Senin, 25 Mei 2015

LK Q1/2015 AISA..

LK AISA sdh keluar bbrp hari yang lalu.. Tapi karena saya lg sibuk banget ke sana sini, akhirnya saya baru bisa buka siang ini. Cuma yang melegakan saya, AISA msh ada growth. Jadi ngga harus cepet-cepet jualan.. :)

Saya melihat, AISA di Q1/2015, lebih bagus kinerjanya daripada AISA di Q4/2014. Dan krn Q1 ini biasanya mencerminkan kinerja emiten setahun ke depan (walaupun ada juga emiten yang tidak bisa kita terapkan cara seperti ini), jadi saya pikir, AISA di 2015 akan lebih baik kinerjanya dibanding 2014. Semoga ya.. :)

Karena saya punya ekspektasi kinerja AISA akan lbh bagus lagi ke depan, maka saya putuskan td menambah lagi AISA yang saya punya. Terakhir saya beli AISA di kisaran 2060. Dengan menambah AISA di 1910, maka average AISA yang saya punya, sekarang ada di 1500. Mudah-mudahan bisa menjadi investasi jangka panjang, krn ini saham consumer.. :)

Ok, kita coba liat LK Q1/2015 AISA, ya.. (LK dalam juta rupiah)


1. NERACA

aset lancar = 4.096.234
liabilitas jangka pendek = 1.629.160
modal kerja = aset lancar - liabilitas jangka pendek (modal kerja positif, jadi tidak ada resiko likuiditas. libilitas jangka pendek yang jatuh tempo pd waktunya, bisa dibayar dengan aset lancar yang ada saat ini).

jumlah utang = 3.967.921

jumlah saham = 135.000.000 + 2.791.000.000 = 2.926.000.000 lembar
jumlah ekuitas tanpa kepentingan non pengendali = 3.172.573 --> growth = 3,98%
jumlah ekuitas  = 3.729.391
DER = jumlah utang : jumlah ekuitas = 1,06x ---> DER masih di bawah 1,5x, jadi masih dalam batas aman..

Book Value = jumlah ekuitas tanpa kepentingan non pengendali : jumlah saham = 3.172.573.000.000 : 2.926.000.000  = Rp 1084,27

jumlah aset = 7.697.312



2. LAPORAN LABA RUGI

Penjualan = 1.601.877 ---> growth = 38,9%
Laba usaha = 220.938 ---> growth = 22,11%
Marjin laba usaha = 220.938 : 1.601.877 = 13,8%

Laba tahun berjalan = 139.229 ---> growth = 25,53%
Marjin laba tahun berjalan = 139.229 : 1.601.877 = 8,69%

Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 123.968 ---> growth = 26,41%

EPS = Rp 38,52 ---> growth = 14,92%

ROE = ( 4 x 123.968 ) : 3.172.573 = 15,63%



3. LAPORAN ARUS KAS

Arus kas operasi = 58.026 

Capex = 42.522 ---> growth = minus 3,36%

penambahan tanaman perkebunan = 33.785 ---> growth = 431,46% (tampaknya AISA sedang berekpansi di bidang perkebunan)

kas = 960.727



4. @ 1910 ---> PER = 1910 : ( 4 x 38,52) = 12,4x  (dengan penglihatan selintas, karena EPS growth AISA 14,94% dan ROE-nya 15,63% , maka AISA di PER di bawah 14x ini MURAH menurut saya). Saya ada metode simpel banget untuk melihat apakah suatu saham termasuk murah/ngga. Bila growth dan ROE saham tsb masih lebih tinggi daripada PER-nya, maka saham tsb menurut saya termasuk murah. Ini saya coba kombinasikan antara ROE, PER dan growth. Mungkin di buku belum ada. Ini hanya pengalaman saya pribadi selama jd investor saham di bursa, dan saya pikir metode ini cukup bisa diaplikasikan, terutama untuk saham consumer.. 


                      PBV = 1910 : 1084,27 = 1,76x ---> PBV di bawah 2x untuk saham consumer dan ada growth, bagi saya juga masih murah

                     Yield = ROE : PBV = 8,88% ---> Yield di atas yield SUN untuk saham consumer dan ada growth, bagi saya juga sangat menarik.

                     Valuasi wajar AISA = 1941 ---> MOS 1,6% (msh di bawah harga wajarnya. Jadi apabila AISA turun lagi jauh di bawah harga wajarnya, maka akan semakin menarik).


Kesimpulan saya,  secara FA, AISA saat ini masih murah :)


Secara TA? AISA sekarang berada tepat di garis MA 100 weekly-nya. Dan krn msh ada growth pd kinerjanya, AISA masih murah based on TA. MACD weekly msh di bawah 0, jd masih bearish, alias msh harga diskon :)

Dengan chart daily, AISA sekarang berada di bawah MA 200 daily. MA 200 daily AISA ada di 2160. MACD daily juga di bawah 0, tapi sudah golden cross.

Dengan chart monthly, AISA udah 9 bulan cenderung turun terus. Highest di 2620, lowest di 1660. Alias di 1910 sekarang, berarti AISA sudah turun 27% dari highest.

Ok, saya sih berani beli ya, untuk AISA di harga sekarang. Karena prospek AISA ini masih bagus ke depan. Apalagi harganya masih murah. Tapi ini disclaimer yahhhhh... :))))

Seperti biasa, rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang juga tanggung sendiri.

Your money, your responsibility.. :)



Regards,
V3




Senin, 18 Mei 2015

SIDO.. saham consumer yang lagi dibanting juga krn salesnya justru turun stelah IPO.. :)

Setelah kemarin saya beli TSPC, hari ini kebetulan liat running trade dan liat SIDO seliweran terus. Jadi inget, dulu saya sempet ngincer SIDO juga, tapi krn salesnya msh turun di 2014, saya belum jadi beli.

Tapi stelah kmrn saya beli TSPC, saya merasa saya jadi lebih longgar kriterianya dalam membeli saham consumer yang lagi dibanting. Minimal selama saya yakin prospeknya ke depan masih bagus, DER < 1, PBV < 3, ROE > 12%, saya masih berani beli untuk hold dlm jangka waktu yang lama.. 

Saya ingat, dulu pernah baca di salah satu buku investasi yang isinya begini, 
"Ada kondisi di mana perusahaan bagus mengalami masalah dalam jangka pendek. Jika kondisi ini terjadi, biasanya harga saham akan terkoreksi dalam, dan  waktu seperti ini merupakan kesempatan terbaik untuk membeli saham tersebut".

So, quote di atas itu yang membuat saya jd berani membeli TSPC dan SIDO ketika sales/ labanya sedang turun. Karena memang realitanya, nyaris jarang sekali perusahaan yang selalu mengalami kenaikan sales/laba tiap tahun dalam operasionalnya. 

Kembali ke SIDO. Produk SIDO yang mungkin paling dikenal orang adalah Jamu Tolak Angin dan Kuku Bima. Iklannya sering kita lihat di mana-mana.

Untuk prospeknya ke depan, saya masih optimis. Salesnya sejak IPO di Desember 2013, memang masih turun. Tapi perusahaan beralasan bahwa daya beli masyarakat memang tergerus sejak kenaikan BBM. Dan nanti apabila ekonomi sudah membaik, manajemen yakin demand terhadap produk-produk mereka juga akan meningkat. 

Tapi karena SIDO ini baru IPO, maka belum banyak data keuangannya yang bisa kita jadikan pembanding. Dari laporan tahunan 2014, terlihat bahwa dari 2011 hingga 2014, sales tertinggi berada di thn 2012. Tapi labanya selalu naik sejak 2011.

Di Q1/2015, penjualan SIDO msh turun 2% tapi laba bersihnya naik 1% krn efisiensi yang dilakukan perusahaan. 

Kita coba analisa LK Q1/2015 SIDO, ya..  LK-nya bisa didonwload di :

http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx, tinggal masukkan kode SIDO dan pilih tahun 2015 periode Triwulan 1.



LK Q1/2015 SIDO (juta rupiah)

Bagian 1, NERACA

Asset lancar = 1.837.681
Liabilitas jangka pendek = 148.673
Modal kerja = 1.689.008
Karena modal kerjanya positif, maka perusahaan tidak mengalami resiko likuiditas (alias liabilitas jangka pendek yang jatuh tempo bisa dilunasi dengan asset lancar yang ada).

Jumlah utang = 153.375
Jumlah saham = 15.000.000.000 lembar
jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 2.752.686 --> growth = 4,48%
Book Value = 2.752.686.000.000 : 15.000.000.000  = Rp 183,51

jumlah ekuitas = 2.752.686
DER = jumlah utang : jumlah ekuitas = 153.375 : 2.752.686 = 0,05x ---> utang SIDO sangat kecil, perusahaan bekerja semaksimal mungkin dengan memanfaatkan dana yang didapat ketika IPO. Perusahaan relatif aman dari resiko bangkrut karena hutang.



Bagian 2, Laporan Laba Rugi

Penjualan = 509.417 ---> growth = minus 2,04%
Laba kotor = 314.799
Marjin laba kotor =  314.799 : 509.417 = 61,8%

Laba bersih tahun berjalan = 118.026 ---> growth 1,83%
Marjin laba bersih = 118.026 : 509.417 = 23,17% ---> marjin laba bersih perusahaan cukup tinggi, sehingga perusahaan akan relatif lebih survive dalam situasi ekonomi yang sulit

EPS = Rp 7,9 --> growth = 2,2%
ROE = (118.026 x 4) : 2.752.686 = 17,15%



Bagian 3, Laporan Arus Kas

arus kas operasi = 131.872 ---> arus kas operasi > dari laba bersih ---> perusahaan relatif sehat secara operasional
capex = 44.209 ---> growth = 585,94% (perusahaan banyak melakukan ekspansi di awal thn ini, semoga hasilnya akan terlihat pada kinerja perusahaan di tahun-tahun mendatang)
kas = 902.862


@ 530, PER = 530 : (4 x 7,9) = 16,78x ---> karena di Q1 sdh ada pertumbuhan laba, maka PER di bawah 20x untuk saham consumer, menurut saya masih murah 

           PBV = 530 : 183,51 = 2,9x
           
           Yield = ROE : PBV = 17,15 : 2,9 = 5,91%

           Valuasi wajar dengan metode yang digunakan di blog ini = Rp 403,92 --- MOS = minus 31,2% (alias SIDO kemahalan dengan metode valuasi di sini. Tapi memang metode valuasi ini sering menghasilkan harga wajar yang sangat rendah untuk saham-saham consumer, infrastruktur, dll (biasanya saham dengan PER yang tinggi, di atas 15x).


Sekarang coba kita liat TA SIDO. Karena SIDO ini baru IPO di Desember 2013, jadi data chartnya juga belum terlalu banyak. 

Kalo dengan chart daily, SIDO masih berada di bawah MA 200, MA 100 dan MA 60-nya. Tapi sudah di atas MA 5 dan MA 20. Alias harga SIDO memang sedang naik dalam 20 hari belakangan ini.. MACD daily masih di bawah 0 (bearish) tapi sudah golden cross. 

Chart weekly, SIDO berada di bawah MA 20 dan 60 weekly. MACD di bawah 0 dan sudah golden cross.

Chart monthly, SIDO sudah 15 bulan ini turun terus, bahkan sudah di bawah harga IPO-nya di Rp 580.

Karena laba dan ekuitasnya terus naik sejak SIDO IPO, dan harganya turun terus beberapa belas bulan ini, dan SIDO akan membagi deviden sebesar Rp 24 ( 87% dari laba 2014) cum date 21 mei 2015 ini, saya putuskan masuk ke SIDO di 530. 

Resiko yang saya hadapi adalah : karena deviden yield yang cukup besar (skitar 4,5%), maka mungkin saja setelah ex date harganya akan dibanting melebihi deviden yang diberikan. Tapi krn saya memang niat untuk hold long term (krn ini saham consumer, bukan komoditas), jadi saya ambil resiko harga turun dalam setelah ex date.. Tapi kalo turunnya ga sebesar devidennya, ya berarti itu rejeki buat saya.. :)

Beberapa investor kurang suka bila suatu emiten membagikan deviden terlalu besar. Mereka menganggap bahwa manajemen emiten tidak melihat peluang yang baik untuk mengembangkan perusahaan di masa depan. Tapi belajar dari kasus UNVR yang sering membagikan deviden dalam porsi yang sangat besar (dan UNVR juga saham consumer), bahwa bisa jadi pandangan investor yang seperti itu tidak selalu benar. Buktinya UNVR terus berkembang aja sales dan labanya sampai sekarang.. :) Tapi kalo SIDO, ya kita belum tau, karena recordnya listing di bursa juga belum lama. Tapi semoga saja manajemen SIDO kredibel seperti manajemen UNVR.. :)

Ok, ini saja sepertinya tulisan saya tentang SIDO.

Tahun ini, saya mau membuat porto saya semakin gendut, jadi skitar 15 saham. Biasanya saya hanya pegang maksimal 12-13 saham aja. Tapi krn dana kelolaan saya semakin besar (saya selalu menyisihkan uang tiap bulan untuk investasi saham) dan saya ingin menjadi investor yang lebih pasif lagi stelah beli saham (maksudnya : mencoba untuk ngga langsung jual kalo laba turun), jadi saya butuh portofolio yang lebih terdiversifikasi lagi.. Tujuannya ya biar saya bisa tidur tenang sehabis beli saham.. :))

Sekarang saya masih ada cash 25% lagi. Ini lagi nunggu ihsg turun agak dalam biar bs nambah saham-saham bluechip lagi.. tapi nunggu ihsgnya kok ngga turun-turun yahh.. sampe gemes.. hehe.. 

Seperti biasa, your money, your responsibility. Kalo rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. :)


Regards,
V3

















Jumat, 15 Mei 2015

TSPC.. saham consumer yg lagi dihukum..

Waktu bulan Maret 2015 kmrn ada yang nanya saya ttg TSPC. Waktu itu TSPC di harga 2400-an. 

Isi emailnya bagus : Mbak fitri, bagaimana pendapat anda mengenai saham Tempo Scan Pacific (TSPC) ketika saat ini telah terjadi penurunan harga saham yang jauh lebih besar dari pada penurunan fundamental perusahaan. Apakah kita sebagai investor tidak bisa memberikan maaf kepada emiten yang pernah melakukan sedikit kesalahan (baca: penurunan laba). Manurut saya TSPC pada harga sekarang ini sangat layak dimasukkan kedalam keranjang value investor


Saya agak tersentak dengan pertanyaannya, apakah kita sbg investor tdk bs memberikan maaf kepada emiten yang pernah melakukan sedikit kesalahan (penurunan laba). Ini seperti menyadarkan saya kembali kepada metode value investing. Selain membeli ketika harga saham berdarah-darah (misal ketika bursa saham sedang crash), beberapa  value investor juga sering membeli saham yang dibanting ketika labanya sedang turun, selama mereka yakin turunnya laba ini hanya sesuatu yang temporer, bukan krn penurunan kinerja untuk jangka waktu panjang. Memang cara seperti ini buat saya agak beresiko bagi investor pemula. Tapi resikonya bisa dibatasi dengan cara misalnya :

1. beli emiten yang kuat fundamentalnya, atau punya brand yang cukup kuat di masyarakat atau di sektornya (misal : ASII, SMGR, INDF, CPIN)

2. bukan saham komoditas, tapi saham yang produknya dikonsumsi oleh masyarakat

3. ambil patokan harga di bawah MA 100 weekly atau MA 200 weekly untuk lebih amannya

4. Beli dan sabar, menunggu sampai kinerja perusahaan membaik... jangan CL sahamnya ketika harga masih turun sehabis kita beli. Sampai kapan sabarnya? Ya sampai perusahaan bisa menumbuhkan labanya lagi. Tapi selama salesnya tetap naik, mungkin akan lebih tenang pegang sahamnya karena demand terhadap produk tsb masih tetap tumbuh.. 

Karena membaca ulang email ini juga, saya jadi mencoba untuk mereview ulang knp kmrn saya banyak CL. Ok, saya beli saham yang labanya sedang turun. Tapi rata-rata adalah saham komo, seperti batubara dan pelayaran di sektor migas. 

Saya ada beli CPIN, tp ketika labanya masih turun, saya CL krn PER dan PBV-nya jg sdh tinggi, selain itu marjin laba bersihnya tinggal 5%, tipis banget. Dan stelah saya CL, CPIN msh turun jauh jg, jadi saya masih terselamatkan dengan CL di CPIN kmrn. Skrg CPIN sdh di bawah MA 200 weekly.. Dan saya sedang nunggu ihsg turun agak banyak untuk buyback CPIN lagi..  :) (saya msh senang saham ayam krn potensi growthnya masih besar di masa depan). Saya juga masih punya LSIP dan ngga saya CL, krn saya lbh optimis thd saham CPO utk jgka panjang (dibandingkan coal). 

Nah, bgmn dgn TSPC? Waktu email itu dikirimkan ke saya, LK terakhir yang ada adalah LK Q3/2014 TSPC. 
Sekarang, LK Q1/2015 TSPC belum ada. Jadi saya pakai LK Q4/2014 TSPC.

Sebelumnya, TSPC ini buat saya lebih ke saham consumer ya.. Produk-produk yang dihasilkan oleh TSPC misalnya : Bodrex, Hemaviton, Neo Rheumacyl, Vidoran smart, Oskadon, My Baby, Zevit grow, Ultima II, Clinique, MAC, Revlon, Bobbi Brown, Marina.

Beberapa merk sudah familiar kan, bagi kita..?

Saya coba liat laporan tahunan TSPC 2014.

Ini data yang saya ambil :


1. Sales dari 2010 naik terus, hingga 2014.
    2010 : salesnya 5134. 
    2014 :  salesnya 7512. 
Kenaikan sales rata-rata 9,98%/thn dalam 4 thn terakhir (dihitung dengan CAGR kalkulator, bisa didownload di internet).

2. Laba usaha
    2010 : laba usaha 559
    2013 : laba usaha 758
    2014 : laba usaha 678
pertumbuhan laba usaha rata-rata 4,94%/thn selama 4 thn terakhir.
kalo dihitung dari 2010 ke 2013 (sebelum UMR dan BBM naik tinggi), laba usaha tumbuh rata-rata 10,68%/thn)

3. Laba bersih
    2010 : laba bersih 489
    2013 : laba bersih 635
    2014 : laba bersih 579
pertumbuhan laba bersih rata-rata 4,31%/thn selama 4 thn terakhir

4. Total ekuitas, naik terus dari 2010 hingga 2014
    2010 : total ekuitas 2644733
    2014 : total ekuitas 4132339
pertumbuhan total ekuitas rata-rata 11,8%/thn selama 4 thn terakhir



5. ROE 2010 : 8,24%
    ROE 2013 : 16,43%
    ROE 2014 : 14,02%

6. Marjin laba bersih 2010 = 9,52%
    Marjin laba bersih 2013 = 9,26%
    Marjin laba bersih 2014 = 7,71%


Karena laba TSPC di Q4/2014 masih turun, saya tulis Book Valuenya saja di sini.

Jumlah saham 2014 = 4.500.000.000 lembar
jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 4.086.748.740.271
Book Value = 4.086.748.740.271 : 4.500.000.000 = Rp 908,17

Sekarang harga TSPC = Rp 2070 ---> PBV = 2070 : 908,17 = 2,28x

Untuk saham consumer, dengan nilai ekuitas yang terus tumbuh rata-rata 11% dalam 4 thn terakhir, dan dgn produk yang dihasilkan memiliki brand yang cukup dikenal oleh masyarakat, saya pikir TSPC di harga 2070 ini sdh menarik untuk dibeli.

Cuma memang sahamnya ngga begitu likuid, jadi saya beli jg ngga bs banyak-banyak. Tapi saya sayang banget kalo melewatkan beli saham TSPC di PBV 2,28x. 

Highest TSPC = 4950. Harganya sudah turun 58% dari highest, tapi ekuitasnya terus naik.. 

MA 100 monthly TSPC ada di 1915. MA 100 monthly ini harga rata-rata TSPC selama 100 bulan terakhir lho, alias 8,3 tahun ini.. Padahal ekuitasnya terus tumbuh dalam 4 thn terakhir ini (saya hanya punya data dari thn 2010 saja, seperti yang ada di laporan tahunan 2014). Dan selama ini setau saya, TSPC selalu rajin bagi deviden..

Di candle monthly, lowest TSPC = 1955, dan itu lowest bulan lalu. Bulan ini, lowestnya 1990 (tapi candle monthly bulan ini belum valid krn belum memcapai akhir bulan). Mudah-mudahan 1955 ini adalah lowest TSPC di masa penurunannya. 


TSPC sedang dihukum oleh market krn labanya turun. Dan krn harganya sdh mendekati MA 100 monthly saya berharap hukumannya sdh akan mau selesei. Ya minimal resiko turunnya udah ngga banyak lagi.. Tapi seperti biasa, market will always win. Investor kaya saya gini ya cuma modal sabar aja kalo megang barang bagus dan harganya dibawa turun.. :)

Tapi memang, di saat ekonomi tumbuh dengan baik, TSPC ini kurang menarik krn growthnya mini banget. Cuma ya itu td, bila dia dijual hanya dgn PBV di 2,2x ; produknya dikenal baik oleh masyarakat, DER hanya 0,35x dan ekuitasnya terus tumbuh, apakah ini bukan kesempatan untuk beli..?

Disclaimer ya.. :)


Your money your responsibility.. :) 
Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri :)

Regards,
V3





Rabu, 06 Mei 2015

And I buy TLKM based on LK q1/2015..

Kemarin krn LK Q1/2015 banyak yang jelek2, saya banyak jual saham yang saya punya. Akhirnya saya punya cash sampai 30%. Buat saya, pegang cash 30% itu bikin puyeng. Karena saya biasanya cuma mau pegang cash 15%. Akhirnya saya harus belanja lagi. Liat-liat lagi LK, terus saya putuskan masuk TLKM..

TLKM.... ini saham paling saya jauhin dulu2, krn growthnya kecil. 
Raksasa yang lambat, menurut saya. 
Tapi skrg, di masa lg ekonomi sulit bgini, si raksasa ini malah tetep bisa tumbuh. 
Salesnya naik 11%. Laba usaha naik 7%. EPS naik 5%. 
ROE 21%. DER 0,61x. Arus kas operasi positif dan lebih besar daripada laba usahanya. 
Jadi raksasa ini selain gede, dia juga sehat banget. 
So, saya putuskan untuk naruh uang saya di sini, di jaman ekonomi lg kaya skrg..

Saya beli di 2750, dan ini tentu aja cuma separuh porsi dulu, seperti saya beli LPCK kmrn. Saya ngga suka beli saham sekali tembak. Karena kalo saya abis beli, biasanya dibawa turun dulu.. :))))) 

Di 2750, PER TLKM 17,7x ; PBV 3,87x ; Yield 5,47%. 
Ini harga yang ngga begitu murah memang. 
Apalagi valuasi dgn metode yang saya pakai, dapatnya di 2060, dan seperti biasa, metode ini hampir selalu menghasilkan valuasi yang overvalued untuk TLKM.
Tapi saya ingat omongan warren buffet : beli saham bagus di harga wajar itu jauh lebih bagus daripada beli saham jelek di harga diskon gede (nyari dukungan mental ceritanya, hehe). Dan TLKM ini saham bagus menurut saya.

Jadi saya pakai patokan chart aja untuk belinya. 
Chart weekly, TLKM skrg sudah menembus ke atas MA 60 weekly. 
Chart monthly, TLKM skrg sedikit di atas MA 20 monthly. 
Chart daily, TLKM masih di bawah MA 200 daily.
Jadi saya pikir, it's ok lah, masih di bawah MA 200 daily.. :) 

Dan saya masih nunggu di 2500 (MA 100 weekly), untuk average down.. 
Disamperin ngga ya..? :)))

Ok, ini aja sedikit update ttg porto saya. Oya, blog ini saya pakai jg sbg diary saya dlm belanja saham lho. Minimal saya ada catatan yang bisa buat bahan saya belajar, kenapa saya beli atau jual suatu saham. 
Memang ngga smua saya tulis di sini. 
Tapi untuk kasus2 di mana saya CL gede atau cuan gede, saya selalu abadikan di sini.. :))))
Syukur2 kalo bermanfaat jg buat yang lain.. :)

Saham2 yang saya bahas di sini, juga hanya yang menarik utk saya tulis. 
Dan ga ada afiliasi dengan bandar sama skali. 
Yang ada malah saya yang sering jadi korban bandar.. hehe..

Kalo bbrp bulan kmrn saya hobi beli saham yang downtrend dgn laba yang lagi turun, mulai Q1/2015 keluar, beneran deh, saya lgsg banting setir. 
Saya skrg cuma mau beli saham yang labanya naik aja. Dan sales juga naik. 
Terus ROE kalo bisa 15%, paling jelek 12%. 
Margin laba minimal 10%. 
DER maksimal 1,5x. 
Dan harus saham yang likuid. Saya capek pegang saham ngga likuid, yang kalo mau jual harus nunggu sampai bidnya cukup, atau lgsg banting di harga bawah. 
Ngga lagi2 deh megang saham2 bgitu.. :)
Kalo syarat-syarat di atas ngga bs dipenuhi, ya tinggalin aja dulu sahamnya. 
Coba cari yang lain. 
Kalo ngga ada juga, ya sabar aja nunggu ada saham-saham bluechip yang lg dibanting.. :)

Selamat berinvestasi. Sperti biasa, rugi tanggung sendiri, ngga dpt barang jg tanggung sendiri yah.. :)



Regards,
V3




Kamis, 30 April 2015

Q1/2015, WINS RUGI!

WINS rugi bersih di Q1/2015..
jual sahamnya, jangan beli2 dulu..

Baru sekali ini saya beli saham , dan harus saya jual karena RUGI bersih. Bukan sekedar labanya turun lagi.

Pada saat saya beli WINS dgn LK Q3, labanya sudah turun 4,7%. Begitu Q4 keluar, labanya lgsg turun 22,8%. Mestinya, pada saat labanya turun makin dalam saya harus out. Karena kinerjanya semakin jelek. Tapi saya msh hold, krn PBV sdh di bawah 1x.

Sekarang di Q1/2015, dia udah rugi. Dan saya ngga mau pusing lg sama saham ini, jadi saya CL smua. Rugi 30%. Ini pelajaran buat saya. Sebaiknya memang hanya beli dan simpan saham yang labanya naik aja. Karena investasi saham ini sudah beresiko, jadi sebaiknya kita minimasi sendiri resiko yang bs kita hadapi.

Rgds,
V3


SMGR Q1/2015

Kemarin sempet bikin tulisan ttg "SMGR, how low can you go?" sekarang tulisannya udah ngga berlaku lagi ya.. Juga hitungannya.. 

Karena kmrn waktu dibikin, SMGR itu masih naik labanya. Ini di Q1 labanya turun.. Jadi pasti bakal dibanting SMGR-nya, bikin new low.. 

Modal SMGR saya Rp 12.975, dan itu dibeli di thn 2013. Sekarang harganya Rp 12475. Nyangkut deh.. :(
Dan selama saya ngga bisa jual untung, saya mending hold aja saham ini. 
Sekarang harganya udah di bawah MA 200 weekly lho. Di chart saya, MA ini cm ditembus waktu crash 2008 aja..

Buat yang belum punya dan mau beli, pake aja patokan Book Value SMGR. 
Skrg BV-nya Rp 4279,23. Di harga 12475, berarti PBV SMGR sekarang = 2,91x.
Kalo liat data di etrading, PBV SMGR paling kecil itu 3,7x. Makanya saya tetep ngga mau jual SMGR di harga sekarang ini, walaupun labanya udah turun. 
Biarin aja jadi investor nyangkut, toh ngga cuma sekali ini aja.. :D

Oya, PTBA saya jg sdh saya jual. Karena support di chart saya udah dijebol. Jadi dengan chart monthly-pun, PTBA udah jebol garis uptrendnya. Dan di Q1, labanya masih turun. Jadi saya bersihin aja sekalian dari portofolio saya. Lebih baik pegang cash dan nanti bisa mungutin bluechip yang jatuh2. 

Kalo ada yang nanya, yakin bakal jatuh lagi memangnya IHSG? saya ngga tau. Tapi biasanya gelombang turun itu ngga cuma sekali. Karena ini lagi gelombang turun, kalo di elliot wave, ada namanya wave A (utk turun pertama kali), terus ada wave B (untuk naik dulu) dan ada lagi wave C (untuk turun lagi). Setelah itu baru slesei deh penurunannya. Tinggal konsolidasi utk nanti siap2 naik lagi. Tapi ini semua kan teori ya.. Prakteknya lebih rumit drpd teorinya.. :)

Yang jelas, belajar dr penurunan di 2013, saya terselamatkan krn saya belanja nyicil2. Ihsg 4300, beli. Ihsg 4200, beli. Ihsg 4100, beli. Ihsg 4000, beli. Dan di ihsg 4000, itu saya terakhir belanja. Jadi waktu ihsg terus turun ke 3800, saya ngga mau buka laptop, biar ngga stress.. Dan banyakin kegiatan di luar rumah, jadi ngga kepikiran saham terus.. :)))

Kok bisa, saya mulai belanja di ihsg 4300? karena waktu itu ada advice dr broker saya, dgn hitungan fundamental dia, beli di 4300 sdh murah. Dan dia bilang, sepertinya koreksi ngga lebih dr ihsg 4000. Jadi saya ikutin aja.. :) Dan ternyata ya kebablas jg sampai 3800.. 
Tapi sekarang, stelah 2 thn berlalu, keliatan banget beli di ihsg 4000 itu jg udah murah banget.. :)) pdhl waktu itu kan takutnya utk beli juga luar biasa. Takut ihsg turun ke 2800. Ada jg soalnya analis yang bilang ihsg akan ke sana .. :))))

So, ngga ada yang pasti di dunia saham. Yang pasti itu : beli saham perusahaan yang sedang mengalami rugi, biasanya akan menciutkan uang kita. Dan beli saham perusahaan yang labanya tumbuh, biasanya akan mengembangkan uang kita jg. Dan jgn beli saham dr perusahaan yang manajemennya aneh2, itu ibarat kita nyerahin duit utk dirampok garong.. :) 

Ok, ini aja tulisan saya. Saya ngga bisa nulis analisa banyak2 ttg SMGR (lagian labanya jg turun, ga perlu dianalisa banyak2 lah, hehe..), soalnya LK2 udah banyak yang keluar.
Tapi mudah-mudahan sharing tentang pengalaman saya waktu koreksi tajam di 2013 kemarin, bisa menenangkan bagi investor pemula. Bila kalian pikir kalian galau dan ngga tau harus bagaimana, you are not alone. Saya juga ngga tau IHSG mau ke mana. semua cuma kira2 aja. Yang harus kita pegang itu data di LK aja. 
Jadi kalau ngga tau bagaimana cara membaca LK, harus belajar ya.. Ngga susah kok, semua bisa dipelajari. Dan ilmunya ya itu2 aja, kaya nyetir mobil. Makin tinggi jam terbang, makin pinter nyetir. Di sini saya udah kasih guide bagaimana cara membaca LK yang simpel. Ngga perlu ikut kursus mahal2, cukup belajar dr tulisan saya dan banyak latihan, nanti lama2 pasti bisa. Apa yang saya tulis itu udah rangkuman dari saya ikut kursus saham di sana sini, baca buku ini itu, nanya2 ke sana sini, dan akumulasi cut loss saya di pasar saham, jd nilainya ngga terkira.. :)))) 

Dan uniknya di saham, brp keuntungan kita, ngga selalu tergantung pd jam terbang kita. Semua tergantung rejeki masing2 dari Tuhan.. :) Yang senior, belum tentu cuannya lebih kecil dari yang junior. Ngga percaya? nanti buktiin sendiri deh omongan saya.. :)

Selamat belajar dan jangan ikutan panic selling yahh.. :)

Regards,
V3




LK Q1/2015, LPCK..

LK Q1/2015 LPCK bagus ya.. sampe gemes saya ngeliatnya, dan ngga bisa nahan untuk ngga beli, walaupun siapa tau kalo sabar nanti bisa beli lebih murah lagi.. :) Tapi memang pada dasarnya, saya kalo udah pengen beli 1 saham, ya lgsg beli aja kalo secara valuasi udah cukup murah menurut saya.

Di masa banyak emiten pd menciut laba dan salesnya, LPCK ini tetep tumbuh besar aja.. Cuma sayangnya, dia ngga pernah bagi deviden. Jadi enakan ditradingin aja.. bgtu udah naik banyak, jual.. :)

LK Q1/2015 LPCK (saya ngga tulis angka2 detilnya, silakan lgsg liat di LKnya aja)

1. Pendapatan naik = 9,6%
2. Laba usaha naik = 20,7%
3. Laba berjalan naik = 20,84%
4. marjin laba usaha = 52,99%
5. marjin laba bersih = 53,08%
6. ROE = 37,44%
7. DER = 0,58x
8. Book Value = Rp 4221,61
9. EPS = Rp 395,15 ---> growth = 20,84%
10. arus kas operasi positif tapi lebih kecil daripada laba usaha
11. asset lancar > liabilitas jangka pendek

@ 12000, PER = 7,54x  ;  PBV = 2,82x  ; Yield = 13,28%
valuasi = Rp 23.976 ---> MOS = 49,95%

Saat ini saya punya BSDE, CTRS, LPCK dan PWON dalam keranjang saham properti. PWON Q1 sdh keluar, dan labanya turun karena banyak rugi kurs. MOdal average saya di PWON itu 508, jadi skrg posisinya ya sdh floating loss. Mungkin kalo bs jual dekat harga beli saya, akan saya jual dulu, dan buybacknya nanti, ketika ihsg turun lg. Krn PWON ini prospeknya masih bagus, dan recurring incomenya mencapai 50% lebih..

Ok, skian dulu ttg LPCK. Your money your responsibility, ya.. :) ngga dapat barang atau malah nyangkut dalam, ya resiko sendiri.. :)

Oya, kalo di chart weekly, ada peluang LPCK koreksi sampai ke MA 60 weekly alias di 9222 (per tgl 30 apr ini). MA 200 daily ada di 9700. Apa akan ke sana? ngga tau juga. Yang penting tau resikonya, ya.. :)


Regards,
V3



Rabu, 29 April 2015

IHSG 5021..

IHSG skrg 5021.. udah turun 9,1% dari highest di 5524.

Udah murah? Belum tentu..

Kalo patokan pake IHSG weekly, MA 100 weekly ada di 4861. Dan kondisi murah banget itu kalo IHSG sudah di bawah MA 100 weekly, dan GDP ( = PDB = produk domestik bruto) Indonesia kuartal 1 (PDB Q1) masih tumbuh.. apalagi kalo BI rate diturunin.. 

Kalo nanti PDB Q1 ternyata ngga tumbuh, alias PDB turun, berarti bisa jadi turunnya akan jauh lebih dalam lg drpd 4861..

Saya di waktu posting kapan itu, kayanya pernah nulis ya, kalo dr 2013, ihsg belum pernah koreksi dalam lg. Jadi memang koreksi ini normal terjadi dalam bursa saham. Kebetulan kali ini triggernya ya LK Q1/2015 yang banyak jelek2..

Sejak saya berinvestasi saham di 2008, baru sekali ini saya liat LK perusahaan ambruk bareng2. Dan ambruknya juga ngga kira2. Laba turun 40%, 80%.. Dan ini agak menyeramkan, krn perusahaan2 dengan fundamental bagus pun jg ikut turun labanya. Beberapa LK Q1 msh ada jg yang belum keluar. AISA, INDF, ICBP, CPIN, BBRI dan nyaris smua emiten properti dan konstruksi..  Jadi skrg ihsg turun saya jg bingung, mau beli apa lg... :( 

Tapi saya yakin turunnya ini msh belum sampai di sini. Kalo di 5000 rebound, itu wajar. Tapi rebound ke berapa, kita ngga tau. Dan abis itu turun lagi. Jadi skrg saya simpan cash dulu aja. Andaikan ada saham yang menarik, mending dimasukin list dulu, nunggu ihsg di bawah MA 100 weekly.. Kalo ada yang nanya, "emang bakal ke bawah MA 100 weekly?" Jujur saya jawab, saya jg ngga tau. Tapi biasanya kalo ihsg koreksi dalam, MA 100 weekly ini ditembus. Dan skrg dia ada di 4861. Kalo saya tarik trendline di chart monthly, saya ketemu angka 4700. Jadi ada potensi ihsg turun sampai 4700. Tapi ini jg belum tentu bener. 

Posisi cash saya lumayan banyak, 22%. Tadi saya abis jual semua UNTR yg saya beli di november dan desember 2014. Jual untung alhamdulillah, bukan CL lagi.. 
UNTR saya jual krn salesnya msh turun, wlpn labanya naik tipis. Tapi bukan laba usaha, melainkan laba bersih.. Uangnya saya pakai nambah ROTI lagi.

Di masa ihsg lg berdarah-darah begini, jangan gampang jual saham ya. Jual boleh, asal lgsg dibelikan saham yang lbh bagus. Tp kalo bingung, mending diem aja dan tutup laptop. Dan jangan jual saham bagus di harga murah, nyeselnya nanti belakangan..

Ok, ini aja tulisan saya ya. Kita tunggu sama2 LK yang belum keluar dan juga data GDP Q1/2015 Indonesia. 

Regards, V3



Selasa, 28 April 2015

Member baru di portfolio saya : ROTI

Ini saham udah lama saya incer.. tapi kok harganya mahal terus..

Baru hari ini dia bs masuk ke keranjang investasi saya.. :)

ROTI, produsen roti merek SARI ROTI, yang suka kita temukan produknya di Indomart atau Alfamart. Di Q1/2015, ROTI masih ,mencetak pertumbuhan sales dan laba. Secara PBV, saham ini masih di atas 5x. PER skitar 20x. ROE 26%. 

DER 1,65x, dan ini di luar kriteria saya thd saham investasi yang ideal. Tapi gpp lah, soalnya kadang memang susah menemukan saham yang sesuai sama kriteria ideal saya sepenuhnya. Sometimes saya mesti melakukan bbrp penyesuaian atau pelonggaran, biar nyari sahamnya jg ngga ribet2 banget jdnya.. :)

Ok, ini review singkat ttg LK Q1/2015 ROTI..


A. NERACA

1. Current assets = 1.006.028.401.420
2. Jumlah liabilitas jangka pendek = 326.484.459.493
3. modal kerja = 679.543.941.900
4. jumlah utang = 1.691.281.168.322
5. jumlah saham = 5.061.800.000 lembar
6. jumlah ekuitas = 1.027.240.004.043
7. Book Value = 1.027.240.004.043 : 5.061.800.000 = Rp 202,93
8. jumlah asset = 2.718.521.172.365
9. DER = 1.691.281.168.322 : 1.027.240.004.043 = 1,65x


B. LAPORAN LABA RUGI

1. Penjualan netto = 518.864.868.682 ---> growth = 11,7%
2. Laba usaha = 107.204.130.015 ---> growth = 27,94%
3. Laba tahun berjalan = 67.117.649.299 ---> growth = 9,58%
4. EPS = Rp 13,26 ---> growth = 9,59%
5. ROE = ( 67.117.649.299 x 4 ) : 1.027.240.004.043 = 26,13%
6. Margin laba usaha = 107.204.130.015 : 518.864.868.682 = 20,66%
7. Margin laba bersih = 67.117.649.299 : 518.864.868.682 = 12,94%


C. Laporan Arus Kas

1. arus kas operasi = 132.734.992.845 ---> arus kas operasi lebih besar daripada laba usaha, artinya secara operasional, ROTI sangat sehat.

2. capex = 23.981.139.920 ---> growth = minus 89,55%

3. kas = 740.666.627.780



D. VALUASI

@ 1090, PER = 1090 : ( 4 x 13,26) = 20,55x
             PBV = 1090 : 202,93 = 5,37%
             Yield = ROE : PBV = 4,86%
              Valuasi = Rp 734 ---> MOS = minus 48,5%

Dengan metode valuasi ini, ROTI memberikan MOS yang negatif. Dan metode valuasi ini memang sering memberikan MOS yang negatif untuk saham2 dengan PER yang tinggi ( di atas 20x). Tapi menurut saya, ROTI menarik untuk saya mulai beli karena kinerjanya masih positif, pdhl LK di Q1 ini banyak yang turun labanya, kecuali saham consumer dan bank. Dan di antara saham consumer yang labanya sdh keluar (saya belum liat LK ICBP dan AISA), saya tertarik dgn UNVR dan ROTI. Tapi UNVR sudah terlalu mahal. ROTI di PER 20x dengan ROE 26%, PBV 5,37x dan ada growth, bagi saya sdh cukup menarik. Selain itu, harganya sdh turun 41% dari highestnya di 1860.

Secara TA, ROTI sekarang berada tepat di garis MA 200 weekly, dan sdh di bawah MA 200 daily. Jadi tadi saya nyicil beli di 1070 dan 1080. Saya msh nyisain cash lumayan banyak utk belanja lg, siapa tau IHSG turun dalam lagi di bulan Mei nanti.. :)

Ok, ini tulisan saya ttg ROTI. Good luck yah.. :)

Regards,
V3