Kamis, 19 November 2020

MPMX dan PANS

 MPMX dan PANS, di LK Q3/2020 masih mencatatkan rugi, tapi ruginya semakin mengecil di Q3 dibandingkan Q2/2020.

Biasanya saya ngga mau beli saham yang masih merugi. Tapi untuk 2 saham ini pengecualian. Kenapa? karena mereka adalah saham yang royal bagi deviden, selain itu ruginya smakin mengecil di Q3 ini. Jadi saya melihat kesempatan ini sebagai moment utk memasukkan kedua saham ini ke dalam keranjang saham deviden yang saya miliki.

Saya jabarkan sekilas tentang di mana undervaluednya kedua saham ini shingga menarik dibeli. 


MPMX. 

Nett value per share = Rp 856.

Cara menghitungnya  = (total ekuitas - total liabilitas) : jumlah saham beredar

Book value per share = Rp 1430

Cara menghitungnya : jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah saham beredar

Harga MPMX = Rp 400, jadi masih jauh di bawah nilai nett value per share dan jg book value per sharenya.

Saya punya keyakinan, MPMX akan bisa kembali lagi ke harga Rp 800, mendekati nett valuenya. Alias masih ada upside 100% dr harga sekarang, mudah-mudahan bisa tercapai dalam waktu setahun ini. 


PANS

Book value per share = Rp 1629.

PANS msh mencetak rugi di LK Q3-nya. Tapi, ada yang menarik dari laporan arus kas operasinya. Bila kita liat arus kas operasi, PANS menghasilkan arus kas operasi yang tinggi, malah jauh lebih baik daripada di LK Q3/2019.

Arus kas operasi per share = Rp 748,66 (cara menghitungnya = arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi : jumlah saham beredar).

Bila arus kas operasi ini disetahunkan, maka kita akan mendapatkan arus kas operasi PANS yang disetahunkan per share = Rp 748,66 x 4/3 = Rp 998,21, alias lebih besar daripada harganya sekarang, yaitu Rp 850.

Dengan keyakinan bahwa Q4/2020 akan lbh bagus drpd Q3/2020, maka saya putuskan beli PANS skrg. Harapannya semoga PANS di thn 2021 akan tetap memberikan deviden, krn emiten ini selalu bagi deviden dalam 10 thn terakhir.. :)


Ok, itu aja sharing saya ttg saham undervalued yang LKnya masih merugi.

Rugi tanggung sendiri ya, saya cm sharing analisa aja :) 

Selamat berinvestasi saham, semoga saham2 yang kita beli akan memberikan hasil yang bagus di tahun2 ke depan. Aamiin.. :)


Warm regards,

V3


Ini saya mau tambahkan 1 saham lagi yang msh undervalued menurut saya based on LK Q3/2020nya. 



MDKI

Nett value per share = Rp 302

Book value per share = Rp 327

Expected devidend yield thn 2021 = skitar 7,8% (karena dari pembagian deviden di thn 2020 ini, MDKI memberikan 70% laba sbg deviden).

Harganya sekarang = Rp 150, masih jauh dr nett value dan juga book valuenya. 

Jadi upside masih lumayan tinggi, plus bs dpt deviden skitar 7% bila kita hold sampai pembagian deviden.

Disclaimer on ya. Rugi tanggung sndiri .. )

Jumat, 25 September 2020

Seberapa undervalued BMTR sehingga LKH mau beli sahamnya?

 Kemarin2 di media massa, sibuk membahas tentang LKH yang beli BMTR. Karena rumor itu juga, saya jd ikut buka LK q2/2020 BMTR, utk cari tau, kira2 di mana menariknya saham ini. Tapi stelah beritanya keluar, harga BMTR naik trs, sehingga saya ngga mau bahas di sini.

Hari ini, stelah BMTR turun cukup dalam dr 358 ke 202, barulah saya minat nulis ttg undervaluednya BMTR versi saya. 

Btw, krn buka LK q2/2020 BMTR dan MNCN, saya jd tertarik dan beli saham mrk. Saya punya BMTR di 218 dan MNCN di avg 854, rencana msh minat utk avg down, kalo nanti sahamnya turun lagi :)

Jadi, selain ngejar deviden sbg pasif income, ada maksimal 10% portfolio saya yang saya beli dgn tujuan mengejar capital gain, alias bukan utk invest long term. Tapi saya akan jual bila sdh cuan minimal 100% di saham2 ini, jd asli memang mengejar capital gain tujuannya :)

Saat ini ada INKP, BMTR, MNCN, JRPT dan WEGE di sana (porsi paling kecil di wege krn arus kas operasinya masih negatif).

Kita cb bahas BMTR ya. Sekarang harga BMTR = Rp 214.

Nett value BMTR = Rp 503,77/lembar saham

cara menghitungnya = (jumlah ekuitas total BMTR - jumlah total liabilitasnya) : jumlah semua saham yang beredar


Book valuenya = Rp 743,84

cara menghitungnya = total ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah saham beredar

Di harga Rp 214, PBV = 214/743,84 = 0,29


EPS Q2/2020 BMTR = Rp 38,71, sehingga EPS annualized BMTR 2020 = 2 x Rp 38,71 = Rp 77,42

PER annualized BMTR di harga 214 = Rp 214 : Rp 77,42 = 2,76 ---> PER sangat menarik


Yang lebih membuat PER ini menarik adalah : pertumbuhan laba BMTR q2/2020 thd q1/2020 = 293,4% (data saya dapat dr HOTS). jadi selain harganya murah bgt, labanya jg sedang meningkat pesat. Begitu jg dengan MNCN :)


Arus kas operasi/lembar = Rp 98,05 ---> estimasi arus kas operasi thn 2020 BMTR = 2 x Rp 98,05 = Rp 196,1

Alias, bila kita beli di harga Rp 218, dalam waktu setahun lebih, modal kita sdh kembali dalam bentuk arus kas operasi yang dihasilkan oleh BMTR..


Jadi, krn data2 di ataslah akhirnya saya jg ikut membeli BMTR, wlpn dengan harga yang lebih mahal drpd LKH (saya baca, modal avg LKH di BMTR = Rp 200/lembar). 


Disclaimer on. Bukan ajakan membeli. Resiko rugi, tanggung sendiri :)


Warm Regards,

V3





Kamis, 24 September 2020

Bagaimana caranya mengharapkan deviden saham sebagai pasif income?

 Menyambung posting sebelumnya, ada yang menanyakan kepada saya, bagaimana caranya bisa mengharapkan pasif income dr deviden saham?

Saya jawab, pertama : harus cari dulu sektornya yang growing, yang bs dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Tentu saja saham komoditas ngga masuk di sini ya. Saham komoditas cuma bs diandalkan untuk swing trading, atau invest semi long term, misalnya jual dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Itu pun belinya harus di saat kita tau bahwa harga komoditasnya sdh di bottom, jangan di peak.

Selain itu, cari perusahaan yang arus kas operasinya bagus, kalo bisa arus kas operasi jauh lebih besar daripada laba bersih, jd kita yakin bahwa perusahaan ini bisa make money, make real money.. 

Terakhir, cari perusahaan yang rajin bagi deviden, setiap thn selalu bagi deviden. Atau kalo dia dulu ngga rajin bagi deviden (mungkin krn kinerjanya belum stabil), sekarang2 ini dia sdh mulai rajin bagi deviden.


Waktu itu saya sdh pernah bikin simulasi deviden yang bs diberikan oleh bbrp saham. Ini saya mau tuliskan lagi simulasi deviden dari saham BJTM. 

Sekarang harga BJTM = Rp 505.

EPS Q2/2020 BJTM = Rp 51

Eps annualized 2020 BJTM = 2 x Rp 51 = Rp 102

Devidend payout ratio BJTM thn 2020 = 57%

Estimasi deviden BJTM thn 2021 = 0,57 x Rp 102 = Rp 58,14

Pertumbuhan laba BJTM 5 thn terakhir = rata-rata 7,96%/thn (ini sudah jauh lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sekitar 5%/thn selama 5 thn terakhir).

Jadi, asumsi kita, laba BJTM akan tumbuh 7,96%/thn selama 10 thn ke depan.





Dari hitungan di tabel atas, terlihat bahwa thn 2021, devidend yield yang kita dapatkan dr saham BJTM kita = Rp 53,02 : Rp 505 = 10,5%.

Nilai devidend yield kita akan terus naik, hingga di thn 2032, kita akan mendapatkan devidend yield sebesar 29,95% dari saham BJTM yang kita beli di harga Rp 505 thn 2020.

Untuk saya, bs dapat devidend yield 20%/thn sdh bagus banget, krn tanpa kerja keras pun uang trs masuk ke rekening kita dgn return 20%/thn. Ini belum lg kenaikan nilai dr capital gain. 

That's why, dalam krisis kali ini, saya mulai bikin pondasi portfolio yang bs saya andalkan devidennya sbg pasif income saya di masa pensiun nanti.. 

Tiap bulan, saya akan trs menambah lot-lot ke income stocks yang saya punya, mana yang lg koreksi dan masih murah, itu yang saya beli. Kalo harga saham lg pd naik dan terasa mahal , uangnya simpen dulu. Biasanya, dalam keadaan bursa yang normal, kita punya bulan agustus-oktober untuk belanja saham diskon. Jadi kumpulin aja uangnya utk belanja di bulan2 itu :)


Ok, ini aja sharing dari saya.

Selamat berinvestasi saham. Semoga saham kita semua akan memberikan hasil yang bagus di masa depan. Aamiin.. 


Warm regards, 

V3



Rabu, 23 September 2020

Beberapa saham yang bagus untuk mendapatkan pasif income dr deviden

 Dari beberapa saham yang saya miliki, ada beberapa saham yang saya pikir bisa cukup diandalkan untuk mendapatkan pasif income dr deviden. 

Kriterianya : sektornya growing, rajin bagi deviden, dan kalo bisa deviden yieldnya sdh di atas bunga deposito.

Ini beberapa saham pilihan saya :


1. BJTM dan BJBR 

Dua-duanya adalah bank pemda jawa timur dan pemda jawa barat. Mayoritas nasabahnya adalah ASN kedua provinsi tsb, sehingga profil resikonya bs lebih terukur. Selain itu, kedua bank ini sudah pasti akan memberikan deviden, krn devidennya diharapkan sebagai salah satu sumber APBD kedua propinsi tsb.

Bank pemda ini ibarat duitnya muter di situ2 aja. Dapat tabungan dr ASN, pinjaman diberikan kepada ASN, devidennya sbg salah satu sumber APBD, di mana nanti uang deviden bisa jadi akan masuk kembali ke bank tsb sbg salah satu sumber pendanaan. Dan ini yang membuat investasi di sini jauh lebih menarik buat saya, drpd di bank BUMN buku 4. Selain itu, PER-nya masih di bawah 6x, pbv jg msh di bawah 1x, shingga deviden yieldnya besar. 


BJTM, based on LK Q2/2020, sekarang di harga Rp 510, PER = 4,97. Bila devidend payout ratio thn dpn sama dengan thn ini, maka estimasi devidend yield utk BJTM thn 2021 (dengan LK full year 2020) = 12,96% . 

BJBR, based on LK Q2/2020, sekarang harganya Rp 880, PER = 5,36. Bila devidend payout ratio thn dpn sama dengan thn ini, maka estimasi devidend yield utk BJBR thn 2021 = 11,45%.


2. RANC, sdh dijelaskan di posting sebelumnya. Silakan dibaca ya :) Di harga Rp 400, bila devidend payout ratio thn depan sama dengan thn ini, maka estimasi devidend yield thn 2021 = 13,4%


3. TLKM. Saham telkom lagi trs dibuang buang skrg, tp malah membuat saya cicil beli di saham ini. Telkom thn ini membagi 90% laba sbg deviden. Bila devidend payout ratio thn depan sama dengan thn ini, maka telkom di harga Rp 2750, bisa memberikan devidend yield 7,26% thn depan. Ini nilai devidend yield yang sangat besar utk emiten sekelas tlkm. Seingat saya, sejak 2010, saya belum pernah menemukan devidend yield TLKM sebesar ini.


4. POWR. Ini termasuk saham infrastruktur yang lagi dibanting. Prospeknya ke depan jg bagus, krn dia penyedia listrik bagi kawasan industri cikarang. Selama kawasan industrinya jalan trs, tentu akan trs butuh listrik. Di harga Rp 580, PER-nya 9x , PBV 0,9. Estimasi devidend yield thn depan skitar 9,6%, dengan devidend payout ratio yang sama dgn thn ini.


Ada beberapa saham lagi, yang bs buat pasif income dr devidend. Tapi 4 itu yang saya anggap paling menarik, dan msh cukup likuid sahamnya. 


Bagaimana cara menghitung estimasi devidend yield thn depan?

Pertama, kita cari tau, berapa kira2 devidend payout ratio (DPR)  thn depan. Caranya bs dgn melihat rata2 DPR bbrp thn terakhir. Tapi krn saya cukup malas melakukan itu, saya hanya memakai angka DPR thn 2020 aja (jadi patokan labanya adalah laba full year 2019).

Setelah itu, kita hitung, berapa kira2 EPS full year emiten thn 2020. Krn yg kita punya adalah LK q2/2020, maka saya hanya menggunakan data EPS q2/2020 x 2. 

Terakhir, kita bs hitung devidend yield thn depan dgn menggunakan data estimasi EPS yang kita punya.


Misalnya, saham TLKM.

EPS q2/2020 = Rp 110. Estimasi EPS full year 2020 TLKM = 2 x Rp 110 = Rp 220.

DPR tlkm thn ini = 90%. Estimasi deviden tlkm thn depan = 0,9 x Rp 220 = Rp 198

Harga TLKM skrg = Rp 2750. Estimasi devidend yield tlkm thn dpn = 198 : 2750 = 7,2%


Cukup simpel kan. Walaupun hasil ini jg belum tentu pasti benar, karena :

1). Kita menggunakan data estimasi EPS full year 2020. Angka aktualnya nanti bisa saja berbeda.

2). Kita menggunakan asumsi DPR sama dengan thn ini. Angka DPR thn depan bisa saja berbeda.


Tapi ya memang beginilah investasi saham. Semua hitungan, semua analisa, semua prediksi, bisa aja salah. Tapi selama kita pegang saham yang jelas, sektornya growing, emiten rajin kasih deviden, belinya ngga terlalu kemahalan, pd akhirnya semua akan jadi investasi yang baik , seiring dengan berjalannya waktu.. :)


Selamat berinvestasi saham. Semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang baik di masa depan. Aamiin.. :)


Warm regards,

V3








Kamis, 13 Agustus 2020

HRUM, saham coal yang murah..

 Untuk saham coal, di LK Q2/2020 ini saya tertarik dengan MBAP dan HRUM. Sebenarnya saya punya 4 saham coal saat ini di portfolio: PTBA, MBAP, ITMG dan HRUM. Tapi yang ingin  saya bahas di sini adalah HRUM. 

Saham HRUM menarik, karena nett value per share-nya = Rp 1931, padahal harganya di market sekarang = Rp 1400.

Nett value per share ini ibarat bila perusahaan melunasi semua utangnya dan kemudian sisa ekuitas yang ada dibagikan ke seluruh pemegang saham, maka tiap lembar saham akan mendapat Rp 1931. 

Cara menghitung nett value per share = (total ekuitas - total liabilitas) : jumlah saham yang beredar = (419.890.722 -  46.797.587) : 2.703.620.000  x Rp 14.000 (kurs 1 usd) = Rp 1931.

Selain itu, dari laporan arus kas, kita bisa lihat posisi kas/ share sekarang adalah = jumlah kas dan setara kas pada akhir periode : jumlah saham yang beredar = (236.290.155 : 2.703.620.000) x Rp 14.000 = Rp 1223.

Dengan kata lain, kalo kita beli saham HRUM sekarang di harga Rp 1400, ibarat kita dapat cash back Rp 1223, alias kita cuma keluar duit Rp 177 utk beli sahamnya :)

Kalo mau beli saham HRUM dengan nol rupiah, ya tunggu aja di bawah Rp 1223.. :)

Book Value per share HRUM sekarang = (jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah lembar saham yang beredar ) =  ( 332.614.637 : 2.703.620.000 ) x Rp 14.000 = Rp 1722.

DER =  (total liabilitas : total ekuitas) = 46.797.587 : 419.890.722 = 0,14 ---> utangnya sangat sedikit, sehingga resiko perusahaan bangkrut karena utang juga sangat kecil.


Jadi, di harga Rp 1400, HRUM masih termasuk murah banget karena :

1. Masih di bawah nett value per share

2. Masih di bawah book value per share

3. Cashnya sekitar 87% dari harga beli kita.


Disclaimer ya.. :)

Ini contoh analisa saham dengan sederhana, tp bs menemukan barang bagus dan murah. Untuk pertumbuhan pendapatan, laba, PER, PBV, devidend yield dll, silakan dilakukan sendiri2 ya.. :) 

Saya hanya ngasih pembelajaran bahwa saham juga bs disebut murah apabila sdh di bawah nett value-nya. Tentu saja tetap harus liat kinerja perusahaan, dan apakah perusahaan rajin bagi deviden atau ngga, jadi metode ini jangan dilakukan sbg patokan satu2nya dalam membeli saham.

Oya, karena ini adalah saham komoditas, maka seperti biasa, jangan utk investasi jangka panjang. Saya pribadi beli untuk saya jual 2-3 thn ke depan aja..:)

Sekarang di porto saya ada beberapa saham yang niatnya utk invest long term : RANC, POWR, BJBR ,BJTM, TLKM.

dan yang akan saya jual dlm waktu 2-3 thn ke depan : ASII, PTBA, MBAP, ITMG, HRUM

Portofolio yang untuk long term sekitar 70%, yang akan dijual dlm 2-3 thn ke depan sekitar 30%.

Masih ada beberapa saham yang saya incar beli. Nanti kalo saya sdh punya barang yang cukup, dan saya pikir menarik utk dishare, akan saya tulis di sini.

Ok, semoga tulisannya bisa bermanfaat. Selamat berinvestasi saham, semoga investasi saham kita akan memberikan hasil yang sangat baik di masa depan. Aamiin..


Warm regards,

V3



Rabu, 12 Agustus 2020

RANC, saham bagus untuk investasi long term..

 Dari LK Q2/2020 yang sudah saya baca, ada 2 saham yang saya anggap menarik untuk investasi long term, yaitu RANC (sekarang harganya = Rp 430)  dan POWR (sekarang harganya = Rp 630). Tapi saya hanya akan bahas ttg RANC di sini. Oya, blm smua LK saham saya baca, jadi so far ya baru nemu 2 saham ini aja yang bagus utk investasi jangka panjang.

Bagi yang tau Ranch Market dan Farmers Market, maka mestinya ngga asing dengan saham RANC. Saya sendiri baru memperhatikan saham ini belakangan, stelah LK Q2-nya keluar. Saya kagum-kagum dengan kinerjanya dan jg dengan harganya sekarang, yang menurut saya masih murah banget, makanya kemarin saya langsung beli, mulai dr harga RANC 436. Rencana sih kalo dia masih turun lg, saya akan trs average down, krn buat saya average down itu lebih menenangkan hati daripada average up.

Ok, kita coba liat apa yang menarik dr Lk Q2/2020nya, ya...


a. Pendapatan RANC naik 34,5% yoy (q2/2020 dibandingkan thd q2/2019)

  sales growth yoy = [ (1.603.617.882.534 : 1.192.129.048.701) - 1 ] x 100% = 34,5%


b. Laba brutonya naik 29,7% yoy , dengan gross profit margin = 26,5% (Gross Profit Margin = GPM = laba bruto : pendapatan)

laba bruto growth = [ (424.954.332.619 : 327.532.863.673) - 1 ] x 100% = 29,7%

GPM = 424.954.332.619 : 1.603.617.882.534 = 26,5%


c. Laba bersih = laba tahun berjalan naik 119% yoy , dan naik 131% qoq (q2/2020 dibandingkan dengan q1/2020), dengan nett profit margin = 3,32% (Nett Profit Margin = NPM = laba periode berjalan : pendapatan)

laba bersih growth yoy =[ ( 53.242.446.761 : 24.314.761.389) -1 ] x 100% = 119%

laba bersih growth qoq = [ (53.242.446.761 : 23.011.311.690) - 1] x 100% = 131%

NPM = 53.242.446.761 : 1.603.617.882.534 = 3,32%

NPM terlihat jauh lebih kecil daripada GPM, tapi memang wajar, utk perusahaan ritel seperti ini. Bila kita bandingkan dengan NPM perusahaan sejenis seperti AMRT (1,3%) , MIDI (1,59%) atau HERO (0,58% di q4/2019), NPM RANC jauh lebih besar..


d. Laba per lembar saham = Earning per share/ EPS = laba periode berjalan yang dapat       diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah saham yang beredar = (52.559.431.865  :1.564.487.500) = Rp 33,59


e. ROE annualized = return laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terhadap ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 18,51%

ROE  annualized=   ( 52.559.431.865 x 2 ) : 567.849.724.342 = 18,51%


f. Debt to Equity ratio (DER) = jumlah liabilitas : jumlah ekuitas = 729.019.358.760 : 572.094.862.056 = 1,27x

DER RANC di atas 1x. Sebenarnya saya lebih senang dengan saham yang DERnya di bawah 1x. Tapi ok lah,dengan kinerja yang cakep begini di masa covid, kita kesampingkan dulu DERnya selama masih di bawah 1,5x :) toh memang ngga ada saham yang sempurna....:)))))


g. Current Ratio (CR) = jumlah asset lancar : jumlah liabilitas jangka pendek = 703.426.477.421 : 484.951.374.488 = 1,45x ---> perusahaan mampu melunasi semua utangnya dalam jangka pendek karena current ratio > 1.


h. Penerimaan kas dari pelanggan (lihat di laporan arus kas) = 100,3% dari jumlah pendapatan ---> semua pendapatan bisa menghasilkan kas 100%


i. kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi (Cash From Operating activities / CFO) =  195.386.994.817 ---> growth yoy = 688%

CFO > laba bersih, artinya perusahaan sangat bagus operasionalnya.

Di masa covid bgini, saya utamakan hanya memegang saham2 yang arus kas operasinya positif (tapi saya masih hold BJBR yang arus kas operasinya negatif, sbg pengecualian), untuk meminimasi resiko investasi.


j. Kas per lembar saham = kas akhir periode : jumlah lembar saham yang beredar = 329.845.020.614 : 1.564.487.500 = Rp 210/lembar ---> ini ibarat kita beli RANC di harga Rp 430, dpt cashback = Rp 210. Jadi modal beli kita cuma Rp 220 aja.. 


k. Book Value per share = jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk : jumlah lembar saham yang beredar = 567.849.724.342 : 1.564.487.500 = Rp 362,96


Sekarang kita coba liat valuasinya.

@ Rp 430, PER = Harga : EPS annualized = Rp 430 : (2 x Rp 33,59) = 6,4x

                  PBV = Harga : book value per share = Rp 430 : Rp 362,96 = 1,18x 

                  PER x PBV = 7,55x ---> masih jauh di bawah 22,5, jadi masih sangat murah

   Estimasi deviden yield tahun 2021 (asumsi : laba yang dibagikan sama seperti pembagian deviden thn 2020, yaitu 80% laba dibagikan sebagai deviden) = [ (2 x Rp 33,59) x 80% ] : Rp 430 = 12,5%

Jadi, dengan membeli RANC di harga Rp 430, kita bs mengharapkan deviden yield = 12,5% di thn 2021, bila asumsi devidend payout ratio thn depan sama dengan thn 2020 ini.

Buat saya, devidend yield 12,5% utk saham RANC ini jelas sangat menarik, trutama bila melihat bidang operasinya adalah bidang  yang bisnisnya bs kita andalkan sbg investasi jangka panjang..

Ok, ini aja yang bs saya share kali ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi investor pemula untuk belajar menganalisa laporan keuangan perusahaan..

Oya, sebagai penutup, saya ingin berpesan kepada para investor pemula : manfaatkan crash di ihsg ini sebagai moment untuk berinvestasi saham jangka panjang di saham2 yang bagus dan rajin membagikan deviden. Siapa tau, moment ini hanya akan terulang lagi nanti stelah 10 thn lagi..

Hasil investasi yang baik sangat bergantung pada seberapa kuat kita bs menahan saham bagus yang kita punya di harga murah, selama mungkin..

Jangan tergoda jual hanya karena profit2 kecil yang recehan, dan kehilangan kesempatan untuk bs menikmati hasil investasi yang berlipat-lipat dr sekarang..

Mungkin utk saham2 yang kita beli sekarang,akan berkembang maksimal bila kita simpan setidaknya 3 thn ke depan. Tapi buat saya yang skrg mengejar deviden sbg pasif income, langkah terbaik adalah mengumpulkan saham2 yang bagus dan rajin bagi deviden sebanyak mungkin, utk bekal pensiun nanti.. :)

Selamat berinvestasi saham, semoga investasi saham kita semua akan memberikan hasil yang sangat bagus di masa depan. Aamiin..


Warm Regards,

V3


Update 8 mei 2021 : LK q1/2021 Ranc, labanya anjlok 80%, jd saya out dulu dr ranc, utk nanti buyback lg di harga bawah. Ini sekedar memaksimalkan return investasi. Tp buat yg punya di harga di bawah 400, sebaiknya hold aja, takutnya nanti ngga bs ke bawah 400 lg.


update 18 mei 2021 : skrg harga RANC Rp 630, sdh naik banyak sejak saya jual di avg Rp 500. Ranc ini betul2 menguji kesabaran saya. Pas kinerjanya bagus, harga stagnan. Tapi bgtu kinerjanya jelek, harga malah langsung naik tinggi. Saya agak jengkel krn ngga bs jual di harga yang lbh tinggi, tapi saya merasa dengan saya out dr saham ini ketika cash flow from operation sdh negatif (padahal selama ini selalu positif) dan manajemen memprediksi laba tahun ini menurun skitar 40% dibanding laba 2020, itu sdh merupakan keputusan terbaik yang bisa saya lakukan saat itu. Well, investasi saham ya memang seperti ini. Kadang apa yang kita pikirkan akan terjadi, bs bertolak belakang dengan yang terjadi di market. Kadang kita bisa cuan 25%, tapi kita tetap merasa sedih krn mestinya kita bs cuan jauh lbh besar daripada itu, padahal di saat lain, teman kita mungkin malah rugi... :)

Hasil investasi saya di RANC bisa saya bilang sangat jelek, dr beli sampai jual smua cuma bs dpt profit 15%, padahal RANC ini porsinya sempat paling banyak di portfolio saya saat itu. Tapi ya sdh, saya anggap ini sbg bagian dr perjalanan investasi saya di saham. Mungkin saya akan masuk lagi ke saham ini nanti, bila sdh dapat harga menarik. Tapi yang jelas, porsi masuknya ngga akan sebanyak dulu lagi, krn terlalu banyak di saham ngga likuid, terus terang mmg sangat mempengaruhi emosi kita dalam memegang sahamnya...


Rabu, 24 Juni 2020

Simulasi pemasukan dari deviden beberapa saham

Dari kemarin saya sibuk utak utik simulasi, kira2 berapa deviden yang akan saya dapatkan bila saya buy and hold suatu saham.
Saya coba share yang BJBR, SIDO dan PTBA di sini ya, siapa tau bisa bermanfaat infonya, dan bisa dilakukan perhitungan sendiri untuk saham2 yang lain.

Asumsi yang saya gunakan :

1. Modal yang digunakan untuk membeli saham adalah sama, semua sebesar Rp 10.000.000

2. Devidend Payout Ratio yang dipakai menggunakan DPR dr tahun terakhir aja (2020). 

3. Harga pembelian adalah harga closing saham per tanggal 23 Juni 2020

4. Semua deviden thn depan saya turunkan 10% dibanding thn ini, utk prepare for the worst condition, dan untuk tahun selanjutnya, dibuat naik flat 10%/thn utk semua saham.

5. Untuk saham komoditas, holding periode maksimal hanya 3 tahun, krn harga coal ada siklus naik turun yang cukup besar fluktuasinya.

6. Semua perhitungan deviden dimulai dr tahun 2021 dan berakhir di thn 2031 (kecuali utk PTBA).




A. Saham BJBR
Harga pembelian = Rp 770
Lot yang dibeli = 130 lot

Deviden 2021 = Rp 84,6 * 130 * 100 = Rp 1.099.800 (turun 10% dari deviden yang dibagikan di tahun 2020, anggap sbg efek covid)
Deviden 2022 = Rp 1.209.780 (naik 10% dr deviden 2020)
Deviden 2023 = Rp 1.330.750
Deviden 2024 = Rp 1.463.833
Deviden 2025 = Rp 1.610.217
Deviden 2026 = Rp 1.771.238
Deviden 2027 = Rp 1.948.362
Deviden 2028 = Rp 2.143.199
Deviden 2029 = Rp 2.357.518
Deviden 2030 = Rp 2.593.270
Deviden 2031 = Rp 2.852.597
Total deviden selama 10 tahun = Rp 20.380.564 

Jadi kalo mau buy and hold di BJBR selama 10 tahun, maka devidennya sudah melewati jumlah pokok investasinya.. :)





B. Saham PTBA
Harga pembelian = Rp 2080
Lot yang dibeli = 48 lot
EPS 2020 annualized = 80*4 = 320
DPR = 90% (asumsi DPR sama dgn DPR yang dibagikan di thn 2020)
Deviden 2021 per lembar = 90% * 320 = Rp 288

Deviden 2021 = Rp 288*48*100 = Rp 1.382.400
Deviden 2022 = Rp 1.516.800
Deviden 2023 = Rp 1.672.704
Total deviden yang didapat selama 3 tahun = Rp 4.571.904





C. Saham SIDO
Harga pembelian = Rp 1195
Lot yang dibeli = 83,7 lot ---> 84 lot
EPS 2020 annualized = 15*4 = 60
DPR = 90% (diambil rata-rata DPR selama ini)
Deviden 2021 per lembar = 60*90% = Rp 54

Deviden 2021 = Rp 54 * 84 * 100 = Rp 453.600
Deviden 2022 = Rp 498.960
Deviden 2023 = Rp 548.856
Deviden 2024 = Rp 603.741
Deviden 2025 = Rp 664.115
Deviden 2026 = Rp 730.527
Deviden 2027 = Rp 803.580
Deviden 2028 = Rp 883.938
Deviden 2029 = Rp 972.331
Deviden 2030 = Rp 1.069.565
Deviden 2031 = Rp 1.176.521
Total deviden selama 10 tahun = Rp 8.405.734


Mulai tahun ini, portfolio saya hanya terdiri dari saham2 yang rajin memberikan deviden, apalagi bila DPR-nya tinggi, tentu saja dengan harga beli yang menurut saya sdh relatif murah dan baik.

Dengan konsep investasi mendapatkan deviden sebagai pasif income seperti ini, saya hanya fokus untuk menambah lot saham investasi saya dengan budget yang saya alokasikan tiap bulan.
Tapi walaupun saya mengalokasikan dana tiap bulan, ini ngga berarti saya harus beli tiap bulan ya.
Untuk belinya saya tetap liat chart juga. Kalo sudah masuk chart daily atau weekly overbought, ya saya tunggu sampai dia turun dulu baru saya beli.. :)

Dengan fokus ke cara investasi seperti ini, alhamdulillah thn ini deviden yield dr seluruh portofolio saya tahun ini bisa menjadi 6,9% alias sudah di atas bunga deposito (tahun lalu deviden yield saya sekitar 3,37%, karena belum fokus ke saham2 dgn deviden tinggi).

Sekarang saham yang saya pegang = ASII BBNI BDMN BJBR BJTM BNGA MBAP JPFA PTBA TLKM TOTL. Porsi terbanyak saat ini ada di PTBA dan BJBR. MBAP dan TOTL porsinya sangat sedikit karena sahamnya ngga likuid.

Ke depan, bisa jadi sahamnya akan bertambah banyak jenisnya, karena lebih menenangkan buat saya pegang saham agak variatif sebagai konsekuensi utk mendapatkan deviden.

Ok, ini aja sharing dr saya kali ini. Semoga kita semua bs memanfaatkan kesempatan emas utk bisa investasi di saham-saham bagus dan murah yang diberikan ke hadapan kita saat ini.. :) Aamiin.. 

Warm Regards,
V3







Selasa, 16 Juni 2020

IHSG mulai membaik spertinya..

Hari ini ihsg close di 4986,458.
Secara candle monthly, kalo ihsg sampai akhir bulan ini sudah close di atas high candle bulan lalu (4755), maka ihsg nanti sudah mulai bullish.. semoga..

Tapi ihsg masih di bawah MA 60 monthly (skrg MA 60 monthly = 5600) dan masih di area MACD monthly < 0. Jadi masih termasuk harga diskon kalo kita beli di bawah area ini, untuk investasi jangka panjang..

Saat ini, utk banking bluechip masih ada BBNI (4610), BBTN (1145), BDMN (2810), BNGA (740) yang PBV < 1.
Masih ada ASII dengan PER 10,5 dan PBV 1,3 (4970).
Masih ada PTBA (2440) yang akan bagi deviden dengan yield 12% nett (deviden = 326).
Masih ada TLKM (3170) yang akan bagi deviden dengan yield minimal 4%.
Masih banyak saham-saham properti dan konstruksi dengan PBV 0,3-0,7..
Dan mungkin masih banyak lagi pilihan saham lainnya yang ngga masuk radar saya..

Intinya, seperti di posting saya sebelumnya, gunakan koreksi besar ihsg ini utk kita masuk membeli saham bagus utk investasi jangka panjang..
Beli sekarang, simpan 2-3 tahun lagi, dan jual.. Insyaa Allah return yang didapat akan bagus..
Walaupun saya sendiri mungkin ngga akan jual begitu saja.. Daripada jual saham, saya prefer switching. Pindahin ke saham lain yang lebih baik, tapi tetep yang akan kasih deviden...

Saya ngga bisa menuliskan apa2 lagi, cuma sekedar reminder, jangan sia-siakan kesempatan emas ini..

Semoga investasi saham kita semua akan memberikan hasil yang bagus di masa depan ya.. aamiin..


Warm regards,
V3

Kamis, 23 April 2020

Sedikit tips untuk membeli saham yang bagus untuk investasi long term..

Ihsg skrg berada di posisi 4617, stelah maret kmrn sempat membentuk lowest di 3911.

Saya ngga tau, apakah ihsg akan bikin lower low lagi atau ngga.. Tapi yang jelas, ihsg skrg ini masih berada dalam zona murah utk belanja saham buat investasi jgka panjang, krn masih di bawah MA 60 monthly (skrg MA 60 monthly = 5614), dan MACD monthly jg msh di bawah nol.


Sekarang, setiap belanja saham saya sdh niatkan sbg investasi jangka panjang, utk mendapatkan pasif income dr deviden setiap thnnya.


Pada saat saya menulis ini, saya sdh ngga ada cash sama sekali, krn selalu saya belikan saham setiap saya ada cash. 

Saham yang saya beli adalah saham dgn growth bagus, harganya murah, dan deviden yieldnya besar.. 

Saya mau sedikit membagikan tips utk para investor saham pemula, bgmn mencari saham yang bagus utk investasi, terutama apabila fokusnya adalah membangun pasif income dr deviden..


1). Lihat bgmn perkembangan sales dan EPS perusahaan dlm 3, 5 atau 10 thn terakhir. Biasanya data ini saya liat di stockbit pro, atau dr laporan tahunan perusahaan. 

Semakin tinggi pertumbuhannya, semakin bagus. 

2). Liat brp PER dan PBV saham tsb skrg. 

Saya senang dengan saham yang PER-nya di bawah 7 dan PBV di bwh 1. 
Semakin murah semakin bagus.

3). Liat berapa Devidend Payout Ratio-nya (DPR). 

DPR semakin besar semakin bagus. 

4). Harus dr sektor yang growing, misalnya banking, consumer, poultry (ayam2an), dll. Hati2 dengan saham komoditas, krn ngga bs utk investasi long term, kinerjanya sangat fluktuatif.


5). Liat tanggal cum date , ex date dan payment date saham tsb. 

Usahakan beli sebelum cum date (semakin jauh biasanya semakin bagus). 
Bila sdh ex date, jangan beli dulu saham tsb bila LK terbaru belum keluar.
Misal : payment date di kuartal 1/2020, jangan beli dulu sahamnya sebelum LK q1/2020 keluar.
Contoh paling gampang, BBNI sdh bagi deviden tgl 24 maret 2020 (pd kuartal 1/2020). Saya skrg belum punya BBNI, dan melihat PERnya sdh di bwh 5 dan pbv sdh 0,6  ,  BBNI sangat menarik utk saya beli. 
Tapi saya belum mau beli BBNI sebelum LK q1-nya keluar... 
Dan krn kondisi pandemi skrg, spertinya akan lbh aman menunda beli stelah LK Q2 keluar. Jadi utk BBNI dan saham2 lain yang sdh ex date, saya akan menunda pembelian mgkin sampai bulan september-oktober 2020...

6) So far, saya seneng invest di saham bank, poultry , consumer dll yang sales dan labanya cenderung naik trs stiap thn, terutama yang DPR-nya di atas 40%.. 

Dapat saham di sektor ini dgn PER yang murah dan DPR yang besar, itu deviden yieldnya bs jauh di atas bunga deposito.. :) dan bila sektornya growing, biasanya  semakin lama akan semakin besar devidennya :)

Ok, itu aja caranya bgmn mencari saham yang bagus utk dibeli kalo tujuan kita adalah mendapatkan pasif income dr deviden, semoga bermanfaat :)



Krisis ini membuat saya semakin yakin bahwa kemapanan finansial bs didapat dr investasi saham, terutama saham2 yang rajin bagi deviden. 


Perlakukan saham sbg perusahaan, jangan sbg barang dagangan yang kita perjual belikan tiap saat.. 


Buatlah uang kita bekerja utk kita, wlpn kita cuma diem aja :)


Saya setuju dengan konsep menabung saham, tapi jangan beli sembarang saham, harus pilih2 juga, terutama belilah saham yang bs membuat kita mendapatkan pasif income dr deviden yang lumayan, krn terasa bgt enaknya nanti uang masuk setiap thn wlpn kita ngga ngapa2-in.. 

Dan jangan pernah beli saham yang sdh naik terlalu tinggi, krn nyangkut di ketinggian itu asli ngga enak bgt, wlpn niat kita adalah utk investasi jangka panjang... :((((

Kondisi pandemi skrg ini ngga mengurangi minat saya ke saham, malah saya berfikir, dgn banyaknya saham yang murah skrg ini, saya hrs bs memanfaatkan saat ini sebaik mgkin utk menabung tiap lot saham bagus yang saya incar.. 

Ngga setiap saat kita menyaksikan saham2 murah sperti ini.

Selama 12 thn saya mengenal saham, baru skrg saya liat saham konstruksi PBV di bwh 0,5. 

PTPP, WIKA, ADHI, WSKT sdh masuk watch list to buy saya krn PBV mrk sdh di bwh 0,5. Tapi utk belinya, saya menunggu sampai laba mrk naik dulu.. :) 
Gpp telat dan beli di harga lbh mahal, asalkan bgtu kita beli dia terus naik dan bagi deviden lumayan.. :)

Sekarang saya pegang BJBR, BJTM, BNGA, BDMN, JPFA, ASII, PTBA, PANS dan PZZA (3 saham terakhir porsinya hanya sedikit2 krn mrk saham komoditas dan ada jg yang ngga likuid). 


Dan saya msh punya banyak list saham yang mau dibeli, cuma duitnya yg ngga ada.. :)))))


Kalo ternyata mrk udah ex date duluan, ya nanti aja belinya, stelah LK Q2 atau q3 mrk keluar.. :)


Ok, semoga kita semua sehat terus ya.. 

Semoga kita smua bisa selamat dr wabah covid19 ini, dan bs selamat juga dr krisis ekonomi yang mgkin bs terjadi akibat wabah ini.. Aamiin.. Aamiin.. Aamiin..

Warm regards,

V3




Rabu, 11 Maret 2020

IHSG sudah masuk area menarik untuk investasi saham jangka panjang

Di posting saya terakhir kemarin, saya nulis bahwa candle ihsg Desember 2019 sudah mengindikasikan bullish, krn candlenya sudah closed di atas highest November 2019.

Ternyata, begitu Januari 2020, ihsg closed lg di candle yang sangat bearish, 5937, di bawah lowest candle Desember 2019. Diperparah lg, di bulan Februari 2020, ihsg jebol ke bawah support kuatnya 2 thn ini, di 5500.. dan skrg ihsg sedang berada di posisi 5216.

Begitu ihsg jebol lowestnya di 5500, saya CL smua saham non bluechip yang saya pegang, dan saya jg jual smua saham saya yang sudah kasih cuan. jadi kmrn posisi cash saya sempat sekitar 45%.
Tapi begitu MACD monthly ihsg sudah masuk ke area di bawah Nol, saya mulai minat belanja saham lagi. Sekarang cash saya msh ada sekitar 20%.

IHSG sekarang ini (dari data HOTS), sudah berada di bwh MA 60 monthly (5634) dan MACD monthly-nya sudah di bawah Nol.
Dari data HOTS, posisi ihsg seperti sekarang ini, sejak thn 2004 hanya terjadi 3x yaitu thn 2008, 2015 dan 2020.

Artinya apa?

Artinya, kalo kita memang mau berinvestasi jangka panjang di saham bagus, apalagi utk mengharapkan pasif income dr deviden utk pensiun nanti, sekarang lah saat yang bagus utk mulai membeli saham bagus..

Saya sampai hrs men-screening saham yang saya akan hold dengan mencari tau, sudah berapa thn usia berdirinya. Minimal sudah bs survive menghadapi krismon 1998. Lebih bagus lagi apabila sudah bisa survive jg menghadapi krisis ekonomi di tahun 1965..
Dan yang wajib : harus rajin bagi deviden.

Orang banyak membandingkan harga saham sekarang dengan thn 2008, di mana ASII PER-nya bisa mencapai 4 di bottom. Menurut saya, kurang tepat membandingkan lowest ASII thn ini dengan thn 2008 hanya dr PER-nya saja. Kita juga hrs liat PBV-nya. Sekarang sudah banyak saham yang PBV-nya di bawah 1, termasuk saham2 konstruksi.

Selain itu juga, di thn 2008, seingat saya, BI rate bisa sampai 9%.
Sekarang BI 7 day rate hanya 5%..
Jadi utk menunggu bluechip seperti ASII atau BBRI di PER 4, menurut saya, sepertinya agak sulit.

Tapi sekarang kita banyak menemukan saham dengan deviden yield yang jauh di atas BI rate.
Dan ini kesempatan emas utk kita, bisa invest di saham-saham seperti ini..
Bahkan JPFA, di harga 1400, sepertinya deviden yieldnya bisa mencapai 5% di thn ini.

Jadi buat yang pegang saham sekarang ini dan floating lossnya besar, bisa melakukan switching saham seperti yang saya lakukan.

Cari yang industrinya relatif naik terus labanya di masa depan (misal : bank dan consumer. saham komoditas agak sulit utk hold long term krn harga komoditas yang fluktuatif).
Cari perusahaan yang rajin bagi deviden.
Cari perusahaan yang sudah survive dalam krisis2 ekonomi di Indonesia.

Kmrn di awal thn, saya niat utk memperbanyak trading mulai thn ini.
Tapi dengan longsornya ihsg skrg, saya jd berubah.
Saya melihat, menjadi long term investor jauh lbh menarik, krn sudah terbayang pasif income yang saya dpt dr deviden di tahun2 mendatang..

Ibaratnya, skrg saya tinggal menyusun pondasi portfolio di mana thn2 ke depan saya cukup tidur saja dan tggal terima deviden tiap thn..
Saya lebih tenang utk hold long term krn : perusahaan yang saya pegang sahamnya sudah bs survived dalam krisis2 ekonomi di Indonesia, perusahaan ini relatif stabil pertumbuhan labanya tiap tahun, dan dia selalu rajin bagi deviden.

Dr thn 2016 saya selalu khawatir kalo bursa akan crash, shingga saya agak takut utk investasi jangka panjang di saham. Tp bgtu skrg ihsg sudah di area MACD monthly di bawah Nol dan di bawah MA 60 monthly, ya saya harus ngumpulin sebanyak-banyaknya saham bagus yang saya bisa.. krn masa seperti ini ngga akan dtg kedua kali..

Sekarang saya pegang ASII, BJBR, BJTM, BBTN, BNGA, BDMN, JPFA, UNVR, PTBA, UNTR (PTBA dan UNTR porsinya hanya sedikit, krn saham komoditas, saya ngga berani hold banyak2) dan WIKA (baru sedikit banget).

Untuk bank, saya prefer ambil yang PBV di bawah 1 dan PER di bwh 6, sehingga devidennya terasa besar, margin of safety-nya juga relatif besar.

Untuk UNVR, saya melihat di data HOTS, sejak thn 2008, UNVR baru sekali ini berada di area MACD monthly di bawah Nol. Saya beli di harga 7250. UNVR highest di 11600, shgga harga beli saya sudah 37% di bawah highest UNVR. UNVR labanya turun di 2019 bukan krn kinerjanya yang jelek, tapi krn thn 2018 dia ada penjualan anak usaha. Jadi semoga labanya di thn 2020 mulai naik lg, bgtu juga dengan harga sahamnya nanti..

Untuk BJBR dan BDMN, ini saya beli krn sudah jatuh dalam dr highestnya, padahal kinerjanya jg relatif baik2 saja, dan deviden yield mrk jg lumayan besar..
BDMN kmrn dibeli MUFG bank di harga 9590, dan sekarang harganya sudah 2760, PBV sudah 0,6x.

Oya, deviden ini bs jadi pedang bermata dua. Biasanya ex date harga akan turun sebesar deviden yang diberikan. Jadi ya hrs kuat mental jg nanti kalo sahamnya dibanting stelah ex date, ya. Makanya saya ttp sisakan cash skitar 20%, utk nanti saya belanjakan kalo ada guyuran dalem lg, terutama stelah ex date..

Selain itu, dari pengalaman selama ini, juga di thn 2008, 2011, 2013, 2015, bottom ihsg selalu di bulan antara Agustus-Oktober, ngga pernah di Maret. Jadi kita ttp harus menyediakan cash utk jaga2..

Tapi yang jelas, saham bagus apapun yang kita beli di masa IHSG bearish sperti skrg, insyaa Allah akan memberikan hasil yang bagus 2-3 thn ke depan... Aamiin..

Warm regards,
V3


Note : ketika crash 2008, saya saya baru terjun di saham. Saya cm bs hold saham2 yg saya beli, dan tiap bulan average down sehabis gajian. Dpt ThR, utk average down. Dpt bonus akhir thn, average down lg..
Sempet beli asii di harga 19000 (dulu sebelum stock split 1:10), dan abis dibeli turun ke 6000-an.. dan ngga di-average down krn asii mahal bgt waktu itu. Jd cm bs beli bbri untr smgr.. tp alhamdulillah, stelah ihsg rebound, saham2 itu jg cepet lg baliknya ke harga beli kita. Intinya, di masa bear market sperti ini, selama yg kita hold itu saham bagus, tenang aja. Nanti jg balik lg harganya, malah ttp akan bikin all time high lg selama labanya jg trs naik...








Senin, 06 Januari 2020

Semoga masa bearish ihsg sudah berakhir...

IHSG 30 Desember 2019, closed di atas highest ihsg November 2019, yang secara candlestick kita bisa bilang kalo ihsg monthly sudah rebound. Mudah2-an ihsg beneran koreksinya sudah selesei, wlpn mungkin upsidenya sudah ngga banyak lagi, tapi minimal bs bikin all time high dulu ya...

Sekarang, saat saya nulis di sini, ihsg sedang di posisi 6270. Mudah-mudahan sampai bulan2 bagi deviden, Maret-mei, ihsg bisa naik dulu, dan semoga saja bisa bikin all time high lg..

Terus terang saya ngga punya banyak materi yang bs ditulis. 
Tapi saya ingin membagikan experience trading saya thn lalu..

Setahun kemarin, saya lumayan aktif swing trading, hanya dengan 10-20% dari total portofolio saya. Dan saya lumayan amazed dengan hasilnya, ternyata dengan hanya memutar 10-20% dana, hasil trading saya bisa sampai lebih 30% dr total dana saya.. 

Hal ini membuka mata saya, bahwa hasil dr swing trading ini lumayan bgt bisa membantu saya dalam mengembangkan portofolio saya dengan lbh cepat lagi drpd sekedar buy and hold..

Saya hanya membeli saham2 dengan FA baik, favorit pasar, dan kalo bisa yang deviden yieldnya besar. Dan saya hanya pakai indikator stokastik, bollinger band, candlestick dan sometimes MA, dr aplikasi KDB daewoo yang saya miliki. Jadi semua tools standar dr aplikasi online trading, dan gratis. Dulu saya sempat langganan data metastock yang berbayar tp krn laptop saya hilang dan saya ngga mau beli lagi software metastock-nya (terakhir saya tanya, harganya sekitar 1300 USD), jadi saya manfaatkan saja data chart gratis dr platform online trading.. 
Alhamdulillah, ternyata hasilnya bagus aja.

Jadi thn ini pun sepertinya saya akan mengulang lg apa yang saya lakukan di thn lalu, melakukan swing trading dengan maksimal 20% dana yang saya punya. Utk yang 80%, saya ttp buy and hold, hanya jual bila labanya sudah turun.. 

Dan saya tetap hobi beli saham2 yang royal deviden.. Ada 3 saham baru ipo yang saya punya, tp kalo di thn ini pun saham ini ttp ngga ngasih deviden, ya akan saya jual dan pindahin ke saham lain yang ngasih deviden.. 
Tahun lalu total deviden yang saya dapat = 3,37% dr total portfolio saya. 
Thn ini targetnya = 5%. Mdh2an bisa tercapai.. :)

Sekarang saya punya 14 saham :
1. ADHI --- avg 1235
2. ADRO --- avg 1315
3. BEEF --- avg 302
4. CCSI --- avg 262
5. DUCK --- avg 1426
6. JPFA --- avg 1590
7. LPPF --- avg 3000
8. MYOR --- avg 2030
9. PTBA --- avg 2433
10. RALS --- avg 1169
11. UNTR --- avg 21294
12. WEGE --- avg 281
13. ASII --- avg 6400
14. BBNI --- avg 7401

Beberapa ada yang utk short term trading, bbrp ada yang mmg saya beli utk dpt devidennya.. 
ADRO jadi saham pertama yang ngasih deviden di bulan ini, krn kmrn 2 jan 2020 cum date utk deviden interimnya.. :)

Ok, sekian dulu update dr saya, krn memang saya ngga punya banyak materi utk ditulis skrg ini.
Oya, utk comments, settingnya saya ubah  krn sebel aja harus ngapusin comments dr spam trs, tiap buka blog.. :((

Semoga ihsg thn 2020 lbh ceria drpd thn kmrn. 
Semoga cuan kita di thn ini jg lbh banyak drpd di thn kemarin.
Aamiin..

Warm regards,
V3