Selasa, 10 Juni 2014

Analisa LK Q1/2014 MTDL

Saya kebetulan lagi iseng ga ada kerjaan, jadi sempet buka bbrp LK untuk dibaca. 
Ini nemu 1 saham, yang saya pikir "agak lumayan" prospektif, MTDL.

Saya ngga punya sahamnya, dan juga belum pernah beli sahamnya. 
Tapi kebetulan dulu saya sempat bekerja di perusahaan IT, dan MTDL ini termasuk salah satu kompetitor yang lumayan diperhitungkan oleh perusahaan tempat saya bekerja. 

Yang mau tau lebih jelas tentang perusahaan ini, silakan baca2 langsung laporan tahunannya ya, atau liat websitenya.. Saya cuma tulis analisa simpel aja tentang saham ini.. :)

Sebelumnya kita liat data sekilas tentang MTDL (saya ambil dari laporan tahunan 2013):

Data dalam Milyar Rp, kecuali EPS 

Sales 2009  = 3396,92
Laba usaha 2009 = 128,02
Laba bersih 2009 = 10,06
Ekuitas dan kepentingan non pengendali = 405,28
EPS = Rp 4,93
ROE = 3,14%

Sales 2013 = 7325,3
Laba usaha 2013 = 298,76
Laba bersih 2013 = 113,75
Ekuitas dan kepentingan non pengendali = 930,3
EPS = Rp 50,64
ROE = 17,24%

Dari laporan tahunan, terlihat sales, laba bersih dan EPS MTDL dari 2009, naik terus. 
ROE juga membaik, dari 3% di 2009 menjadi 17% di 2013.
Laba bersih tumbuh rata-rata sekitar 83%/tahun.

Jadi, kesimpulan saya, ini perusahaan yang tumbuh cukup baik dalam 4 tahun terakhir.

Sekarang kita lihat LK Q1/2014-nya.. 

1. Current ratio = jumlah aset lancar : jumlah liabilitas jangka pendek = 1,69x

2. total ekuitas yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk = Rp 669.517.052.828 ---> growth = 1,46%

3. Jumlah saham = 2.246.000.000 lembar

4. Book Value = Rp 669.517.052.828 : 2.246.000.000 = Rp 298,09

5. DER = jumlah liabilitas : jumlah ekuitas = 1,31x

6. Jumlah aset = Rp 2.209.504.213.686

7. Sales = Rp 1.785.298.733.604 ---> growth = 27,49%

8. Laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk = Rp 31.376.105.253 ---> growth = 24,28%

9. EPS = Rp 13,97 ---> growth = 24,28%

10. ROE = (4 x laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk) : total ekuitas yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk = 18,74%

11. Arus kas operasi minus

12. Kas = Rp 194.430.011.448

13. @ 329, PER = 5,89x 
                PBV = 1,1x
                Yield = ROE : PBV = 17,03%

14. Valuasi = Rp 724 ---> MOS = 54,55%


Kesimpulan : ini saham perusahaan growth yang masih undervalued :) 

Disclaimer ya.. :) 

Saya sendiri ngga beli karena saya sekarang lebih senang beli saham-saham yang likuiditasnya tinggi walaupun PER-nya lebih besar, demi faktor kenyamanan berinvestasi :)

Sekarang kita coba lihat chart weekly-nya.. 

MTDL sekarang berada sedikit di bawah MA 20 weekly, dengan candle yang mulai menghijau setelah turun selama 5 candle berturut-turut. 
Sepertinya chart weekly mulai akan berbalik arah, dari turun ke naik. 
MA 5 > MA 20 > MA 60 > MA 100 > MA 200 ---> ini chart saham yang sedang bullish
MACD weekly dead cross, tapi masih di atas 0 (bullish). 
Chart daily, MTDL sekarang berada di MA 100 daily.

Kalo melihat chart weekly-daily dan valuasinya sekarang ini, sepertinya sih masuk sekarang (329), termasuk entry point yang bagus, ya.. Disclaimer :)

Ok, ini aja analisa saya tentang MTDL. 
Bukan ajakan untuk beli :) 
Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. :)

Regards,
V3



Untuk perhitungan detil tentang cara valuasinya, bisa lihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html






Rabu, 04 Juni 2014

Analisa LK Q1/2014 AISA

Beberapa hari yg lalu saya membaca artikel ini di website teguh hidayat :

 http://www.teguhhidayat.com/2014/05/belajar-valuasi-kepentingan-non.html

saya pikir artikelnya bagus ya, dan ikut merubah mindset saya dalam menghitung PBV.

Jadi sejak saat ini, tiap posting saya dalam menghitung equity growth, PBV dan juga pertumbuhan laba berjalan, saya akan memperhitungkan kepentingan non pengendali ini di dalamnya.

Saya coba tulis analisa saya tentang LK Q1/2014 AISA. AISA ini salah satu saham favorit saya untuk consumer product. Masuk portofolio saya sejak Juni 2013. Di Q1/2014, ROE AISA bertambah baik, dari skitar 14% thn lalu menjadi 18% di thn ini. 

Q1/2014 AISA

1. Current ratio = jumlah asset lancar : jumlah liabilitas jangka pendek = 1,76x

2. Total ekuitas (setelah dikurangi kepentingan non pengendali) = Rp 2.110.242.340.307 
     ---> pertumbuhan ekuitas = 4,87%

3. Jumlah saham = 2.791.135.000 lembar 

4. Book Value = Rp 2.110.242.340.307 : 2.791.135.000 = Rp 756,05

5. Jumlah aset = Rp 5.180.535.568.741

6. DER = total liabilitas : total ekuitas = 1,099x

7. Sales = Rp 1.153.221.708.266 ---> growth = 34,94%

8. Laba usaha = Rp 180.921.772.065 ---> growth = 48,63%

9. Laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk =      
   Rp 98.067.380.604 ---> growth = 49,33%

10. EPS = Rp 33,52 ---> growth = 49,37%

11. ROE = 18,59%

12. @ 2555, PER = 19,06x
                 PBV = 3,38x
                 Yield = ROE : PBV = 5,5% ---> menurut saya, untuk saham consumer, yield 5,5%    ini cukup besar

13. Arus kas operasi < laba tahun berjalan 

14. Kas = 227.616.100.581

15. Valuasi = Rp 1736 ---> MOS = minus 47%

    Dengan rumus valuasi yang ada di blog ini, terlihat bahwa MOS = minus 47%. Tapi pengalaman saya dgn rumus ini, untuk saham2 consumer, farmasi, ritel dan sejenisnya memang biasanya harga wajar yang didapat, selalu jauh lebih kecil. 

Mengapa ?

Karena biasanya saham-saham consumer dan teman2nya itu (apalagi yang sedang naik daun) selalu dijual dengan PER yang sangat tinggi, biasanya di atas 20x..

Jadi, untuk saham2 consumer dan sejenisnya, saya punya rumus sendiri yang saya pakai sebagai patokan apakah saham ini masih layak dibeli atau ngga. 

Caranya simpel aja. 

Selama PER tidak di atas 20x, dan PER ini masih lebih kecil daripada ROE dan growthnya, menurut saya : masih layak dibeli.

Tapi ini hanya pendapat saya ya, kalo orang beda pendapat, it's ok :)

Sekarang kita liat chart AISA.

Kalo liat chart weekly AISA, AISA ini sangat bullish. MA 5 > MA 20 > MA 60 > MA 100 > MA 200. Kalo chart sangat bullish begini, dan ini saham consumer, biasanya beli di MA 60 daily, MA 20 weekly atau MA 60 weekly bisa dipertimbangkan. Sekarang MA 20 weekly AISA ada di 2072. MA 60 weekly ada di 1578. Masih agak jauh sih dari harga sekarang di 2555 :)

Kalo liat chart monthly, lebih serem lagi. 9 candle naik terus ngga berhenti2.. :) 
alias kalo beli di harga skrg, takutnya bakal nyangkut sendirian di tiang listrik, hehe.. Disclaimer :)

Ok, ini hanya pandangan saya aja ya.. :) kalo ada yg ngga setuju, gpp.. :)

Yang jelas, your money your responsibility.. :) 
Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. :)

Regards,
V3


Untuk hitungan detil metode valuasinya, bisa lihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html

Jumat, 16 Mei 2014

Analisa LK Q1/2014 BBRI

BBRI saya ngga punya sahamnya, karena saya hanya beli saham syariah. Tapi karena saya juga mengelola dana pensiun orang tua saya, saya masukkan saham BBRI ini ke dalam portofolio saham orang tua saya. 

BBRI saya suka, karena kinerjanya naik terus. Ada yang bilang, BBRI ini saham bank paling profitable sedunia, karena ROE-nya terbesar di dunia.. :)

Bahkan saya pernah baca juga di mana, waktu krisis 1998 pun, BBRI masih mencetak laba juga, tidak merugi. Tapi saya belum bisa cek langsung ke LK-nya, karena LK thn 1998 sudah ngga ada di website BEI.. :)


LK Q1/2014 BBRI (juta Rp)

Untuk bank, saya ngga banyak analisa. Cuma liat beberapa data aja.

1. Ekuitas = 79.092.137 ;   growth = minus 0,3%

2. Jumlah saham = 24.669.162.000 lembar saham

3. Book Value = Rp 79.092.137.000.000 : 24.669.162.000 = Rp 3206,114

4. Aset = 615.718.605

5. Laba operasional = 6.805.982 ;    growth = 16,17%

6. laba periode berjalan = 5.937.711 ;    growth = 16,73%

7. EPS = Rp 240,57 ;   growth = 16,71%

8. ROE = 30,03%

9. @ 10750, PER = 11,17x
                 PBV = 3,35x
                 Yield = 8,96%

10. harga wajar = Rp 13.758 ---> MOS = 21,86%


Secara TA, BBRI sekarang sangat bullish. Di chart weekly, MA 5 > MA 20 > MA 60 > MA 100 > MA 200. MACD Weekly juga sudah jauh di atas 0. 

Untuk investor yang maunya beli di harga diskon, memang sepertinya beli BBRI sekarang ini sdh ngga menarik.

 MA 100 weekly ada di 7934, sudah cukup jauh dari harga sekarang, alias potensi dia turun dulu, juga semakin besar.

Kalo pakai cara sederhana, kita hitung saja :

* potensi naik ke harga wajar (13758) = 21,86%

* resiko turun ke MA 100 weeky (7934) = 26,19%

Resiko turun lebih besar daripada potensi naik.. :)


Disclaimer ya.. :)

Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang juga tanggung sendiri.. :)


Regards,
V3


Oya, untuk tambahan, untuk chart weekly saham yang sangat bulllish (MA 5 > MA 20 > MA 60 > MA 100 > MA 200), untuk melakukan pembelian bisa dipertimbangkan apabila saham menyentuh MA 20 atau MA 60 (daily atau weekly). Kalau saya, untuk saham yang saya sudah punya banyak, biasanya saya hanya mau nambah beli di MA 100 weekly atau di bawahnya. 

Tapi kalau saham ini baru punya sedikit, atau memang saya tertarik sekali dengan sahamnya, biasanya saya suka nungguin di MA 20 atau 60 daily/weekly, tergantung situasi aja... :)  

Kalo untuk posisi awal, belum punya sama sekali, bisa aja langsung beli saat itu juga, biar ngga penasaran, tapi dengan porsi kecil... :) 
begitu turun lagi, nambah beli lagi. 
kalo dia malah naik, ya nambah lg juga.. :)))
yang jelas, pd saat beli, harus yakin bahwa we buy good stock at reasonable price, jadi kalo dibawa turun pun, kita ngga panik. Paling ya tutup laptop aja dulu... :)))))


Untuk hitungan detil metode valuasinya, bisa lihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html



Analisa LK Q1/2014 PTBA

Dari hasil Q1/2014, ada 2 saham coal yang masuk ke keranjang portofolio saya, PTBA dan ADRO. Saya suka PTBA krn cadangan batubaranya yang terbesar, katanya bisa untuk 100thn ke depan.. :) Kalo ADRO saya beli krn saya suka growthnya dan harganya juga masih murah, menurut saya..

LK Q1/2014 PTBA (juta Rp)

1. Current ratio = aset lancar : liabilitas jangka pendek = 2,09x

2. DER = total liabilitas : total ekuitas = 0,71x

3. jumlah ekuitas = 7.104.398 ;    growth = minus 1%

4. jumlah saham = 2.340.131.850 lembar

5. Book Value = Rp 7.104.398.000.000 : 2.340.131.850 = Rp 3035,896

6. jumlah aset = 12.150.595

7. Penjualan = 3.093.648 ;   growth = 11,39%

8. Laba usaha = 666.994;    growth = 13,12%

9. Laba periode berjalan = 541.694 ;    growth = 8,85%

10. EPS = Rp 247 ;   growth = 14,88%

11. ROE = 30,5%

12. Arus kas operasi < laba periode berjalan

13. Kas = 3.573.019

14. @ 10800, PER = 10,93x
                   PBV = 3,56x
                   Yield = ROE : PBV = 8,57%

15. harga wajar = Rp 14180 ---> MOS = 23,8%


Dari chart, PTBA sekarang masih berada di bawah MA 100 Weekly, dan MACD Weekly juga masih di bawah 0. Menurut pengalaman saya, biasanya kalo saham ada growth, harga di bawah MA 100 weekly dan MACD weekly masih di bawah 0, saham ini masih murah.. :) 

Yield-nya juga masih di atas BI rate dan MOS pun masih 23%. Jadi saya masih optimis, upside untuk PTBA ini masih lumayan, walaupun mungkin belum akan bisa balik ke all time high-nya karena labanya juga belum cetak all time high.. :)

Disclaimer ya.. :)

Rugi tanggung sendiri, ngga punya barang juga tanggung sendiri.. :)


Regards,
V3



Untuk hitungan detil metode valuasinya, bisa dilihat di sini :
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html

Rabu, 14 Mei 2014

Analisa LK Q1/2014 PWON

PWON saya ngga punya sahamnya. Tapi saya suka dengan saham ini jg krn kinerjanya dari 2010 terus naik hingga sekarang. Pendapatan berulang (recurring income) PWON juga cukup tinggi, skitar 50%. Menurut saya, PWON ini termasuk perusahaan sehat, tapi sayang land bank-nya ngga besar.. 

LK Q1/2014 PWON (ribu Rp)

1. Current ratio = 1,37x

2. jumlah ekuitas = 4.506.782.883 ; growth = 9,85%

3. jumlah saham = 48.159.602.400 lembar saham

4. jumlah aset = 9.632.869.535

5. DER = 1,13x

6. Book Value = Rp 4.506.782.883.000 : 48.159.602.400 = Rp 93,58

7. Pendapatan = 825.055.873 ; growth = 14,72%

8. Laba bersih periode berjalan = 404.274.001 ; growth = 28,94%

9. EPS = Rp 7,35 ; growth = 18,16%

10. ROE = 35,88%

11. Arus kas operasi < laba bersih periode berjalan

12. Kas = 2.188.428.407

13. @ 395, PER = 13,44x
                PBV = 4,22x
                Yield = 8,5%

14. Harga wajar = Rp 440 ---> MOS = 10,22%


Secara TA, PWON di chart weekly, sudah sangat bullish. MA 5 > MA 20 > MA 60 > MA 100 > MA 200. MACD weekly jg sdh di atas 0. Buat investor yang suka harga diskon, beli di harga sekarang sebenarnya sdh ngga menarik lagi... :)

Disclaimer ya.. :)


Rgds,
V3



Untuk hitungan detil metode valuasinya, bisa dilihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html


Analisa LK Q1/2014 LPKR

Untuk saham properti, saya hanya punya 2, LPKR dan BSDE. Tapi saya hanya akan tulis LPKR saja di sini, krn ada growth yang cukup tinggi di pendapatan dan labanya..

LK Q1/2014 LPKR 

1. Current ratio = aset lancar : liabilitas jangka pendek = 4,55x

2. jumlah ekuitas = 15.115.972.321 ; growth = 6,61%

3. jumlah saham = 23.077.689.619 lembar

4. jumlah aset = 31.615.302.376.569

5. DER = 1,09x

6. Book Value = jumlah ekuitas : jumlah saham = Rp 654,97

7. Pendapatan = 2.011.471.549.220 ; growth = 36,2%

8. Laba usaha = 552.502.181.909 ; growth = 39,13%

9. Laba periode berjalan = 463.407.574.760 ; growth = 33%

10. EPS = Rp 14,89 ; growth = 34,75%

11. ROE = 12,26%

12. Arus kas operasi = negatif

13. Kas = 1.944.543.715.855

14. @ 1130, PER = 18,97x
                  PBV = 1,73x
                  Yield = 7,09%

15. Harga wajar = Rp 727 ---> MOS = minus 35,67%

LPKR bila dilihat secara yield dan MOS, sepertinya memang ngga menarik. Tapi saya suka dengan saham properti ini karena dia leader di property, dan pendapatan berulangnya jg cukup banyak (skitar 50% dari pendapatannya). 

Secara TA, LPKR sekarang berada di atas MA 100 Weekly, dan MACD Weekly sdh > 0 (bullish). Dengan LK Q1 yang growth-nya cukup baik, saya optimis sih saham ini bisa kembali ke atas all time high-nya (1850), sehingga potensi upside untuk LPKR dlm setahun ini skitar 63% (dari 1130 ke 1850). 

DISCLAIMER ya.. :) Bukan ajakan untuk membeli. 
Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. :)

Rgds,
V3


Untuk hitungan tentang cara valuasinya, bisa dilihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html


Selasa, 13 Mei 2014

Analisa LK Q1/2014 ASII

LK Q1/2014 ASII (milyar Rp) :

1. Current ratio = aset lancar : liabilitas jangka pendek = 1,25x

2. aset = 222.387

3. ekuitas = 113.101;  growth = 6,51%

4. jumlah saham = 40.483.553.140

5. Book Value (BV) = Rp 113.101.000.000.000 : 40.483.553.140 = Rp 2793,752

6. DER = 0,97x

7. Sales = 49.281 ; growth = 6,73%

8. Laba periode berjalan = 5.710 ; growth = 15,45%

9. EPS = Rp 117; growth = 10,38%

10. ROE = (4 x 5710) : 113.101 = 20,19%

11. Arus kas operasi < laba periode berjalan

12. Kas = 18.369

13. @ 7425, PER = 15,87x
                 PBV = 2,66x
                 Yield = ROE : PBV = 7,59%

14. Harga wajar = Rp 6149 --->  MOS = Minus 20,75%


MACD Weekly ASII sdh di atas 0 (bullish). MA 100 Weekly ada di skitar 7107. Dengan MOS yang minus 20% dan Yield yang ngga begitu jauh di atas BI rate, sepertinya kalo untuk beli ASII di harga 7425 memang kurang menarik. Tapi di chart weekly, ASII sepertinya ada support lumayan kuat di 7350. Jadi silakan ditimbang sendiri, apakah di 7350, ASII sdh cukup menarik/belum untuk dibeli... :)

Oya, menurut saya, beli ASII mulai menarik krn ada emiten CPO (AALI) dan alat berat (UNTR) di dalamnya, yang sepertinya sdh mulai pulih kinerjanya..

Semuanya DISCLAIMER :) 


Rugi tanggung sendiri, ngga punya barang jg tanggung sendiri. Your money, your responsibility.. :)


Rgds,
V3

Untuk hitungan cara valuasinya, bisa dilihat di sini : 
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html


Analisa LK Q1/2014 INDF

INDF ini sdh bbrp periode, masuk radar watchlist  saya, tapi ternyata baru menarik minat saya untuk beli ketika Q1/2014-nya keluar. Selama bbrp triwulan ini, kinerja INDF selalu turun karena terseret SIMP dan LSIP yang kinerjanya jg turun terus. Tapi di Q1/2014, INDF terlihat mulai ada perbaikan..

Q1/2014 INDF (juta Rp)

1. Current Ratio = aset lancar : liabilitas jangka pendek = 1,62x

2. ekuitas = 39.246.192 ; growth = 2,28%

3. DER = 1,07x

4. aset = 81.356.290

5. jumlah saham = 8.780.426.500 lembar saham

6. Book Value (BV) = ekuitas : jumlah saham 
                            = 39.246.192.000.000 : 8.780.426.500
                            = Rp 4469,74

7. Sales = 16.365.578 ; growth = 26,93%

8. Laba usaha = 1.961.734 ; growth = 46,57%

9. EPS = Rp 156 ; growth = 90,24%

10. ROE = (4 x laba berjalan) : ekuitas = 17,84%

11. arus kas operasi > laba periode berjalan

12. kas = 14.418.537

13. @ 7050, PER = 11,3x
                  PBV = 1,58x
                  Yield = 11,29%

14. Harga wajar = Rp 8026 ---> MOS = 12,16%


Secara TA, MACD weekly INDF ada di atas 0 (bullish) dan sudah Dead Cross, dan berada di sekitar MA 60 weekly. MA 100 weekly ada di skitar 6520.

Saya tertarik dengan INDF, karena ada emiten CPO di sini (LSIP dan SIMP) dan juga ICBP. Dan menurut saya, beli INDF di harga sekarang lebih bernilai karena yield-nya lebih besar daripada beli LSIP, SIMP atau ICBP. Disclaimer.. :)

Rugi tanggung sendiri, ngga punya barang tanggung sendiri.. :)

Gudlak.. :)

Rgds,
V3


Untuk hitungan cara valuasinya, bisa dilihat di sini :
http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2014/05/analisa-lk-q12014-adro.html


Analisa LK Q1/2014 ADRO

Bismillah, kangen juga ya, untuk nulis, stelah sekian lama vakum.. :)

Mulai hari ini, saya mau coba utk nulis analisa lagi di blog ini.. Tapi saya mohon maaf ya, untuk setiap komentar yang mungkin ngga sempat dibalas, atau untuk setiap email yang mungkin jg ngga bisa dibalas.. 

Dulu saya putuskan untuk berhenti nulis d sini, krn saya bs dpt kiriman email ratusan tiap minggu. Dan akhirnya waktu saya banyak habis utk balesin email2 aja (itu pun masih suka ngga tenang, apalagi kalo ada email yang nanya lagi - nanya lagi krn mungkin saya ngga bs menjawab pertanyaannya dgn memuaskan.. :))) 

Sekarang saya coba analisa lagi, dengan analisa yang saya usahakan lbh simpel drpd sebelumnya. Mudah2an bermanfaat. Tapi saya ngga tanggung jawab ya, kalo analisa saya nanti bikin rugi yang baca.. Pokoknya, your money your responsibility. Rugi tanggung sendiri, ngga punya barang jg tanggung sendiri, ya.. :))

Ini analisa pertama yang saya tulis, Q1/2014 ADRO (LK dalam ribu USD) :

1. Current Ratio = aset lancar : liabilitas jangka pendek = 2,05x

2. DER = [ (jumlah liabilitas dan ekuitas) - jumlah ekuitas ] : jumlah ekuitas = 1,07x

3. jumlah ekuitas = 3.327.292 ,  growth = 4,14%

4. jumlah aset = 6.894.791

5. Jumlah saham = 31.985.962.000 lembar saham

6. Book Value (BV) = jumlah ekuitas : jumlah lembar saham
 = 3.327.292.000 : 31.985.962.000 = $ 0,1040235 
    asumsi 1 $ = Rp 11.000, maka BV = $ 0,01040235 x Rp 11.000 = Rp 1144,26

7. Sales = 844.699 ,  growth = 14,06%

8. Laba usaha = 241.515,  growth = 143,64%

9. Laba periode berjalan = 131.318, growth = 344,47%

10. EPS = $ 0,00373, growth = 344%. 
      EPS = $ 0,00373 x Rp 11.000 = Rp 41,03

11. ROE = ( laba periode berjalan x 4 ) : ekuitas = (131.318 x4 ) : 3.327.292 = 15,79%

12. arus kas operasi < laba berjalan

13. kas = 828.185

14. @ 1230, PER = 1230 : (4 x 41,03) = 7,49x.
                 PBV = 1230 : 1144,26 = 1,07x
                 Yield = ROE : PBV = 15,79% : 1,07 = 14,76%

Ttg Yield, sekarang saya lbh suka menggunakan metode ini utk buy/hold/sell. Karena yield ini akan terus membesar nilainya selama kita hold saham bagus yang terus tumbuh. Selain itu, yield ini nilainya absolut, beda dengan harga wajar saham, yang bisa beda-beda menurut analis. 
Yield di atas BI rate, kalo untuk saham berfundamental bagus, menurut saya, itu sdh baik. Lebih besar lebih bagus :)

Bila menggunakan metode valuasi yang ada d blog ini, maka harga wajar ADRO adalah 2071 --> MOS = 40,61%

Kalo liat TA, MACD Weekly ADRO sdh di atas 0, alias sdh bullish. Biasanya saya lbh suka beli saham kalo MACD Weekly msh di bawah 0 dan baru saja Golden CRoss, atau msh di bawah MA 100 Weekly, karena biasanya masih dpt harga murah. Sekarang, ADRO sdh sedikit di atas MA 100 Weekly. Tapi kalo liat yield-nya, spertinya masuk di harga sekarang jg belum telat-telat amat, bila horison investasinya jg agak panjang (minimal 3 bulan). Disclaimer ya.. :) 

Buat saya, ADRO menarik untuk dibeli buat invest. Apalagi saham coal selama ini turun terus labanya, dan baru di Q1/2014 ini laba ADRO tumbuh lagi. Sepertinya ini waktunya untuk mulai beli saham coal lagi.. Disclaimer.. :)

Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang tanggung sendiri, ya :)

Rgds,
V3


Saya tambahkan sedikit dengan cara valuasi yang saya pakai, ya.. 

Saya pakai metode valuasi yang saya dapat dari milis Obrolan Bandar (OB) di tahun 2009-2010, yang dikirim oleh Pak TOM DS. Tapi metode ini hanya saya tulis versi simpelnya aja, biar langsung bisa diaplikasikan ngga ribet-ribet.

1. BI rate sekarang = 7,5%. 
    Tentukan yield SUN = 1% + BI rate = 1% + 7,5% = 8,5%
    Tentukan PER SUN = 1 : yield SUN = 1: 8,5% = 11,7647

2. Cari PER wajar saham, caranya :
    a. ROE - Yield SUN = 15,79%  - 8,5% = 7,29%
    b. PER wajar saham  = (7,29% x 11,7647) + 11,7647 = 12,6223

3. Cari harga wajar saham = EPS annualized x PER wajar saham  
                                       = 4 x Rp 41,03 x 12,6223 = Rp 2071

4. Cari MOS = 1 - (harga sekarang : harga wajar) = 1 - (1230 : 2071) = 40,6%

Yang perlu diperhatikan, metode ini tidak menjamin selalu benar, karena memang tidak ada metode yang selalu benar di bursa saham. Tapi saya suka dengan metode ini karena cukup simpel, dan memasukkan faktor ROE juga BI rate di dalamnya.

Biasanya untuk saham-saham consumer, farmasi, ritel, hasil valuasi yang didapat suka terlalu kecil (alias saham dijual di market dengan harga yang sangat overvalued). Dan untuk mengatasinya, saya punya prinsip sendiri dalam membeli saham-saham tersebut di atas. 

Caranya : selama PER tidak di atas 20x, dan PER masih lebih kecil daripada ROE dan growth, berarti sahamnya masih murah. That's it :)

Ok, mdh-mudahan bermanfaat, ya.. :)



Rabu, 29 Mei 2013

PAMIT...

Dear all, ini adalah posting terakhir saya di blog ini..  

Karena alasan yang ngga bisa saya ungkapkan di sini, blog ini sdh ngga bs saya kelola lagi.. :(

Tapi semua posting yg pernah saya buat, akan tetap ada di sini. 

Ada bbrp topik yang saya pikir lumayan bagus utk pembelajaran bagi investor pemula :  



1. http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2013/05/9-thn-perjalanan-saya-mengenal.html

2. http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2013/04/menganalisa-saham-berdasarkan-laporan.html

3. http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2013/03/asii-q42012.html

4. http://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com/2012/11/contoh-hitungan-metode-valuasi-di-blog.html


Di sini, untuk terakhir kali saya akan tulis beberapa hal yang saya pikir penting juga untuk diketahui investor pemula :


1. Ilmu investasi saham itu seperti menyetir mobil. Keahlian kita berinvestasi akan semakin bertambah sejalan dengan bertambahnya jam terbang. Jadi, semua harus dengan proses. Ngga bisa buru-buru pengen jadi ahli, nanti malah jadi nabrak-nabrak ngga karuan..

2. Jangan takut untuk mengalami kerugian krn harus menjual saham-saham yang sudah memburuk fundamentalnya. Karena investasi saham ini memang mengandung resiko, dan resiko rugi adalah resiko yang harus dihadapi oleh semua investor saham. Tapi sejalan dengan ilmu yang semakin bertambah, lama-lama kita akan semakin mampu untuk mengelola resiko ini. 

3. Tidak ada metode valuasi saham yang terbaik. Semua valuasi ada resiko salahnya. At the end, market is always right. Belajar berbagai macam ilmu valuasi itu bagus, tapi pada akhirnya pilih saja 1 metode yang paling cocok dengan kita. Kuasai metode itu, sehingga pada akhirnya kita bisa mengerti di mana kelemahan dr metode valuasi yang kita gunakan, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan dr metode tsb.

4. Jangan pernah takut untuk valuasi sendiri. Believe me, even seorang analis dr sekuritas asing yang sangat ternama, bisa jg salah dalam valuasi. Saya adalah salah seorang korban dr analis terkenal di sekuritas asing, yang waktu thn 2008 bilang kalo harga wajar BUMI di Rp 10.000. Saya beli di Rp 8300, dan akhirnya BUMI meluncur sampai ke Rp 385...
So, lebih baik analisa sendiri, percaya dengan kemampuan diri sendiri, krn analis pun juga bisa salah...

5. Jangan gunakan PER rendah untuk membeli saham yang labanya sedang turun banyak atau malah merugi. Ini berbahaya, krn kita ngga pernah bs tau sampai sejauh mana kerugian akan berlanjut...

6. Kalo saya sering tulis bbrp kriteria saham yang layak invest, itu adalah kriteria IDEAL. Dan sesuatu yang ideal itu susah didapatkan in the real world. Bila ada saham dgn fundamental bagus, manajemen bagus, rajin bagi deviden, biasanya saham-saham ini sdh dijual dengan PER yang tinggi. Saya pribadi suka meng-ignore DER dan ROE (selama angkanya ngga jelek banget), karena saya lebih fokus ke GROWTH tinggi dan PER murah.


Ok, itu saja tulisan terakhir dr saya di blog ini.

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila ada tulisan saya yang ngga berkenan di hati pembaca, atau juga untuk email2 yang belum sempat saya jawab.. Mohon maaf sekali.. :(

Semoga semua yang membaca blog ini bisa mendapatkan manfaat dr apa yang saya tulis. Semoga bs mengembangkan kekayaan dr berinvestasi di saham-saham bagus di BEI.

Mohon maaf juga apabila saya ngga bs memberikan jawaban lagi thd comment2 yang mungkin nanti akan ada di sini... :(


Kind regards,
- V3 -



Rabu, 22 Mei 2013

WINS, LK Q1/2013

Untuk WINS, ini saya liat krn kemarin ada yang menanyakan tentang saham ini.


Lihat sekilas, sepertinya menarik.. :)

Q1/2013 WINS :

sales growth = 44,91%

equity growth = 5,38%

operating profit growth = 16,6%

EPS growth = 17,24%

ROE = 15,85%

DER = 0,87x

EPS = $ 7,411,875 : 3.609.823.948 lembar saham = $ 0,00205

asumsi $1 = Rp 9600 ---> EPS = 0,00205 x Rp 9600 = Rp 19,7

note : untuk EPS, saya hitung sendiri, krn EPS dari LK sepertinya salah (terlalu besar)

Harga sekarang = Rp 510 ---> PER = 6,47x

valuasi (asumsi yield SUN = 9%) = Rp 935 ---> MOS = 45%

Disclaimer is ON.. 

Bukan rekomendasi BUY.

Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang tanggung sendiri.. :)


Regards,
- V3 -



Selasa, 21 Mei 2013

DKFT, LK Q1/2013

Sekilas LK Q1/2013 DKFT :


sales growth = 65,97%

operating profit growth = 24,55%

EPS growth = 28,57%

EPS skrg = Rp 18

ROE = 33,5%

DER = 0,38x

Valuasi ---> saya langsung pakai asumsi yield SUN = 9% 

valuasi = Rp 996

harga skrg = Rp 560 , PER = 7,77x ---> MOS = 43,78% ---> sepertinya masih menarik untuk invest.. :)

Disclaimer is ON. Bukan ajakan untuk BUY. 
Rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang tanggung sendiri.. :)


- bukan saham syariah -

update : per 24 mei 2013, DKFT sudah masuk saham syariah.. :)




Regards,
- V3 -




Jumat, 17 Mei 2013

BBM naik, inflasi naik, valuasi saham akan berubah menjadi lebih KECIL...

Berita BBM mau naik semakin santer di mana-mana (walaupun SBY sepertinya masih maju mundur juga, seperti dulu-dulu)..

Tapi sepertinya, peluang untuk naik jauh lebih besar daripada peluang untuk harganya tetap (tidak dinaikkan).

Ngga perlu jadi ekonom pinter, kita juga tau, kalo BBM naik, harga apa pun pasti naik. Dan kalo harga-harga naik, maka terjadi INFLASI. Sekarang harga BBM belum naik aja, harga2 barang udah pada mulai naik.. :(
Apalagi nanti kalo BBM betul2 naik harganya.. :(


Saya tulis 2 link yang memuat omongan gubernur BI dan wamenkeu tentang asumsi inflasi bila BBM naik.


http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/15/2/153786/Gubernur-BI-Harga-BBM-Naik-Inflasi-Bisa-Capai-78-Persen

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/14/2/153535/Wamenkeu-Asumsi-Inflasi-72-75-

Dari 2 link di atas, kita ambil batas atas inflasi 7,8%, seperti yang dikatakan oleh gubernur BI.

Inflasi sekarang ini di Indonesia berdasarkan http://www.bi.go.id/web/id/ adalah 5,57%. BI rate 5,75%.

Selama ini, valuasi di blog ini adalah berdasarkan BI rate yang 5,75% ini.

Apabila inflasi naik, BI rate jg biasanya akan naik. 
Kalo BI rate naik, otomatis yield SUN jg akan naik. 
Kalo yield SUN naik, maka valuasi harga wajar saham akan berubah..


Sekarang , BI rate = 5,75% --> yield SUN = 5,75% + 1% = 6,75%. PER SUN = 1 : 6,75% = 14,81x


Bila inflasi menjadi 7,8% ---> kita asumsikan BI rate menjadi 8% ---> yield SUN = 8% + 1% = 9%. PER SUN = 1 : 9% = 11,11x


PER SUN menjadi lebih rendah bila BI rate naik.

Bila PER SUN mengecil, maka harga wajar saham juga akan mengecil.

Jadi hati-hati , karena potensi penurunan harga saham bisa jadi sudah di depan mata..

Tentu saja selama BBM masih belum naik, semua masih akan seperti ini...

Tapi, saya sendiri sudah prepare for the worst. Saya lebih baik siapin cash dari skrg, untuk jaga-jaga...

Makanya saya ngga nulis lagi tentang saham yang recommend buy. Hanya 2 : kija dan ctrp. Itu pun krn saya pikir masih ada MOS yg agak lumayan dan juga ditopang oleh growth mereka yang sangat bagus, sehingga relatif aman bila masuk di harga sekarang.. Disclaimer..., krn tetep aja ngeri kasih rekomen buy di masa begini.

Saya ngga mau nulis beli ini beli itu, terus nanti cuma nyemplungin orang2 ke jurang.. :)

Sekarang waktunya saya untuk melihat realisasi kenaikan harga BBM dulu, dan juga melihat bgmn efeknya ke inflasi dan BI rate.. 

Sisi baiknya, wamenkeu masih yakin ekonomi akan tumbuh.. :) 
Dan pasar saham masih menjanjikan selama ekonomi tumbuh (GDP tumbuh), BI rate dan inflasi di bawah 10%.. :)


Regards,
- V3 -



Selasa, 14 Mei 2013

9 thn perjalanan saya mengenal financial planning, produk investasi dan asuransi..



Tulisan ini pernah saya posting bbrp waktu yang lalu, kemudian saya hapus krn saya khawatir ada isinya yang ngga berkenan di hati orang lain. Sekarang tulisan ini sudah saya edit, mdh2an bisa diterima dengan baik.. J

Harapan saya cuma satu : mudah-mudahan apa yang saya tulis di sini bisa bermanfaat juga bagi orang lain, ngga cuma untuk diri saya sendiri.. J



Here it is  :



Tanggal 28 april 2013 kemarin, persis 5 thn sdh saya menjalani profesi sbg investor saham ritel di BEI.


Saya mulai terjun pertama kali di pasar modal thn 2004, dengan membeli produk investasi di suatu bank, yang tujuannya utk dana pendidikan anak saya.


Tahun 2004, saya mulai belajar tentang financial planning. 

Awalnya dari buku Safir Senduk, "Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak" dan "Mempersiapkan Dana Pensiun". 

Buku itu membuat saya sadar pentingnya menyiapkan dana pendidikan anak dan menyiapkan dana pensiun sejak dini.

Dan perlunya berinvestasi rutin tiap bulan demi mencapai tujuan investasi kita.


Karena buku itu, saya mulai menyiapkan dana pendidikan untuk anak saya, dan menyetor sekitar 25% gaji suami saya tiap bulan ke dalam produk investasi ini.



Dari buku safir senduk, akhirnya saya belajar banyak lg tentang financial planning dr buku2 yang lain, blog ligwina hananto, aidil akbar madjid, dsb.


Manfaatnya belajar financial planning sangat terasa sekali, krn saya jd jauh lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga, dan juga dalam menentukan prioritas2 keuangan apa saja yang harus didahulukan dalam keluarga...


Saya juga jadi tau, betapa pentingnya proteksi asuransi jiwa (term life) bagi keluarga dengan single income. Dan kami beli beberapa polis asuransi jiwa term life untuk memproteksi jiwa suami saya, agar bila ada apa2 dengan dia, saya dan anak2 masih bisa hidup dengan layak, tidak terlantar, krn hanya suami saya yang mencari uang di dalam keluarga kami.


Oya, back ground saya ibu rumah tangga dengan 2 anak yang masih SD.

Ibu rumah tangga biasa. 


Kegiatan utama saya setiap hari itu pasti antar jemput anak ke sekolah dan les, membantu mereka mengerjakan tugas2 sekolah, dan mempersiapkan mereka apabila mereka ada ujian sekolah. 


Kegiatan sampingan saya di luar itu,  ya mengelola portofolio saham saya,  senam, nyalon, shopping, pengajian, atau skedar hang out with my friends..



Thn 2007, saya main ke rumah sahabat saya waktu S2, dan dia waktu itu lagi buka2 grafik saham. Sahabat saya ini sedang mengambil CFA preparation. 


Dia banyak cerita sama saya tentang trading saham, dan saya merasa sangat tertarik waktu itu. 


Kebetulan di thn 2008 nanti, anak saya yang kecil akan mulai masuk KB, dan saya sdh berfikir utk mencari kerjaan sampingan, yang bisa menghasilkan uang, dan bs dilakukan di rumah, sambil mengawasi anak-anak.


Saya pulang dr rumah sahabat saya dengan membawa sebuah buku yang saya pinjam dr dia, "When to buy and sell, candlestick can tell", karangan Santo Vibby.

Sampai di rumah, saya baca dengan penasaran buku tersebut. 

Isinya betul-betul menarik, dan ilmu candlestick ini masih terasa manfaatnya buat saya, hingga saat ini.


Beberapa kali saya kontak sahabat saya dan tanya-tanya tentang saham, akhirnya saya putuskan saya mau jadi trader aja, agar bisa cari duit dr rumah.

Sahabat saya ini memberi saya banyak bahan tentang saham utk dipelajari.

Dia bilang, "Elo baca ini dulu, pelajarin dulu, baru elo boleh buka rekening saham. Kalo elo ga belajar sama sekali, cuma buang duit aja loe nanti.."


Butuh waktu skitar 6 bulan utk saya belajar sedikit tentang saham, termasuk ikut kursus2 awal tentang saham, sebelum akhirnya saya buka rekening saham.


Oya, kebetulan sejak awal 2007 itu, saya mulai banyak baca buku tentang investasi juga. Jadi saya kenal beberapa produk investasi, seperti reksadana, unit link, logam mulia, properti, dan saham.

Dan baru tahun 2007 itu saya ngerti kalo produk investasi yang saya beli di bank untuk dana pendidikan anak saya selama ini, adalah unit link. Unit link sangat tidak recommended by financial planner, karena terlalu banyak biaya2 silumannya.


Tapi jelas,  buat orang yang belum melek finansial dan cuma kenal deposito, hasil unit link selama minimal 3 thn masih jauh lebih besar daripada bunga deposito :)

Tapi saya msh teruskan top up tiap bulan ke dalam unit link ini, karena saya masih ragu utk tutup polis.


Saya juga mulai beli logam mulia (LM) untuk pengganti dana darurat. Saya beli LM mulai dr harga Rp 199.000 waktu itu.


Di thn 2007 ini juga, saya mulai masuk ke investasi reksadana. 

Saya nego dengan pihak unit link, sehingga jumlah nominal tiap bulan yang saya setor bisa jauh berkurang dari semula. 

Selisih uang investasinya, saya pindahkan ke berbagai macam reksadana.


28 April 2008, saya mulai melakukan trading pertama kali, dengan modal awal Rp 10juta, untuk buka rekening di etrading.

Dan langsung dapat cuan 9%.

Saya beli ANTM di Rp 3050, jual Rp 3350 dalam waktu 2 hari.

Beginner's luck.. :D


Tapi hasil akhirnya, hingga oktober 2008, portofolio saya menyusut banyak sekali, lebih dari 50%. 

Karena memang di oktober 2008 itu bursa turun dalam sekali. 

Berhari-hari saya liat saham-saham, termasuk saham bluechip, turun tanpa ada bid sama sekali... Serem.


Setelah 28 oktober 2008, saham-saham mulai naik. 

Tapi modal saya menyusut habis. 

Akhirnya saya cairkan 90% lebih reksadana yang saya punya, untuk menambah modal trading saya.


Setelah itu, budget investasi tiap bulan di reksadana jadi pindah masuk ke rekening saham. 


Selama 2009, bursa naik bagus sekali, dan semua kerugian saya tertutup. Balik modal lagi, plus masih dapat untung sedikit.
Oya, saya juga ikut menjadi korban Sarijaya Securities. Tapi alhamdulillah, Allah masih sayang sama saya, sehingga sehari sebelum Sarijaya ditutup, sisa cash saya di situ saya belikan saham UNTR. Cash saya cuma nyisa Rp 89.000, dan itulah uang saya yang lenyap di Sarijaya Securities.. :)  Semua saham yang ada di situ, utuh, ngga ada yang hilang 1 lot pun. Alhamdulillah... Teman saya ada yang uangnya hilang sampai puluhan juta di situ.. :(


Selama 2008-2009 itu, saya rajin sekali ikut kursus saham. 

Kursus macam2, tapi lebih banyak TA, bahkan pernah sebulan 2x. 

Dan saya juga rajin baca2 buku TA.


Tapi ternyata, trading itu memang ga gampang. Walaupun saya sering ikut kursus, baca buku, ternyata saya masih bisa rugi banyak juga. Karena jam terbang masih minim.


Di awal 2010, saya lossbanyak dari saham bakrie. Porto saya minus 40%, krn waktu itu hampir smua saham saya, saya belikan saham bakrie. Shocked. Saya sampai menangis memeluk kaki suami saya, karena uang itu adalah hasil kerja keras dia selama ini L

Saya sempat berhenti trading beberapa lama, untuk mikir ulang, apa strategi trading terbaik yang harus saya jalani. 

Saya ngga ada pikiran untuk mundur dari saham sama sekali, karena saya merasa senang sekali dengan dunia ini.


Saya mulai baca2 lagi buku2 tentang investasi, bahan2 kursus saya dulu, sampai akhirnya saya baca lagi tentang tulisan ini :  




Tulisan di atas yang membuat saya memutuskan untuk mendalami investasi, dan mulai meninggalkan trading.

Saya belajar tentang perhitungan harga wajar saham.

Saya mulai baca lagi buku2 FA.

Saya pernah tulis waktu itu tentang kisah pertama saya  investasi di saham murah dan bagus, CPIN, tapi saya lupa di posting yang mana.


Waktu itu saya beli CPIN di Rp 2700 (sebelum stock split 1:5) , juni 2010 kalo ngga salah. 

Dan saya jual di average Rp 9400-an, di desember 2010, untuk merealisasi profit saya di akhir thn itu.


Loss saya dr saham bakrie, langsung ketutup dengan CPIN ini. Alhamdulillah.. J Dan masih dapat untung lumayan juga.. J

Setelah itu, saya cairkan semua investasi saya di unitlink, dan saya pindahkan dananya ke saham.


And here I am now...


Sejak kasus CPIN, saya selalu beli saham dengan liat FA. 

Jual juga begitu, pake FA.


Awal 2011, saya mulai investasi di properti, waktu itu DP masih 10%. 

Harga rumah yang saya beli di 2011, sekarang nilainya sudah naik 2x lipat. Dan rumah saya disewa orang selama 2 tahun.. Alhamdulillah.. J

Tapi oktober 2011, saya harus jual semua saham saya, karena ada something happened.

Jadi saya mulai investasi di saham lagi dari NOL sejak november 2011.


Dan karena waktu itu saya sering ditanya teman-teman tentang saham, saya pikir kenapa ngga nulis di blog aja, jadi ilmunya bisa dimanfaatkan oleh banyak orang..


Kebetulan saya memang suka menulis, dan saya suka mengajar. Akhirnya jadilah blog ini di november 2011.


Yang tau blog ini tadinya cuma teman-teman saya, yang ngga sampai 10 orang. 

Tapi ternyata akhirnya yang dtg bisa ratusan tiap hari, dan saya banyak terima email yang nanya2 tentang saham. 

Dan saya selalu usahakan untuk jawab, karena saya tau bagaimana susahnya awal2 kita belajar saham. 

Juga, ngga semua senior mau kasih jawaban bila kita tanya suatu hal...


Ilmu saya belum hebat, tapi saya ingin ilmu ini bisa bermanfaat juga buat orang lain. Apalagi jumlah investor saham ritel Indonesia sangat sedikit, hanya skitar 300 ribu orang dari 250 juta penduduk indonesia...

Bila digabung dengan yang punya reksadana, unit link, jumlahnya cuma 1 juta orang. Hanya 0,4% dari seluruh penduduk Indonesia L

Padahal kalo saya baca-baca dari artikel investasi, malaysia saja sudah 40% penduduknya yang mengenal produk pasar modal (reksadana, saham, unitlink), jadi ngga heran kalo penduduk malaysia itu bisa lebih makmur daripada kita.. L



Setelah 5 tahun berkecimpung di dunia saham, pernah jadi trader harian dan investor valuasi, saya banyak dapat pelajaran berharga dari sini, antara lain :



1. Beli saham yang kinerjanya naik, jangan beli saham yang kinerjanya turun!


Saat ini, saya harus bayar mahal karena saya melanggar prinsip utama saya sendiri, dengan beli saham yang kinerjanya turun.


Dulu, saya paling anti untuk beli, apalagi hold saham yang kinerjanya turun.


Tapi begitu saham2 batubara, cpo, alat berat turun banyak, saya mulai beli, karena secara valuasi sudah cukup murah...


Ternyata di LK-LK berikutnya, labanya turun makin dalam.

Misalnya : KKGI, UNTR, HRUM.


walaupun saya batasi pembelian hanya di maksimal 20-25% porto total, tapi sekarang saya pikir it's very stupid. 

i won't do that anymore..


Bagaimana kalo saham-saham itu nasibnya seperti MEDC, TINS, ANTM, INCO? Glekkk...

Mereka dulu growthnya bagus2, dan sekarang, udah 3 thn lebih, masih turun semua kinerjanya.. L

Saya lagi tunggu LK Q1/2013 dari saham2 komoditas yang saya punya, untuk menentukan apakah akan saya jual semua (CL), CL sebagian atau hold. 


Untuk nambah beli, ngga akan lagi, selama LKnya masih turun... 


Saya masih sanggup CL dengan loss 25% di saham invest, karena selama ini saya masih bisa menemukan saham yang naik minimal 50% setahun..

Jadi selama CL saya pikir adalah yang terbaik, saya akan lakukan.




2. Selama GDP masih terus tumbuh, inflasi masih di bawah 10%, BI rate masih di bawah 10%, invest terbaik adalah di saham (dan mungkin juga properti), asal jangan beli yang sudah ngga masuk akal harganya.

Bila ada saham dengan fundamental bagus, kinerja naik di atas 15%, ROE di atas 15%, dan PER masih di bawah 15x (based on BI rate = 5,75%), tutup mata aja beli sahamnya.. 


It really works. Cuma tinggal butuh sabar, kalo begitu dibeli sahamnya ngga langsung naik.. 





3. Untuk mencari saham-saham yang bakal naik tinggi, biasanya :

    a. Selama 3 thn terakhir, kinerjanya terus naik

    b. EPS growth setahun terakhir > 30%

    c. PER-nya masih di bawah 10x, dan PER jauh di     bawah EPS growth

    d. ROE > 10%, lebih bagus lagi apabila ROE ini di atas PER


Beberapa kali saya berhasil dengan cara seperti itu, dan ujung-ujungnya memang harus sabar kalo sahamnya ngga langsung naik begitu kita beli.. :)





4. Resep punya portofolio saham yang bisa stabil naiknya : jangan kecepetan jual saham yang bagus dan masih murah, dan harus cepet jual begitu ada saham yang kinerjanya turun


kalo ada yang bilang bahwa ini terlalu gampang, anak kecil juga tau, tapi believe me, dalam prakteknya, mental kita kadang suka susah berkompromi dengan hal seperti ini.


liat porto diem aja, gatel, kok ngga naik2, padahal sahamnya sangat bagus utk invest.


liat porto merah (padahal sahamnya masih bagus untuk invest), pengen CL.


liat porto ijo (sahamnya masih bagus untuk invest), pengen jualan.


begitu ada saham yang LK-nya turun dan kita harus cepet jual, tapi karena masih nyangkut, didiemin aja, tunggu dia naik lagi. yang ada malah makin melorot..


hayo, siapa yang ngga begitu? hehehe...



5. Kalo ada saham bagus yang LK-nya lagi turun, jangan invest dulu. Trading-in aja. Nanti begitu LK udah bagus lagi, baru boleh beli untuk invest, selama valuasinya juga masih menarik.




6. Kalo sudah di bulan di mana LK akan keluar, sebaiknya untuk beli/jual saham invest, sabar nunggu LK terbaru keluar. Karena kadang suka ada LK yang kinerjanya meleset dari ekspektasi kita, atau malah yang kinerjanya naik sangat fantastis..





7. Jangan pernah mau beli saham investasi yang EPS-nya minus. Selama EPS minus, saham itu anggap aja ngga ada nilainya, bahkan di harga Rp 50 sekali pun. 


Silakan analis2 lain mau pakai metode macem-macem dengan TP sekian sekian, diemin aja, ngga usah ikut2an beli. 

Kecuali yang niat trading, ya silakan aja ikuti trading plan-nya. 

Investor stay away aja dulu.



8. Sometimes, metode yang simpel itu adalah yang terbaik. Untuk beli saham invest, so far aplikasi kombinasi antara EPS growth tinggi,  PER murah dan ROE > 10% sudah cukup baik. 


Untuk analisa chart, saya pakai stokastik slow, MA 20, 60, 200 (daily, weekly, monthly) dan juga candlestick.


Ngga ada metode yang terbaik di bursa, yang ngga pernah gagal.

Semua orang pernah salah , semua metode akan ada salahnya.

Pada akhirnya, hasil investasi kita akan ditentukan oleh money management dan portofolio management kita, dan bagaimana mental kita bereaksi terhadap setiap gejolak di bursa.



9. Jangan gampang panic buying atau panic selling, terutama panic selling. Untuk hal ini, saya setuju dengan Lo Kheng Hong, bahwa panik itu timbul karena kita ngga tau apa yang kita beli.



Sepertinya itu dulu ya, nanti kalo ada lagi hal penting yang saya temukan, saya akan tulis lagi di sini. 



Ini cuma sharing aja, bener atau ngga-nya, mungkin akan berbeda-beda hasilnya bagi tiap orang.. 


Saya sendiri ngga selalu benar dalam ambil keputusan.

Tapi selama ini, bila saya salah, saya selalu pelajari di mana salahnya, dan coba untuk memperbaiki, dan ngga mau mengulangi lagi kesalahan yang sama.


Saya menghargai sekali bila ada yang bisa kasih feedback ke saya tentang strategi investasi saham yang cocok menurut mereka. Pasti akan menambah wawasan saya tentang gaya investasi yang bisa dilakukan.


Mudah-mudahan tulisan ini nanti ada manfaatnya.. :)



Regards,

- V3 –



from the bottom of my heart, I really really thank you a lot, my best friend, Kreshna Dwinanta Armand, for all the teachings you taught me..

Semoga Allah membalas semua jasamu dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi. Aamiin Yra..