin juga akan menaikkan BI 7 day rate-nya. 
Dan kalau BI menaikkan BI 7 day rate-nya, apalagi kalo juga naik di atas 2x, maka IHSG kemungkinan jg akan turun dulu…

Jadi buat para pemula yang ingin memulai investasi di saham, strategi terbaik membeli saham adalah ketika bursa saham sedang turun dalam. Dan jangan asal beli. Minimal sebelum beli, cek dulu, labanya tumbuh atau ngga, PER dan PBV-nya berapa kali. Sekarang saya hanya berpatokan pada PER dan PBV ini dalam membeli saham. Tapi saya lebih suka pakai PBV dibandingkan PER, karena lebih bisa diterapkan ke saham2 yang labanya sedang turun (misal : SMGR).


22).  Jangan berinvestasi jangka panjang di saham2 komoditas.  Harga komoditas naik/turun ada siklusnya, dan bisa bertahun-tahun. Seperti contohnya saham2 batubara di BEI. Labanya terus turun sejak thn 2012, dan baru mulai ada peningkatan laba di thn 2015. Untuk investasi saham jangka panjang, sebaiknya hanya di saham-saham konsumer dan banking aja. Saya sendiri, sekarang mindset long term investing sepertinya bukan lagi beli dan hold utk selamanya. Tapi beli ketika harganya murah banget (secara PBV terutama) dan jual ketika harganya sdh mahal bgt (secara PER dan PBV), atau jual begitu labanya turun. Dan sambil dikombinasi dengan TA-nya. Posisi jual yang sangat bagus adalah saat saham itu dalam keadaan sangat bullish (MA 5 di atas MA 20, MA 20 di atas MA 60, di chart monthly), dan stokastik daily-weekly-monthly dalam keadaan sdh overbought. Untuk posisi beli terbaik, tinggal kebalikan posisi jual terbaik saja.


33).   Kalo mau investasi di saham komoditas, sebaiknya pelajari dulu chart komoditasnya. Misal, mau invest di saham coal, hrs pelajari dulu chart harga coal. Karena harga komoditas larinya lebih duluan drpd sahamnya… Invest di saham komoditas hanya dengan berpatokan LK, bisa bikin kita telat masuk dan juga telat keluar (seperti pengalaman saya dulu dgn saham2 coal).


 4).    Jangan remehkan cara valuasi yang sederhana, seperti  PER dan PBV. Seringkali, metode sederhana dan digabungkan dengan kesabaran menunggu saat membeli dan menjual yang tepat, malah akan memberikan return investasi yang sangat bagus. Keep it simple. 
     Sekarang saya sdh hampir ngga pernah lagi menghitung harga wajar saham. Saya lebih tertarik menghitung brp PBV dan PER-nya saja. Terlebih untuk saham-saham yang labanya sedang turun, berpatokan pada PBV bisa lebih memberikan hasil yang optimal dalam investasi. Selama suatu perusahaan terus menghasilkan laba tiap thn, maka nilai ekuitasnya akan terus naik, sehingga nilai Book Value (BV) akan cenderung naik. Untuk saham seperti ASII, SMGR, BBRI, PBV di bawah 2x sdh termasuk bagus di saat bursa saham sedang “normal”.


55).      Saya sempat menghitung PBV beberapa saham di harga lowest mereka di 2008, dan ini nilai PBV yang saya dapat (based on LK Q4/2008) :

·        SMGR = 1,34x
·        ASII = 0,8x
·        PTBA = 2,16x (di thn 2015, PBV PTBA sempat < 1,5x)
·        UNVR = 15,13x
·        UNTR = 0,67x
·        INDF = 0,86x
·        JSMR = 0,82x
·        BBRI = 0,66x
·        CPIN = 0,17x
·        LSIP = 1,12x (di thn 2015, PBV LSIP sempat < 1x)
·        PGAS = 3,4x (sekarang PBV PGAS di 2700 = 1,6x)
·        BBNI = 0,37x


66).     Untuk analisa chart, saya sekarang juga udah ngga pakai MA macem2. Lebih sering liat MA 5 sama MA 60 monthly aja. Untuk daily, saya lebih suka liat MA 200. Kalau untuk investasi, terutama di saham-saham consumer dan bank, sebaiknya beli ketika harga di sekitar atau di bawah MA 20 monthly (ICBP, ROTI, UNVR, BBCA misalnya) atau MA 60 monthly (BBRI, BBNI, BMRI). Semakin ke sini, saya semakin menyukai metode yang simpel2 dalam berinvestasi, krn saya semakin fokus di timing beli-jualnya aja…


7).    Biasanya, bulan-bulan baik untuk membeli saham adalah sekitar bulan agustus-september-oktober, krn pada bulan2 ini ihsg cenderung turun dalam. Walaupun ngga selalu begitu, tapi secara historis, mayoritas polanya seperti itu. Bulan2 emas di mana ihsg cenderung naik, biasanya bulan desember-januari, krn ada window dressing dan januari effects.


Sekarang saya coba bahas IHSG, ya.

IHSG 2016 belum bisa break all time high. Highest 2016 malah ngga keluar angka 5500, hanya 5491 saja. Waktu itu saya sempat nulis ya, kalo saya agak ngeri IHSG monthly akan bikin pola head n shoulder. Sampai saat ini, saya liat potensi ke sana masih terbuka.

IHSG desember 2016 close di 5296, di bawah MA 5 monthly-nya (5323). Dan ini yang pertama kali dalam 12 bulan terakhir, ihsg close di posisi di bawah MA 5-nya. Jadi window dressing pun ngga bs mengangkat ihsg untuk close di atas MA 5 monthly-nya..  Kalau liat dr chart monthly, begitu pertama kali IHSG close di bawah MA 5 monthly, biasanya bulan berikutnya akan bikin lower low dulu. Tapi ngga tau, thn ini akan seperti itu atau ngga..

Kemarin, bbrp hari terakhir menjelang tutup tahun, ihsg naik kenceng banget, sampe pake gap naiknya, yang menurut saya, ini malah ngga sehat. Apalagi bentuk candle terakhir di daily chart, jelek banget. IHSG seperti ada potensi turun. Tapi selama turunnya ngga lebih rendah drpd low kmrn (5022), ya ngga apa2. Apalagi kalo penurunannya nanti tertahan di sekitar MA 200 daily (5119), bisa jadi ini akan jadi sinyal bagus bahwa ihsg akan bs naik lg, minimal ya sampai highest kmrn (5400). Tapi kalo ihsg terus turun   dan bikin lower low lg, lebih baik nahan diri dulu utk ngga langsung beli2…

Posisi MA 60 monthly ihsg skrg ada di 4719. Saya pribadi akan nunggu di bawah atau di sekitar MA 60 monthly ini untuk belanja lebih banyak saham bagus.. kalo ihsg masih jauh di atas itu, saya trading kecil2an aja kalo pas lg ada waktu dan nemu chart saham yang bagus… yang jelas, semakin naik ihsg-nya, semakin saya ngga akan mau beli banyak, krn itu artinya saham2 akan semakin mahal untuk dibeli J

Ok, ini aja penutup thn 2016 dr saya.

Mudah-mudahan apa yang saya tulis bisa bermanfaat juga buat yang lain.. aamiin.. J

Mudah-mudahan thn 2017 akan jauhhhhhh lebih baik daripada thn 2016 ya… aamiin.. J

Regards,
V3

Oya, utk yang comment2 di blog ini, maaf kalo saya belum jawab ya, krn biasanya abis nulis, saya ngga pernah buka blog lg. Tapi kalo ada yang email lgsg ke saya, biasanya saya usahakan selalu saya balas… kalo saya ngga balas, mungkin saya ngga baca krn ketutup dgn banyaknya email2 lain, terutama dr milis..










Jumat, 01 Juli 2016

bursa saham, QE, suku bunga ngatif...

Bismillah...

Saya kemarin2 itu mau nulis di blog, tentang LK Q1/2016 emiten2.
Tapi krn saya ngga punya waktu luang untuk nulis, saya pikir nanti aja stelah tax amnesty disah-kan oleh DPR.
Saya mau liat bgmn efek sentimen tax amnesty ke ihsg, soalnya kok seperti heboh bgt pd yakin bakal banyak dana asing yg mau masuk ke Indonesia gara-gara tax amnesty ini..

Dari yang saya baca, pelaksanaan tax amnesty di bbrp negara, hasilnya ngga sebagus perkiraan pemerintahnya. 
Dgn kata lain, jangan terlalu berharap banyak pd tax amnesty. 
Tapi karena ihsg memang lagi bullish, setiap sentimen positif bakal bikin ihsg terbang.. dan memang pd akhirnya, ihsg kembali ke 5000 lagi saat ini.. :)

Posisi saya tetap cash 100% (dlm USD). 
Saya ngga punya saham sama skali. 
Tiap bulan budget investasi saya belikan usd.. 

Jadi saat temen2 saya pd hepi krn ihsg naik tinggi, saya ya nyengir aja.. :) 
Karena fokus utama saya skrg adalah membeli saham di harga murah, sehingga saya bisa financial free dari deviden2 saham di masa mendatang.. 

Apalagi begitu melihat LK Q1/2016 emiten2, banyak yg jelek (sehingga harga sahamnya menjadi mahal, apalagi di ihsg 5000), sehingga saya sendiri memang ngga pengen beli saham utk investasi long term. 
Untuk trading jg males, krn saya pikir bursa saham sekarang udah ngga sehat, jd mendingan menjauh aja dulu dr saham...

Kenapa saya bilang bursa udah ngga sehat?

Ekonomi global lg susah. Beberapa negara sdh resesi.

Ekonomi amerika yang hancur gara-gara krisis 2008, sampai skrg juga belum pulih. Padahal sudah 3x melakukan QE. 
Suku bunga sudah mendekati nol. 
Tapi indeks saham dow jones dan S&P malah mendekati area all time high..
Bursa saham sekarang udah kaya arena judi, bukan investasi, karena setiap data ekonomi jelek, bursa bukan turun tapi malah naik (karena berarti The Fed tidak akan menaikkan suku bunga, malah bisa jadi akan membuat QE 4 atau membuat suku bunga negatif).

Di jepang, BOJ melakukan QE dan suku bunga negatif untuk menggenjot ekonomi, dengan tujuan melemahkan mata uangnya agar ekspornya terdorong, dan rakyatnya tertarik untuk membelanjakan uang lebih banyak (rakyat jepang karena mayoritas sdh berusia tua, lebih suka menabung daripada belanja). 
Tapi ternyata hasilnya malah mata uang jepang semakin menguat, bursa sahamnya semakin jatuh.. 
Deflasi di Jepang sdh berjalan sekitar 27 tahun, dan selama itu bursa sahamnya sdh turun 60% dari highest di 38.957 (thn 1989) menjadi 15,575 (closing juni 2016). 
Japan 10 year bond yield malah sudah jatuh di bawah 0% (sekarang minus 0,245%). 
Alias, bila anda beli obligasi dgn jatuh tempo 10 thn, maka di akhir thn ke-10 duit anda akan berkurang, bukannya nambah... 
Sesuatu yang sangat aneh untuk dilakukan krn kita hidup di Indonesia yang selalu inflasi tiap thn...

Di eropa, bank sentral eropa juga melakukan QE dan suku bunga negatif untuk melemahkan mata uangnya. 
Tapi ini belum juga bs menyembuhkan ekonomi eropa dari sakitnya..

Jadi, teori ekonomi yang saya pelajari sekarang ini sdh banyak yang tdk sesuai dengan keadaan ekonomi dunia saat ini.

Suku bunga negatif itu tidak mungkin dilakukan dlm sistem ekonomi yang berlaku sekarang ini. Karena perbankan butuh uang nasabah, untuk nanti diputar kembali menjadi kredit. Bila nasabah menabung di bank dan bukannya dapat bunga tapi malah uangnya dipotong, tentu nasabah akan males menyimpan uangnya di bank, lebih baik simpan sendiri di rumah. Kalo ngga ada nasabah yang menyimpan uang di bank, bagaimana bank bisa memberikan kredit...?
Memang suku bunga negatif saat ini belum dibebankan kepada nasabah, tapi kepada bank komersial yang menyimpan uangnya di bank sentral. 
Tapi lama-lama ini akan menjadi beban bagi bank komersial tsb. 
Yang saya sering baca, Deutsche Bank sekarang sudah berdarah-darah keuangannya, sehingga banyak yang menyebut Deustche Bank saat ini sbg The Next Lehman (bank yang ditutup di amerika ketika terjadi krisis 2008).
Apakah akan seperti itu..? 
Saya ngga tau.. liat aja nanti...

Jadi intinya, QE-QE yang sudah dilakukan untuk menyembuhkan ekonomi global, ternyata belum bisa menyembuhkan ekonomi. 
Tapi yang jelas, QE-QE ini sudah membuat banyak bubble di mana-mana, termasuk di bursa saham.
Suku bunga rendah juga mendorong orang untuk terus berutang, tanpa menghitung kapasitasnya dalam membayar utang.
Akhirnya pecahlah bubble properti di amerika.
Di cina, banyak kota-kota hantu. Properti di cina jg sdh bubble. Tapi belum pecah.
Indeks saham cina, sdh bubble dan sdh pecah. 
Bursa shanghai sdh turun dr 5000-an ke 2800-an. Ini pun masih bisa turun lagi ke-1000an (kata teman saya yang jago banget TA).
Jangan lupa, cina jg menjadi negara dengan tingkat utang yang termasuk tertinggi di dunia.
Utang cina sekitar 300% GDP-nya..

Seluruh dunia sdh terlibat utang dalam pembangunan ekonominya.
Termasuk Indonesia.
Dan utang itu dalam USD.
Ketika utang sdh jatuh tempo, maka utang harus dibayar. 
Dan bayarnya pakai USD, bukan pakai rupiah.
Itu lah kenapa saya menyimpan cash saya dlm USD, bukan dlm rupiah.
Minimal kalo ada gejolak dlm perekonomian, tabungan saya akan lbh terlindungi nilainya.

Untuk IHSG, saya liat secara chart daily, weekly, monthly masih bisa naik dulu, mungkin ke 5200-5300.
Tapi kalo sdh di situ dan ihsg mulai arah turun, harus hati-hati, karena saya liat ihsg berpeluang membentuk pola head and shoulder.
Pola head and shoulder ini sangat menyeramkan buat investor, karena begitu pola ini valid, maka harga saham bisa turun lumayan...

Saya sendiri masih yakin, bursa saham sdh di ujung masa keemasannya.
Upside jauh lebih sedikit daripada downside. 
Di ihsg 5000, maksimal naik hanya 500 poin. 
Tapi potensi turun yang saya liat, minimal 1000 poin. 

Amerika thn ini mengadakan pemilu presiden. 
Biasanya krisis di amerika terjadi di thn-thn pilpres ( minimal thn 2000 ketika dotcom bubble, dan 2008 subprime mortgage).
Kalo krisis, biasanya orang akan cenderung lari ke cash (USD), sehingga menurut saya, saat ini daripada saya beli saham, lebih baik saya simpan dlm USD dulu uangnya.
Nanti bila ada krisis, asing keluar, kurs USD naik, saham turun, di situlah nanti saya bisa memulai investasi saham untuk long term yang saya tunggu-tunggu selama ini...
Mudah-mudahan...

Untuk investor pemula yang baru terjun di saham, saya cm pesan, lebih baik skrg jangan beli saham untuk investasi jangka panjang. 
Lebih baik trading dulu. 
Minimal, begitu saham tembus ke bawah MA 60 atau MA 200 daily, lebih baik lgsg cuci gudang aja. Pegang cash.
Karena, takutnya nanti kena seret crash bursa.. dan itu sangat menyakitkan.
Kesempatan akan selalu ada di bursa saham.
Tapi untuk mendapat kesempatan yang baik, dibutuhkan kesabaran juga untuk menanti momentum yang tepat.

Saya skrg ngga mau sama sekali baca analisa2 yang nyuruh beli saham ini atau itu, dengan target sekian-sekian.
Karena saya ngga mau menyesal belakangan.
Susah payah saya ngumpulin uang dari investasi saham sejak 2008, jangan sampai dlm 2 thn uang itu tergerus habis.

Ok, mdh2an apa yang saya tulis ini bs bermanfaat buat yang lain.
Hati-hati menjaga portofolio sahamnya, ya..

Regards,
V3