Senin, 31 Desember 2018

IHSG 2018 dan perkiraan IHSG 2019.. :)

IHSG 2018 close di 6194,498.

Bila dibandingkan dengan ihsg close 2017 (6355,65), maka IHSG 2018 close di minus 2,53% thd ihsg close 2017.

Sesuatu yang normal dalam investasi saham ya, IHSG bisa turun naik tiap tahun, ngga selalu naik terus.. :) 
Ya, seperti juga saham yang kita pegang, nilainya bisa naik turun tiap tahun..:)

Saya coba bikin rekap data closing IHSG di setiap thn, dan datanya adalah sbb :

1. Tahun 2006 : 1805,52
2. Tahun 2007 : 2745,83
3. Tahun 2008 : 1355,41
4. Tahun 2009 : 2534,36
5. Tahun 2010 : 3703,51
6. Tahun 2011 : 3821,99
7. Tahun 2012 : 4316,69
8. Tahun 2013 : 4274,18
9. Tahun 2014 : 5226,95
10. Tahun 2015 : 4593,01
11. Tahun 2016 : 5296,71
12. Tahun 2017 : 6355,65
13. Tahun 2018 : 6194,49

Kita coba fokus pada tahun-tahun di mana IHSG minus, ya.

Tahun 2008, ihsg minus 50,64% (dari 2745,83 ke 1355,41).
Tapi thn 2009, ihsg tumbuh 86,98% (dari 1355,41 ke 2534,36).

Tahun 2013, ihsg minus 0,98%.
Tapi tahun 2014, ihsg tumbuh 22,29%.

Tahun 2015, ihsg minus 12,12%.
Tapi tahun 2016, ihsg tumbuh 15,32%.

Tahun 2018, ihsg minus 2,53%.
Tahun 2019.....??
Prediksi saya, kemungkinan besar akan tumbuh di atas 2,53%... :)


Karena dari data historis closing IHSG selama 13 tahun, kita dapat mengambil kesimpulan : bila IHSG tahun ini ditutup minus, maka tahun depan IHSG akan tumbuh lebih besar daripada minusnya tahun ini.. :)

Ini saya juga baru dapat kesimpulan baru dengan melihat pola data ihsg di atas, ya. 
Karena saya sendiri, begitu kena ihsg minus di 2015, awal 2016 malah off dulu dr saham, dan memindahkan modal saya semua ke USD.. :)))

Tapi ya, namanya juga lg belajar, jd lebih baik mengamankan modal kalo hati sudah ngga tenang.. :)

Dan saya dapat pola satu lagi tentang pergerakan ihsg dr chart monthly-nya.

Bila ihsg di tahun itu ditutup minus, maka di tahun depannya, ihsg akan cenderung naik terus, setiap bulan. Sehingga skema investasi belanja saham di masa great sale (Agustus-Oktober), kurang baik diterapkan. Cara yang lebih baik adalah belanja sebanyak mungkin di awal tahun, krn ihsg masih rendah..
Apalagi ditambah, bulan April kita akan menghadapi pemilu, jadi sebaiknya kita belanja banyak sebelum pemilu, krn biasanya investor masih diliputi kekhawatiran thd pemilu..

Selain itu,dari chart monthly IHSG, ihsg Desember 2018 close di atas high ihsg November 2018, sehingga semakin menguatkan sinyal bullish di ihsg ke depannya... :)

Ok, sekian sharing view IHSG dr saya. 
Analisa saya bisa aja salah, tapi yang jelas saya ngga pernah menulis dengan niat utk berbohong. 
Apa yang saya tulis adalah apa yang saya lihat, apa yang saya pikirkan, apa yang saya perkirakan akan terjadi... 

Kalo saya salah menganalisa, ya wajar aja, smua analis saham juga pernah salah kok... :)) 

Saat ini, saya sedang pegang portofolio sbb (modal average) :

INDS : Rp 858
INDY : Rp 812
MAIN : Rp 730
ADHI : Rp 1268
WSKT : Rp 1907 (minus 11,92%)
PGAS : Rp 2021
PTRO : Rp 1848 (minus 3,43%)
PBID : Rp 1095
MYOH : Rp 860

Sekarang saya sedang mengincar ADRO, dan sedang menunggu laba ADRO naik di LK terbaru... 

Sebagai prinsip utama dalam berinvestasi, saya tetap ngga mau beli saham yang labanya lagi turun (apalagi yang merugi), dan langsung jual saham yang saya punya bila labanya turun.. :)

Ok, sekian dari saya. Selamat tahun baru 2019..
Semoga ihsg 2019 akan lebih cantik daripada ihsg tahun ini. Aamiin.. :)

Warm regards,
V3

Sabtu, 01 Desember 2018

Masa bearish IHSG sudah mulai berakhir... ?

Setelah dari bulan Februari 2018 candle ihsg monthly selalu close di bawah highest candle bulan sebelumnya (masa bearish di IHSG), maka di akhir November ini, IHSG kembali close di atas highest candle bulan sebelumnya..

Berdasarkan teori candlestick yang saya pelajari selama ini, maka ini dapat menandakan bahwa masa bearish di IHSG sudah mulai berakhir..  
Artinya, andaikan nanti IHSG koreksi lagi pun, insyaa Allah tidak akan membuat lower low di bawah 5557 lagi... dan semoga malah akan membuat higher high yang banyak.. :)
Tapi ini teori ya, prakteknya nanti bisa saja berbeda bila ternyata ada kondisi yang luar biasa terjadi di pasar.. 

Saya mencoba untuk melihat beberapa saham yang candle monthly-nya juga seperti IHSG (alias bearishnya mungkin sudah selesai), dan saya menemukan antara lain saham-saham berikut ini :
BBNI, BMRI, BBRI, BJTM, ASRI, BSDE, PWON, CTRA, ADHI, PTPP, WIKA, ICBP, INDF, ACES, MYOH. Tanpa menghitung valuasi, hanya melihat chart monthly-nya saja, saham2 tsb menarik untuk dibeli, krn candle monthlynya sudah menunjukkan bullish.. Disclaimer ya.. :)

Waktu itu saya pernah posting di bbrp topik sebelumnya, kalau masa belanja saham yang bagus itu, biasanya antara bulan Agustus - Oktober.. Sepertinya teori ini masih bisa dipakai di thn ini, dan semoga juga di thn-thn berikutnya.. :)

Ok, ini saja sedikit pandangan dr saya ttg ihsg dan saham-sahamnya. Kalau salah, mohon maklum, analis saja bisa salah, apalagi ibu rumah tangga yang urusannya ngga cuma liatin saham saja.. :)

Semoga bulan Desember, Januari, portofolio saham kita akan hijau tebal.. dan semakin tebal hijaunya setelah pemilu 2019.. Aamiin.. :)

Selamat berinvestasi saham... :)

Warm regards,
V3


Jumat, 31 Agustus 2018

PGAS, kinerja yang mulai kelihatan membaik..

PGAS di LK Q2/2018-nya sudah menunjukkan kenaikan laba kembali.

Penjualannya mengalami kenaikan 15%, dan laba operasinya naik 45%.

Sebetulnya PGAS sudah masuk watchlist saya sejak PBV-nya sudah masuk di bawah 1x, sekitar harga 1800-an waktu itu.

Tapi karena LK-nya belum menunjukkan kenaikan laba, saya masih sabar untuk ngga beli dulu. Dan harganya sempat turun hingga ke 1365, yang menunjukkan PBV sekitar 0,8x. Sejak itu, PGAS membikin higher low di 1500, dan akhirnya di LK Q2/2018, barulah PGAS mencetak kenaikan laba kembali..

Bahkan di harganya yang sekarang, 2140, PBV PGAS = 1,13x (saya pakai kurs 1 USD = Rp 14.200), PER = 12,52x. PER x PBV = 14,16x.

PGAS menarik untuk dibeli menurut saya, karena PBV-nya masih di sekitar 1x, dan sudah mencetak kenaikan laba lagi... Mudah-mudahan ke depannya, kinerja PGAS akan membaik kembali, karena sejak 2014, labanya selalu turun. Semoga kenaikan kinerja ini memang menandakan bahwa PGAS sudah mulai balik arah, sehingga trend harga sahamnya pun akan kembali membalik ke uptrend lagi.

Melihat data PBV PGAS di aplikasi HOTS mirae assets sejak 2006,baru di 2017 dan 2018 ini lah PGAS diperdagangkan dengan PBV di bawah 1x. Jadi bisa jadi, ini adalah kesempatan emas untuk membeli saham bluechip ini... Terutama dengan keluarnya LK terbaru yang menunjukkan kenaikan laba, kenaikan harga sahamnya nanti berarti sudah didukung juga dengan fundamentalnya, sehingga akan lebih kuat.

Tapi saya pribadi sih tetap akan menjual saham ini bila nanti di LK terbaru, PGAS menunjukkan penurunan laba lagi... :)

Jadi investasi saham dalam jangka panjang versi saya itu bukan buy and hold forever seperti Warren Buffet, melainkan saya menaruh dana di saham dalam jangka panjang. Sahamnya bisa berganti menjadi saham apa saja yang memang bagus dibeli menurut saya, tapi yang jelas, dana yang ada di saham sebisa mungkin saya hold, ngga saya tarik, dan selalu saya usahakan untuk menambah deposit dana setiap bulan.

Dan untuk beli sahamnya, bulan favorit saya untuk belanja saham itu adalah bulan Agustus, September dan Oktober, karena biasanya banyak saham bagus yang turun dalam di bulan-bulan itu...

Kemarin saya sudah posting tentang ADHI, sekarang tentang PGAS, karena saya pikir memang sekarang moment yang bagus banget untuk belanja saham2 ini.

Saya juga ada beli sedikit SOCI dan LPCK, walaupun laba mereka masih turun. Kenapa? Karena saya lihat, PBV mereka sudah di 0,2x. Jadi saya sekarang mulai mengembangkan diri menjadi investor yang mengejar saham-saham yang saya pikir sudah sangat undervalue.....
Tapi untuk membeli dengan cara seperti ini, dibutuhkan mental yang kuat (untuk melihat harga sahamnya masih bisa turun lagi) dan juga dana yang ngga akan dipakai dalam jangka waktu pendek...

Intinya, dengan kurs usd yang menguat sekarang ini, dengan issue krisis Turki, Argentina, Venezuela dll, yang kebetulan terjadi di bulan2 di mana IHSG ini sering turun dalam (minimal ada saham2 tertentu yang turun dalam), ya saya mencoba untuk belanja saham bagus dan murah semaksimal mungkin... 

Dan makin ke sini, saya semakin seneng belanja dengan patokan PBV. Bandingkan antara PBV sekarang dengan tahun2 sebelumnya. Dan coba dibandingkan dengan kinerja emitennya. Bila labanya naik terus tapi sahamnya turun terus, berarti ada anomali, dan di sanalah kesempatan value investor bisa masuk...

Bila selama ini labanya turun terus, dan di LK terbaru dia sudah mencatat kenaikan laba dan kebetulan juga PBV-nya masih di kisaran 1x untuk saham bluechip, jangan ragu untuk beli..

Sekali lagi saya mau mengingatkan, biasanya waktu belanja saham paling bagus itu adalah di bulan Agustus, September, Oktober.. Jadi kalo sekarang di bulan-bulan ini banyak berita jelek, harga saham pd turun, jangan ragu untuk beli... Nanti kalo sudah bulan Desember, biasanya saham-saham akan mulai naik lagi..

Oya, saya mau tuliskan beberapa kenaikan harga saham dalam 10 thn terakhir, ya. Harga saham yang saya bandingkan, mulai awal Januari 2007 - sekarang. Dan ini hanya kenaikan harganya saja, tidak termasuk devidennya. Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat untuk semakin giat berinvestasi saham, dan hanya memasukkan saham-saham yang bagus kinerjanya dalam keranjang investasi kita ya ... :)

1. BBCA ---> 376,92% ( dari Rp 52.00 ke Rp 24.800)

2. BBRI ---> 511,53% ( dari Rp 520 ke Rp 3180)

3. BMRI ---> 375,86% ( dari Rp 1450 ke Rp 6900)

4. BBNI ---> 314,89% ( dari Rp 1880 ke Rp 7800)

5. BNGA ---> minus 1,08% ( dari Rp 930 ke Rp 920)

6. UNVR ---> 549,63% ( dari 6750 ke 43.850)

7. MYOR ---> 4330,77% ( dari Rp 65 ke Rp 2880)

8. CPIN ---> 4193,10% ( dari Rp 116 ke Rp 4980)

9. MAIN ---> 675,86% ( dari Rp 174 ke Rp 1350)

10. JPFA ---> 2794,73% ( dari Rp 76 ke Rp 2200)

11. ASII ---> 353,12% ( dari Rp 1600 ke Rp 7250)

12. PTBA ---> 470,42% ( dari Rp 710 ke Rp 4050)

13. UNTR ---> 417,29% ( dari Rp 6650 ke Rp 34.400)

14. INDF ---> 365,32% ( dari Rp 1370 ke Rp 6375)

15. LSIP ---> 5,68% ( dari Rp 1320 ke Rp 1395)

16. AALI ---> 3,84% ( dari Rp 13.000 ke Rp 13.500)

17. ADHI ---> 83,95% ( dari Rp 810 ke Rp 1490)

18. KLBF ---> 460,41% ( dari Rp 240 ke Rp 1345)

19. PGAS ---> minus 7,76% ( dari Rp 2320 ke Rp 2140)

20. SMGR ---> 28,22% ( dari Rp 7370 ke Rp 9450)

21. LPKR ---> minus 16,82% ( dari Rp 428 ke Rp 356)

22. LPCK ---> 564,91% ( dari Rp 285 ke Rp 1895)

23. CTRA ---> 119,48% ( dari Rp 385 ke Rp 845)

24. SCMA ---> 1212,5% ( dari Rp 160 ke Rp 2100)

25. ANTM ---> minus 46,29% ( dari Rp 1620 ke Rp 870)

26. TINS ---> 73,33% ( dari Rp 450 ke Rp 780 )


Regards,
V3


update per 4 Maret 2019,
saya sudah jual semua PGAS yang saya punya, krn Book Value per sharenya  turun dr $0,136 di Q3/2018 menjadi $0,1062.
Saya ngga seneng banget megang saham yang BV-nya atau EPS-nya turun, jadi 
saya pindahkan ke PSSI, RIGS, PBID dan INDR yang menurut saya upsidenya akan lebih tinggi drpd PGAS..

Selasa, 28 Agustus 2018

ADHI, kesempatan beli saham kontruksi dengan PBV di bawah 1x..

Waktu saya menulis topik ini, ADHI belum keluar LK Q2/2018-nya. Katanya sedang diaudit, jadi kita lamaaa banget nungguinnya....

Akhirnya  saya hanya berpatokan dengan LK Q1/2018-nya saja dalam membahas ADHI ini.

Sudah beberapa bulan ini, harga ADHI terus turun, dan kemarin sempat mencapai 1460.

Sebenernya bukan ADHI saja yang turun terus sahamnya bbrp bulan ini, tapi juga saham2 konstruksi yang lain, seperti WSKT, WIKA, PTPP dll.

Dan buat saya, ini anomali, karena di LK mereka semua, labanya naik terus, bahkan naiknya juga tinggi2. Tapi harga sahamnya dibanting sampai ngga masuk akal. Tapi sekali lagi, saya melihat ini sebagai kesempatan bagi kita value investor untuk membeli saham konstruksi di harga yang murah..

Kemarin saya sempet memperhatikan ADHI dan WIKA, karena PBV-nya sudah di bwh 1, dan juga sudah di bawah modal kerja per lembar sahamnya. Ditambah lagi, ADHI tahun 2015 sempat Right Issue di harga Rp 1560, dan WIKA Right Issue di harga 2160 pada tahun 2016.

Tapi karena WIKA sudah berada di atas harga Book Valuenya, jadi kita bahas ADHI saja sekilas, ya.

Ngga pakai hitungan rumit, karena saya ingin menyebarkan ide bahwa investasi saham, terutama value investing, ngga harus penuh dengan hitungan rumit, cukup dengan sedikit matematika dan sabar saja tunggu barang murah.. :)



Data ADHI based on LK Q1/2018 = 
EPS = Rp 20,58
Book Value = Rp 1666,04
Modal kerja per lembar saham = Rp 1931,88
ROE = 4,94%

Dari LK Q1/2018, ADHI di harga sekarang (Rp 1530), PER-nya = 18,6x ; PBV = 0,92x.
PER x PBV = 17,09x 

Kalau kita hanya berpatokan dengan PER ADHI sekarang, maka akan terlihat bahwa secara PER, ADHI kok masih mahal, ya..?

Tapi coba kita lihat LK ADHI beberapa tahun trakhir..

Saya coba tuliskan saja data yang saya dapat dari aplikasi HOTS (mirae asset)  :

EPS ADHI Q1/2017 = Rp 5
EPS ADHI Q2/2017 = Rp 36
EPS ADHI Q3/2017 = Rp 57
EPS ADHI Q4/2017 = Rp 144

ROE ADHI Q1/2017 = 1,4%
ROE ADHI Q2/2017 = 4,8%
ROE ADHI Q3/2017 = 5%
ROE ADHI Q4/2017 = 8,8%


Dari data di atas, terlihat bahwa EPS ADHI di Q1 itu memang sangat kecil, apabila dibandingkan dengan EPSnya di Q4-nya nanti. Saya sudah membandingkan EPS ADHI dari Q1-Q4, dari 2007 - 2017, dan saya menemukan pola yang sama sepert ini, hampir 100%. Bahkan di saham2 konstruksi yang lain juga begitu...

Artinya apa?

Artinya, bisa jadi, PER ADHI yang sekarang 18x itu mungkin hanya akan menjadi 4x, ketika LK Q4/2018-nya keluar. Apalagi ADHI sekarang PBV-nya sudah di bawah 1.. 

Artinya, bisa jadi ADHI di harga sekarang ini adalah harga yang sangat bagus untuk kita masuk sebagai value investor...

Apalagi saya lihat di data HOTS, dr 2007 - 2018, hanya di tahun 2009, awal 2010 dan akhir 2011 saja ADHI diperdagangkan dengan PBV di bwh 1.. 

Jadi, menurut saya, ADHI di harga skrg ini sudah dijual dengan harga yang murah..  :)

Ok, ini saja sharing saya tentang ADHI.

Kalau ikutan beli dan rugi, tanggung sendiri ya.. :)

Oya, seperti biasa, kalau ada saham saya yang labanya turun di LK terbaru, pasti saya langsung jual sahamnya.. begitu juga dengan ADHI nanti. kalo LK Q2-nya sudah keluar dan ternyata labanya turun, ya pasti akan saya jual dulu nanti.. Kita ganti dengan saham lain yang lbh bagus kinerjanya... :)


Regards,
V3




Update 30 Oktober 2018

LK Q3/2018 ADHI sudah keluar. Walaupun tidak seindah yang saya bayangkan, tapi tetap ada pertumbuhan. Labanya tumbuh 63%, ROE 7,34% (masih lebih baik daripada ROE di Q1 dan Q2-nya), dan PBV-nya sudah 0,65x (di harga Rp 1130). Tapiiii.. harganya sekarang Rp 1130, sudah turun 26% dari harga waktu saya posting di blog ini.. Dan sebagai value investor, kinerja yang masih baik, ada pertumbuhan dan harganya semakin murah, tentu saja yang saya lakukan adalah average down.. Dan sepertinya ini terakhir kali saya belanja ADHI di tahun ini, karena masa great sale di BEI sudah mau berakhir (biasanya musim bagus belanja saham di BEI itu bulan Agustus - Oktober).. 
Saya akan hold terus sahamnya selama laba ADHI masih naik. Tapi nanti begitu labanya turun, saya akan lgsg jual sahamnya, ngga pakai pikir panjang lagi..

Sekarang portofolio saya 36% diisi oleh saham konstruksi, ADHI dan WSKT. Kemarin sempat punya WEGE. Tapi begitu LK Q3 ADHI keluar, dan PBV-nya sudah 0,65, maka saya jual WEGE untuk diaverage down ke ADHI dan WSKT. Alhamdulillah WEGE dijual dengan cuan tipis, jadi ngga mikir panjang utk average down ke adhi dan wskt..

Oya, saya juga kmrn sempat CL LPCK karena hingga mau akhir Oktober LK Q2-nya belum keluar juga, sehingga saya rugi 14%, di harga Rp 1650. Tapi besoknya, ada kasus tangkap tangan walikota bekasi krn kasus Meikarta, sehingga saham LPCK terjun hingga 1125. Sekarang LPCK di 1450.. Alhamdulillah, masih bisa CL di 1650...

Buat para investor pemula, yang sabar ya. Ini lagi masa bearish diam2. IHSG turunnya ngga begitu dalam, dr highestnya. Tapi saham2 konstruksi dan properti malah dibanting gila-gilaan.. Lebih parah lagi saham konstruksi, labanya masih tumbuh tinggi, tapi harganya dibanting hingga di bawah book value-nya.. Tapi bagi value investor, ini adalah kesempatan emas.. Jadi jangan sampai lewatkan masa2 great sale ini untuk menambah koleksi saham bagus dan murah, ya.. :)







Kamis, 02 Agustus 2018

BNGA, apakah saham ini sedang salah harga?

Sudah sejak Q4/2017 keluar, saya memperhatikan BNGA.

Ketika itu, di Q4/2017, saya perhatikan EPS-nya naik 43%, tapi PBV hanya 0,79x..

Waktu itu harga BNGA 1170.. 

Terus begitu LK Q1/2018-nya keluar, labanya tumbuh 37% lagi, tapi harganya saat itu Rp 975.. 
Di harga 975, PER BNGA = 6,96x dan PBV = 0,64x. 
PER x PBV = 4,48x. 
Memang ROE-nya agak kecil, cuma 9,31% , tapi ya liat juga lah, PER dan PBV-nya juga kecil lho.. 
Jadi ada trade off yang kita dapatkan di sini.. :)

Kalau liat data di online trading (saya pakai mirae asset), laba BNGA :

Q1/2015 =82,717,000,000
Q1/2016 = 268,676,000,000
Q1/2017 = 639,545,000,000
Q1/2018 = 876,703,000,000

Terlihat labanya terus naik dr Q1/2015 sampai Q1/2018.. Dan perusahaan juga rajin bagi deviden. 
Mei 2018, BNGA membagi deviden Rp 23,89/lembar saham atau sekitar 20% dr laba bersihnya.

Tapi yang sedihnya, saham bank ini seperti ngga dihargai dengan layak. 
Eh ini bukan sedih deh ya, malah mestinya heppinya, karena kalo ngga begini, value investor ngga bisa beli saham ini di harga murah :)

Akhirnya saya putuskan untuk beli saham ini sbg salah satu saham cantik untuk investasi di 2018 ini.. 

Kemarin saya juga beli MAIN di 730 untuk investasi, karena labanya tumbuh tinggi di Q1/2018 sedangkan PBV-nya masih di bawah 1.. 

Jadi ada 3 saham dengan PBV di bawah 1 yang saya incar kmrn, tapi krn yang 1 belum saya beli, jadi saya tulis 2 ini saja ya.. :)

LK Q2/2018 BNGA belum keluar.. 
Saya sih berharap, semoga kinerjanya tetap bagus di Q2 ini, jd msh bisa saya hold.. 
Rasanya sayang utk jual saham bank swasta no 2 terbesar di Indonesia yang labanya bs tumbuh di atas 15% tapi PBV-nya masih di bwh 1... 
Takutnya kesempatan seperti ini ngga akan terulang lg kedua kali... 

Saya di sini ngga bikin hitung2an ala investor kalo bahas LK ya.

Saya cukup memperhatikan pertumbuhan laba BNGA dr tahun ke tahun, dan melihat saham ini skrg diperdagangkan di pasar dengan PER di bwh 8x dan PBV di bawah 0,7x nya..
Silakan kita pikirkan masing2, apakah saham ini layak dibeli sebagai salah satu pilihan dalam keranjang value investing kita... ?

Regards,
V3


Note : your money, your responsibility.. Rugi tanggung sendiri ya :)


Update 2 november 2018

Dr hasil LK Q3 BNGA, saya memutuskan out dulu dr saham ini, karena laba dr q2 ke q3, anjlok drastis. Eps q2 = rp 63,19 tapi eps q3 = 32,78. Ngga ada growth, malah penurunan laba jadinya.. Roe yg tadinya 8% turun jadi hanya 2%.. Saya out dr BNGA dgn loss 11%.. Uangnya saya belikan saham MYOH... 😊

Selasa, 05 Juni 2018

SRIL, saham bagus dan murah untuk investasi..

Tadi pagi saya baca-baca LK lagi, dan surprised banget begitu baca LK Q1/2018 SRIL..

Saya pikir, ini betul-betul saham bagus dan SANGAT MURAH yang saya temukan di thn 2018 ini..

Untuk penjelasan lebih jauh tentang apa itu SRIL, silakan langsung baca ke websitenya : www.sritex.co.id, atau baca dari Laporan Tahunan 2017-nya ya..

Saya di sini langsung menulis analisa LK-nya aja, krn saya ngga punya banyak waktu untuk menulis dgn detail di sini...


Dari laporan tahunan 2017, terlihat nilai penjualan, laba operasi, laba tahun berjalan, ekuitas dan asset SRIL selalu tumbuh, dari thn 2015 - 2017. 
Jadi SRIL ini adalah perusahaan yang sedang tumbuh.. 

Dan dr LK Q1/2018-nya, saya melihat ternyata pertumbuhan kinerja SRIL di kuartal ini adalah yang tertinggi, sejak dia IPO di thn 2013... Dan ini merupakan sinyal yang baik untuk saya mulai berinvestasi di saham ini, apalagi pada saat harga sahamnya sedang murah seperti sekarang ini..



Sekarang kita lihat Neraca (Balanced Sheet SRIL)

Seperti biasa, pada saat saya menganalisa LK, saya hitung dulu modal kerjanya. 
LK SRIL dalam satuan mata uang USD, ya. 

Modal kerja = jumlah aset lancar - jumlah liabilitas jangka pendek = 437.714.359

bila dikonversikan ke kurs Rupiah dengan 1 USD = Rp 13,800 maka didapat modal kerja setara dengan Rp 6.040.458.154.000

utang jangka panjang = 601.392.579 ---> utang jangka panjang lebih besar daripada modal kerjanya, sehingga ini tidak begitu bagus. Tapi saya kesampingkan dulu tentang hal ini, krn saya mau melihat kinerja keuangan SRIL yang lainnya..

jumlah utang total = 806.108.667

jumlah saham beredar = 20.452.176.844 lembar

kita hitung modal kerja per lembar saham = modal kerja : jumlah saham beredar = 437.714.359 : 20.452.176.844 = $ 0,02140184 x Rp 13,800 = Rp 295,34 per lembar saham

Harga SRIL sekarang (Rp 338), sudah di atas Rp 295, jadi kalo kita lihat sekilas, ini sudah bukan area very big discount lg.. :) Tapi ok, kita go ahead aja ya.. :)


jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 484.196.806

Book Value = 484.196.806 : 20.452.176.844 = $ 0,023674 x Rp 13,800 = Rp 326,71


jumlah ekuitas total = 500.884.106

DER = jumlah utang total : jumlah ekuitas total = 1,61x ---> ini angka DER yang agak tinggi buat saya, tapi ok, saya terima aja, krn growthnya juga bagus sekali.. :)

jumlah asset = jumlah ekuitas total + jumlah utang total = 1.306.992.773




Sekarang kita masuk ke bagian Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Penjualan = 267.837.342 ---> growth = 49,57%

laba operasi = 57.731.402 ---> growth = 74%

laba periode berjalan = 38.102.907 ---> growth = 70,15%

laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 41.348.633 ---> growth = 84,64%

EPS = 41.348.633 : 20.452.176.844 = $ 0,002021722 x Rp 13,800 = Rp 27,89 ---> growth = 66,7%

ROE annualized = (4 x 41.348.633) : 484.196.806 = 34,16% ---> ROEnya sangat bagus




Terus sekarang kita menuju Laporan Arus Kas-nya

Saya hanya perhatikan 2 hal saja di sini, yaitu Arus Kas operasi dan Kas akhir periode.

kas netto yang diperoleh dari operasi = 25.310.457 ---> arus kas operasi positif, artinya ini sudah bagus, walaupun lebih kecil dibandingkan laba periode berjalannya. 

Kas dan setara kas akhir periode = 81.475.077 ---> perusahaan memegang kas yang lebih besar daripada laba periode berjalannya, sehingga mampu untuk membayar deviden..


Sekarang kita menuju ke valuasi sahamnya..

@ 338, PER SRIL = 338 : (4 x 27,89) = 3,03x  ---> ini PER yang sangat murah, apalagi dengan growth SRIL yang mencapai 66%...

@ 338, PBV SRIL = 338 : 326,71 = 1,04x

PER x PBV = 3,03 x 1,04 = 3,13 ---> PER x PBV pun masih di bawah 5.. Jadi memang SRIL dgn harga 338 dan kinerja secantik ini, SANGAT SANGAT MURAH!!!


Sekarang kita lihat TA-nya.

SRIL sudah berada di atas MA 60 monthly dan MA 20 monthly-nya. Jadi secara TA, bukan area yang sangat murah lg. Tapi karena saya lebih berat ke PERxPBV SRIL yang di bawah 5, maka hal ini tidak menjadi masalah buat saya.

MACD monthly SRIL sudah golden cross tapi masih di atas 0. Jadi SRIL masih bullish, tapi ada kecenderungan harga sahamnya masih bisa turun, dlm jangka waktu panjang. 


kalo secara weekly, SRIL berada di bawah MA 60 weekly dan juga MA 20 weekly. Jadi melihat dr chart weekly, SRIL sudah berada di area yang murah.

MACD weekly SRIL berada di bawah 0, tapi sudah golden cross, yang menunjukkan SRIL akan berubah dari cenderung turun menjadi cenderung naik.. Kita tunggu aja kapan MACD weekly SRIL bisa naik ke atas 0, krn itu menunjukkan dia sdh masuk area bullish dalam jangka waktu menengah.


Kalo liat dr TA, antara monthly dan weekly SRIL memberikan hasil yang berbeda.

Tapi krn fokus saya, sekali lagi, lebih kepada PERxPBV-nya, jadi saya tetap memilih untuk membeli SRIL di harga sekarang sbg saham investasi saya di 2018 ini.

Selain SRIL, saya masih punya INDY dan juga INDS yang sdh saya beli dari april 2017 lalu.. :)

ok, ini cuma sekedar sharing dr saya tentang saham yang bagus dibeli untuk investasi di thn ini.

Dan saya ngga bs sering2 beli saham, krn saya punya kriteria2 yang harus saya penuhi dalam stock picking.

Dan SRIL ini menurut saya termasuk saham yang bagus banget untuk dibeli sbg investasi di thn 2018 ini... :)

Kalo rugi, tanggung sendiri ya.. :)

Tapi yang jelas, saya akan jual SRIL ini segera begitu labanya turun di LK terbaru... :)

ok, selamat berinvestasi.. semoga investasi kita semua akan memberikan hasil yang bagus di masa depan nanti.. :) Aamiin..


Regards,
V3



update 8 juni 2018 :

saya nemu saham bagus lagi : BYAN , MBAP dan MYOH. Tapi mereka sudah pada bagi deviden, dan itu dlm jumlah yang lumayan besar. Jadi untuk hitungan detilnya, kita tunggu LK Q2-nya aja.

Untuk BYAN, krn kmrn saya beli sebelum bagi deviden, jadi buat saya BYAN di harga Rp 11400 sudah menarik, berdasarkan patokan Lk Q1/2018, walaupun PER x PBV-nya di atas 22,5.
Mengapa? Krn ROE BYAN = 87% dan EPS growth = 80%. ROE dan EPS growthnya sdh di atas 22,5 , jadi menurut saya, BYAN di harga Rp 11400 sblm bagi deviden, sudah menarik.

Harga sekarang : BYAN 10750 (sdh bagi deviden) ; MBAP 3680 (sdh bagi deviden) dan MYOH 835 (sdh bagi deviden).

oya, SRIL di 338 kmrn waktu saya beli juga sdh bagi deviden, tapi jumlahnya tidak begitu besar, sehingga tidak signifikan berpengaruh ke nilai ekuitasnya, dan saya tetap yakin beli tanpa nunggu LK Q2/2018 SRIL keluar...


Sekarang sepertinya saya mau off lagi. Gara2 kemarin tertarik beli SRIL, BYAN dan MBAP, akhirnya saya mengorek tabungan usd saya, saya belikan saham. Sesuatu yang ngga saya rencanakan sebelumnya, krn td niatnya hanya utk baca-baca LK dan ngga beli saham dulu, sampai agustus. Tapi karena semua saham yang saya beli menggunakan USD dlm laporan keuangannya, jd saya merasa lbh aman aja.. Ya, itung2 berubah wujud, dr tabungan usd jadi ke saham dgn Laporan keuangan dlm usd.. :) 

update per tanggal 2 Agustus 2018 : LK Q2/2018 SRIL sudah keluar, dan hasilnya agak mengecewakan untuk saya, krn kinerjanya jadi melambat.. 
Tapi secara valuasi, SRIL ini msh murah.. 
Cuma krn pertimbangan kinerjanya yang melambat, saya putuskan out dulu dr SRIL. uangnya saya belikan saham lain yang menurut saya lebih menarik.. :) 

Oya, dr LK Q1/2018 yang kemarin saya analisa, saya putuskan beli SRIL, BYAN, MBAP, MAIN, dan BNGA .

MBAP saya jual, dengan posisi loss 7% (karena kinerjanya di Q2 juga menjadi sangat melambat).
BYAN masih hold, dan memberikan floating profit 81% dalam waktu 2 bulan
MAIN msh hold, dan memberikan floating profit 45% dalam waktu 3 minggu (LK Q2-nya jauh lebih cantik drpd Q1-nya)
BNGA msh hold (LK Q2 belum keluar, tapi mudah2an bagus, krn ini saham bank besar dengan PBV yang msh di bwh 1)
SRIL saya jual dengan cuan tipis, dan saya pakai utk menambah BNGA lg (krn PBV-nya msh di bwh 1).


Dari LK Q2, belum ada lagi saham bagus dan murah yang baru yang saya temukan.. Karena LK Q2 juga masih banyak yang belum keluar, ya.. :((




Selasa, 27 Februari 2018

LK Q4/2017 ASGR, salah satu contoh LK yang sehat

Ini saya baru liat LK Q4/2017 ASGR, dan LK ini adalah contoh salah satu LK perusahaan yang sehat di BEI.

Saya paparkan beberapa data di LK ini yang membuat saya berpendapat bahwa ini adalah salah satu contoh LK yang sehat (LK dalam juta rupiah) :


1. Modal kerjanya positif

 Modal kerja = working capital = aset lancar - liabilitas lancar

modal kerja ASGR = 1.902.849 - 1.029.675 = 873.174


2. Utang jangka panjangnya masih lebih kecil daripada modal kerjanya

Utang jangka panjang = 61.013

Modal kerjanya = 873.174


3. Pertumbuhan pendapatannya tinggi ---> artinya, pasar untuk produknya berkembang luas

Pendapatan 2017 = 3.918.428

Pendapatan 2016 = 2.712.784

Pertumbuhan pendapatannya = 44,46%


4. ROEnya di atas 15% 

Laba tahun berjalan = 257.225

Ekuitas pemilik = 1.321.180

ROE = laba tahun berjalan : ekuitas pemilik = 19,47%


5. DER-nya di bawah 1

jumlah utang/liabilitas = 1.090.688

jumlah ekuitas = 1.321.184

DER = jumlah utang : jumlah ekuitas = 0,82


6. Arus kas operasinya positif, malah lebih bagus lagi, karena jauh lebih besar daripada laba tahun berjalannya. Artinya, perusahaan ini beroperasi dengan sehat, karena semua laba betul-betul dihasilkan dari kegiatan operasinya, bukan dari jual aset, minjem uang kepada pihak lain, atau lainnya.

Arus kas operasi = 533.399

Laba tahun berjalan = 257.225


7. Kas akhir tahun = 676.587 ---> ASGR mempunyai kas yang jauh lebih besar daripada laba tahun berjalannya, sehingga memberikan kepastian bahwa perusahaan ini mampu untuk membayar deviden kepada pemegang sahamnya.


8. Di harga 1300, PER = 6,8x ; PBV = 1,33x ---> sangat murah untuk perusahaan yang berada dalam Astra Group. Manajemen bisa dipercaya, rajin bagi deviden, dan harga sahamnya sedang diobral murah sekali.. :)


Cuma ada satu minusnya di LK ini, pertumbuhan labanya tidak sebesar pertumbuhan pendapatannya. ASGR harus melakukan efisiensi lagi tampaknya. Tapi untuk harga sekarang, kekurangannya bisa tertutup dengan kelebihannya yang lain, terutama faktor harganya yang sedang murah.. :)

Oya, tapi ASGR ini juga ngga begitu likuid ya. Jadi kalo beli banyak, bisa susah nanti pas mau jual.. :)

Ok, sekian aja, semoga bisa bermafaat. Mohon maaf untuk komentar atau email yang belum terjawab, karena saya belum memiliki waktu yang cukup untuk membalasnya.. 


regards,
V3

update terakhir, tgl 9 Maret 2018, saya jual semua ASGR-nya di harga Rp 1450. saya sudah ngga nyaman dengan kondisi IHSG dan jg kurs usd-idr yang msh terus naik. jadi saya lebih baik pegang cash dulu, dan nanti baru mau masuk pasar lagi setelah bulan Agustus... :) ihsg saat ini = 6441. Kurs usdidr = rp 13795. Selain itu, saya liat ASII sbg induk ASGR sdh berada di bawah MA 60 daily dan weekly-nya. Mdh2an jalan utk mengumpulkan ASII sdh mulai terbuka.. :)




Jumat, 09 Februari 2018

IHSG overheating



Sejak thn 2015, saya sudah bersiap mengamankan modal saya agar ngga kena siklus crash 10 thn di bursa saham, yang kemungkinan besar akan terjadi di thn 2018. Yang ngga percaya saya setakut ini, bs cek di tulisan2 saya yang lama2..


Ketakutan saya ini, membuat saya malah di Januari 2016, menjual smua saham saya dan memasukkan semua uangnya ke usd, begitu juga dengan budget investasi tiap bulan, saya belikan usd juga. Dan akhirnya, selama thn 2016 modal saya relatif stagnan krn cuma masuk tabungan aja..


Akhir 2016, saya mulai masuk ke saham lagi, beli JSMR sama MAIN kalo ngga salah.

Awal 2017, saya tambahkan BBRI dan BBNI dalam jumlah lumayan banyak ke portofolio saya. Tapi saya tetap menjaga portofolio saya di saham tidak lebih dari 25% dana yg saya miliki.

Maret 2017 dan April 2017, banyak saham yang saya jual, untuk saya pindahkan ke INDY, waktu itu INDY masih 800-an..

Dan betul2 ngga nyangka, INDY naik tinggi banget sampai Januari 2018 kmrn.. dari 800 ke 4500..


Alhamdulillah, portofolio saya berkembang banyak di thn 2017 kmrn dari INDY..

Begitu INDY ke 2000, saya jual seperempatnya, krn sudah naik di atas 100% dalam waktu kurang dr setahun,  minimal utk menarik modal saya.

Ketika INDY sudah 4000, saya jual lagi seperempatnya, krn menurut saya naiknya terlalu cepat, dan ihsg sendiri juga kok seperti ngga ada koreksi2nya..


Padahal ngga pernah ada bursa saham yang naik terus sepanjang sejarahnya..

Dan biasanya, semakin fantastis naiknya, nanti akan smakin drastis juga turunnya... :(((


Jadi, ketika kmrn dow jones mulai turun 4% pertama kali di thn ini, hati saya relatif tenang, krn di porto saya tinggal ada INDY, INDS, BBKP dan SSIA, dan saya pegang cash dalam jumlah yang cukup banyak (dan cash saya banyak dalam usd, jadi tenangnya double).


Ketika kemarin dow jones turun lagi 4% yang kedua di thn ini, saya jual smua SSIA saya (krn SSIA labanya naik tinggi akibat penjualan tol cipali, yang tidak akan bs berulang lg di thn ini). Sekarang tinggal ada BBKP, INDY dan INDS di portofolio saya...


Apakah siklus crash 10 tahunan di bursa saham akan terjadi lg di thn ini? Saya ngga tau.


Tapi saya pribadi, dengan melihat MA, saya berpendapat bahwa IHSG sekarang sudah overheating. IHSG sudah kepanasan, butuh koreksi dulu. Bahkan stokastik slow di weekly monthly saja sudah di daerah overbought (skrg ihsg 6478, dan masih overbought stokastik weekly-monthlynya).


Jadi saya sudah beberapa hari belakangan ini, menyarankan ke teman2 saya :  yang punya saham yang sudah cuan tipis, atau rugi tipis, atau PER > 10 dan PBV > 1, lbh baik jual dulu skrg... siapa tau nanti bs dpt lbh murah lagi... atau jangan menyesal kalo nanti ngga ada cash padahal banyak saham murah dan bagus yang bs dibeli...


Hari ini tadi saya sudah pamit sm tmn2 investor saham, saya mau off dulu, ngga mau beli2 saham lagi. Saya baru mau masuk pasar nanti stelah Agustus, terutama setelah LK Q3 keluar..

Sekarang mending menjauh dulu dr pasar.


Kata yang jago2 TA, dow jones sudah masuk fase koreksi, krn sudah turun 12% dr highest. Saya ngga bs liat chart dow dengan lbh mendetil, krn saya skrg sudah ngga pakai metastock lg. Jadi saya beli/jualsaham cuma dengan modal chart gratisan dr OLT seperti HOTS.. :)))


Kalo ihsg, masih dekat area all time high-nya.. Belum masuk fase koreksi, krn belum turun 10% dr highestnya..

Tapi kalo dow jones sudah masuk fase koreksi, biasanya bursa saham lain akan menyusul, termasuk Indonesia.

Jadi ibaratnya, ngapain kita berenang melawan arus? Yang ada bs mati konyol sendirian.


Sekarang kalo ada analis yang menyarankan untuk buy buy buy dengan target ihsg 2018 ke 7000an atau malah 8000, jangan didengerin. IHSG overbought bgini, ngga bijak bgt untuk sembarangan beli2 saham.. 


Kalau di saham, berita bs di-create. Tapi yang jelas, kalo bursa sudah naik tinggi banget, pasti akan ada pihak-pihak yang akan profit taking. Jadi jangan sampai kita kebagian nyuci piringnya, ya..


Dari dulu saya tulis, hati-hati 2018, ada kemungkinan siklus crash 10 thn bursa saham, dan ngga sedikit yang berkomentar pedas, bilang kalo saya terlalu serakah ingin cepet kaya dengan nyumpahin krisis, dsb, dsb. belum lagi yang japri ke email saya.. :(( 


Tapi saya nulis di sini kan sesuai dengan apa yang ada di hati saya, di pikiran saya, saya nulis bukan krn saya dibayar siapapun.
Dan saya menulis dr perspektif seorang investor saham, yang harus menjaga keutuhan modalnya dari kekejaman bursa saham..

Jadi kalau memang ihsg sudah kemahalan, overheating, over bought, ya itu mmg yang saya lihat. 

Kalau saya salah, itu karena saya bodoh, ilmunya belum tinggi, bukan krn saya ingin membohongi orang dengan tulisan saya..

Mungkin banyak yang belum tau, kejatuhan bursa saham tidak harus sama dengan krisis ekonomi suatu negara. Fundamental  ekonomi negaranya bisa jadi baik-baik saja, tapi karena banyak investor keluar dari bursa saham, ya bursanya pasti turun. 

Dengan bursa saham kita yang mayoritas masih dikuasai asing, kalo asing ini angkat kaki dr bursa saham, biasanya dia akan sekalian beli dolar (usd)..

Jadi biasanya hubungan antara kurs usd-idr dan ihsg itu terbalik. Kalo kurs usdidr naik, ihsg turun.
Kalo kurs usdidr turun, ihsg naik.
Makanya hedging terbaik untuk investasi saham menurut saya adalah dengan punya tabungan di usd.
Minimal kalo salah satu anjlok, yang satunya lagi naik.. 


Dan tentang siklus crash 10 thn bursa, sekarang saya malah jadi tambah takut, krn sejak 2016 ihsg memang belum pernah koreksi dalam.


Ok, cukup sekian ya..
Saya off dulu dr saham, nanti baru mau liat pasar lg skitar Agustus, insyaa Allah..


Jaga modal kalian baik2, krn saya sudah mengalami sendiri bgmn pahitnya kalo modal sudah menyusut tajam akibat penurunan bursa..


Kalo saya salah, ya maklum aja, namanya juga manusia, pasti ada salahnya, apalagi untuk menganalisa bursa saham.. :)


Tapi apapun yang kita lakukan, mau beli saham, mau jual saham, atau diem aja, make sure agar apa yang kita lakukan itu bikin hati kita tenang dan tetap bs tidur nyenyak, karena kesehatan itu jauh lebih penting.. :)


Warm regards,

V3


Selasa, 19 September 2017

Beberapa saham yang menurut saya sdh murah untuk investasi..

Beberapa bulan ini, ihsg sepertinya cuma bergerak flat saja antara 5700-5900. Kalau liat di macd daily, sepertinya ada divergen, krn puncaknya semakin turun. Dengan kata lain, bisa jadi ke depan, IHSG-nya akan turun.. Bisa jadi lho ya, belum pasti akan terjadi juga :)

Tapi yang saya heran, selalu ada aja saham yang gantian dibanting, bahkan kadang sampai ke harga yang menurut saya, ini sudah murah banget....

Jadi, sejak bulan Mei kemarin, saya sempat beli beberapa saham yang saya anggap sudah murah banget ini..

Antara lain :

a. INDS --- saya beli INDS di bulan april 2017, dengan harga avg 858. Waktu itu saya hitung modal kerja per sahamnya = Rp 1062,7 sedangkan Book Value-nya Rp 3157. Dengan EPS Q1/2017 yang Rp 26,41 , maka INDS di 858 itu setara dengan PER 8,12x ; PBV 0,27x , dan sahamnya jg sudah di bawah modal kerja per lembar saham.. PER x PBV = 2,19. Yup, dengan hitungan ini, INDS di harga 858 sudah murah sekali menurut saya. Selain itu, dia jg rajin bagi deviden, jd bs buat pegangan jangka panjang.. Sekarang harga INDS Rp 1020.

b. INDY --- saya beli INDY di bulan mei 2017, dengan harga avg Rp 842. Di LK Q1/2017, INDY mulai mencetak untung, setelah tahun-tahun sebelumnya merugi.. EPS-nya $ 0,0042 (dengan kurs Rp 13.200 setara dengan Rp 55,44) ; Book value-nya $ 0,1174 (setara dengan Rp 1550) ; dan.. modal kerja per sahamnya = Rp 894.
Dengan PER yang 3,79x ; PBV 0,54x maka PER x PBV INDY = 2,04x. Masih murah, dan ditambah lagi harga sahamnya pun masih di bawah modal kerja/lembarnya.. Sekarang harga INDY Rp 1880.

c. PTRO --- saya beli PTRO bulan Agustus 2017, di harga avg Rp 990. Waktu itu saya beli PTRO krn saham ini jg PER-nya msh di bawah 10x, PBV skitar 0,4x dan harga sahamnya juga msh di bwh modal kerja/lembar saham. Tapi begitu LK Q2/2017 keluar, PER-nya jadi 16x, akhirnya krn saya sudah cuan, saya jual dulu aja.. Saya mau cari saham lain yang lebih menarik untuk dibeli... :)


Nah, beberapa hari ini, saya mulai liat2 saham lagi. Dan kaget aja, itu saham konstruksi seperti WIKA, WSKT, PTPP kenapa pada hancur bgini yahh harganya..? eh tapi saya seneng sih, soalnya akhirnya bisa ikutan beli saham konstruksi jg, di harga yang masuk akal.. :)))

Tadinya saya beli WIKA krn PBV-nya sudah 1,4x (ini asli beli hanya karena liat PBV aja) di harga 1985. Ngga pernah deh liat WIKA di PBV serendah ini dalam beberapa thn trakhir.. Dan coba googling tentang WIKA, lho ternyata dia ada right issue thn 2016, dan itu di harga Rp 2180. Berarti skrg WIKA sudah di bwh harga RI-nya yahh.. ckckck... 
Eh tp krn WIKA akhirnya bikin new low di bwh 1965, ya saya CL dulu saja.. Liat sampai mana WIKA bakal turun lagi. Kemarin terakhir turun sih, di 1785. Terus saya itung lagi, kalo 1785, dengan patokan LK Q2/2017, PER-nya WIKA itu 32,7x.. wahh ini sih alamat devidennya thn depan, ya kecil banget.. :))) Akhirnya ngga jadi beli WIKA deh... 

Ndilalah WSKT waktu itu jg sempet turun 9% sehari, gara2 ada berita kalo dia ngga jadi jual ruas tolnya. Mulai deh saya liat LK-nya WSKT. Ternyata di harga 1910, PER WSKT itu 10,11x ; PBV 2,25x. PER x PBV-nya = 22,72x. Lebih menarik beli WSKT sepertinya daripada WIKA, krn PER-nya jauh lebih kecil, jadi devidennya akan lebih terasa.. :) Selain itu, untuk konstruksi, size WSKT memang lebih besar daripada WIKA, ya. Jadi memang WSKT ini leadernya.. Ya sudah, akhirnya saya ambil saja dulu WSKT-nya di harga 1905.. :)

Nahh, pas kemarin itu, ternyata AISA juga sempet turun sampai ke bwh 900.. Tapi sayang banget, saya pas lagi ngga bisa mantau saham 2 hari itu krn nemenin keponakan yang mendadak harus operasi sesar di rumah sakit. Dan sejak nyentuh 875 itu, AISA naiknya lgsg tinggi banget selama 2 hari, jadi saya ya cm bs tunggu dia pullback aja dulu.. :)

Oya, dulu saya pernah tulis kalo teman saya bilang, manajemen AISA agak ngga bener, jadi hati2 saja kalo megang saham ini. Pendapat itu msh saya pegang sampai skrg. Tapi saya tetap ingin beli sahamnya, walaupun dalam jumlah yang ngga banyak. Kenapa? karena, secara hitungan saya, AISA sudah murah banget..
Based on LK Q1/2017-nya (LK Q2/2017 AISA belum keluar juga sampai sekarang), EPS-nya Rp 32,16. Book Value-nya Rp 1257. Modal kerja per lembar sahamnya = Rp 1022..
Di harga skrg (1015), PER AISA = 7,89x ; PBV = 0,81x. PER x PBV = 6,37, plus masih di bawah modal kerja per sahamnya.. menarik banget buat saya, krn ini saham consumer, apalagi kalo harganya di bwh Rp 900.. :)

Terus ada lagi nih satu saham yang PER dan PBV-nya seperti ngga masuk akal banget buat saya. Masa iya sih, bisa semurah ini?
Coba liat LK Q2/2017 SSIA. EPS-nya Rp 264,42. Book value-nya Rp 869. Modal kerja per lembar sahamnya = Rp 667,31. Harganya sekarang Rp 600.
Ini kalo EPS-nya ngga ada penambahan aja sampai akhir thn, maka berarti PER-nya = 600 : 264,42 = 2,27x. PBV = 600 : 869 = 0,69x. PER x PBV = 1,56. Murah banget ya.. Ini saham SSIA lho, yang juga rajin bagi deviden... Yahh ngga mungkin kan saham murah banget kaya gini ngga saya beli... :))

Selain SSIA, LPCK jg saya liat masih murah, dan masih di bawah modal kerja per sahamnya jg. Cuma saya agak betenya dengan LPCK, krn dia ngga pernah bagi deviden.. 

Oya, skrg yang saya liat, PGAS lagi dibanting bikin new low terus ya.. Dan di bwh Rp 1650, PGAS ini sudah di bawah book value, lho... Cuma saya jg belum beli, krn msh mau tunggu di harga lebih murah lg.. :)))

Dulu PTBA sempet dijual dengan PBV di bawah 1x jg dengan segala macam berita buruknya tentang masa depan suram bisnis batubara (PTBA 4xxx-an waktu itu). Tapi, walaupun labanya turun terus, PTBA ngga pernah merugi seperti trio mining ANTM, INCO, TINS, jadi PTBA ini mirip PGAS sekarang. Yang berbeda antara PTBA dan PGAS, ketika PBV-nya di bwh 1 itu, PER PTBA juga sudah di bwh 5x, sudah menarik banget untuk dibeli.. Tapi si PGAS ini, di 1600, wlpn PBV-nya sudah di bawah 1, tp PER-nya masih 30,8x... masih mahal banget... Jadi ya saya masih mau nonton saja deh, liat sampai mana ini si PGAS dibantingnya.. 

Ok, ini aja beberapa saham yang saya pikir cukup menarik untuk dibeli sekarang ini.

Saya menggunakan LK Q1 dan Q2/2017 sebagai bahan pertimbangan. Cara-cara perhitungan sudah saya jelaskan di posting sebelum ini, jadi di sini saya ngga tuliskan lagi.. :)

 Oya, saya jg sudah ngga pakai metastock lagi, krn laptop saya hilang diambil maling.. semua data hilang, jd saya harus analisa dr awal lagi, donlod smua LK emiten dr awal lagi.. :( sekarang saya cm mengandalkan chart dr online trading saja. Yahh akhirnya, saya memang harus lebih banyak mengandalkan FA lagi.. :)))

Kalo harga sahamnya masih terus turun setelah saya bilang murah di sini, ya itu di luar kuasa saya, ya.. :) saya juga sering nyangkut kok kalo beli saham.. :)))
Tapi yang jelas, saham apa yang saya bilang murah, saya pakai hitungan yang bs dipertanggungjawabkan dasarnya, jadi ngga asbun begitu aja.. :)

Oya, saya sendiri cuma masukin sedikit dana di saham sekarang ini, maksimal 25% dr portofolio saya. Sisanya masih dalam bentuk cash.. :)

Yang jelas, saya makin yakin dengan dasar yang saya tetapkan untuk membeli suatu saham yang menurut saya sudah murah : bila PER x PBV di bawah 5x, dan saham itu jg sudah berada di bawah atau minimal mendekati modal kerjanya.. :) dan saya ada syarat tambahan untuk setiap saham yang saya beli : dia harus rajin bagi deviden. 

Itu aja ya, semoga tulisan ini bs bermanfaat bagi yang membacanya. Aamiin.. :)

Warm regards,
V3