Senin, 19 September 2022

Kenapa saya lebih suka dengan mengumpulkan saham2 deviden...

 Ada banyak cara untuk meningkatkan kekayaan di saham. Ada yang dengan trading, ada yang dengan investasi. Bahkan cara trading/investasinya pun bisa bermacam-macam.

Saya ngga berusaha mencari metode mana yang terbaik untuk dilakukan, tapi saya mencari metode yang paling sesuai dengan karakter saya.

Dan setelah 14,5 thn di bursa, saya tau bahwa saya lebih cocok dengan membeli saham2 yang rajin bagi deviden, terutama bila devidend payout ratio (DPR)nya di atas 50%. Kenapa bgitu? Karena dengan bagi deviden, kita tau bahwa laba perusahaan itu REAL, betul2 ada uangnya, ngga cuma di atas kertas aja. Selain itu, manajemennya juga keliatan beritikad baik dengan pemegang saham minoritasnya. 

Saya agak kurang sreg dengan perusahaan yang ngga bagi deviden dengan alasan akan ekspansi bisnis. Kenapa? Karena ekspansi bisnis ada resiko gagal. Jadi drpd semua laba dibuat ekspansi, lbh baik stengahnya diberikan sbg deviden dulu, kan duitnya bs dimanfaatkan oleh investor ritel yang menerima deviden. Tapi ini pemikiran saya, orang bisa beda2 kan.. :)

Untuk membeli saham deviden, ada beberapa kriteria yang saya gunakan, misalnya :

- labanya harus naik, saya ngga mau beli saham yang labanya lagi turun

- PER < 7

- EV/EBIT atau EF/CFO < 3

- Devidend yield (DY) di atas 10%

 dan saya kombinasikan juga dengan chartnya. 

Kriteria FA-nya ngga harus ada semua, tapi minimal ada 2 yang masuk. 

Cara yang paling saya suka untuk melihat chart adalah dengan menggabungkan indikator MA, stokastik slow dan MACD ketika akan membeli suatu saham. Paling gampangnya, ketika kriteria FA sdh terpenuhi semua, saya tunggu aja di area daily/weekly/monthly oversold utk belinya. Ngga harus tiga2nya terpenuhi, salah satunya jg oke. Yang penting kita ngga belanja di pucuk. Dan yang jelas, jangan pernah beli di area daily/ weekly/monthly overbought, apalagi yang monthly overbought, takutnya nyangkut di ketinggian dan kelamaan.

Banyak orang bilang, ngapain beli saham deviden, cuma dapet deviden segitu aja kok mau. Yang jelas, kalo saya beli saham deviden, saya harus make sure dulu bahwa dari capital gainnya aja, saya bisa dapat minimal 50% dalam setahun. Jadi misalnya saya mau jual menjelang cum date deviden, capital gain saya sdh lumayan. Tapi biasanya utk saham2 yang sudah kasih DY di atas 15%/thn, saya akan hold, udah ngga mau jual, apalagi bila labanya masih naik tinggi.

Alasan saya jual jg ada bbrp :

1. Jual stengah krn sdh mencapai 100% gain (anggap kita tarik modalnya)

2. Jual semua karena kinerja memburuk 

3. Ada saham lain yang lebih bagus utk dibeli dan saya lg ngga ada cash


Tapi untuk pasif income, saya memilih akan hold saham2 deviden, terutama yang sudah saya beli di harga murah dan DY-nya juga sdh di atas 15%/thn.

Kenapa?

Karena DY kita akan bertambah sejalan dengan kinerja perusahaannya.

Misal, bulan november thn 2020 saya beli MPMX di harga average Rp 413.

Thn 2021, saya dapat deviden Rp 115 ( DY 27,84%)

Thn 2022, saya dapat deviden Rp 180 ( DY 43,58%)

Thn 2023, apabila MPMX bagi deviden Rp 115 lagi, maka DY saya minimal 27,84% juga.


Jadi misalkan thn 2023 ada crash lg di bursa, saya masih bisa dapat fresh money 27% dari deviden saham MPMX yang saya miliki, yang bs saya gunakan untuk membeli saham lagi pada saat bursa saham sedang turun dalam.

Bayangkan bila pada suatu saat nanti MPMX sdh stabil bagi deviden di atas Rp 200, artinya tanpa saya kerja apa2, saham MPMX saya akan terus memberikan DY sekitar 50%/thn.. 

Kita ngga kerja apa2 pun, selama kita msh pegang sahamnya, uang kita akan nambah terus dari devidennya setiap thn..

Apalagi ketika bursa saham sedang crash, dan kita tetap bs dapat tambahan fresh money dari deviden yang kita terima.. bener2 terasa nikmatnya investasi saham di saat2 seperti ini.

Selain itu, bagi yang lbh seneng ambil capital gain daripada bayar pajak deviden, cara ini bisa dilakukan juga. Beli ketika sahamnya turun setelah ex date, dan jual lg nanti menjelang cum date. Biasanya cuannya lumayan juga kok.. :)

Dari keseluruhan porto saya, saya siapkan 5-10% yang tujuannya utk swing trading. Dan salah satu metode swing trading yang saya gunakan adalah beli setelah ex date  (ketika sahamnya sedang konsolidasi setelah turun dalam) , dan jual menjelang cum date. Saham2 coal seperti ITMG dan BSSR bisa memakai metode seperti ini, krn mereka bagi deviden lebih dari 1x dalam setahun.. :)

Ok, ini aja sharing saya tentang metode investasi/trading yang saya lakukan. Siapa tau bisa bermanfaat bagi yang lain.. :)


Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 kita akan memberikan return yang bagus di thn2 mendatang.. aamiin.. :)


Warm regards,

V3






LPPF, saatnya invest di saham sektor ritel..

 Saya mulai tertarik beli LPPF saat membaca bahwa perusahaan akan membagi deviden thn depan senilai minimal Rp 525/lembar saham.

Dengan harga LPPF saat ini, Rp 4000, devidend yield yang akan kita dapatkan thn depan sekitar 13%, sudah bagus sekali menurut saya untuk sektor yang baru saja pulih sehabis dihajar pandemi.

Terus saya buka LK Q2/2022nya, ketemu PER di harga Rp 4000, sekitar 5,26 -- masih sangat murah juga untuk industri yang masih akan berpotensi mencetak growth di masa mendatang.

Revenue tumbuh 5,37%, tapi  laba operasinya tumbuh 74%. 

Deviden yang dibagikan utk thn buku 2021 = Rp 350, alias dengan laba bersihnya yang tumbuh di atas 70%, kemungkinan besar memang deviden Rp 525 sudah bisa kita dapatkan, seperti komitmen manajemen yang sudah dipublikasikan di media massa. 

Saya coba baca dan hitung sendiri juga penjelasan tentang buyback saham LPPF di CALK Q2/2022-nya.

Tahun 2021 buyback tahap 1, harga rata2 buyback saham = Rp 2338

Tahun 2021 buyback tahap 2, harga rata2 buyback saham = Rp 3794

Tahun 2022 buyback tahap 1, harga rata2 buyback saham = Rp 5026

Tahun 2022 buyback tahap 2, harga rata2 buyback saham = Rp 5436


Total harga average buyback saham = Rp 4634. Harga sekarang masih di bawah harga rata-rata buyback perusahaan, jd posisi beli kita juga relatif lebih murah.. :)


Dan perusahaan masih akan terus buyback hingga 5 desember 2023.


Biasanya selama perusahaan sedang melakukan buyback,  harga saham akan ditekan biar ngga naik banyak. Tapi di kasus LPPF ini, setidaknya kita sdh punya pengaman yaitu devidend yield yg cukup tinggi, 13% setahun. Anggap aja kita naruh deposito di atas setahun, tapi dengan bunga jauh di atas bunga deposito :)

 Kebetulan chart monthly LPPF juga masih di monthly oversold, masih di area yang enak banget untuk dibeli :)

Jadi, saya masukkan LPPF ke dalam koleksi saham-saham deviden yang saya miliki.. :)

Kalo yang ngga mau bayar pajak deviden, bisa dijual bila menjelang cum date, semoga aja nanti cuannya jg sdh lumayan.. :)

Disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri :)


Warm regards,

V3





Selasa, 13 September 2022

TPMA, saham kapal growth bagus dengan PBV masih di bawah 1

 Baca2 LK Q2/2022, nemu lagi saham kapal dengan growth bagus yang PBV-nya masih di bawah 1, tapi PER-nya juga masih di bawah 7, dan juga rutin bagi deviden sejak thn 2017 (mulai ipo thn 2013 di harga Rp 230).

Saya beli TPMA ngga pakai analisa ribet, cukup liat sales growthnya (46%) ,laba operasi growth (134%), dan EPS growth (187%), sedangkan PERnya cuma 5,88 (asumsi 1 usd = Rp 14500), dan PBV 0,86 di harga Rp 384. Chartnya pun sdh menarik untuk saya masuk (alias konsolidasi yang sdh cukup lama, tapi kinerja emitennya jauh membaik).

Bila asumsi deviden payout ratio = 50%, maka devidend yield utk thn depan = 8,5% di harga sekarang. Silakan hold kalo mau dapat devidennya, atau bisa saja beli dan jual sebelum cum date kalo capital gainnya sdh lumayan dan males bayar pajak deviden :)

Kalo liat saham kapal lainnya dengan growth laba yang besar, misalnya PSSI, SHIP, HAIS, pbv TPMA masih very undervalued karena masih di bawah 1. Jadi sepertinya kita masih bs dapat upside lumayan di sini, at least kenaikan harga 30-40% dari harga skrg. Disclaimer on ya, rugi tanggung sendiri.

Tapi TPMA ini jg akan buyback sahamnya, sehingga bs aja nanti harga sahamnya ngga akan ke mana2 dulu, alias bisa diuji banget kesabaran kita kalo masuk ke sini. Makanya sebaiknya belinya jangan banyak2, biar ngga stress kalo portonya ngga ke mana2.. saya beli jg hanya sedikit, krn untuk invest jg msh lumayan, DY thn depan msh bs dpt 8,5% setidaknya.. :)


Selamat berinvestasi saham, semoga saham yang kita punya akan memberikan hasil yang baik di tahun2 mendatang.. aamiin.. :)


warm regards,

V3



Senin, 29 Agustus 2022

PBSA, saham konstruksi yang PER < 7 dan royal bagi deviden

 Saya lihat LK Q2/2022 PBSA dan tertarik beli untuk invest long term (long term saya biasanya 2-3 thn ke depan) karena emiten ini sudah royal bagi deviden walaupun bergerak di bidang konstruksi. Apalagi emiten ini baru IPO di thn 2016 di harga Rp 1200 (setara dengan harga Rp 600 sekarang, karena sudah stock split 1:2 di bulan juni 2022 kemarin).

Harga PBSA skrg = Rp 302, nyaris setengah dari harga ipo-nya. 


Total EPS semenjak IPO hingga LK full year 2021 = Rp 133 (EPS sdh stocksplit adjusted)

Total deviden yang dibagikan semenjak IPO hingga LK full year 2021 = Rp 110 (deviden sdh stocksplit adjusted juga, dan disesuaikan dengan deviden tahun buku EPSnya).

Dari data 2016-2021, didapatkan devidend payout ratio (DPR)  total = 82,7% ( Rp 110 : Rp 133). Ini sangat tinggi menurut saya bila diterapkan di saham konstruksi, sehingga saya juga seperti ngga percaya tadinya. Tapi fakta dan datanya memaparkan memang begitu adanya.

Based on LK Q2/2022, EPS = Rp 23,68 ; alias EPS-nya tumbuh sekitar 681% yoy. Di harga Rp 302, ini setara dgn PER annualized = 6,37

Bila kita terapkan ini ke DPR, maka kurang lebih devidend yield yang bisa kita harapkan akan kita terima thn depan bila beli PBSA sekarang di Rp 302 =  (100 : 6,37) x 82,7% = 12,96%. Ini sdh devidend yield yang sangat besar yang bs diberikan oleh saham konstruksi di masa pemulihan ekonomi akibat pandemi..

Kalo melihat deviden thn buku 2021 sebesar Rp 23,5, artinya ini sudah devidend yield setara 7,78% di harga Rp 302. Jadi bila laba thn ini tumbuh 200% aja, dan asumsi DPR sama, maka kita bs expect devidend yield thn depan = 2 x 7,78% = 15,56%.

Kalo asumsi laba tumbuh 300%, maka expected DY thn depan = 3 x 7,78% = 23,34% --- ini seperti deviden saham konstruksi rasa saham coal :)))

Bila nanti EPS full year PBSA = Rp 47, maka laba PBSA sudah break all time high, di mana kemungkinan harganya pun akan break all time jg (skrg highest PBSA = Rp 900).

 Jadi kita pantau aja terus LK di kuartal selanjutnya ya.. :)

Sekarang saya masukkan PBSA dalam keranjang investasi saham deviden tinggi koleksi saya, menemani TOTL yang kmrn sdh saya beli juga (untuk saham konstruksi). 

Kalo harganya turun lagi sementara kinerjanya masih tumbuh bagus, saya akan average down. 

Sampai kapan hold? ya terserah masing2 aja.. saya sendiri biasanya jual kalo memang ada pilihan saham yang lbh bagus lg utk dibeli. Selama blm ada penggantinya, saya hold dulu aja, toh akan dpt deviden juga. Tapi kalo kalian sendiri udah merasa cukup dgn profitnya dan mau jual, ya bisa aja. Cuma untuk membangun portofolio saham yang semakin besar dalam jangka panjang, usahakan hanya narik maksimal 50% dr profit trading dan deviden utk dikonsumsi. Sisanya diputar lagi, belikan lagi saham yang bs kasih deviden tinggi. Jadi lama kelamaan, portofolio investasi kita pasti akan tumbuh semakin besar... 

Untuk semua saham yang saya tulis di sini dengan tujuan sbg investasi jangka panjang (sekitar 2-3 thn), biasanya saya akan jual semua begitu labanya turun, atau jual stengah begitu naik 100%, ibaratnya modal sdh kita tarik, tinggal profitnya aja yang muter. 

Jadi saya bukan tipe investor yang pegang saham utk selamanya, apalagi utk saham2 komoditas. Utk saham komoditas, begitu sales dan laba turun, sebaiknya lgsg jual smua, minimal stengahnya, krn saham komoditas begitu turun suka bikin stress bantingannya... :)

Ok, ini aja sharing saya tentang PBSA. Bagi yang ikutan beli, rugi tanggung sendiri ya, because your money is your responsibility..:)

Kemarin ada yang email, nanya kenapa saya lama bgt nulis rekomendasi di sini, jawabannya ya krn nyari saham royal deviden yang harganya relatif murah dan bs disimpan sampai at least 2-3 thn ke depan itu ngga banyak, jadi wajar kalo dlm setahun paling cm bs ketemu ngga sampai 12, alias belum tentu tiap bulan ada :) itu juga kalo saya sempet nulisin di sini, karena kadang suka ngga sempet, atau pas lg dtg malesnya utk nulis2.. :)

Selamat berinvestasi saham ya, semoga investasi kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan.. aamiin.. :)


Warm regards,

V3


 






Kamis, 23 Juni 2022

ITMG, saham coal royal deviden yang belum break all time high..

 Harga coal masih kuat bertahan di atas 300 usd. Perang rusia-ukraina sepertinya ngga akan selesei dalam waktu cepat (saya ikuti youtube  Helmy Yahya bersama ibu Connie Rahakundini Bakrie sebagai salah satu sumber pengambilan keputusan investasi saya di coal), harga2 komoditas akan terus beranjak naik, kurs USDIDR juga semakin tinggi aja, sehingga saya memutuskan, sisa dana yang untuk timeframe investasi setahun ke depan, saya masukkan lagi ke dalam saham coal. 

Ada 3 saham coal yang menurut saya menarik untuk dibeli : BSSR, ITMG dan PTBA, tapi di sini saya hanya akan membahas tentang ITMG, karena BSSR dan PTBA sdh pernah saya tulis di sini waktu mereka di 2700..

So, saya tulis sedikit tentang alasan kenapa membeli ITMG di harga sekarang (closing Rp 32150 hari ini), menarik untuk dibeli dan disimpan, sampai setahun ke depan.

Alasannya karena PER annualized ITMG di harga sekarang = 2,74 (dengan kurs 1 USD = Rp 14500), alias bila kita berasumsi ITMG membagi labanya 80% sbg deviden, kita masih bisa dapat DY = 100/2,73 * 0,8 = 29,3% utk hold setahun ke depan.

Selain itu, ITMG all time high = 57,950. Dengan kinerja ITMG yang sekarang, sepertinya nyaris impossible kalo ITMG tidak membuat all time high yang baru... Jadi saya yakin, kita cukup menunggu dengan sabar aja sampai sahamnya break all time high. Dan enaknya, selama menunggu, tetap akan ada deviden dua kali setahun yang masuk ke kantong kita.. :)

Bila ITMG menyentuh all time highnya saja, upside dari harga beli kita sekarang sudah 57950/32150 - 1 =  80,2%... Masih merupakan upside yang sangat menarik yang bisa diberikan oleh saham yang royal bagi deviden.

Selain itu, alasan kenapa kita sebaiknya beli ITMG BSSR PTBA sekarang untuk hold sampai LK Q1/2023 keluar (dan akan kita review lagi nanti), karena ini sekalian hedging asset kita terhadap kenaikan kurs USD. Mereka ekspor dan mendapat income dlm USD, sehingga semakin kurs USD naik, laba mereka jg bs semakin naik. Dan ini adalah saham yang low debt, sehingga kita akan tenang hold-nya.

Untuk yang sekarang sedang gelisah kapan exit saham coal, saya cuma bisa bilang : saya belum melihat fenomena saham coal dikerek tinggi2 sekarang. Mungkin bisa dilihat juga di summary LK pada olt yang kita punya, berapa PER dan PBV saham2 tsb di waktu harganya peak (ITMG dan PTBA di thn 2011 : PER PTBA = 15,9 ; PBV PTBA = 5,1  , PER ITMG = 16,6 ; PBV ITMG = 8,1 --- data dari HOTS thn 2011). Jadi menurut saya, ini belum mencapak puncak dari siklus coal.. Ini menurut saya ya, dan saya ngga mau debat kusir krn perbedaan analisa. Toh duit kita, tanggung jawab kita sendiri..


Peak dari suatu siklus keliatan dari harganya yang sudah ngga masuk akal. PER dan PBV terlalu tinggi, devidend yield super mini. Sedangkan ITMG PTBA BSSR sekarang, dari PERnya aja masih termasuk mini, apalagi kalo kita bicara devidend yield..


Kapan puncak dari siklus coal? ya nanti akan keliatan dari harganya yang udah ngga masuk akal, seperti misalnya saham2 konstruksi waktu thn 2015 itu.. :))))


Sekarang, selama PER masih kecil, DY-nya gede, low debt, jualan dalam USD, wahh ini bener2 jadi senjata kita utk melawan inflasi yang sedang meninggi.. :)


Disclaimer on, rugi tanggung sendiri  :)


Warm Regards,

V3




Selasa, 14 Juni 2022

BEST, saham property termurah saat ini..

 Saya baru masukin BEST dalam keranjang portfolio saya. Untuk kejar capital gain.

Saya pikir, BEST termasuk salah satu saham property termurah saat ini, dengan PBV-nya yang masih di bawah 0,3.

 Book value per share = Rp 446.

Nett value per share = Rp 253.

Revenuenya naik 103%, laba bruto naik 179%, laba usaha dan laba bersih menjadi positif dari yang sebelumnya negatif. 

GPM = 59%, OPM = 29%. 

DER = 0,28 (saya hanya hitung utang berbunganya saja).

Kasnya sekarang sekitar 40% dari market pricenya.

Saya beli BEST mulai dari harga Rp 119 dan saya average down di Rp 111.

Karena PBV masih di bawah 0,3, andaikan dia naik ke PBV 1 pun, cuan kita masih termasuk besar ( di atas 100%). 

So, saya beli BEST utk mengincar capital gain. Semoga dengan perbaikan kinerja, harga sahamnya pun jg akan semakin naik.

Disclaimer on. Rugi tanggung sndr..


Melihat chart saham properti dan perbaikan kinerjanya sekarang, saya seperti flashback ke thn 2011 dulu. Dulu thn 2011, saya beli LPCK di harga Rp 1800-an dan jual di Rp 10000-an, thn 2013. Padahal dulu saya masih bodoh, karena baru 3 tahun di market, tapi saya bisa bilang LPCK murah di harga Rp 1800 hanya krn PER-nya, padahal PBV sudah di atas 1x. 

Mungkin 1-2 thn lagi bila rally property sudah mulai lagi, saham property jg akan naik tinggi seperti dulu. Jadi mumpung dikasih kesempatan beli murah sama market, jangan dibiarkan berlalu begitu aja.. :) sekali lagi, sabar hold, karena cuan tebel baru bisa didapet kalo kita sabar hold saham yang sudah kita beli di harga murah... :)


Warm regards,

V3


Selasa, 07 Juni 2022

NRCA, TOTL, JKON, DMAS.. beli di awal mulai akan bullish.. :)

Ada 3 saham konstruksi dan 1 saham properti yang masuk keranjang investasi saya di thn 2022 ini.. Selain chartnya yang saya lihat sudah siap utk berbalik arah, LKnya juga sdh menunjukkan perubahan positif...


1. NRCA

Saya beli dengan avg harga Rp 291. Di harga ini, based on LK Q1/2022, PER = 5,7 ; PBV = 0,625. EV/EBIT = 2,1. Revenue tumbuh 84%, laba kotor tumbuh 94%, laba usaha tumbuh 127%, laba bersih tumbuh 288%.  Kebetulan NRCA saya beli sebelum bagi deviden, jadi saya masih dapat DY thn ini di sekitar 4,6% (deviden NRCA 2022 = Rp 15/lembar). NRCA menurut saya masih termasuk murah selama kita beli maksimal Rp 300.. dengan harga beli Rp 300, bila asumsi DPR thn depan 70%, kita masih bisa dapat DY sekitar 12%.. semoga sih bisa lebih dari ini.. :) Yang paling menarik lagi adalah bila kita lihat ke LK thn 2013, EPS NRCA adalah Rp 209, alias bila kita simpan saham ini dlm jangka waktu lama, bisa jadi EPSnya akan kembali ke Rp 209, alias modal beli kita cuma setara dengan PER 1,54.. dan karena NRCA adalah saham yang sangat royal bagi deviden, maka beli NRCA sekarang adalah seperti beli mesin uang yang akan terus ngasih kita deviden setiap tahun, selama perusahaannya masih bisa beroperasi dengan sehat.. Disclaimer on, rugi tanggung sendiri :)

 

2. TOTL

Saya beli TOTL baru masuk kemarin di harga Rp 322, dan dia akan bagi deviden Rp 25, alias DY sekitar 7,7% di thn ini. TOTL memang laba bersihnya masih turun. Tapi apabila kita lihat revenue, laba kotor dan laba operasi, semua sdh mulai tumbuh. Jadi saya mulai masuk di saham ini. Apalagi DY-nya juga menarik sekali untuk saham yang mulai akan membaik kinerjanya di tahun mendatang.. :) walaupun mungkin thn depan devidennya agak berkurang krn saya pikir deviden thn ini sangat besar karena utk mengkompensasi deviden thn 2020 dan 2021 yang kecil. Umumnya TOTL hanya membagi 50% laba sebagai deviden. Tahun ini dia membagi 86% laba sbg devidennya... Tapi di harga Rp 322, TOTL sangat menarik bagi saya karena EV/EBITnya hanya 1,32 , lebih kecil daripada NRCA yang saya beli di harga Rp 291 :). Disclaimer on, rugi tanggung sendiri :)


3. JKON

Terus terang alasan membeli JKON adalah krn chartnya yang sdh di bawah banget dan valuasinya yang masih di PBV 0,5 dan kinerjanya yang mulai berbalik dari rugi menjadi cetak laba. Jadi saham ini agak ngga cocok divaluasi dengan PER atau EV/EBIT saat ini, karena kinerjanya saja baru mulai cetak laba lagi. Kalo kita pakai patokan valuasi wajarnya ada di PBV 1, maka potensi cuan nyaris 100% sdh bisa kita dapat dengan membeli saham ini di harga Rp 82, dan jual di harga Rp 160. Kalo patokan valuasi wajarnya adalah revenue/share-nya yang di Rp 183 (annualized), maka cuan 123% bisa kita dapat dengan membeli sahamnya di Rp 82 dan jual di Rp 183.. Tapi untuk JKON, dengan liat chartnya, saya pikir ke Rp 200 ngga susah dalam setahun ke depan. Jadi saya beli JKON ya memang krn untuk mengejar capital gain aja.. :) Dan saya pikir JKON di Rp 100 pun masih termasuk undervalued. Disclaimer on, rugi tanggung sendiri.. :)


4. DMAS

DMAS sdh lama saya incar krn ini saham yang juga royal bagi deviden. Kebetulan ada yang kirim email saya dan mention DMAS, jadi saya  buka Lk Q1/2022-nya, lihat chartnya, dan saya putuskan untuk beli juga di Rp 174. Tapi saya ngga mengharapkan DMAS kasih deviden besar thn ini, melainkan menunggu devidennya di thn depan. Dengan harga beli sekarang di Rp 183, thn depan mungkin kita akan bisa dapat deviden yield sekitar 12% (asumsi DPR 70%, based on LK Q1/2022). Belum lagi bila harganya kembali ke all time high di 356, maka kita ada potensi cuan 94% dari capital gain. Disclaimer on, rugi tanggung sendiri :)


Ok, itu aja sharing saya kali ini. Nanti kalo ada lagi saham bagus yang menarik untuk dibeli, saya akan tulis lg di sini.

Happy investing, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di tahun-tahun ke depan.. aamiin..


warm regards,

v3

Senin, 06 Juni 2022

BRIS, saham bank pertama yang masuk portofolio di thn 2022

 

update 14 june 2022 : berhubung BRIS mau ada right issue, saya out dulu dari BRIS. Kita belum tau RI akan di harga berapa, biasanya ditaruh di harga yang cukup murah, sehingga banyak investor yang berminat untuk menebus right-nya. Saya ngga mau terseret arus turun yang lama di BRIS, atau sahamnya lama ngga ke mana2, jadi saya pilih out dulu.


ini tulisan sebelumnya ttg BRIS :


Saya baru liat chart BRIS, dan sangat tertarik beli untuk long term invest. Minimal hold sampai harga balik ke all time high-nya.. 

BRIS di LK Q1/2022 : 

revenue growth = 3,5%

laba usaha growth = 22,8%

laba bersih growth = 33%

ROE = 15,2%

OPM = 29%

NPM = 21%

Di harga Rp 1480, PER = 15,41, PBV = 2,34 ---> sudah masuk harga wajar untuk dibeli menurut saya

So, saya masukkan BRIS ke dalam keranjang investasi saya. Tapi ngga bs ngandelin deviden di sini, kita cari capital gain aja. Kalo harganya balik ke all time high (3980), cuannya sdh di atas 100%.. :)


Disclaimer on, rugi tanggung sendiri.. :)


Warm regards,

V3

Selasa, 24 Mei 2022

MARK, saham growth yang bagus untuk investasi long term (jg DGNS dan TOTO)

 Saya mengincar MARK sdh lama, tapi baru sekarang saya pikir timing masuk yang bagus utk MARK, ngga lama stelah LK Q1/2022 keluar. Saya beli MARK dari harga Rp 1055- Rp1130.

MARK di LK Q1/2022 , sales tumbuh 66%. 

Laba usaha dan laba bersih tumbuh 80%.

Ekuitas tumbuh 16,9%.

ROE annualized = 57,7%. DER kecil. NPM = 34%

Rajin bagi deviden.

IPO thn 2017 dan kemudian stocksplit 1:5 di thn 2019.

MARK benar-benar saham growth yang fundamentalnya sangat bagus.

Di harga Rp 1130, PER = 8,58. Termasuk murah karena masih di bawah 10.

Bila kebijakan deviden MARK masih sama dengan tahun lalu (sekitar 40% laba), maka utk deviden thn ini kita bs dapat deviden yield atau DY = skitar 3,64%. 

Di saham growth, kita memang jarang banget bs dpt DY di atas 5% pada thn awal kita beli. Tapi semakin lama kita hold, labanya cenderung akan smakin naik, sehingga DY yang kita dapatkan jg akan semakin besar...


Selain MARK, saya juga mulai akumulasi DGNS. Kinerja DGNS terlihat sudah membaik dibanding kuartal sebelumnya. Tapi laba yoy masih turun. Saya nyicil masuk dulu di sini, akan average down bila harga dibawa turun, selama kinerja tidak memburuk.

Di harga 286, PER = 10,64 ; PBV = 1,7. ROE = 15,9%. NPM = 14% . DY-nya mgkin kecil, krn DGNS thn kemarin juga hanya membagi sekitar 11% laba saja sebagai deviden. Jadi di sini saya lebih mengejar capital gain dibanding deviden.. 


Saham ketiga yang saya pikir cukup bagus utk dibeli adalah TOTO. Based on LK Q1/2022, sales naik 20%, laba bersih naik sekitar 800%. ROE 17%. NPM = 16%.

Di harga Rp 270, PER = 7,7x. PBV = 1,31. Masih murah banget untuk TOTO. Setidaknya TOTO biasanya dihargai di PBV minimal 2 dan PER minimal 15. Jadi masih ada upside yang lumayan untuk buy and hold di sini.

Disclaimer on.


Rugi tanggung sendiri, ya.. :)


Semoga hasil investasi saham kita akan memberikan return yang bagus di tahun-tahun ke depan.


Warm regards,

V3


note : tahun ini saya lebih banyak akan memilih saham non komoditas untuk mengisi portfolio saya. saham komoditas (terutama coal) sudah banyak saya beli dari thn lalu, sehingga tahun ini saya akan ekspansi ke sektor lain, terutama sektor yang sahamnya bs untuk investasi long term dengan menikmati devidennya.. :)






















Kamis, 12 Mei 2022

TAPG, saham cpo yang masih undervalued

 Dari semua saham CPO yang sudah saya lihat LKnya di q1/2022, saya hanya tertarik dengan TAPG. salesnya naik 62%. laba bruto naik 182%. laba usaha naik 312%. laba bersih naik 527%. GPM = 37%, OPM = 35% dan NPM = 41%.

ROE = 41,65%, ROA = 27% dan mayoritas sawitnya masih usia muda.

Perusahaan IPO thn 2021 bulan April di harga Rp 200, dan sudah lgsg membagi deviden sebesar Rp 15,11 di bulan Juli 2021. 

Di harga Rp 675, PER = 3,83 dan PBV = 1,6, masih termasuk undervalued menurut saya, apalagi dengan kinerjanya yang seperti di atas.

Dengan adanya program B30, B50, saham cpo bisa dijadikan sbg investasi long term menurut saya, karena demandnya akan lebih terjamin. Umur pohon sawit yang mayoritas masih muda, bisa menjadi competitive advantage tersendiri bagi perusahaan ini dibandingkan dengan pesaingnya.. so, thn ini saya mulai memasukkan TAPG sebagai member baru dalam keranjang investasi jangka panjang saya.. :)

Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri ya..


Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan nanti.. :)


Warm regards,

V3

Rabu, 27 April 2022

CEKA, thn ini apakah akan cetak laba all time high?

 CEKA sudah mengeluarkan LK Q1/2022. Salesnya naik 55%, Laba naik 99%. 

EPS Q1/2022 = Rp 164,66 ---> annualized = Rp 658.

nett value per share = Rp 1937.

Di harga sekarang (Rp 2050), PER CEKA = 3,11. PBV = 0,84. ROE = 26%. ROA = 21%. Very low debt.

Sales/share CEKA = Rp 11.569 (annualized).

Apakah CEKA akan mencetak laba all time high tahun ini? I hope so, krn harga cpo dan juga minyak goreng sudah break all time high (CEKA ini produsen migor merk SANIA dan FORTUNE, btw). CEKA juga rajin bagi deviden tiap tahun, walaupun 3 thn terakhir devidennya ngga pernah lebih dari Rp 100............ Mudah-mudahan aja deviden thn depan minimal bisa 2-3x lipat.. 

asumsi devidend yield yang akan kita dapatkan thn depan, bila devidend payout ratio = 30% adalah : (0,3 x Rp 658 ) : Rp 2050 = 9,62%. Tapi ini masih asumsi ya, harus kita kawal terus LK-nya setiap kuartal, untuk bisa melihat apakah asumsi ini bisa dipakai atau ngga.. :)

Ini aja yang saya bisa bahas ttg CEKA. Semoga bisa ngasih return investasi yang baik ke depannya. Aamiin..

Rugi tanggung sendiri buat yang ikutan beli.. :)


Warm regards,

V3



Kamis, 21 April 2022

IPCC, mulai turn around, cash rich...

 IPCC di LK tahunan 2021 mulai turn around. Tahun lalu perusahaan masih rugi, tahun ini sudah cetak laba kembali.

Kas/lembar IPCC = Rp 422. Alias, kalo berdasarkan harga saat ini, kas IPCC = 76% dari market cap-nya. Dan perusahaan ini NO DEBT.

Alias kalo kita beli IPCC di harga Rp 555 (harga sekarang), sama aja artinya dengan kita beli IPCC hanya dengan membayar Rp 555 - Rp 422 = Rp 132. 

Buat saya, ini merupakan harga yang sangat menarik. Mudah-mudahan saham ini bisa menjadi sumber deviden income juga di masa depan, karena sebelum covid, IPCC termasuk royal bagi deviden..

Dan mudah-mudahan tahun ini ekonomi benar-benar sudah mulai pulih, sehingga bisnis IPCC bisa tumbuh lg ke depannya.. :)

Jangan lupa, IPCC dulu ipo di thn 2018 dengan harga Rp 1640. Jadi sekarang kita cukup membayar 33,8% dari harga ipo dan dengan PBV yang hanya 0,95... :)

Disclaimer on, rugi tanggung sendiri ya ..)


Semoga investasi saham kita akan semakin bagus nanti ke depannya :)


Warm regards,

V3



Senin, 11 April 2022

PZZA, hidden gem dari sektor consumer... CANCELED

 PZZA baru saja mengeluarkan LK Q4/2021-nya. Dan kinerjanya sudah turn around, laba PZZA sudah kembali positif.

Saya sudah agak lama mengikuti PZZA karena tertarik untuk membeli sahamnya untuk invest long term di sektor consumer. Tapi saya menunggu dulu biar  kinerjanya sudah pulih dan sudah mencetak laba lagi selama setahun penuh. Dan ternyata sepertinya momentum untuk masuk ke saham PZZA sudah di depan mata...

Berdasarkan data LK Q4/2021, sales PZZA masih turun tipis 1,15%, laba kotor juga masih turun tipis 0,61%, tapi laba operasi dan laba bersihnya sudah menjadi positif dari yang sebelumnya negatif.

Tapi yang menarik, kalau kita hitung sales per lembar sahamnya = Rp 1131, alias dua kali lipat dari harganya saat ini (Rp 600).

PBV PZZA di harga Rp 600 = 1,5x. Murah banget untuk saham consumer.

Selain itu, saya hitung EV/CFOnya, saya dapatkan angka 4,44. Menurut saya, EV/CFO < 8 untuk saham consumer ini masih termasuk murah, apalagi ini yang hanya 4,4.

Jadi menurut saya, PZZA di harga Rp 600 saat ini masih sangat menarik untuk invest long term. Disclaimer on, rugi tanggung sendiri ya.. :)

Untuk rumus EV/CFO, silakan digoogling aja ya, saya agak ribet nulisin di sini soalnya.. :))

Tapi untuk bisa mendapatkan deviden yang cukup menarik dari PZZA ini, mungkin kita harus menunggu minimal 1-2 thn lagi. Biarkan PZZA benar2 pulih dulu kinerjanya, sehingga kita bs menjadikan devidennya sbg pasif income di masa depan.. :)

Semoga investasi kita di PZZA akan memberikan hasil yang bagus ke depannya nanti.. aamiin.. :)


Warm regards,

- V3 -


update 24 may 2022 : dengan keluarnya LK Q1/2022 PZZA, saya batalkan menobatkan PZZA sbg hidden gem. Saya pribadi memutuskan utk out dr PZZA, dan pindah ke saham lain yang lebih baik.



Jumat, 08 April 2022

PRIM, saham rumah sakit yang paling undervalued saat ini?

 Saya lagi buka-buka LK untuk liat saham selain coal (karena di porto saya paling banyak saham coal saat ini), dan saya ketemu saham PRIM yang saya pikir masih very undervalued..

PRIM ini saham rumah sakit, jd untuk membandingkan apakah dia lebih murah dibanding saham rumah sakit lainnya di bursa, tentu saja saya bandingkan dengan HEAL, MIKA, SILO, BMHS, SRAJ. 

Dan dengan cara sederhana hanya dengan membandingkan PER dan PBV-nya saja, menurut saya PRIM ini very undervalued sekarang.

Tapi sejak perusahaan IPO di thn 2018, dia belum pernah membagi deviden, sehingga saya beli hanya untuk mengejar capital gainnya saja. Mungkin begitu PRIM mencapai PBV 2 atau 3, akan saya lepas..

Karena LK Q4/2021 belum keluar, saya hanya berpatokan dengan LK Q3/2021 saja. 

Dari LK Q3/2021, saya dapatkan data bahwa :

sales tumbuh 229%

laba kotor tumbuh 197%, dengan marjin laba kotor = 35,6%

laba bersih tumbuh 499%, dengan marjin laba bersih 20%

EPS saat ini = Rp 31,07, tumbuh 495%

arus kas operasi masih minus karena banyak tagihannya yang belum dibayar lunas oleh BPJS. tapi melihat data LK di akhir thn 2019-2020, pd akhirnya arus kas operasi full year semuanya menjadi positif.

tidak punya utang berbunga (zero debt, sangat menarik)

Di harga sekarang, Rp 328, PER annualized = 7,92, PBV = 1,12. Silakan cari saham rumah sakit di BEI yang valuasinya bisa semurah ini :))

Saya menemukan data bahwa perusahaan sudah 2x mengadakan buyback saham, di thn 2021 dan di 28 januari 2022 - 28 maret 2022 ini. 

Range harga PRIM di periode buyback 2022 antara Rp 334 - 454, jadi harga sekarang masih lebih rendah daripada harga buyback perusahaan. 

Ini cuma analisa sederhana aja.

Rugi tanggung sendiri buat yang ikutan beli, ya.. :)


Warm regards,

V3



update 27 april 2022 : harga PRIM sekarang Rp 306, sudah turun 7% sejak saya posting. Dan PRIM belum juga submit LK Q4/2021-nya. Hal ini bisa menambah concern kita ttg GCG perusahaan ini, sedangkan emiten lain yang usahanya sejenis sudah banyak yg submit LKnya. GCG is the most important thing for me dalam investasi saham... 


Selasa, 22 Februari 2022

BSSR, saham coal bagus, murah yang juga royal bagi deviden

 Beberapa hari terakhir ini, saya nyicil beli BSSR, dari mulai harga Rp 2920, hingga sekarang  di Rp 2700.

Based on LK q3/2021, sales BSSR naik 78%, laba bersihnya naik 321%, ROE 64,36%, dan utang berbunganya sangat minim. 

Saya sudah tertarik dengan BSSR dari harganya Rp 1600, tapi dulu sangat amat tidak likuid, sehingga saya masih belum berani beli. Dan BSSR terus naik hingga harga mencapai Rp 5000. Setelah itu BSSR terus turun dan per hari ini (tanggal 22 februari 2022), mencapai low di 2680.

Saya ngga tau, apakah BSSR masih akan turun lagi atau ngga. Tapi yang jelas, sejak harga Rp 2920, saya memandang BSSR ini sudah menarik untuk dibeli. 

Di harga Rp 2700, PER BSSR = 3,65 (dengan kurs 1 usd = Rp 14.000). Bila kita berasumsi devidend payout ratio total = 90%, maka kita bisa mendapat devidend yield = 24% utk setahun ke depan. Asumsinya, kita bisa dapatkan dari sisa deviden dr laba oktober-desember 2021 dan laba full year 2022.

Melihat perkembangan harga coal sekarang, sepertinya LK 2022 akan lebih baik daripada LK 2021, karena harga jual coal BSSR di 2022 akan lebih tinggi daripada harga jual coal di 202.  Jadi saya pikir cukup relevan menggunakan patokan PER sekarang untuk investasi di saham ini.

Tapi ya karena ini adalah saham komoditas, jd untuk lebih aman jangan untuk invest long term. Atau kalo niat untuk invest long term, jual setengah bila harga sudah naik 100%, anggap aja tarik modalnya. Sisanya biar menjadi profit yang terus bisa muter.. :)

Dan karena ini adalah saham yang ngga likuid, jangan beli terlalu banyak yang membuat kita jadi susah sendiri pada saat akan menjual sahamnya.. :)

Jika melihat di chart monthly, BSSR highest 2018 = Rp 2980, di mana EPS full year 2018 = Rp 382. Sekarang EPS Q3/2021 BSSR = Rp 555, sudah jauh lebih tinggi daripada EPS 2018, tapi harganya di bawah harga 2018... 

Sejak tahun 2021 kemarin hingga januari 2022, BSSR membagi deviden Rp 783 (yang dibagikan dalam tiga kali pembayaran, yaitu di bulan may 2021,  september 2021 dan januari 2022). Ini setara dengan 29% dari harga di 2700 saat ini. 

Asumsi saya, bila pembagian deviden akan terus berlanjut dengan skema yang sama seperti thn 2021, maka 29% lah kurang lebih devidend yield yang akan kita dapat bila kita invest di BSSR harga Rp 2700 untuk setahun ke depan.

Ini asumsi ya, namanya asumsi bisa aja terjadi, bisa aja ngga.. :)

Tapi yang jelas, dengan penjabaran hal di atas, saya jd semakin yakin bahwa BSSR di harga 2700 saat ini sudah menarik untuk dibeli. Bahkan sampai harga Rp 3100 pun masih menarik karena ekspektasi DY yang bisa kita dapat masih di atas 25%..

Disclaimer ON, rugi tanggung sendiri ya :))))


Ok, ini aja sedikit insight dari saya.


Semoga investasi kita akan tumbuh semakin baik di tahun2 ke depan.. Aamiin..


Warm Regards,

V3

Senin, 01 November 2021

HEXA, saham bagus murah untuk devidend stock

 HEXA based on LK Q2-2021, kinerjanya jg bagus. Penjualannya naik 75%, Laba bruto naik 66%, laba usaha naik 96%, dan laba bersihnya naik 102%.

GPM = 27%. Ngga punya utang bank. ROE = 36%.


Di harga sekarang (Rp 4150), PER = 5,4. PBV = 1,89.


Estimasi devidend yield thn depan = sekitar 15% (asumsi devidend payout ratio = 80%). devidend yield bisa lbh tinggi bila DPR jg semakin tinggi.

Sdh 2 kali dalam 5 thn terakhir ini, hexa juga membagi deviden jumbo krn cashnya sangat banyak. Thn 2016, bagi deviden 1600. thn 2021, bagi deviden 1200.

Ekonomi yang mulai booming memicu kenaikan penjualan alat berat, sehingga laba hexa beberapa tahun ke depan jg mungkin akan naik.

Karena ini saham yang berhubungan dengan komoditas, paling enak jual setengah dulu kalo sdh cuan 100%, anggap aja tarik modalnya. Yang nyisa di portfolio adalah profit yang terus memberikan arus kas berupa deviden ke kita di masa depan.. :)


Disclaimer on, rugi tanggung sendiri ya.


Sekarang saya sdh punya beberapa devidend stock dlm porto : ada BJTM, BJBR, BNGA, MPMX, BYAN, HEXA, PTBA, PRDA  dan EPMT. Dulu ada POWR dan SPTO, tapi akhirnya saya jual mereka untuk nambah HEXA dan PTBA.


Semoga investasi kita akan memberikan hasil yang baik di tahun2 mendatang, ya.. :)


Warm regards,

V3



Jumat, 29 Oktober 2021

saham batubara murah dan bagus : PTBA

 PTBA sudah mengeluarkan LK Q3/2021-nya. Hasilnya : pendapatan naik 50%, laba kotor naik 134%, laba bersih naik 178%.

Di harga sekarang, Rp 2640, PTBA dihargai di PER annualized = 4,8x dan PBV = 1,46 !!

ROE annualized = 30,59% 

PTBA di harga sekarang menurut saya sangat menarik untuk investasi 1-2 thn ke depan. Kita bs dapat deviden besar (minimal setara 7% deviden yield) dan juga capital gain (ada potensi harga akan bisa menembus all time high di 5025).

saya kemarin masuk BYAN ketika harganya di bawah 14000, dan sdh saya jual setengah ketika cuan 100%. Sisanya akan saya jadikan devidend stock. hal yang sama jg saya akan lakukan di PTBA nanti. Ketika sdh cuan 100%, akan saya jual setengah, dan sisanya sbg devidend stock juga.

Kemarin di hexa juga begitu,. saya beli di harga di bawah 3500, dan sdh dpt deviden Rp 1200 perak thn ini. Nanti kalo hexa naik 100%, akan saya jual stengah juga, utk sisanya saya jadikan sbg devidend stock.


Jadi, saham komoditas yang selalu bagi deviden besar pun bisa kita jadikan sebagai devidend stock, asalkan ketika sdh cuan 100%, lgsg kita jual stengah. Anggap kita sdh tarik modalnya, sehingga hanya profitnya aja yang muter dan profit itu nanti akan trs memberikan kita deviden setiap thn. 


PTBA dan HEXA selalu bagi deviden selama 12 tahun terakhir, jadi lebih menjanjikan kepastian devidennya.

BYAN thn 2013 - 2015 mengalami rugi ketika harga coal sedang di bottom, tapi mereka banyak melakukan perbaikan dalam bisnisnya, sehingga sekarang mereka mengalami perbaikan kinerja yang luar biasa. Datuk Low Tuck Kwong, owner yang menguasai 54,67% saham BYAN, terus menambah sahamnya sejak 2019. Bahkan di harga Rp 28,000 pun Datuk masih beli. Pemegang saham besar biasanya lbh mengetahui ttg perusahaannya daripada orang luar. Tapi saya sendiri sudah stop beli BYAN di harga Rp 14000. Sekarang saya lg fokus ngumpulin PTBA selama harganya masih di bawah 2750.


Ok, ini saja tulisan saya tentang PTBA. Di harga di bawah 2750, kita bisa dapat saham coal bagus dgn PER di bawah 5x.. Beli dan simpan, sampai mungkin akhir 2022-awal 2023.. 


Disclaimer on, rugi tanggung sendiri :)


Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan.. Aamiin..


Warm regards,

V3


Jumat, 22 Oktober 2021

IHSG otw break all time high..

 Sekarang hari Jumat tgl 22 oktober 2021. Ihsg closed di 6643,738 minggu ini.

Sepertinya minggu depan ihsg sdh akan memulai perjalanan untuk mencetak rekor baru tertinggi (all time high). LK Q3/2021 akan banyak yang bagus hasilnya, terutama LK saham komoditas seperti coal, cpo, baja, timah, nikel, oil atau komoditi related, sperti alat berat, pelayaran, dll.

Karena ihsg sdh dekat dengan highestnya dan malah akan cetak all time high yang baru, mungkin saya akan berhenti dulu mencari saham utk invest long term. Di  area ketinggian seperti ini, akan lebih aman bila kita lbh banyak swing trading. Selain itu, mencari saham bagus dgn diskon besar utk invest long term, susah diterapkan di kondisi sekarang. Mungkin nanti awal 2023 kesempatan itu mulai akan datang kembali.. :)

So, enjoy the bull market, everyone.. :) semoga kita semua bs memperoleh banyak cuan dr portofolio saham yang kita miliki.

Aamiin.. :)


Warm regards,

V3

Selasa, 31 Agustus 2021

WEGE dan PTPP, dua saham konstruksi yang mulai masuk portfolio saya

 Melihat LK Q2/2021 WEGE dan PTPP (dan juga chart monthly mereka), saya mulai memasukkan saham konstruksi ke dalam portfolio saya. Ini tentu juga bukan untuk invest long term, cuma sekedar mencari capital gain juga, karena saya melihat kinerja mereka mulai membaik.


LK Q2/2021 WEGE

Pendapatan masih turun 20%, tapi laba bersih sudah mulai naik 4%.

EPS = Rp 10,54 ; book value per share = Rp 234

Di harga Rp 180, PER = 8,53 dan PBV = 0,77.

WEGE ipo di harga 290 tahun 2017, jadi harga sekarang hanya 62% dari harga IPOnya. 

Untuk WEGE, saya lihat dia sbg saham konstruksi dengan PER yang mungkin paling murah ya, masih di bawah 10. selain itu macd weekly-nya sudah golden cross, jadi saya beli. Ini termasuk salah satu cara swing trading saya, dengan masuk menggunakan macd weekly.. tapi keluarnya ngga usah nunggu dead cross, bgtu sudah cukup dengan cuannya, ya dijual aja :)


LK Q2/2021 PTPP

Pendapatan masih turun 4,3%, tapi laba bersih sudah naik 210% akibat divestasi aset.

EPS = Rp 13,87 ; book value per share = Rp 1728

Di harga Rp 900, PER = 32,42 dan PBV = 0,52

PTPP saya liat menarik karena PBV sudah sekitar 0,5. selain itu kas/share-nya = Rp 882, jadi masih dekat dengan harga sekarang :)


Ok, ini sharing saya tentang salah satu metode trading yang saya lakukan (waktu itu ada yang nanya di sini tentang metode trading saya). jadi selain liat chart, saya pake data LK juga untuk menguatkan analisa saya :)


mudah-mudahan bener, bahwa saham kontruksi sudah bottoming, ngga akan bikin lower low lagi :)


semua disclaimer on juga. rugi tanggung sendiri, ya :)


warm regard,

V3

SMDR dan INDR, saham siklikal yang kinerjanya mulai membaik

 Sebenarnya, SMDR dan INDR sudah niat saya posting di sini sejak LK Q1/2021-nya keluar. Tapi krn ini saham siklus, saya pikir sebaiknya menunggu LK Q2/2021-nya keluar, untuk lebih yakin lagi dlm menghitung valuasinya. Selain itu, SMDR sejak LK Q1-nya keluar (harga waktu itu sekitar Rp 500), terus naik, sehingga saya sendiri ngeri untuk beli. Sekarang, LK Q2 sdh keluar, dan harganya malah turun, dan sdh masuk buy area saya lg, sehingga saya berani untuk posting di sini.


SMDR LK Q2/2021, asumsi 1 USD = Rp 14000

Pendapatan naik 10,93%

Laba bruto naik 87%, dengan Gross profit margin = 22%

Laba bersih naik 387%, dengan nett profit margin = 13%

Kas/share = Rp 630 (sama dengan harganya saat ini)

EPS = Rp 101, Book Value per share = Rp 797, ROE = 25%, ROA = 12%

Di harga 635, PER = 3,14; PBV = 0,79

asumsi Devidend yield 2022 = 6,36% (bila devidend payout ratio = 20%) atau 9,55% (bila devidend payout ratio = 30%)

tapi karena ini emiten siklikal, ngga bisa untuk investasi long term. jadi begitu kinerjanya sdh memburuk, atau cuannya sudah cukup, sebaiknya segera dijual sebelum dibawa turun lagi nanti. 

Tapi saya punya keyakinan, harga masih bisa naik ke PER 7-9 dulu. Disclaimer on ya :)



INDR LK Q2/2021, asumsi 1 USD = Rp 14000

Ini saham yang saat ini sangat tidak likuid, tapi kinerjanya meningkat bagus sekali, dan harga sekarang masih sangat murah.

Pendapatan naik 44%

Laba bruto naik 392%, dengan GPM 14%

Laba bersih naik 3582%, dengan NPM 9,7%

EPS = Rp 854, Book value per share = Rp 8891

Di harga Rp 4090, PER = 2,39 ; PBV = 0,46

Tapi beda dengan SMDR yang selalu rajin bagi deviden (walaupun devidend payout ratio-nya kecil), INDR agak jarang. Data yang saya dapat, thn 2019 dia bagi deviden Rp 340. Tahun lainnya ngga ada datanya. Selain itu, ini juga termasuk saham siklus, jadi ngga bs untuk invest long term. 

Tapi karena harganya sekarang msh termasuk murah, jadi INDR masih ada potensi naik lagi, setidaknya mengejar nilai book valuenya.


Semua disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri :)


Selamat berinvestasi saham, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang baik nanti ke depannya :)


Warm regards,

V3


Rabu, 07 Juli 2021

EPMT dan SPTO, saham cukup bagus, murah, dan royal deviden

Saya nemu dua saham bagus yang harganya relatif masih murah dan royal bagi deviden, yaitu EPMT dan SPTO.


EPMT

EPMT adalah anak KLBF, yang bergerak di bidang distribusi dan juga pemasok produk obat-obatan, barang konsumsi, alat kedokteran, kosmetik dll. Untuk lebih jelasnya silakan baca di laporan tahunan perusahaan :)

EPMT ipo di tahun 1994, dan selalu rajin bagi deviden. Dari data stockbit, EPMT hanya absen bagi deviden di thn 2004, dengan data dari thn 2009 - 2021. Devidend payout ratio EPMT di pembagian deviden terakhir (thn 2021), sekitar 80%.

Dari data stockbitpro juga, saya hitung pendapatan EPMT (2010-2020) selalu tumbuh dengan CAGR 8,78%.

Laba kotor tumbuh dengan CAGR 8,69%.

Laba usaha tumbuh dengan CAGR 8,94%.

EPS tumbuh dengan CAGR 8,33%.

Perusahaan terlihat mulai membagikan deviden dalam jumlah besar sejak thn 2019. Semoga saja akan berlanjut ke depannya.

Data LK q1/2021 menunjukkan kenaikan penjualan 3,6% ; kenaikan laba bruto 12% dan kenaikan laba bersih 30%.

Di harga sekarang (Rp 2330), EMPT memiliki PER annualized 6,81 ; PBV 0,93 dan devidend yield utk thn 2022 sekitar 11,75% (asumsi DPR 80%).

Untuk deviden hunter, ini entry point yang cukup menarik :)


Disclaimer ON. Rugi tanggung sendiri...



SPTO

SPTO merupakan distributor eksklusif untuk produk saniter merk TOTO. 

SPTO IPO di thn 2018 dengan harga Rp 1160, dan sekarang harganya di pasar Rp 460 (tinggal 39,6% dari harga IPOnya). Based on LK q1/2021, PER SPTO di harga sekarang = 6,05, dengan PBV 0,99x. 

Tahun 2019 dan 2020, SPTO dua kali bagi deviden, yaitu di bulan Juni dan November. Thn 2021 dia sdh bagi deviden di bulan Juni. Kita berharap aja semoga deviden interim di november nanti jg ada :)

Pertumbuhan pendapatan dan laba SPTO msh fluktuatif sejak 2017, imbas sektor properti yang memang masih downtrend sejak 2015. 

Tapi di LK q1/2021, pendapatan SPTO tumbuh 2,6% , dan laba usahanya tumbuh 10%, dengan ROE 16%.

Di harga sekarang (Rp 460), seandainya DPR SPTO tetap 80%, maka devidend yield utk thn buku 2021 yang kita dapatkan akan setara 11%. Dan ini sangat menarik untuk saya.


Disclaimer on. Rugi tanggung sendiri.. :)


Semakin ke sini saya semakin senang ngumpulin saham2 yang royal kasih devidend. Karena deviden itu jelas ngasih uang masuk ke rekening kita :) dan biasanya hanya perusahaan sehat yang kuat cash flownya yang bisa kasih DPR besar.. 


Selamat berinvestasi, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di thn-thn ke depan.. aamiin.. :)


warm regards,

V3


hihihi, ini ada satu lagi saham yang menurut saya super undervalued (tapi sayangnya sangat tidak likuid). DPNS.

Harganya sekarang Rp 322. Tapi cash per share-nya = Rp 335. Jadi ibarat kita beli saham, bayar 322 perak tp dpt cashback 335 perak. 

Nett valuenya = Rp 870. Alias masih ada upside di atas 100% utk saham ini bs naik ke nett valuenya.

DER sangat kecil. Tapi kalo bagi deviden paling hanya sekitar 20% laba aja. 

Saya beli sdh lama, di harga Rp 276, tapi baru sempat nulis sekarang di blog. Tapi karena saya liat upsidenya masih besar, jadi sayang kalo dilewatkan. 

Disclaimer ON. Rugi tanggung sendiri. Saya beli hanya utk ngejar capital gain aja. Jadi rencana jual kalo DPNS sdh di sekitar nett valuenya :) Dan belinya juga ngga bs banyak2, krn ngga begitu likuid dan ngga pengen hold utk long term :)




Kamis, 06 Mei 2021

TSPC, saham consumer yang masih murah dan rajin bagi deviden

 Satu lagi saham consumer yang saya bilang menarik harganya utk dimasukkan dalam keranjang investasi long term saat ini : TSPC. Sebenernya kalo dalam klasifikasi saham BEI, TSPC ini masuknya ke dalam sektor farmasi. Tapi buat saya, mgkin TSPC ini lbh mirip saham consumer drpd farmasi, krn produknya sdh menjadi konsumsi sehari hari rakyat indonesia dari jaman dulu kala.. 

Ini perusahaan yang sudah eksis selama puluhan tahun lalu, dengan produknya seperti hemaviton, bodrex, enervon C dll. Dan dalam sepuluh thn terakhir, selalu rutin bagi deviden. 

Di harga sekarang, Rp 1500-an, PER TSPC sekitar 5,88 dan PBV 1,06. ROE 18,09%, DER 0,45.

Dari LK Q1/2021, salesnya turun 0,8% tapi dengan efisiensi di bidang beban penjualan, umum dan administrasi, laba bersihnya masih bisa tumbuh 1,53%.

Pertumbuhan laba TSPC dalam sepuluh tahun terakhir ngga masuk kategori bagus banget, tapi dengan harganya saat ini, di mana PER masih di bawah 6x, menurut saya ini sudah menarik untuk dibeli. Apalagi dengan estimasi deviden yield thn ini yang bisa sekitar 4,67% (dengan asumsi perusahaan membagikan DPR 40% dari laba 2020), TSPC sangat menarik sbg sumber pasif income dr deviden untuk saya.

Dan bbrp bulan ini, pemegang saham pengendali TSPC, PT bogamulia nagadi (yang sudah menguasai 81% saham TSPC), masih aktif nambah beli sahamnya di market di harga Rp 1500-an. Bila PSP sdh rajin nambah beli, ini juga bs jadi salah satu indikator bahwa sahamnya sdh sangat menarik... :)

Valuasi TSPC yang saya dapatkan = Rp 5220. Alias masih ada diskon 71,74% dr harga wajarnya, dengan patokan harga sekarang Rp 1500 :)


Disclaimer ON ya. Rugi tanggung sendiri :)))


Selamat berinvestasi, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di tahun2 mendatang.. aamiin.. aamiin..


Warm regards,

V3

PRDA, saham bagus dengan kinerja bagus dan diskon menarik

 Saya baru buka LK Q1/2021 PRDA, dan saya amazed dengan kinerjanya. Kemudian saya coba liat laporan tahunannya, dan amati pertumbuhan ekuitas, sales dan labanya sejak tahun 2016.

PRDA atau yang biasa kita kenal dengan Prodia Lab, go public thn 2016. PRDA ini sudah berdiri dari thn 1973, lebih tua daripada usia saya :)

Untuk sejarahnya, bisa dibaca langsung dr laporan tahunan, saya males nulis panjang2 :)))

Data yang saya ambil dr laporan tahunan 2016 dan 2020 (data dalam milyar Rupiah):

1. Ekuitas 2016 = 1267,27

    Ekuitas 2020 = 1788,3

    CAGR ekuitas selama 4 tahun ini = 8,99%


2. Pendapatan bersih 2016 = 1358,66

    Pendapatan bersih 2020 = 1873,38

    CAGR pendapatan bersih selama 4 thn ini = 8,36%


3. laba bersih 2016 = 88,13

    laba bersih 2020 = 1873,38

    CAGR laba bersih selama 4 thn ini = 32,15%


4. Gross profit margin 2016 = 58,4%

     Gross profit margin 2020 = 55,85%


5. Nett profit margin 2016 = 6,5%

    Nett profit margin 2020 = 14,35%


Walapun gross profit margin menurun dr 2016 ke 2020, tapi nett profit marginnya semakin naik, alias pada akhirnya perusahaan semakin membaik kinerjanya.


Dari data LK Q1/2021, saya dapatkan data sbb :

1. Pertumbuhan pendapatan = 59,83%

2. Pertumbuhan laba kotor = 74,11%

3. Pertumbuhan laba bersih = 356% ---> akibat tingginya biaya depresiasi, sehingga pertumbuhan pendapatan yang tinggi akan signifikan efeknya ke pertumbuhan laba bersih perusahaan.

4. ROE = 32,5%

5. Debt to Equity ratio (DER) = 0,23


Di harga sekarang (Rp 4400), PER annualized perusahaan sekitar 6,5x. Ini sangat bagus untuk perusahaan yang bertumbuh seperti PRDA, ditambah dengan ROE yang tinggi dan DER yang kecil.

PRDA ini bisa untuk invest long term menurut saya, krn sektornya masih growing. Nilai plus lagi krn perusahaan juga royal bagi deviden. Trakhir mereka bagi deviden, DPRnya mencapai 60%. Di harga sekarang, dengan DPR yang sama, devidend yield yang kita dapatkan bisa sekitar 9%....... woww..

Jadi buat ritel investor seperti kita yang niat invest long term di saham yang growing dan rajin bagi deviden, PRDA amat sangat layak untuk dimasukkan ke dalam keranjang investasi.

Disclaimer ON. Rugi tanggung sendiri :))

Tapi saya pribadi, akan tetap akumulasi saham ini selama harganya masih menarik buat saya. Kendalanya memang krn kurang likuid, jadi belinya harus sabar banget :)

Oya, valuasi yg saya dapatkan untuk saham ini, sekitar Rp 15.600, alias diskonnya masih 71,79% dr harga wajarnya. Masih sangat murah :)) Kalo dia turun lg, saya pasti akan nambah beli terus......


Ok, semoga bermanfaat ya.. Selamat berinvestasi, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di tahun-tahun ke depannya .. aamiin.. aamiin...


Warm regards,

V3





Kamis, 18 Maret 2021

KEJU, saham consumer yang murah dan bagus

 Saya liat LK Q3/2020 KEJU, dan seneng, ternyata masih ada saham consumer yang murah dan bagus juga prospeknya ke depan.

Di harga skrg, Rp 1355, PER KEJU = 12,8x dengan ROE 36,7% dan gross profit margin = 33%.

DER = 0,42. 

Saya hitung valuasinya, dapat Rp 2527, alias dr harga saat ini msh ada diskon 46% dr harga wajarnya.

Ini cocoknya untuk invest long term, alias menjadi saham yang akan di-hold selamanya, tipikal saham ICBP, UNVR dan ULTJ, biar profitnya bs lebih maksimal, karena yang kita kejar adalah pertumbuhan capital gain dalam jangka panjang. 


Sekedar info, saya coba tuliskan di sini pertumbuhan harga beberapa saham yang cocok untuk dihold sebagai investasi long term. 

Data diambil dari awal januari 2010, hingga closing 17 maret 2021. 

Tujuannya untuk memotivasi kita untuk berinvestasi jangka panjang di saham perusahaan bagus..


Harga awal januari 2010 (harga sdh diadjust dengan stocksplit) :

1. UNVR = 2210

2. ULTJ = 145

3. ACES = 151

4. CPIN = 450

5. ICBP = 3000 (oktober 2010)

6. MIDI = 330 (november 2010)

7. AMRT = 52

8. KLBF = 260

9. BBRI = 765

10. BMRI = 2200

11. BBCA = 4825

12. MYOR = 179


Closing 17 maret 2021 :

1. UNVR = 6475

2. ULTJ = 1530

3. ACES = 1515

4. CPIN = 6700

5. ICBP = 8625

6. MIDI = 2500

7. AMRT = 970

8. KLBF = 1590

9. BBRI = 4670

10. BMRI = 6525

11. BBCA = 33.050

12. MYOR = 2720


Pertumbuhan harga saham dr awal januari 2010 hingga saat ini =

1. UNVR = 192,9%

2. ULTJ = 955,17%

3. ACES = 903,31%

4. CPIN = 1388,88%

5. ICBP = 187,5% (dr awal oktober 2010)

6. MIDI = 657,57%

7. AMRT = 1765,38%

8. KLBF = 511,53%

9. BBRI = 510,45%

10. BMRI = 196,59%

11. BBCA = 584,97%

12. MYOR = 1419,55%


Itu hanya pertumbuhan harganya saja, belum termasuk deviden yang kita terima dari saham tsb setiap tahunnya.


Apa yang bisa dipelajari dr data di atas?


Ternyata, untuk investasi long term di saham yang bagus, jangan hanya berkutat di PER dan PBV yang rendah. Karena saham bagus dengan PER/PBV yang tinggi pun, bila pertumbuhan labanya bagus, akan tetap memberikan hasil yang baik untuk investasi jangka panjang.


Dari contoh saham di atas, BBCA, UNVR, MIDI, ACES misalnya, terkenal dengan PER dan PBV-nya tinggi2. Tapi ternyata investor yang hold sahamnya dalam jangka waktu lama, bisa mendapatkan capital gain yang tinggi.


Jadi, mulai tahun ini, saya juga mulai memasukkan saham2 bagus dengan PER, PBV tinggi ke dalam porto saya, untuk investasi long term. Saat ini saya punya ICBP, ULTJ, KEJU dan UNVR dalam porto saya. 


Ok, ini aja sharing dr saya, semoga bermanfaat, dan semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang bagus di masa depan nanti. 


Warm regards,

V3


update : di thn 2021 ini, KEJU memutuskan utk ngga bagi deviden, sehingga saya langsung jual dan CL, krn saya ngga seneng pegang saham yang ngga bagi deviden, apalagi kalo labanya sedang naik tinggi. 


Rabu, 17 Februari 2021

Mencoba menghitung harga wajar UNVR ..

UNVR, ICBP dan INDF sedang dibanting. 
Chart monthly UNVR, sdh berada di stokastik oversold, dan MACD monthly juga sdh di bwh Nol.
Harga UNVR sekarang (Rp 7000), sudah turun 40% dr highestnya di Rp 11.600

Apakah UNVR sudah masuk area menarik dibeli untuk investasi jangka panjang?

Kita coba gunakan valuasi untuk menghitung harga wajarnya. 

Saham UNVR ini saham spesial, krn selalu diperjual belikan di PER dan PBV yang tinggi, sama seperti ICBP , MYOR, ULTJ. 

Saya memakai metode valuasi yang sempat saya gunakan di blog ini juga, di posting antara thn 2011-2015.

Metode valuasi ini cocok digunakan utk saham2 yang sangat capital efisien sperti ICBP, UNVR dan ULTJ.

Mungkin penyesuaian mahal-murahnya hanya di Margin of safety yang kita gunakan.

Dengan metode valuasi itu, dpt saham2 ICBP, UNVR, MYOR di harga wajarnya saja sdh bagus, apalagi kalo dpt di harga diskon.

Tapi walaupun sekarang harganya sdh harga diskon, bukan berarti sahamnya tdk akan turun lagi setelah kita beli. Karena naik turun saham di market itu ngga ada yg bs prediksi.

Yang jelas, kalo kita mau sabar hold dlm jangka waktu agak lama, katakanlah minimal 1-2 thn ke depan, insyaa Allah saham2 ini akan memberikan hasil investasi yang baik.

Kita coba valuasi dengan menggunakan data di LK full year UNVR 2020.

Cara valuasinya :

1. Cari angka BI rate sekarang. Bi 7day rate sekarang = 3,75%


2. Tentukan yield SUN yang akan kita pakai.
Dulu saya menggunakan yield SUN = 1% + Bi rate.
Sekarang saya menggunakan yield SUN = 2% + Bi rate.
Kenapa? agar hasil valuasinya bisa lebih konservatif lagi.
Yield SUN = 2% + 3,75% = 5,75%


3. Cari berapa PER wajar saham yang akan kita valuasi
Caranya : ROE saham - yield SUN = 145% - 5,75% = 139,25% (A)

Hitung PER SUN ---> PER SUN = 1 : yield SUN = 1 : 5,75% = 17,39 (B)

A x B = 139,25% x 17,39 = 24,21 (C)

PER wajar saham = PER SUN + C = 17,39 + 24,21 = 41,6



4. Hitung harga wajar saham = PER wajar saham x EPS saham annualized
                            = 41,6 x Rp 187,7 = Rp 7809


Harga wajar saham UNVR = Rp 7809
Harga sekarang = Rp 7000
Margin of safety (diskon) = {1 - (harga sekarang : harga wajar) } x 100%
                                     = { 1 - (7000 : 7809) } x 100% = 10,35%

Jadi, UNVR sekarang diperdagangan dengan diskon 10,35% dari harga wajarnya.



saya coba hitung valuasi ICBP dan juga ULTJ dengan metode ini, tapi dengan menggunakan data dr LK Q3/2020, maka didapatkan harga wajar sbb :

ICBP = Rp 8950
ULTJ = Rp 3190
CPIN = 3482
MYOR = 1936
KLBF = 1098
TLKM = 4524

Untuk ULTJ, krn sahamnya tidak likuid, maka sebaiknya kasih diskon yang tinggi utk beli sahamnya, minimal diskon 35% dr harga wajarnya.
Jadi menurut saya, ULTJ menarik dibeli di harga di bwh 65% x 3190 = Rp 2073.
Sedangkan sekarang harga ULTJ = Rp 1575... :)
oya, kemarin emiten buyback saham ULTJ di harga Rp 1600.
Dan sejak buyback, saya perhatikan harga ULTJ ngga pernah bs turun di bwh Rp 1500 :)))

Ok, saya pikir UNVR dan ULTJ sdh bisa dicicil beli utk bs masuk keranjang investasi saham dr sektor consumer :)

Disclaimer on ya. Rugi tanggung sendiri :)


Warm regards,
V3

Update terbaru : saya sdh CL UNVR krn LK Q1/2021, labanya msh turun. Valuasi yg saya dapatkan rp 6400, dan harga saat itu 6025. Spertinya UNVR msh akan lanjut turun lg. Jadi saya CL di 6025, dgn harga beli 6575.
Sekarang untuk saham consumer, saya cm pegang ICBP ULTJ KEJU dan TSPC. Porsi terbanyak saat ini ada di TSPC, krn based on LK Q1/2021, TSPC memiliki kinerja yg bagus dan diskon yang sangat menarik (harga closing kemarin di rp 1520). Disclaimer on. 

Notes : metode ini agak risky utk diterapkan ke saham komoditas dan saham siklus (misalnya properti, perkapalan dll), terutama ketika harga komoditasnya sedang mahal. Utk valuasi saham komoditas/saham siklus, saya lbh senang pakai PBV saja sbg patokan harga beli. Bgtu jg utk saham perbankan, saya lbh senang dgn PBV. PBV di bwh 1, area bagus utk beli saham bank . Sedangkan utk saham komoditas, bs mulai beli di PBV 0,7 ke bawah (atau di bwh 1 utk emiten komoditas bluechip sperti PTBA).