Selasa, 27 Februari 2018

LK Q4/2017 ASGR, salah satu contoh LK yang sehat

Ini saya baru liat LK Q4/2017 ASGR, dan LK ini adalah contoh salah satu LK perusahaan yang sehat di BEI.

Saya paparkan beberapa data di LK ini yang membuat saya berpendapat bahwa ini adalah salah satu contoh LK yang sehat (LK dalam juta rupiah) :


1. Modal kerjanya positif

 Modal kerja = working capital = aset lancar - liabilitas lancar

modal kerja ASGR = 1.902.849 - 1.029.675 = 873.174


2. Utang jangka panjangnya masih lebih kecil daripada modal kerjanya

Utang jangka panjang = 61.013

Modal kerjanya = 873.174


3. Pertumbuhan pendapatannya tinggi ---> artinya, pasar untuk produknya berkembang luas

Pendapatan 2017 = 3.918.428

Pendapatan 2016 = 2.712.784

Pertumbuhan pendapatannya = 44,46%


4. ROEnya di atas 15% 

Laba tahun berjalan = 257.225

Ekuitas pemilik = 1.321.180

ROE = laba tahun berjalan : ekuitas pemilik = 19,47%


5. DER-nya di bawah 1

jumlah utang/liabilitas = 1.090.688

jumlah ekuitas = 1.321.184

DER = jumlah utang : jumlah ekuitas = 0,82


6. Arus kas operasinya positif, malah lebih bagus lagi, karena jauh lebih besar daripada laba tahun berjalannya. Artinya, perusahaan ini beroperasi dengan sehat, karena semua laba betul-betul dihasilkan dari kegiatan operasinya, bukan dari jual aset, minjem uang kepada pihak lain, atau lainnya.

Arus kas operasi = 533.399

Laba tahun berjalan = 257.225


7. Kas akhir tahun = 676.587 ---> ASGR mempunyai kas yang jauh lebih besar daripada laba tahun berjalannya, sehingga memberikan kepastian bahwa perusahaan ini mampu untuk membayar deviden kepada pemegang sahamnya.


8. Di harga 1300, PER = 6,8x ; PBV = 1,33x ---> sangat murah untuk perusahaan yang berada dalam Astra Group. Manajemen bisa dipercaya, rajin bagi deviden, dan harga sahamnya sedang diobral murah sekali.. :)


Cuma ada satu minusnya di LK ini, pertumbuhan labanya tidak sebesar pertumbuhan pendapatannya. ASGR harus melakukan efisiensi lagi tampaknya. Tapi untuk harga sekarang, kekurangannya bisa tertutup dengan kelebihannya yang lain, terutama faktor harganya yang sedang murah.. :)

Oya, tapi ASGR ini juga ngga begitu likuid ya. Jadi kalo beli banyak, bisa susah nanti pas mau jual.. :)

Ok, sekian aja, semoga bisa bermafaat. Mohon maaf untuk komentar atau email yang belum terjawab, karena saya belum memiliki waktu yang cukup untuk membalasnya.. 


regards,
V3

update terakhir, tgl 9 Maret 2018, saya jual semua ASGR-nya di harga Rp 1450. saya sudah ngga nyaman dengan kondisi IHSG dan jg kurs usd-idr yang msh terus naik. jadi saya lebih baik pegang cash dulu, dan nanti baru mau masuk pasar lagi setelah bulan Agustus... :) ihsg saat ini = 6441. Kurs usdidr = rp 13795. Selain itu, saya liat ASII sbg induk ASGR sdh berada di bawah MA 60 daily dan weekly-nya. Mdh2an jalan utk mengumpulkan ASII sdh mulai terbuka.. :)




Jumat, 09 Februari 2018

IHSG overheating



Sejak thn 2015, saya sudah bersiap mengamankan modal saya agar ngga kena siklus crash 10 thn di bursa saham, yang kemungkinan besar akan terjadi di thn 2018. Yang ngga percaya saya setakut ini, bs cek di tulisan2 saya yang lama2..


Ketakutan saya ini, membuat saya malah di Januari 2016, menjual smua saham saya dan memasukkan semua uangnya ke usd, begitu juga dengan budget investasi tiap bulan, saya belikan usd juga. Dan akhirnya, selama thn 2016 modal saya relatif stagnan krn cuma masuk tabungan aja..


Akhir 2016, saya mulai masuk ke saham lagi, beli JSMR sama MAIN kalo ngga salah.

Awal 2017, saya tambahkan BBRI dan BBNI dalam jumlah lumayan banyak ke portofolio saya. Tapi saya tetap menjaga portofolio saya di saham tidak lebih dari 25% dana yg saya miliki.

Maret 2017 dan April 2017, banyak saham yang saya jual, untuk saya pindahkan ke INDY, waktu itu INDY masih 800-an..

Dan betul2 ngga nyangka, INDY naik tinggi banget sampai Januari 2018 kmrn.. dari 800 ke 4500..


Alhamdulillah, portofolio saya berkembang banyak di thn 2017 kmrn dari INDY..

Begitu INDY ke 2000, saya jual seperempatnya, krn sudah naik di atas 100% dalam waktu kurang dr setahun,  minimal utk menarik modal saya.

Ketika INDY sudah 4000, saya jual lagi seperempatnya, krn menurut saya naiknya terlalu cepat, dan ihsg sendiri juga kok seperti ngga ada koreksi2nya..


Padahal ngga pernah ada bursa saham yang naik terus sepanjang sejarahnya..

Dan biasanya, semakin fantastis naiknya, nanti akan smakin drastis juga turunnya... :(((


Jadi, ketika kmrn dow jones mulai turun 4% pertama kali di thn ini, hati saya relatif tenang, krn di porto saya tinggal ada INDY, INDS, BBKP dan SSIA, dan saya pegang cash dalam jumlah yang cukup banyak (dan cash saya banyak dalam usd, jadi tenangnya double).


Ketika kemarin dow jones turun lagi 4% yang kedua di thn ini, saya jual smua SSIA saya (krn SSIA labanya naik tinggi akibat penjualan tol cipali, yang tidak akan bs berulang lg di thn ini). Sekarang tinggal ada BBKP, INDY dan INDS di portofolio saya...


Apakah siklus crash 10 tahunan di bursa saham akan terjadi lg di thn ini? Saya ngga tau.


Tapi saya pribadi, dengan melihat MA, saya berpendapat bahwa IHSG sekarang sudah overheating. IHSG sudah kepanasan, butuh koreksi dulu. Bahkan stokastik slow di weekly monthly saja sudah di daerah overbought (skrg ihsg 6478, dan masih overbought stokastik weekly-monthlynya).


Jadi saya sudah beberapa hari belakangan ini, menyarankan ke teman2 saya :  yang punya saham yang sudah cuan tipis, atau rugi tipis, atau PER > 10 dan PBV > 1, lbh baik jual dulu skrg... siapa tau nanti bs dpt lbh murah lagi... atau jangan menyesal kalo nanti ngga ada cash padahal banyak saham murah dan bagus yang bs dibeli...


Hari ini tadi saya sudah pamit sm tmn2 investor saham, saya mau off dulu, ngga mau beli2 saham lagi. Saya baru mau masuk pasar nanti stelah Agustus, terutama setelah LK Q3 keluar..

Sekarang mending menjauh dulu dr pasar.


Kata yang jago2 TA, dow jones sudah masuk fase koreksi, krn sudah turun 12% dr highest. Saya ngga bs liat chart dow dengan lbh mendetil, krn saya skrg sudah ngga pakai metastock lg. Jadi saya beli/jualsaham cuma dengan modal chart gratisan dr OLT seperti HOTS.. :)))


Kalo ihsg, masih dekat area all time high-nya.. Belum masuk fase koreksi, krn belum turun 10% dr highestnya..

Tapi kalo dow jones sudah masuk fase koreksi, biasanya bursa saham lain akan menyusul, termasuk Indonesia.

Jadi ibaratnya, ngapain kita berenang melawan arus? Yang ada bs mati konyol sendirian.


Sekarang kalo ada analis yang menyarankan untuk buy buy buy dengan target ihsg 2018 ke 7000an atau malah 8000, jangan didengerin. IHSG overbought bgini, ngga bijak bgt untuk sembarangan beli2 saham.. 


Kalau di saham, berita bs di-create. Tapi yang jelas, kalo bursa sudah naik tinggi banget, pasti akan ada pihak-pihak yang akan profit taking. Jadi jangan sampai kita kebagian nyuci piringnya, ya..


Dari dulu saya tulis, hati-hati 2018, ada kemungkinan siklus crash 10 thn bursa saham, dan ngga sedikit yang berkomentar pedas, bilang kalo saya terlalu serakah ingin cepet kaya dengan nyumpahin krisis, dsb, dsb. belum lagi yang japri ke email saya.. :(( 


Tapi saya nulis di sini kan sesuai dengan apa yang ada di hati saya, di pikiran saya, saya nulis bukan krn saya dibayar siapapun.
Dan saya menulis dr perspektif seorang investor saham, yang harus menjaga keutuhan modalnya dari kekejaman bursa saham..

Jadi kalau memang ihsg sudah kemahalan, overheating, over bought, ya itu mmg yang saya lihat. 

Kalau saya salah, itu karena saya bodoh, ilmunya belum tinggi, bukan krn saya ingin membohongi orang dengan tulisan saya..

Mungkin banyak yang belum tau, kejatuhan bursa saham tidak harus sama dengan krisis ekonomi suatu negara. Fundamental  ekonomi negaranya bisa jadi baik-baik saja, tapi karena banyak investor keluar dari bursa saham, ya bursanya pasti turun. 

Dengan bursa saham kita yang mayoritas masih dikuasai asing, kalo asing ini angkat kaki dr bursa saham, biasanya dia akan sekalian beli dolar (usd)..

Jadi biasanya hubungan antara kurs usd-idr dan ihsg itu terbalik. Kalo kurs usdidr naik, ihsg turun.
Kalo kurs usdidr turun, ihsg naik.
Makanya hedging terbaik untuk investasi saham menurut saya adalah dengan punya tabungan di usd.
Minimal kalo salah satu anjlok, yang satunya lagi naik.. 


Dan tentang siklus crash 10 thn bursa, sekarang saya malah jadi tambah takut, krn sejak 2016 ihsg memang belum pernah koreksi dalam.


Ok, cukup sekian ya..
Saya off dulu dr saham, nanti baru mau liat pasar lg skitar Agustus, insyaa Allah..


Jaga modal kalian baik2, krn saya sudah mengalami sendiri bgmn pahitnya kalo modal sudah menyusut tajam akibat penurunan bursa..


Kalo saya salah, ya maklum aja, namanya juga manusia, pasti ada salahnya, apalagi untuk menganalisa bursa saham.. :)


Tapi apapun yang kita lakukan, mau beli saham, mau jual saham, atau diem aja, make sure agar apa yang kita lakukan itu bikin hati kita tenang dan tetap bs tidur nyenyak, karena kesehatan itu jauh lebih penting.. :)


Warm regards,

V3


Selasa, 19 September 2017

Beberapa saham yang menurut saya sdh murah untuk investasi..

Beberapa bulan ini, ihsg sepertinya cuma bergerak flat saja antara 5700-5900. Kalau liat di macd daily, sepertinya ada divergen, krn puncaknya semakin turun. Dengan kata lain, bisa jadi ke depan, IHSG-nya akan turun.. Bisa jadi lho ya, belum pasti akan terjadi juga :)

Tapi yang saya heran, selalu ada aja saham yang gantian dibanting, bahkan kadang sampai ke harga yang menurut saya, ini sudah murah banget....

Jadi, sejak bulan Mei kemarin, saya sempat beli beberapa saham yang saya anggap sudah murah banget ini..

Antara lain :

a. INDS --- saya beli INDS di bulan april 2017, dengan harga avg 858. Waktu itu saya hitung modal kerja per sahamnya = Rp 1062,7 sedangkan Book Value-nya Rp 3157. Dengan EPS Q1/2017 yang Rp 26,41 , maka INDS di 858 itu setara dengan PER 8,12x ; PBV 0,27x , dan sahamnya jg sudah di bawah modal kerja per lembar saham.. PER x PBV = 2,19. Yup, dengan hitungan ini, INDS di harga 858 sudah murah sekali menurut saya. Selain itu, dia jg rajin bagi deviden, jd bs buat pegangan jangka panjang.. Sekarang harga INDS Rp 1020.

b. INDY --- saya beli INDY di bulan mei 2017, dengan harga avg Rp 842. Di LK Q1/2017, INDY mulai mencetak untung, setelah tahun-tahun sebelumnya merugi.. EPS-nya $ 0,0042 (dengan kurs Rp 13.200 setara dengan Rp 55,44) ; Book value-nya $ 0,1174 (setara dengan Rp 1550) ; dan.. modal kerja per sahamnya = Rp 894.
Dengan PER yang 3,79x ; PBV 0,54x maka PER x PBV INDY = 2,04x. Masih murah, dan ditambah lagi harga sahamnya pun masih di bawah modal kerja/lembarnya.. Sekarang harga INDY Rp 1880.

c. PTRO --- saya beli PTRO bulan Agustus 2017, di harga avg Rp 990. Waktu itu saya beli PTRO krn saham ini jg PER-nya msh di bawah 10x, PBV skitar 0,4x dan harga sahamnya juga msh di bwh modal kerja/lembar saham. Tapi begitu LK Q2/2017 keluar, PER-nya jadi 16x, akhirnya krn saya sudah cuan, saya jual dulu aja.. Saya mau cari saham lain yang lebih menarik untuk dibeli... :)


Nah, beberapa hari ini, saya mulai liat2 saham lagi. Dan kaget aja, itu saham konstruksi seperti WIKA, WSKT, PTPP kenapa pada hancur bgini yahh harganya..? eh tapi saya seneng sih, soalnya akhirnya bisa ikutan beli saham konstruksi jg, di harga yang masuk akal.. :)))

Tadinya saya beli WIKA krn PBV-nya sudah 1,4x (ini asli beli hanya karena liat PBV aja) di harga 1985. Ngga pernah deh liat WIKA di PBV serendah ini dalam beberapa thn trakhir.. Dan coba googling tentang WIKA, lho ternyata dia ada right issue thn 2016, dan itu di harga Rp 2180. Berarti skrg WIKA sudah di bwh harga RI-nya yahh.. ckckck... 
Eh tp krn WIKA akhirnya bikin new low di bwh 1965, ya saya CL dulu saja.. Liat sampai mana WIKA bakal turun lagi. Kemarin terakhir turun sih, di 1785. Terus saya itung lagi, kalo 1785, dengan patokan LK Q2/2017, PER-nya WIKA itu 32,7x.. wahh ini sih alamat devidennya thn depan, ya kecil banget.. :))) Akhirnya ngga jadi beli WIKA deh... 

Ndilalah WSKT waktu itu jg sempet turun 9% sehari, gara2 ada berita kalo dia ngga jadi jual ruas tolnya. Mulai deh saya liat LK-nya WSKT. Ternyata di harga 1910, PER WSKT itu 10,11x ; PBV 2,25x. PER x PBV-nya = 22,72x. Lebih menarik beli WSKT sepertinya daripada WIKA, krn PER-nya jauh lebih kecil, jadi devidennya akan lebih terasa.. :) Selain itu, untuk konstruksi, size WSKT memang lebih besar daripada WIKA, ya. Jadi memang WSKT ini leadernya.. Ya sudah, akhirnya saya ambil saja dulu WSKT-nya di harga 1905.. :)

Nahh, pas kemarin itu, ternyata AISA juga sempet turun sampai ke bwh 900.. Tapi sayang banget, saya pas lagi ngga bisa mantau saham 2 hari itu krn nemenin keponakan yang mendadak harus operasi sesar di rumah sakit. Dan sejak nyentuh 875 itu, AISA naiknya lgsg tinggi banget selama 2 hari, jadi saya ya cm bs tunggu dia pullback aja dulu.. :)

Oya, dulu saya pernah tulis kalo teman saya bilang, manajemen AISA agak ngga bener, jadi hati2 saja kalo megang saham ini. Pendapat itu msh saya pegang sampai skrg. Tapi saya tetap ingin beli sahamnya, walaupun dalam jumlah yang ngga banyak. Kenapa? karena, secara hitungan saya, AISA sudah murah banget..
Based on LK Q1/2017-nya (LK Q2/2017 AISA belum keluar juga sampai sekarang), EPS-nya Rp 32,16. Book Value-nya Rp 1257. Modal kerja per lembar sahamnya = Rp 1022..
Di harga skrg (1015), PER AISA = 7,89x ; PBV = 0,81x. PER x PBV = 6,37, plus masih di bawah modal kerja per sahamnya.. menarik banget buat saya, krn ini saham consumer, apalagi kalo harganya di bwh Rp 900.. :)

Terus ada lagi nih satu saham yang PER dan PBV-nya seperti ngga masuk akal banget buat saya. Masa iya sih, bisa semurah ini?
Coba liat LK Q2/2017 SSIA. EPS-nya Rp 264,42. Book value-nya Rp 869. Modal kerja per lembar sahamnya = Rp 667,31. Harganya sekarang Rp 600.
Ini kalo EPS-nya ngga ada penambahan aja sampai akhir thn, maka berarti PER-nya = 600 : 264,42 = 2,27x. PBV = 600 : 869 = 0,69x. PER x PBV = 1,56. Murah banget ya.. Ini saham SSIA lho, yang juga rajin bagi deviden... Yahh ngga mungkin kan saham murah banget kaya gini ngga saya beli... :))

Selain SSIA, LPCK jg saya liat masih murah, dan masih di bawah modal kerja per sahamnya jg. Cuma saya agak betenya dengan LPCK, krn dia ngga pernah bagi deviden.. 

Oya, skrg yang saya liat, PGAS lagi dibanting bikin new low terus ya.. Dan di bwh Rp 1650, PGAS ini sudah di bawah book value, lho... Cuma saya jg belum beli, krn msh mau tunggu di harga lebih murah lg.. :)))

Dulu PTBA sempet dijual dengan PBV di bawah 1x jg dengan segala macam berita buruknya tentang masa depan suram bisnis batubara (PTBA 4xxx-an waktu itu). Tapi, walaupun labanya turun terus, PTBA ngga pernah merugi seperti trio mining ANTM, INCO, TINS, jadi PTBA ini mirip PGAS sekarang. Yang berbeda antara PTBA dan PGAS, ketika PBV-nya di bwh 1 itu, PER PTBA juga sudah di bwh 5x, sudah menarik banget untuk dibeli.. Tapi si PGAS ini, di 1600, wlpn PBV-nya sudah di bawah 1, tp PER-nya masih 30,8x... masih mahal banget... Jadi ya saya masih mau nonton saja deh, liat sampai mana ini si PGAS dibantingnya.. 

Ok, ini aja beberapa saham yang saya pikir cukup menarik untuk dibeli sekarang ini.

Saya menggunakan LK Q1 dan Q2/2017 sebagai bahan pertimbangan. Cara-cara perhitungan sudah saya jelaskan di posting sebelum ini, jadi di sini saya ngga tuliskan lagi.. :)

 Oya, saya jg sudah ngga pakai metastock lagi, krn laptop saya hilang diambil maling.. semua data hilang, jd saya harus analisa dr awal lagi, donlod smua LK emiten dr awal lagi.. :( sekarang saya cm mengandalkan chart dr online trading saja. Yahh akhirnya, saya memang harus lebih banyak mengandalkan FA lagi.. :)))

Kalo harga sahamnya masih terus turun setelah saya bilang murah di sini, ya itu di luar kuasa saya, ya.. :) saya juga sering nyangkut kok kalo beli saham.. :)))
Tapi yang jelas, saham apa yang saya bilang murah, saya pakai hitungan yang bs dipertanggungjawabkan dasarnya, jadi ngga asbun begitu aja.. :)

Oya, saya sendiri cuma masukin sedikit dana di saham sekarang ini, maksimal 25% dr portofolio saya. Sisanya masih dalam bentuk cash.. :)

Yang jelas, saya makin yakin dengan dasar yang saya tetapkan untuk membeli suatu saham yang menurut saya sudah murah : bila PER x PBV di bawah 5x, dan saham itu jg sudah berada di bawah atau minimal mendekati modal kerjanya.. :) dan saya ada syarat tambahan untuk setiap saham yang saya beli : dia harus rajin bagi deviden. 

Itu aja ya, semoga tulisan ini bs bermanfaat bagi yang membacanya. Aamiin.. :)

Warm regards,
V3



Jumat, 21 April 2017

cara saya menganalisa saham sekarang ini..

Ini tulisan terlama yang pernah saya bikin utk di-post di sini.. butuh lebih dr 2 minggu utk menyelesaikan tulisan ini. mdh2an apa yang saya tulis di sini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca tulisan ini.. aamiin.. :)

Bulan April 2017 ini, saya genap 9 thn terjun ke pasar modal sebagai investor saham ritel..

Dari awalnya sbg daily trader (alias kalo tiap hari ngga trading rasanya ngga enak bgt), terus jadi trader mingguan (swing trading), kemudian pake FA dengan berbagai macam metode, akhirnya saya mulai menemukan sendiri metode analisa saham yang saat ini saya pikir lumayan cukup baik untuk diterapkan dalam berinvestasi di bursa saham.

Yang jelas, setiap metode pasti selalu ada kelebihan dan kelemahannya, ya.. Dan saya sendiri percaya, tdk ada metode investasi saham yang TERBAIK, yang selalu mendatangkan cuan bagi pemakainya.
Setiap metode yang kita aplikasikan, tetap saja ada peluang untuk salah, alias abis kita beli, sahamnya bukannya naik, malah bs turun sampai bertahun-tahun harganya...
Dan itu salah satu resiko yang harus kita hadapi bila kita memutuskan untuk berinvestasi saham...

Saya mau share cara yang sekarang saya gunakan dalam menganalisa saham untuk investasi. Syukur-syukur ilmu ini nantinya bs bermanfaat bagi banyak orang, sehingga bs menjadi amal soleh buat saya di akhirat nanti.. :) aamiin...

Ini saya langsung terapkan ke LK Q4/2016 JPFA aja ya...

Kemarin saya beli saham MAIN, krn harganya menurut saya sdh murah (PBV < 2), tapi begitu saya liat LK Q4/2016 JPFA, kok saya jadi lebih yakin pegang JPFA aja.. Terutama krn dia selalu mencetak laba positif dlm 5 thn trakhir (MAIN merugi di thn 2014 dan 2015) . Selain itu, ROE JPFA juga jauh di atas MAIN, dengan DER yang sama-sama > 1.

Sebelumnya, bagi para pemula, mungkin belum tau ya, Laporan keuangan perusahaan terbagi dalam 3 bagian utama : NERACA (BALANCE SHEET), RUGI LABA (INCOME STATEMENT), dan ARUS KAS (CASH FLOW.

Biasanya, saya selalu memulai dari membaca laporan neraca dulu, kemudian masuk ke laporan rugi laba, dan terakhir baru ke laporan arus kas.


LK Q4/2016 JPFA (data dalam Juta Rupiah)


 Data-data yang kita lihat dr NERACA :

a. Jumlah aset lancar ( Current asset = CA) = 11.061.008
b. Jumlah liabilitas jangka pendek (current liabilities = CL) = 5.193.549

c. Modal kerja = CA - CL = 5.867.459

Hati2 dengan perusahaan yang modal kerjanya negatif, krn bisa jadi dia akan minjam utang atau jual aset untuk menutupi liabilitas jangka pendek yang akan jatuh tempo.

Graham menuliskan di bukunya Intelligent investor, perusahaan yang kuat keuangannya, CA = di atas 2 x CL

CA : CL JPFA = 11.061.008 : 5.193.549 = 2,13 ---> posisi keuangan JPFA termasuk kuat


d. utang jangka panjang (jumlah liabilitas jangka panjang) = 4.684.513
Utang jangka panjang JPFA < modal kerjanya. Ini juga menunjukkan kondisi keuangan JPFA skrg cukup kuat.


e. nah, sekarang kita mau hitung berapa modal kerja bersih per lembar saham JPFA...

modal kerja bersih/lembar saham = (CA - total utang) : jumlah saham beredar

CA = 11.061.008
total utang = jumlah liabilitas = 9.878.062

total utang JPFA lebih kecil drpd CA-nya, dan ini menunjukkan sekali lagi, kalo posisi keuangan JPFA ini kuat, alias jauh dr resiko bangkrut...


total utang mengalami penurunan 10,6% dalam setahun. 
cara menghitungnya, (total utang desember 2016 - total hutang desember 2015) : total hutang desember 2015.

 jumlah saham beredar = 8.498.932.910 + 2.911.590.000 = 11.410.522.910 lembar saham (ini dilihat di bagian ekuitas ---> modal ditempatkan dan disetor)

sehingga modal kerja bersih/lembar saham JPFA = [(11.061.008 - 9.878.062) x 1.000.000] : 11.410.522.910 = Rp 103,67, dengan kata lain ----> JPFA dianggap sangat murah apabila harganya sdh di bawah modal kerja bersih per lembar sahamnya, alias di bwh Rp 103,67....

atau, bila kita mau cara yang lebih mudah, kita tinggal bandingkan modal kerja JPFA dengan market cap-nya sekarang ini (market cap = harga saham sekarang x jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor).

bila modal kerja masih lebih besar daripada market cap, maka saham termasuk sudah undervalued, alias sudah murah.

f. sekarang kita akan menghitung nilai buku alias  BOOK VALUE JPFA..
 kita liat lagi data ekuitas di neraca.

Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 8.843.494. 
Pertumbuhan ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk JPFA dlm setahun = ( 8.843.494 - 5.611.905 ) : 5.611.905 = 57,58%.
Pertumbuhan ekuitasnya cukup tinggi, karena ada revaluasi aset dan penambahan modal disetor, selain dr pertumbuhan di saldo labanya.

Book Value JPFA = jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah saham beredar = (8.843.494 x 1.000.000) : 11.410.522.910 = Rp 775,03


g. Jumlah liabilitas dan ekuitas ( total asset ) JPFA = 19.251.026.
Aset JPFA tumbuh 12,18% dalam setahun ini.
Cara menghitungnya = ( 19.251.026 - 17.159.466 ) : 17.159.466 = 0,1218 = 12,18%


h. jumlah ekuitas = 9.372.964
jumlah liabilitas = 9.878.062

Debt to Equity Ratio (DER) JPFA = jumlah liabilitas : jumlah ekuitas = 1,05

Nah, dengan selesai menghitung DER, maka selanjutnya kita akan menganalisa LAPORAN RUGI LABA JPFA (INCOME STATEMENT).



Data-data yang kita lihat di laporan rugi laba :

a. Penjualan = 27.063.310
Pertumbuhan penjualan = (27.063.310 - 25.022.913) : 25.022.913 = 8,15%

b. Laba usaha = 2.920.911
Pertumbuhan laba usaha = (2.920.911 - 1.727.913) : 1.727.913 = 68,79%

c. Laba tahun berjalan = 2.171.068
Pertumbuhan laba tahun berjalan = (2.171.068 - 524.084) : 524.084 = 314,05%

kenapa pertumbuhan laba tahun berjalan jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan laba usaha?
bila kita memperhatikan lagi laporan laba ruginya, ternyata thn lalu JPFA mengalami kerugian kurs mata uang asing sebesar 479.028...
akibatnya, laba thn berjalan di 2016 ini mengalami kenaikan yang sangat tinggi...

d. laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 2.064.650
Pertumbuhannya = (2.064.650 - 468.230) : 468.230 = 340,95%

e. laba tahun berjalan per saham (EPS = earning per share) = Rp 189
Pertumbuhan EPS = (189 - 44) : 44 = 329,55%

f. ROE = laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
2.064.650 : 8.843.494 = 23,35%

Untuk menghitung ROE, yang saya pakai adalah ROE annualized atau ROE yang disetahunkan.

Maksudnya, bila yang kita hitung adalah ROE pada LK Q1, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 4, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Bila yang dihitung adalah ROE pd LK Q2, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 2, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Terakhir, bila yang dihitung adalah ROE pd LK Q3, maka laba thn berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk harus dikalikan 4/3, baru dibagi dengan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Untuk LK Q4, labanya tidak perlu dikalikan lagi, karena sdh laba full year di tahun itu.



Kemudian, sekarang kita melihat pada data yang ada di LAPORAN ARUS KAS.

Data yang saya lihat pada laporan arus kas, hanya 2, yaitu :

a. Arus kas operasi = 2.753.605
Arus kas operasinya lebih besar daripada laba tahun berjalan. Ini menunjukkan pengelolaan keuangan JPFA pada aktivitas operasinya berjalan dengan baik, sehingga kegiatan operasi menghasilkan arus kas yang positif, bahkan lebih besar daripada laba tahun berjalannya.

Dan arus kas JPFA terlihat semakin sehat, karena arus kas operasi ini nilainya adalah yang terbesar dibandingkan dengan arus kas investasi dan arus kas pendanaan.



b. Kas pd akhir tahun = 2.701.265
Kalo untuk LK Q4, saya suka melihat nilai kas pada akhir thn untuk melihat apakah kira2 perusahaan akan sanggup membagi deviden atau tidak. 
Bila kas akhir tahun nilainya sangat kecil, apalagi bila dibandingkan dengan laba thn berjalannya, biasanya itu sinyal bahwa perusahaan tdk akan membagi deviden.

Untuk LK periode lainnya, saya suka melihat kas ini untuk melihat, apakah sahamnya sdh murah banget atau ngga..
Karena pada saham yang sedang dibanting banget, kadang-kadang nilai kasnya bisa jauh lebih tinggi drpd market capnya.
Misalnya pada Q3 -2016 SMDR, kasnya = 73.591.979 yang bila kita ubah ke rupiah pd kurs Rp 13.200 =  sekitar Rp 971 milyar.
Tapi market cap SMDR pada harga Rp 5350 = Rp 5350 x jumlah saham beredarnya = Rp 5350 x 163.756.000 lembar = Rp 876,09 milyar..
sehingga waktu SMDR harganya Rp 5350, saya berpendapat bahwa SMDR ini termasuk murah.. selain itu juga karena dengan memperhitungkan nilai PBV dan PER-nya juga...


Nah, dengan selesainya melihat laporan arus kas, maka selesailah saya menganalisa suatu saham.
Dengan data-data yang saya dapat di atas, saya bisa melihat bagaimana posisi keuangan emiten tsb, apakah kuat atau tidak, bagaimana pertumbuhannya, tumbuh atau tidak, dan juga melihat tingkat ROE-nya dan arus kasnya...

Sekarang, langkah terakhir adalah menilai valuasinya.

Saya hanya menggunakan valuasi yang sangat simpel.

1. Hitung dulu berapa nilai PBV-nya, alias price to book value, alias harga sekarang dibandingkan dengan nilai bukunya.
PBV JPFA = Rp 1660 : Rp 775,03 = 2,14x

2. Hitung berapa nilai PER-nya, alias price to earning ratio, alias harga sekarang dibandingkan dengan laba per sahamnya
PER JPFA = Rp 1660 : Rp 189 = 8,78x

3. Kalo dulu saya menggunakan yield untuk membandingkan, sekarang saya lebih suka dengan mengalikan antara PER dengan PBV-nya. Graham menulis di bukunya, Intelligent Investor, bahwa saham yang fundamentalnya bagus, rajin bagi deviden, berharga cukup murah apabila perkalian PER dan PBV masih di bawah 22,5x.
PER x PBV JPFA = 2,14 x 8,78 = 18,79x ---> masih di bawah 22,5x, jadi masih termasuk murah

 Nah, terakhir, saya liat berapa MA 200 daily dan MA 60 monthly JPFA, sebagai risiko harga akan turun, bila saya membeli JPFA di harga Rp 1660.
MA 200 daily = Rp 1616,47
MA 60 monthly = Rp 1153

dengan melihat data MA, saya lebih baik menunggu JPFA berada di bwh Rp 1616, bila saya akan membelinya, krn posisi sekarang sdh ngga jauh dr MA 200 daily.

tapi.. bila saya masih menunggu diskon yang lebih besar untuk beli, ya saya akan beli bila JPFA berada di harga sekitar Rp 1200.. tapi dengan melihat data FA JPFA skarang, harga 1200 ini mungkin akan sulit dicapai kecuali bila ada penurunan dalam tiba-tiba pd ihsg atau ada sentimen negatif tiba-tiba, baik pada sektornya, atau pada emiten JPFA itu sendiri.. dan ketika itu terjadi, itulah saat terbaik untuk membeli saham ini dan simpan untuk jangka panjang...

Ok, saya sdh tuliskan tentang cara saya menganalisa saham sekarang ini.
Metode yang saya pakai skrg adalah gabungan dr berbagai cara yang saya gunakan di masa lalu, dan juga dari buku2 investasi terakhir yang saya pelajari..
Mungkin saja, metode ini akan berubah lagi di masa depan, krn saya juga orangnya dinamis, dan ngga takut untuk mencoba sesuatu yang baru.
Yang jelas, dr setiap perubahan metode yang saya lakukan, saya selalu ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara yang relatif lebih mudah, atau lebih menenangkan saya dalam berinvestasi saham.

Mudah-mudahan, sedikit ilmu yang saya sharing bs memperkaya investor saham dalam menganalisa suatu saham.

Ngga butuh kejeniusan tingkat tinggi untuk bs menjadi investor saham. Hanya butuh sedikit ilmu matematika, dan kesabaran untuk ngga buru-buru beli atau jual saham... :)

Kita sama2 belajar ya, supaya bs menjadi investor saham yang lebih baik lagi di masa depan.. :)  Aamiin..

oya, satu lagi, saya akan langsung jual saham yang saya punya, apabila perusahaannya tiba-tiba merugi. saya ngga akan mau megang saham yang sedang merugi, krn itu mempertinggi resiko saya dalam berinvestasi saham. kalo labanya turun aja, saya kadang suka ngga mau tetap hold, tapi sebaiknya jual dulu, buyback lagi nanti di harga yang lebih murah...
jadi waktu ada yang kirim email ke saya, nanya bgmn ttg sahamnya yang turun sdh di atas 30%, dan bgtu saya cek FA-nya ternyata labanya minus, ya saya bilang aja, kalo saya pribadi akan lgsg jual saham yang sedang merugi, ngga peduli kerugian saya sdh brp besar saat itu. lebih baik uang yang tersisa, saya belikan saham lain yang FA-nya lebih bagus...


Regards,
V3


update 28 april 2017 : Q1/2017 JPFA sudah keluar, dan labanya turun lumayan ya.. Buat yang sdh punya, mungkin lebih baik jual dulu utk nanti buyback lg di harga bawah (siapa tau nanti dikasih di sekitar 1200), buat yang belum punya, sabarrr kalo mau beli.. mending nanti aja kalo mau beli2, sekitar bulan agustus-oktober :))) Disclaimer yahh..


Senin, 20 Maret 2017

cara memilih saham buat investor defensif dgn metode dr Benjamin Graham..

Beberapa bulan ini, saya lagi membaca ulang buku Intelligent Investor Benjamin Graham.

Sempet bikin rangkuman untuk bbrp topik yang saya sukai.
Kebetulan saya barusan membalas email dr seseorang yang menanyakan tentang kesehatan keuangan suatu perusahaan. 

Setelah balas emailnya, saya pikir saya tulis di sini aja yahh, pembahasan Graham tentang pemilihan saham untuk investor defensif.
Dalam bukunya di Intelligent Investor, Graham membagi investor saham ke dalam 2 tipe :

a. Tipe Defensif ---> investor yang ngga mau begitu repot mengamati perkembangan dari saham yang dibeli. mungkin lebih ke arah investor buy and hold gitu ya... Dan saya pikir, semakin saya tua (hehe), saya semakin ga mau ribet2 dengan analisa yang berat-berat tentang suatu saham. jadi saya lebih condong ke golongan investor defensifnya Graham...

b. Tipe Agresif ---> investor yang aktif mengamati perkembangan saham yang ia miliki, rajin switching ke saham-saham lain yang lebih baik.

Metode stock picking yang diusulkan Graham untuk pemilihan saham bagi investor defensif :

1. Beli saham dari ukuran perusahaan yang memadai. Graham memakai patokan, salesnya di atas 100 juta USD/thn dan asetnya di atas 50 juta usd. Kalo kita konversi ke 1 usd = Rp 13300, berarti Graham menyarankan agar kita membeli saham dr perusahaan dengan penjualan di atas Rp 1,33 trilyun , dan asetnya di atas Rp 665 milyar.

2. Kondisi keuangan perusahaan yang cukup kuat, yang bisa dilihat dari :
a. Untuk perusahaan industrial ---> current assets (aset lancar) harus lebih besar daripada current liability (utang lancar)
b. utang jangka panjangnya lebih kecil daripada modal kerja (modal kerja = current asset - current liability)
c. Total utang lebih kecil drpd total ekuitas (tapi untuk perusahaan layanan publik, total utang bisa maksimum 2x total ekuitas)

3. Stabilitas laba ---> perusahaan tidak pernah rugi dalam 10 tahun terakhir (selalu mencetak laba)

4. Selalu membayar deviden dalam 20 thn terakhir

5. Laba rata-rata dalam 10 thn terakhir tumbuh 33%. 
Misalnya, kita akan menghitung rata-rata pertumbuhan laba dari thn 2006 - 2016.
Maka, laba rata-rata dr thn 2006-2007-2008, kita bandingkan dengan laba rata-rata dr thn 2014-2015-2016. Bila pertumbuhannya minimal 33%, maka sahamnya lulus kriteria graham..

6. PER dr EPS rata-rata 3 thn terakhir, maksimal adalah 15x

7. PBV maksimal 1,5x

8. Atau 6 dan 7, bisa juga digabung menjadi : perkalian PER dan PBV , maksimal 22,5.

Itu aja kriteria yang disarankan Graham dalam memilih saham bagi investor defensif.

Walaupun simpel, tapi setelah saya coba2 terapkan ke saham2 BEI, jarang lho ada saham yang bs memenuhi semua kriteria Graham.. :))

Yang jelas krn bursa saham kita lebih muda drpd DJIA, agak sulit buat kita untuk ngecheck kinerja saham 20 thn ke belakang, apakah saham tsb selalu bagi deviden atau ngga.. :)

Bahkan kadang untuk nge-check pertumbuhan labanya selama 10 thn trakhir, agak sulit juga, terutama bila emiten mengubah laporan keuangannya dr usd ke idr atau dr idr ke usd.. :)

Jadi pada akhirnya, saya pikir kalo suatu saham sdh memenuhi 6 syarat dr 8 syarat yang diajukan Graham, saya pikir itu sdh layak untuk dibeli buat investasi... :) terutama syarat ke 8 tuh yang ngga boleh lolos, krn itu yang bikin kita tau banget, apakah suatu saham itu udah mahal atau belum utk dibeli.. :))

Semoga bermanfaat ya, tulisannya :)

Regards,
V3

nanti saya update lg kalo saya ada waktu, ya.. :) 

Senin, 27 Februari 2017

Mulai mengumpulkan saham untuk persiapan masa pensiun...

Ngga terasa, thn 2017 sudah berjalan mau hampir 2 bulan..

Brarti sudah hampir 3 bulan ini saya mulai menyibukkan diri dengan membaca banyak laporan keuangan perusahaan lagi..

Kemarin, ketika saya mulai terjun lagi di saham, niat saya masuk ke pasar hanya untuk membeli saham dan menjualnya ketika LK Q1/2017 keluar atau stelah pembagian deviden...

Tapi ternyata, begitu saya sdh masuk pasar dan menemukan saham-saham bagus dengan valuasi yang cukup murah dan rajin membagi deviden, saya malah merasa sayang untuk menjual saham-saham ini, kecuali bila emiten tsb nanti mengalami rugi..

Sampai saya menulis artikel ini, baru sedikit emiten yang mengeluarkan LK Q4/2016-nya, jadi saya masih menunggu LK saham2 yang saya punya.. agak penasaran sih memang.. :)

Oya, mulai thn ini, saya pikir saya akan kembali ke tujuan awal investasi saham saya dulu, yaitu menjadi investor saham jangka panjang yang bisa mengandalkan deviden sbg pasif income di masa tua saya nanti...

Ini krn saya ngitung, masa kerja suami saya tinggal 15 thn lagi, sehingga hrs memanfaatkan semaksimal mungkin waktu produktif yg tersisa ini, untuk menyiapkan bekal pensiun untuk saya dan suami..

Harapannya, kami bs mendapatkan uang yg cukup untuk menjalani masa tua dr deviden2 saham yang kami dapatkan tiap thn..

Jadi mulai saat ini, saya semakin menjauhi trading, krn selain melelahkan, hasilnya dlm jangka panjang (buat saya)  juga tidak begitu bagus, dibandingkan buy and hold saham2 berfundamental baik..

Saat ini, ada beberapa saham yang sdh masuk ke dalam keranjang investasi long term saya , yaitu :

1. JSMR ---> sdh saya bahas di posting sebelumnya kenapa saya jatuh cinta banget dengan saham ini ketika JSMR melakukan right issue di Rp 3900 desember 2016 kmrn..
Harga pembelian JSMR saya, average Rp 4306. Mungkin saham ini akan terus saya hold hingga saya tua nanti, kecuali bila emiten mengalami rugi, akan lgsg saya jual.
Trs bgmn kalo nanti ada crash di bursa saham thn dpn? Ya, saya akan ttp hold, nanti kalo turun lagi di bwh harga average saya, akan saya tambah lg..
Di harga skrg (Rp 4870), PBV JSMR sekitar 2,58x, dan PER-nya 17,5x (based on LK Q4/2016). Buat saya pribadi, sebenarnya JSMR di harga sekarang pun msh termasuk murah, krn ini adalah saham growth, yang normalnya selalu diperjualbelikan dengan PBV di atas 3x dan PER di atas 20x.. 


2. MAIN ---> ini jg sdh saya bahas di posting sebelumnya, ya. Sekarang MAIN ditutup di Rp 1235. Harga average saya di MAIN, Rp 1268. Jadi posisi saya di MAIN masih floating loss. Tapi gpp, saya akan hold terus, selama dia ngga rugi. MAIN di 1235, PBV-nya = 1,55  ; PER-nya 8,9x ; ROE 17%. Masih murah juga utk saham ayam yang biasanya PBV-nya di atas 3x... Oya, utk MAIN, ini masih based on LK Q3/2016, jadi kalo nanti di Q4/2016 dia msh mencetak laba, PBV-nya mungkin bs di bwh 1,5x...


3. BBNI ---> ini spertinya jg sdh saya tulis di posting sblmnya. average price saya di BBNI, Rp 5560. Di harga skrg (Rp 6200), PBV BBNI = 1,39x ; PER = 14,9x. Sdh agak mahal.. 
Saya sendiri berminat utk nanti nambah BBNI bila dpt harga di bwh Rp 5000...


4. BBKP ---> ini saham yang baru masuk portofolio saya di awal bulan ini. Agak takjub aja ngeliat harganya. Di harga skrg, Rp 610,PBV BBKP = 0,6x ; dengan PER yang cuma 4,73x, ini pun masih based on LK Q3/2016 ya.. Oh my god, bener2 murah untuk suatu saham bank yang asetnya, pendapatannya dan labanya terus naik sejak thn 2014 kmrn...
Saya pernah baca di suatu buku, warren buffet bilang kalo ada saham bank dgn PBV 1, beli aja, itu ibarat kita dpt uang cash sejumlah pembelian kita.. Dan BBKP ini PBV-nya skrg malah cm 0,6x... Thn lalu, dia membagi 30% labanya sebagai deviden. Jadi, kalo thn ini dia masih membagi deviden 30% laba juga, maka deviden yang akan dibagikan skitar Rp 38, alias deviden yield bisa skitar 6%, bila kita membeli di harga Rp 610..
Buat saya, BBKP ini bisa sbg investasi yang sangat baik utk masa tua, shgga saya mulai beli.. Nanti kalo dia turun lg, saya rencana masih akan menambah lg di saham ini...
Oya, dengar2 sih BBKP ini katanya mau right issue di thn 2017 ini.. Kalo bener mau right issue, kemungkinan besar harganya sama dengan nilai bukunya. Dan book value BBKP based on LK Q3/2016, skitar Rp 1000,- 


5. SMDR ---> ini saham ngga likuid, tapi selalu rajin bagi deviden. Salesnya masih turun, tp ekuitasnya tiap thn selalu naik. SMDR di harga sekarang (Rp 5200), PBV cuma 0,3x dengan PER msh di bwh 4x, ini based on LK Q3/2016. Very undervalued... Cuma sahamnya ngga likuid, sayang sekali. Tapi buat saya, ini suatu tawaran investasi long term yang sangat menarik. Bisnis pelayaran buat saya tetap punya prospek yang cukup baik di masa yang akan datang, jd saya beli saham ini, siapa tau nanti devidennya bisa buat menambah income saya di masa tua... Tadinya saya sempat beli LPCK di 5000, tapi bgtu saya ktmu SMDR, LPCK lgsg saya buang dan saya ganti dng saham ini.. Ya, kalo sama-sama ngga likuid, lbh baik saya simpan saham yang selalu kasih deviden, apalagi PER dan PBV-nya jg jauh lebih kecil drpd LPCK...


6. CLPI ---> ini juga saham ngga likuid, tapi saya punya dalam jumlah lbh sedikit drpd SMDR. Di harga Rp 980, PER = 5,5x ; PBV = 0,73x, ROE = 19%. Sama seperti SMDR, sales CLPI di Q3/2016 jg sedang turun. Tapi krn PER dan PBV-nya sdh rendah, saya beli aja.. CLPI ini setiap thn selalu rajin bagi deviden, jadi bs buat modal untuk pasif income di masa tua nanti.. 


Itu semua saham-saham yang saya niatkan utk long term investment, hasil dr perburuan saya masuk ke pasar saham dr desember 2016 hingga februari 2017 ini.

Mulai besok, saya sdh berniat untuk berhenti menambah uang dalam membeli saham dulu. Saya mau off dulu, dan kembali ngumpulin cash di tabungan aja.
Nanti saya mau hunting cari barang murah dan bagus lagi sekitar bulan agustus... :)

Tapi off beli saham bukan berarti saya ngga analisa LK lg.. :) analisa LK tetep, tapi kegiatan belinya akan saya mulai lagi nanti di bulan agustus... 

Sekarang porto saham saya cukup segini dulu aja.

Eh, sbetulnya saya masih punya ADHI, BBRI dan CEKA. Tapi 3 saham ini belum saya niatin utk invest long term.. ini niat jual kalo udah cuan aja..  :)

Ok, happy cuan utk semuanya ya.. :)

Mdh-mudahan investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan nanti.. Aamiin.. :)

Regards,
V3











Minggu, 01 Januari 2017

Catatan penutup 2016…


Tulisan ini saya buat dari tanggal 29 desember 2016, dan baru selesai tanggal 1 januari 2017…

Akhir januari 2016 kemarin, saya memutuskan utk keluar dr bursa saham ketika ihsg sekitar 4572.
Ketika itu saya sangat takut akan koreksi besar 10 thn di bursa saham, yang sudah mendekati siklusnya.
Kalau dr koreksi terakhir di thn 2008, kemungkinan koreksi besar akan terjadi di 2018. Tapi kenapa saya sdh keluar lebih dulu?
Jawabannya : krn saya sangat takut modal yang sdh saya kumpulkan akan bisa tergerus habis-habisan di bursa saham.
Iya kalo bener koreksinya terjadi di 2018. Bagaimana kalau dia dtg lbh dulu, 2017 atau bahkan 2016?
Jadi saya pikir, lebih baik saya amankan lbh dulu aset yang sdh saya punya.

Kemudian utk budget invest tiap bulan, saya belikan USD dan saya taruh di rekening tabungan. Pertimbangannya, krn uang itu akan saya belikan saham lagi, dan biasanya bursa saham turun dalam ketika kurs USD naik tinggi. Selain itu juga utk menjaga nilai uang saya, krn mungkin akan ada di tabungan hingga 2018..

Di bulan november, krn ihsg turun cukup dalam, saya tertarik untuk membeli saham, siapa tau nanti bs ikut pesta window dressing/januari effects. Jadi mulai bulan november kmrn, saya mulai aktif lg buka2 LK Q3/2016, dan nemu 5 emiten yg sahamnya cukup menarik untuk saya beli.

Saham pertama yg saya pikir menarik waktu itu (berdasarkan LK Q3/2016) : MAIN. Labanya naik signifikan, tapi harganya blm naik banyak. 
Di Rp 1310, MAIN PER-nya 9,45x ; PBV 1,64x. 
Sangat murah untuk saham ayam yang potensi growthnya masih sangat tinggi… Selama ini PBV MAIN, sama seperti CPIN dan JPFA, biasanya selalu di atas 3x, malah pernah hingga 6x..

 Kemudian setelah itu, JSMR. Kenapa? Karena kok labanya naik tinggi, tapi harga sahamnya turun terus, bahkan di bawah lowest 2015 kmrn (4500). 
Akhirnya saya baru tau kalo JSMR mau right issue di harga Rp 3900 – Rp 4500. 
Saya liat JSMR di Rp 4220 waktu itu, PER-nya 16,51; PBV 2,53x. 
Selama saya beli saham dr 2008, saya belum pernah ngeliat JSMR di PER di bwh 17x, atau PBV di bwh 3x. Makanya saya tertarik sekali untuk beli.. apalagi kalo bisa dpt di Rp 3900.

 Terus saya juga tertarik beli ADHI krn PBV-nya 1,37x (di Rp 1995), jauh di bawah saham konstruksi lainnya.

Akhirnya ihsg di november turun banyak hingga 5043, tapi ndilalah waktu JSMR turun ke 3900 itu, saya ngga bs beli, krn di rekening saham saya ngga ada uang. Dan utk transfer dr rek usd ke rek rupiah, ngga bs via mobile banking atau internet banking, tapi harus ke bank, dan saya belum ada waktu utk ke bank.. L
Akhirnya lepas deh JSMR di 3900, saya baru bs beli ketika JSMR sdh 4100-an…

Krn gagal dpt JSMR di 3900, saya akhirnya beli MAIN aja di 1300. Skrg MAIN-nya turun ke 1200-an, tapi sy msh hold krn LK-nya bagus (tapi akh des, MAIN close di 1300 lg J).

Bulan desember, saya beli saham lg, BBRI,  BBNI dan ADHI.

Kenapa beli BBRI dan BBNI?

Saya liat, BBRI harganya stagnan aja sejak awal thn.. Padahal labanya msh tumbuh, ekuitas jg tumbuh. BBNI jg sama. Laba tumbuh sangat bagus, tapi harganya cm naik sdikit. Secara PER dan PBV, msh sangat murah. 
Saya beli BBRI ketika PBV-nya 2x dan PER-nya 10x (Rp 11350).
BBNI PBV-nya 1,2 dan PER-nya di bwh 10x (Rp 5375).

Tapi saya beli saat itu niatnya bukan untuk invest long term. 
Hanya utk skedar mencari capital gain, dengan jangka waktu terlama adalah ketika LK Q1 keluar atau ketika akan bagi deviden. Atau malah hanya sampai awal januari aja, krn ikutan januari effects.. J 
Tapi karena menjelang akhir desember saham2 ini sempat naik tajam, jadinya di closing akhir desember saya jual smua dulu (per akhir desember, saya hanya punya JSMR dan MAIN). 
Rencana sih nanti ketika mereka ada koreksi lg, saya mau beli lagi.. mdh2an dpt harga beli di harga di bwh harga beli saya kmrn…

Karena jujur, sy belum berani utk invest long term di saham sblm terjadi siklus koreksi besar di bursa. Jadi sekarang cuma trading aja, itu pun jumlahnya hanya saya alokasikan maksimal 20% dr total cash yang saya punya.

Ihsg 2016 close di 5296. Sejak saya out dr bursa, ihsg sdh naik  15,83%. 
Jadi kalo diliat dr return ihsg, sdh jelas keputusan saya utk out dr saham di awal januari, itu salah total. Tapi di balik itu, saya juga merasakan pengendalian diri saya semakin membaik. Walaupun ihsg naik, tapi krn fokus saya bukan sekedar profit di 2016, tapi much bigger profit dr siklus crash 10 thn bursa saham, saya tetap bisa menahan diri utk ngga beli saham. 
Waktu luang saya (yang cuma sedikit sekarang ini), saya gunakan utk belajar keuangan dan investasi lebih banyak lg. Saya juga belajar narik trend line di chart saham lagi. Puluhan chart saya ubek2 utk saya bikin trendline-nya J
Jadi walaupun saya missed profit dr saham di 2016, tapi dgn ilmu2 yang saya pelajari kmrn, mdh2an return investasi saya di masa depan akan jauh lebih baik… aamiin…

Tapi ada pelajaran berharga yang saya dapat dr semua saham yang saya jual di awal thn kmrn.  Waktu itu saya sempat punya PTBA yang sy beli di harga 4500 (november 2015), dan saya jual di 4300-an krn saya mau keluar dr bursa. PTBA saya beli karena PBV skitar 1,5x, murah bgt. Padahal ketika crash 2008, lowest PBV PTBA adalah 2,16x. Dan sekarang harga PTBA sdh Rp 12.500,-
Tapi ya belum rejeki saya utk cuan gede dr PTBA thn kmrn… LJJJ

Kasus PTBA ini membuat saya makin yakin utk membeli saham bagus dgn PBV sekarang yang sdh di bwh lowest PBV waktu crash 2008 kmrn.. jd wlpn bursa saham dalam keadaan normal, ternyata tetap ada aja saham2 emas yang bagus utk dibeli.. J

Kemarin, selama saya off dr bursa, saya jaranggggggg bgt perhatiin berita ttg saham BEI. Kebetulan juga, krn anak saya sekolahnya sdh beda-beda, jadi waktu saya habis utk anter jemput anak2 sekolah dan les. Tapi saya msh suka baca berita2 ekonomi/keuangan dr media2/investor2 di luar negri. Jadi saya banyak belajar ttg ekonomi dunia skrg ini. Saya belajar hubungan antara kurs mata uang, rate obligasi negara, bursa saham, cadangan devisa, defisit/surplus anggaran pemerintah, neraca perdagangan, dsb. Dulu waktu kuliah, sempat belajar topik2 itu tp cuma nangkep selintas aja. Alhamdulillah selama off, saya bs belajar makro ekonomi lbh dalam lagi..

Dari hasil belajar saya selama ini, ada bbrp hal yang mungkin bermanfaat juga bila saya sharing di sini. Ini saya coba tuliskan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh investor pemula :

11)   Di salah satu posting saya, saya sempat tulis bahwa waktu crash 2008 dulu, PER bbrp saham bluechip seperti SMGR, BBRI, ASII itu sempat di bawah 5x. Tapi sepertinya saya sempat missed 1 hal : BI rate thn 2008 = sekitar 8 – 9%. Dengan BI rate 9% saja, PER BI rate = 100 : 9 = 11,11x, sehingga ketika PER BI rate 11x, wajar jika big diskon, bluechip bagus PER-nya jatuh ke stengah BI rate, alias 5x.

Tapi sekarang, BI 7 day rate = 4,75%. PER BI 7 day rate = 100 : 4,75 = 21,05x.
Sehingga, mungkin nanti jika ada koreksi besar di bursa dan ada saham bluechip dgn PER yang sdh stengah PER BI rate, bisa  saja saham itu sdh masuk undervalued. Apalagi bila PBV sdh di bwh 2x.

Tapi ternyata, sekarang ini, PER bbrp saham banking seperti BBRI, BBNI, BBTN masih di bwh 12x. 
Apakah saham2 ini skrg dlm keadaan undervalued? 
Apalagi utk BBNI, selain PER yang msh di bwh 10x, PBV juga masih di bwh 1,5x. Masih murah bangettttt, kalo menurut saya…

Melihat kondisi ini, kalau nanti kecenderungan BI 7 day rate akan smakin turun, maka PER saham2 bagus akan cenderung semakin naik..

Dan inilah yang terjadi di bursa saham global beberapa thn belakangan ini. 

Suku bunga The Fed (fed rate) terus turun dr puncaknya 20% (di thn 1980) menjadi 10% (1989), kemudian 5% (2007) dan 0,25% (2009 – 2015).
Desember 2016 ini, suku bunga the fed naik menjadi  0,75%.

Dan menurut The fed, mereka akan menaikkan suku bunga sekitar 3 – 4x di thn 2017 nanti (tapi waktu desember 2015, the fed jg bilang akan menaikkan suku bunga 3-4x di 2016, ternyata realisasinya hanya 1x saja).

Penurunan suku bunga the fed dari 5% di thn 2007 menjadi 0,75% sekarang ini mengangkat indeks saham DJI dr puncaknya 14198 (thn 2007, utk kemudian turun ke 6469 thn 2009) menjadi 19852 (29 Des 2016).

Suku bunga the fed yang sangat kecil sekarang ini, dan kemungkinan ada pembalikan trend suku bunga (dari turun terus, flat lama dan sekarang mungkin menjadi naik), membuat banyak investor di luar sana yang berpendapat bahwa bursa saham sudah bubble dan rawan pecah, alias crash.

Masalahnya, bagi orang awam, kenaikan suku bunga dari 0,5% ke 0,75% mungkin hanya kecil, krn hanya 0,25% selisihnya. Tapi bagi orang yang berutang, itu artinya mereka harus membayar bunga pinjaman 50% lebih mahal. Bayangkan kalo bunga pinjaman naik 100%, 150% atau malah 200%.... 
Dan jangan lupa, bursa saham itu naik juga krn banyak yang beli saham dengan marjin. Kalo bunga naik, yang beli pake marjin mungkin akan mengurangi posisinya, sehingga mrk akan menjual saham yang mrk punya.. lbh banyak penjual drpd pembeli, tentu akan menyebabkan harga akan turun…

Sehingga dengan rencana the fed akan menaikkan suku bunga 3-4x di thn 2017, banyak orang yg bilang bahwa bubble di bursa saham sdh rawan pecah...

Apakah benar begitu?

Saya ngga tau. Karena saya jg ngga memperhatikan saham2 di DJI, DAX, FTSE, brp PER mrk, growth mereka dsb.

Tapi untuk saham BEI, saya liat PER ASII 22x, dan sejak saya beli saham dr 2008, seingat saya PER ASII ngga pernah setinggi itu. 
Untuk PBV, ASII skrg sdh termasuk mahal juga krn sdh di atas 3x.

Tapi untuk saham lain seperti BBRI, BBNI, SMGR, JSMR, PTBA, CPIN, saya liat PER dan PBV-nya masih belum setinggi di 2007 atau 2012/2013.
Ini belum lagi kalo kita bicara saham2 seperti MAIN, SRIL, yang PBV-nya jauhh lbh kecil lg…

Jadi kalo untuk IHSG, menurut saya, bubble belum merata, krn masih banyak saham2 yang berada di valuasi normal, atau malah undervalued.

Tapi seandainya The Fed nanti akan benar2 menaikkan suku bunga 3-4x di thn 2017, saya pikir BI mungkin juga akan menaikkan BI 7 day rate-nya. 
Dan kalau BI menaikkan BI 7 day rate-nya, apalagi kalo juga naik di atas 2x, maka IHSG kemungkinan jg akan turun dulu…

Jadi buat para pemula yang ingin memulai investasi di saham, strategi terbaik membeli saham adalah ketika bursa saham sedang turun dalam. Dan jangan asal beli. Minimal sebelum beli, cek dulu, labanya tumbuh atau ngga, PER dan PBV-nya berapa kali. Sekarang saya hanya berpatokan pada PER dan PBV ini dalam membeli saham. Tapi saya lebih suka pakai PBV dibandingkan PER, karena lebih bisa diterapkan ke saham2 yang labanya sedang turun (misal : SMGR).


22).  Jangan berinvestasi jangka panjang di saham2 komoditas.  Harga komoditas naik/turun ada siklusnya, dan bisa bertahun-tahun. Seperti contohnya saham2 batubara di BEI. Labanya terus turun sejak thn 2012, dan baru mulai ada peningkatan laba di thn 2015. Untuk investasi saham jangka panjang, sebaiknya hanya di saham-saham konsumer dan banking aja. Saya sendiri, sekarang mindset long term investing sepertinya bukan lagi beli dan hold utk selamanya. Tapi beli ketika harganya murah banget (secara PBV terutama) dan jual ketika harganya sdh mahal bgt (secara PER dan PBV), atau jual begitu labanya turun. Dan sambil dikombinasi dengan TA-nya. Posisi jual yang sangat bagus adalah saat saham itu dalam keadaan sangat bullish (MA 5 di atas MA 20, MA 20 di atas MA 60, di chart monthly), dan stokastik daily-weekly-monthly dalam keadaan sdh overbought. Untuk posisi beli terbaik, tinggal kebalikan posisi jual terbaik saja.


33).   Kalo mau investasi di saham komoditas, sebaiknya pelajari dulu chart komoditasnya. Misal, mau invest di saham coal, hrs pelajari dulu chart harga coal. Karena harga komoditas larinya lebih duluan drpd sahamnya… Invest di saham komoditas hanya dengan berpatokan LK, bisa bikin kita telat masuk dan juga telat keluar (seperti pengalaman saya dulu dgn saham2 coal).


 4).    Jangan remehkan cara valuasi yang sederhana, seperti  PER dan PBV. Seringkali, metode sederhana dan digabungkan dengan kesabaran menunggu saat membeli dan menjual yang tepat, malah akan memberikan return investasi yang sangat bagus. Keep it simple. 
     Sekarang saya sdh hampir ngga pernah lagi menghitung harga wajar saham. Saya lebih tertarik menghitung brp PBV dan PER-nya saja. Terlebih untuk saham-saham yang labanya sedang turun, berpatokan pada PBV bisa lebih memberikan hasil yang optimal dalam investasi. Selama suatu perusahaan terus menghasilkan laba tiap thn, maka nilai ekuitasnya akan terus naik, sehingga nilai Book Value (BV) akan cenderung naik. Untuk saham seperti ASII, SMGR, BBRI, PBV di bawah 2x sdh termasuk bagus di saat bursa saham sedang “normal”.


55).      Saya sempat menghitung PBV beberapa saham di harga lowest mereka di 2008, dan ini nilai PBV yang saya dapat (based on LK Q4/2008) :

·        SMGR = 1,34x
·        ASII = 0,8x
·        PTBA = 2,16x (di thn 2015, PBV PTBA sempat < 1,5x)
·        UNVR = 15,13x
·        UNTR = 0,67x
·        INDF = 0,86x
·        JSMR = 0,82x
·        BBRI = 0,66x
·        CPIN = 0,17x
·        LSIP = 1,12x (di thn 2015, PBV LSIP sempat < 1x)
·        PGAS = 3,4x (sekarang PBV PGAS di 2700 = 1,6x)
·        BBNI = 0,37x


66).     Untuk analisa chart, saya sekarang juga udah ngga pakai MA macem2. Lebih sering liat MA 5 sama MA 60 monthly aja. Untuk daily, saya lebih suka liat MA 200. Kalau untuk investasi, terutama di saham-saham consumer dan bank, sebaiknya beli ketika harga di sekitar atau di bawah MA 20 monthly (ICBP, ROTI, UNVR, BBCA misalnya) atau MA 60 monthly (BBRI, BBNI, BMRI). Semakin ke sini, saya semakin menyukai metode yang simpel2 dalam berinvestasi, krn saya semakin fokus di timing beli-jualnya aja…


7).    Biasanya, bulan-bulan baik untuk membeli saham adalah sekitar bulan agustus-september-oktober, krn pada bulan2 ini ihsg cenderung turun dalam. Walaupun ngga selalu begitu, tapi secara historis, mayoritas polanya seperti itu. Bulan2 emas di mana ihsg cenderung naik, biasanya bulan desember-januari, krn ada window dressing dan januari effects.


Sekarang saya coba bahas IHSG, ya.

IHSG 2016 belum bisa break all time high. Highest 2016 malah ngga keluar angka 5500, hanya 5491 saja. Waktu itu saya sempat nulis ya, kalo saya agak ngeri IHSG monthly akan bikin pola head n shoulder. Sampai saat ini, saya liat potensi ke sana masih terbuka.

IHSG desember 2016 close di 5296, di bawah MA 5 monthly-nya (5323). Dan ini yang pertama kali dalam 12 bulan terakhir, ihsg close di posisi di bawah MA 5-nya. Jadi window dressing pun ngga bs mengangkat ihsg untuk close di atas MA 5 monthly-nya..  Kalau liat dr chart monthly, begitu pertama kali IHSG close di bawah MA 5 monthly, biasanya bulan berikutnya akan bikin lower low dulu. Tapi ngga tau, thn ini akan seperti itu atau ngga..

Kemarin, bbrp hari terakhir menjelang tutup tahun, ihsg naik kenceng banget, sampe pake gap naiknya, yang menurut saya, ini malah ngga sehat. Apalagi bentuk candle terakhir di daily chart, jelek banget. IHSG seperti ada potensi turun. Tapi selama turunnya ngga lebih rendah drpd low kmrn (5022), ya ngga apa2. Apalagi kalo penurunannya nanti tertahan di sekitar MA 200 daily (5119), bisa jadi ini akan jadi sinyal bagus bahwa ihsg akan bs naik lg, minimal ya sampai highest kmrn (5400). Tapi kalo ihsg terus turun   dan bikin lower low lg, lebih baik nahan diri dulu utk ngga langsung beli2…

Posisi MA 60 monthly ihsg skrg ada di 4719. Saya pribadi akan nunggu di bawah atau di sekitar MA 60 monthly ini untuk belanja lebih banyak saham bagus.. kalo ihsg masih jauh di atas itu, saya trading kecil2an aja kalo pas lg ada waktu dan nemu chart saham yang bagus… yang jelas, semakin naik ihsg-nya, semakin saya ngga akan mau beli banyak, krn itu artinya saham2 akan semakin mahal untuk dibeli J

Ok, ini aja penutup thn 2016 dr saya.

Mudah-mudahan apa yang saya tulis bisa bermanfaat juga buat yang lain.. aamiin.. J

Mudah-mudahan thn 2017 akan jauhhhhhh lebih baik daripada thn 2016 ya… aamiin.. J

Regards,
V3

Oya, utk yang comment2 di blog ini, maaf kalo saya belum jawab ya, krn biasanya abis nulis, saya ngga pernah buka blog lg. Tapi kalo ada yang email lgsg ke saya, biasanya saya usahakan selalu saya balas… kalo saya ngga balas, mungkin saya ngga baca krn ketutup dgn banyaknya email2 lain, terutama dr milis..